SSN 2477-1686

Vol.6 No. 08 April 2020

Atasi Kebosanan Saat Stay at Home dengan Silaturahmi Melalui Media Sosial

 

Oleh

Cintami Farmawati

Dosen Psikologi Jurusan Tasawuf & Psikoterapi, IAIN Pekalongan

 

 

Physical distancing sudah berjalan satu bulan lebih, rasa bosan mulai menghampiri saat bekerja maupun belajar di rumah. Meluangkan waktu bersama keluarga di rumah saat stay at home seperti memasak bersama, olahraga bersama, mengerjakan pekerjaan rumah, membuat karya seni bersama, menonton film, membaca buku dan bermain game bersama sudah dilakukan untuk mengusir rasa bosan (Farmawati, 2020). Namun, seringnya berada di dalam rumah membuat perasaan bosan sulit untuk dihindari.

Kebosanan atau rasa bosan merupakan salah satu jenis emosi normal yang dialami oleh semua orang, baik perempuan ataupun laki-laki, muda maupun tua, dalam sekolah, pekerjaan, dan dalam kehidupan sehari-hari. Waktu terasa berjalan lambat, hilangnya motivasi dan ketertarikan untuk melakukan suatu hal, tidak fokus, merasa tidak nyaman, dan cenderung ingin berdiam diri merupakan ciri-ciri kebosanan. Perasaan bosan biasanya disebabkan karena situasi lingkungan yang tidak menarik, monoton, tidak termotivasi atau karena pembawaan dari individu sendiri yang mudah bosan terhadap suatu situasi, tidak ada kegiatan sama sekali, ataupun terlalu banyak pekerjaan yang dibebankan, kurang bersosialisasi dengan orang lain, sering menyendiri, dan tidak ada suasana baru di lingkungannya (Hawkins, 2010).

Kebosanan dari sudut pandang ataupun kajian psikologi dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu kebosanan karena situasi (state boredom) dan kebosanan sebagai sifat (boredom proneness) (Yuwanto, 2013). Kebosanan karena situasi disebut dengan state boredom. Salah satu contoh stateboredom adalah kejenuhan belajar. Kejenuhan belajar dapat difenisikan sebagai kondisi kelelahan fisik ataupun psikis yang dialami individu karena tekanan. Sedangkan boredom proneness berfokus pada sumber kebosanan berasal dari kondisi di luar individu yang menstimulasi terjadinya kebosanan. Boredom proneness menggambarkan tentang kondisi individu yang mudah mengalami kebosanan, dengan kata lain sifat individu yang mudah bosan.

Rasa bosan merupakan hal yang wajar dan biasa dialami setiap individu, namun akan menjadi tidak wajar ketika mengalami kebosanan dalam jangka panjang dan dapat menyebabkan depresi jika dibiarkan berlarut-larut. Menurut beberapa penelitian, kebosanan dianggap sebagai situasi yang mengganggu dan berbahaya, sumber ketidakbahagiaan dan penderitaan, bisa menghambat perkembangan intelektual, sosial dan moral. Dampak dari kebosanan bagi setiap individu berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka menyikapi dan menangani kebosanannya. Kebosanan dapat berdampak negatif jika individu tersebut tidak pandai mengendalikan diri, begitupun sebaliknya. Bahkan, dampak buruk dari kebosanan yang tidak dapat dikendalikan adalah terbengkalainya kewajiban.

Salah satu hal yang penting dilakukan untuk mengatasi kebosanaan saat stay at home adalah silaturami atau tetap terkoneksi dengan orang lain. Koneksi dengan orang lain pada masa covid-19 dapat dilakukan melalui media sosial. Silaturahmi melalui sosial media seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, Twitter dan media sosial lainnya merupakan silaturahmi jarak jauh yang dapat mendekatkan dengan orang lain dan meningkatkan kesehatan jiwa serta memperpanjang umur.

