ISSN 2477-1686

Vol. 6 No. 13 Juli 2020

 

Young People and Empathy

Oleh

Charyna Ayu Rizkyanti

Fakultas Psikologi, Universitas Pancasila

 

 

Anak-anak muda sekarang makin tidak peduli, rendah sopan santun, dan hanya mementingkan dirinya. Betulkah demikian?

 

Dalam Mata Kuliah Pengembangan Diri yang ditujukan pada mahasiswa baru (semester 1), banyak hal menarik setiap kali saya mengajar. Seperti yang terjadi pada pertemuan ke 5 ini, saya datang membawa 20 kertas lipat kecil yang didalamnya berisi pertanyaan. Di depan kelas saya berkata pada 45 mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini bahwa mereka harus menjawab semua pertanyaan saya dengan cara menuliskannya di sebuah kertas kosong. Mahasiswa awalnya nampak antusias dan kemudian bertanya pertanyaan macam apa yang harus mereka jawab? Saya berkata bahwa ini pertanyaan mudah tentang apa yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun jawaban yang diterima adalah jawaban yang menunjukkan kepedulian mereka terhadap sesama maupun lingkungan.

 

Maka, mulailah pertanyaan dibacakan. Nomor 1 berbunyi, “Apa yang kamu lakukan ketika mendengar bahwa kakakmu yang sudah belajar mati-matian tidak lulus CPNS sementara sahabatnya yang iseng-iseng mendaftar dan ikut ujian malah lulus?” Nomor 2, “Apa yang terbersit dalam benakmu saat adikmu pulang dari sekolah dan menangis karena dibully oleh temannya akibat ia tidak mau diajak ‘nongkrong’ bareng?” Nomor 3, “Bagaimana  perasaanmu ketika melihat ibumu menangis karena merindukan kakakmu yang baru saja menikah dan tinggal dengan suaminya di kota lain?”

 

Saya tersenyum melihat ke 45 mahasiswa yang sedang berusaha keras untuk menjawab pertanyaan dari saya. Dari wajah-wajah mereka terlihat jelas bahwa pertanyaan ini tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Saya harus menunggu lama agar mereka dapat melengkapi jawabannya pada tiap soal. Dahi mereka mulai berkerut saat pertanyaan nomor 3 dibacakan. Saya pun tidak menyangka bahwa untuk menjawab 10 soal membutuhkan waktu kurang lebih 50 menit. Akhirnya, saya hentikan di soal nomor 10 setelah melihat mereka begitu kesulitan dalam menuliskan jawabannya. Saat saya hentikan, mereka terlihat menghembuskan nafas lega. Dengan bercanda saya bertanya, “Bagaimana, mau kita lanjutkan sampai soal nomor 20?” Serentak mereka menjawab dengan suara keras, “TIDAK BU!”

 

Respon mahasiswa yang saya temui dalam mata kuliah Pengembangan Diri ini membuktikan betapa sulitnya ketika mereka diajak untuk menempatkan diri dalam posisi orang lain. Kesulitan yang dialami oleh para mahasiswa untuk merasakan kegelisahan orang lain dan berpikir berdasar sudut pandang orang lain yang merupakan definisi dari empati (Howie, 2013) ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Konrath dan O’Brien (2010) di University of Michigan. Penelitian yang dilakukan pada 14.000 mahasiswa sepanjang 30 tahun ini mengungkapkan bahwa mahasiswa sekarang tidaklah se-empati mahasiswa di tahun 1980 dan 1990an. Melalui hasil penelitian tersebut diketahui bahwa penurunan empati terbesar terjadi setelah tahun 2000an yaitu sekitar 40%.

 

Hoffman (2000) menjelaskan tentang lima tahap perkembangan empati yang dimulai pada masa bayi sehingga remaja. Tahap tertinggi dari empati seyogyanya muncul ketika seorang anak mulai menginjak fase remaja awal, yatu di atas usia 12 tahun. Empati abstrak ini ditunjukkan melalui suatu kesadaran seseorang untuk merasakan dan memahami kehidupan orang lain meskipun ia belum pernah mengalami hal yang serupa dengan mereka. Sayangnya, level tertinggi dari empati ini sulit untuk dijangkau oleh kita.

 

Borba (2002) menjelaskan beberapa hal yang dapat melemahkan atau menurunkan potensi empati yang kita miliki. Pertama, ketidakhadiran orangtua secara emosional. Sosok orangtua bagi anak memiliki peran sangat penting karena adanya historis emotional attachment yang sulit dimiliki oleh pihak lain (Davidov & Grusec, 2006). Namun, keberadaan orangtua terutama secara emosional makin menurun dengan berbagai alasan, seperti pekerjaan, kelelahan, perceraian, ataupun penyakit dan kematian. Kedua,  minimnya keterlibatan ayah. Dalam berbagai penelitian disebutkan bahwa anak-anak yang ayahnya terlibat secara positif saat anak berumur 5 tahun terlihat lebih berempati dibandingkan anak-anak yang ayahnya tidak terlibat. Sekarang ini banyak ayah yang tidak berperan aktif dalam pengasuhan dan tidak melibatkan diri dalam kehidupan anaknya.

