ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 08 April 2020

Corona Virus: Cemas, Eksistensi Manusia dan Keimanan

 

Oleh

Rina Sari

Fakultas Psikologi, Universitas Jenderal Achmad Yani

 

 

Rekam digital dari WHO Covid-19 jumlah kasus per tanggal 26 Maret 2020 sebanyak 512.701 kasus yang terpapar dan sebanyak 23.495 orang yang meninggal. Berdasarkan data per tanggal 26 Maret 2020, jumlah pasien yang terkonfirmasi positif di Indonesia yakni sebanyak 1.046 orang (WHO, 2020). Berdasarkan data per Jumat (27/3/2020), jumlah pasien yang terkonfirmasi positif di Indonesia yakni sebanyak 1.046 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 46 orang telah dinyatakan sembuh. Sedangkan jumlah pasien yang meninggal dunia karena terinfeksi Covid-19 ada sebanyak 87 pasien. Selain itu, penyebaran virus corona di Indonesia telah ada di 28 dari 34 provinsi di Indonesia (Kompas. 2020).

Langkah pemerintah pun sejauh ini hanya memperpanjang masa darurat bencana hingga waktu yang belum ditentukan. Banyak masukan dan saran pada pemerintah untuk menerapkan sistem lockdown bagi kota maupun daerah yang sudah terpapar oleh virus corona. Pemerintah sejauh ini memberikan himbauan pada masyarakat untuk melakukan physical distancing, menggalakkan program hidup sehat dan menghimbau bagi mereka yang sudah terpapar untuk melakukan isolasi diri secara mandiri. Perlu kita sadari masih ada sebagian dari kita yang menyadari arti pentingnya dari himbauan pemerintah, tetapi ada juga yang belum menyadari apa maksud dari himbauan pemerintah sehingga dengan bebas mereka melakukan aktifitasnya di luar tanpa mempedulikan standar protokol yang harus dipatuhi. Para pimpinan daerah pun tidak tinggal diam, ada yang sudah memberlakukan sistem lockdown meskipun pemerintah pusat tidak memberikan himbauan. Mungkin bagi para pemangku kebijakan daerah hal tersebut menjadi langkah untuk memutus rantai penyebaran dari Covid-19.

 

Cemas, Pemaknaan Eksistensi Diri Manusia dan Keimanan.

Tidak dapat dipungkiri penulis pun merasakan cemas akan kondisi yang sedang tejadi saat ini, banyak informasi yang bertebaran selama melakukan karantina diri. Informasi yang bertebaran pun diharapkan dapat mengantisipasi, mengedukasi, dan memberikan langkah konkrit terkait kondisi saat ini agar kita mampu mengatasi panik dan rasa cemas. Kita saat ini mudah sekali mengakses informasi yang belum tentu akurat, alih-alih informasi tersebut menyumbangkan rasa panik dan rasa cemas. Hal tersebut dapat membuat daya tahan tubuh kita menurun akibat rasa khawatir dan cemas yang berlebihan. Menurut Rollo May banyak perilaku manusia digerakkan oleh perasaan takut dan cemas (Feist, J & Fiest, J.G, 2008). Kecemasan adalah kondisi subjektif dari kesadaran individu, kecemasan dapat merusak atau tidak menjadi bermakna sama sekali (May, 1996).

Eksistensialisme manusia mengarahkan pada perilaku tanggung jawab terhadap pertanyaan ‘siapa saya?’ dan ‘bagaimana nanti saya ke depannya?’ (Feist, J & Fiest, J.G, 2008). Tidak jarang dengan kondisi dan rasa cemas saat ini menimbulkan pertanyaan dibenak kita ‘akan seperti apa dan bagaimana saya dengan kondisi saat ini?’. Pertanyaan tersebut merupakan bentuk upaya dari diri untuk tidak terlepas dengan dunia dan dengan keberadaan mahluk lainnya yang ada di muka bumi. Rasa cemas yang wajar diperlukan sebagai upaya kita dengan sadar dan waspada untuk melakukan tindakan yang dapat menghentikan penyebaran virus dan sebagai bentuk ikhtiar manusia dalam mempertahankan eksistensi dirinya. Mungkin bentuk ikhtiar kita sudah banyak dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat, rutin berolah raga, melakukan physical distancing, melakukan karantina diri dan melakukan penggalangan dana dalam rangka pengadaan alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan.

Psikologi eksistensialisme membicarakan bahwa eksistensi manusia tidak terlepas dengan takdir yang sudah Tuhan tetapkan. Takdir adalah desain dari alam semesta berbicara melalui desain yang ada pada diri kita masing-masing (May, 1981). Desain yang dimaksud adalah sesuatu hal yang sudah ada dan melekat pada diri manusia. Seperti jenis kelamin, kecerdasan, keterbatasan fisik, dan kondisi lingkungan manusia saat ini. Manusia tidak dapat menghapus takdir, tapi manusia dapat memilih untuk bagaimana cara merespon, dan bagaimana kita dapat hidup dengan potensi yang manusia miliki (May, 1981). Artinya, kita akan mampu menerima kondisi diri dan lingkungan saat ini secara tenang dengan memahami takdir yang sudah ditetapkan. Bukan berarti menyerah begitu saja tanpa adanya ikhtiar, tetapi manusia perlu mengingat makna diri di hadapan alam semesta dan Tuhan. Pada dasarnya manusia diciptakan dan diberikan akal dengan tujuan agar dapat mengoptimalkan potensi diri dalam rangka mengelola perilaku dan lingkungan diiringi dengan rasa tanggung jawab. Salah satu bentuknya adalah mengikuti arahan para ahli yang memiliki ilmu sesuai dengan bidangnya dalam menangani kondisi saat ini. Sebab yang berusaha tanpa ilmu malah lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Perlu disadari bahwa kondisi wabah virus corona saat ini merupakan bentuk dari ketetapan dan takdir yang sudah Tuhan tentukan. Sebesar apapun ikhtiar yang diusahakan, jika Tuhan belum menghendaki untuk menghentikan wabah ini maka kita pun perlu sabar dan ikhlas untuk menjalani hari demi hari dengan produktif dan penuh tanggung jawab. Hal tersebut sebagai wujud memahami eksistensi diri terhadap keberadaan kita pada alam semesta dan keterbatasan diri kita yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Sudah sepatutnya kita membaktikan diri dan menghamba pada Tuhan agar kita mampu menyeimbangkan kembali eksistensi diri kita pada alam semesta dan Tuhan, sesuai dengan tugas manusia di muka bumi adalah sebagai pengelola yang mampu menjaga alam semesta dengan bijaksana (Al-Baqarah 2:30). Dengan harapan kita sebagai manusia mampu menjaga keteraturan perilaku dan menggunakan potensi diri yang sudah Tuhan berikan, demi menjaga harmoni kehidupan alam semesta  yang sudah diciptakan-Nya.

 

 

Referensi:

 

Feist, J & Feist, J.G. (2008). Theory of Personality 7th Edition. McGraw-Hill

May, R. (1996). The Meaning of Anxiety.W.W Norton & Company

May, R. (1981). Freedom and Destiny. W.W Morton & Company

Kompas.com. (2020, Maret 27). Update dorona di Dunia 28 Maret: 593.656 Kasus, 132.526 Sembuh, 27.215 Meninggal" diakses dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/28/083000965/update-corona-di-dunia-28-maret--593.656-kasus-132.526-sembuh-27.215

WHO. (2020, Maret 26). World Health Organization. Retrieved from Coronavirus disease (COVID-19)outbreak:https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019