 

Ketiga, maraknya kekerasan di media. Berbagai acara di TV maupun internet menyuguhkan hal-hal berbau kekerasan, kejahatan, dan kekejaman. Mirisnya, saat anak melihat tayangan tersebut, orangtua tidak ada disampingnya untuk memberi penjelasan baik-buruknya perilaku yang disaksikan anak. Maka tidak heran apabila anak mudah sekali untuk meniru mentah-mentah apa yang ia amati setiap hari.

 

Keempat, ketabuan mengungkapkan perasaan pada anak laki-laki. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih mudah berempati dibandingkan laki-laki (Joliffe & Farrington, 2006). Salah satu penyebabnya adalah anak perempuan lebih banyak diberikan ruang untuk berbicara tentang urusan emosi, manakala anak laki-laki dididik untuk menyembunyikan kesedihannya. Anak laki-laki kerap dipaksa untuk memakai topeng ‘bravado’ sehingga mereka akan malu saat menunjukkan emosinya di hadapan orang lain.

 

Kelima, terjadinya kekerasan di usia balita. Dalam perkembangan empati, tiga tahap terjadi di usia balita, dan sisanya di usia sekolah. Artinya, masa-masa ini merupakan masa kritis bagi anak untuk membangun kapasitas empati atau bahkan sebaliknya, menanamkan benih kekerasan pada mereka. Stress yang terjadi secara berulang pada masa-masa ini diketahui dapat merusak potensi empati.

 

Kondisi di atas jelas akan berpengaruh terhadap perkembangan empati di masa remaja dan seterusnya. Ditambah lagi usia remaja merupakan usia yang cukup unik karena transisi dari masa anak ke dewasa kerap membuat kabur tugas-tugas di usia remaja. Istilah “adolescent egocentrism” (David Elkin dalam Santrock, 2007) menjelaskan bagaimana kesadaran dan keyakinan diri remaja bahwa orang lain berminat terhadap diri meningkat pada masa ini. Oleh karena itu, remaja makin fokus pada dirinya sendiri dan selalu berpikir bagaimana agar perilakunya dapat menarik perhatian orang lain. Sayangnya, perilaku tersebut kerap diimplementasikan pada hal-hal yang melanggar aturan, contoh sederhananya adalah ngebut di jalan raya.

 

Keadaan yang demikian tidak dapat dibiarkan begitu saja. Perlu berbagai upaya untuk terus mengembangkan potensi empati. Remaja yang hidup tanpa empati akan mudah terjerumus ke dalam perilaku negatif. Penelitian tentang bullying mengkonfirmasi bahwa empati adalah kunci utama yang mampu mencegah perilaku tersebut, bahkan remaja dapat berperan sebagai ‘defenders  yaitu pihak yang memiliki peran secara aktif untuk melawan bullying (Nickerson, Mele, & Princiotta, 2008). Selain itu, keberadaan empati terbukti mampu untuk meregulasi emosi remaja sebagaimana yang dijelaskan dalam penelitian Benita, Levkovitz & Roth (2016). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dengan memiliki empati maka remaja akan cenderung menunjukkan perilaku prososial.

 

Salah satu hal yang dapat menghidupkan kembali potensi empati di kampus salah satunya adalah dengan melibatkan diri dalam kegiatan kelembagaan maupun komunitas yang memiliki visi mensejahterakan masyarakat. Mahasiswa belajar untuk hidup bersosialisasi melalui organisasi. Organisasi kemahasiswaan yang memiliki visi sebagai wadah aspirasi seharusnya dapat membuat mahasiswa yang terlibat didalamnya untuk peka, mau mendengar dan melihat berbagai sudut pandang yang berbeda. Tentu saja harapan tertingginya adalah saat mereka mampu menunjukkan empatinya maka mereka dapat menyampaikan aspirasi tersebut dengan cara yang beretika.

 

Referensi:

 

Benita, M., Levkovitz, T. & Roth, G. (2016). Integrative emotion predicts adolescents’ prosocial behavior through the mediation of empathy. Learning and Instruction, xxx, 1-7.

 

Borba, M. (2002). Building Moral Intelligence: The seven essential virtues that teach kids to do the right thing. San Fransisco: Jossey Bass

 

Davidov, M., & Grusec, J. E. (2006). Untangling the links of parental responsiveness to distress and warmth to child outcomes. Child Development, 77, 44–58.

 

Hoffman, M. L. (2000). Empathy and moral development: Implications for caring and justice. New York: Cambridge University Press.

 

Howie, D. (2013). Empathy: What it is and why it matters. New York: Palgrave Macmillan.

 

Jolliffe, D. ,& Farrington, D.P. (2006). Development and validation of the Basic Empathy Scale. Journal of Adolescence, 29, 589-611.

 

Konrath, S., O’Brien, E., & Hsing, C. (2010). Changes in dispositional empathy in American college students over time: A meta-analysis. Personality and Social Psychology Review, 15(2), 180–198.

 

Nickerson, A. B., Mele, Mele, B. & Princiotta, D. (2008). Attachment and empathy as predictors of roles as defenders or outsiders in bullying interactions. Journal of School Psychology, 46, 687-703.

 

Santrock, J. W. (2007). Adolescence. 7th Ed. India: The McGraw Hill Company