Silaturahmi ialah suatu komunikasi antar manusia yang dilakukan dengan tujuan untuk mempererat persaudaraan dan mempertebal ikatan batin seseorang terhadap sesama (Chisty & Faiza, 2014). Bersilaturahmi bukan hanya momen untuk saling meminta dan memberi maaf. Relasi sosial dengan keluarga dan teman akan semakin kuat dan memiliki ikatan sosial yang baik sehingga meningkatkan kesehatan jiwa, salah satunya menyehatkan otak dan membuat panjang umur (Anna, 2016). Berikut adalah manfaat silaturahmi melalui media sosial dikala covid-19 yaitu:

1.  Panjang Umur

Orang yang memiliki dukungan sosial yang kuat cenderung panjang umur, dibandingkan dengan orang yang terisolasi. Bersosialisasi dengan teman, keluarga dan kerabat melalui media sosial akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman batin. Jika hati dan pikiran sudah kembali ke jalur yang seharusnya yaitu bahagia, maka kita dapat menjalani hidup dengan bahagia dan merasakan manfaat silaturahmi.

2.  Menikmati Kesehatan Fisik

Silaturahmi merupakan sumber kekebalan tubuh alias imun. Bergaul dan berteman berkaitan erat dengan sistem imun yang lebih kuat, terutama pada orang lanjut usia. Silaturahmi dengan bercerita dan mendengarkan merupakan kunci untuk dapat termotivasi dan menghilangkan stres karena banyak gelak tawa yang didapat saat silaturahmi melalui media sosial. Hal ini dapat membuat tubuh sehat dan tidak mudah sakit.

3.  Meningkatkan Kesehatan Mental

Berinteraksi dengan orang lain secara positif juga meningkatkan perasaan bahagia dan mengurangi rasa depresi. Oleh karenanya, salah satu cara terbaik meningkatkan mood adalah berkomunikasi dengan orang-orang terdekat. Selain itu, silahturahmi dapat mengurangi stres dan cemas menjalani masa pandemi covid-19, bisa berbagi cerita dengan luas kepada teman, kerabat, dan keluarga yang jauh sehingga menjadi pribadi yang kuat dan kembali percaya diri, bahwa kita tidak sendirian, masih ada mereka yang peduli terhadap kita. 

4.  Menurunkan Resiko Demensia

Ada banyak bukti-bukti yang menunjukkan, bersosialisasi bermanfaat positif bagi kesehatan otak. Orang yang banyak bergaul cenderung memiliki kemampuan kognitif dan daya ingat lebih baik. Dalam jangka panjang, risiko menderita demensia juga lebih rendah.

5.  Memperluas Rezeki

Silahturahmi memudahkan untuk meminta tolong atau membantu kerabat yang sedang kesulitan, hal ini merupakan bagian dari sedekah dan pahala yang berlipat, sehingga rezeki kian diperluas dengan keikhlasan bersilahaturahmi dan membantu sesama. Hal ini sesuai sabda nabi: “Barang siapa yang senang dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi (Bukhari dan Muslim)”.

Menurut Rustandi (2019), bentuk silaturahmi melalui media sosial adalah sebagai berikut:

1.  Berkirim pesan singkat untuk menanyakan kabar

Pesan singkat sama halnya dengan telepon dapat mempertahankan silaturahmi dengan keluarga, teman dan kerabat. Berkirim pesan singkat untuk menanyakan kabar atau memberikan informasi yang baik dan bermanfaat akan membuat penerima pesan menjadi bahagia karena merasa diperhatikan saat dirumah saja.

2.  Berkomentar atau like

Komentar atau like terhadap apa yang kita share di media sosial, merupakan silaturahmi teman-teman media sosial terhadap kita. Sehingga sependek apapun tetap harus kita balas silaturami mereka. Ada yang berkomentar wajib dibalas, bukan hanya membalas komentar dengan like semata.

 

Referensi:

Anna, L. K. (2016). Silaturahmi Juga Bermanfaat Untuk Kesehatan. Diakses dari https://sains.kompas.com/read/2016/07/06/130000323/Silaturahmi.Juga.Bermanfaat.untuk.Kesehatan tanggal 18 April 2020.

Chisty, A. A. & Faiza, S. I. 2014. Peranan Silaturahim dalam Komunikasi Bisnis Pada Kesuksesan Pengusaha Batik Jetis Sidorejo. JESTT, 1(10): 704-719.

Farmawati. C. 2020. Menjadi Manusia Produktif Saat Bekerja Dari Rumah di Era Covid-19. Buletin-K-Pin, 6(7), April 2020. ISSN 2477-1686.

Hawkins, D. I. 2010. Consumer Behavior, Building Marketing Strategy 11th ed. New York: McGraw-Hill.

Rustandi, D. 2019. Bersilaturahmi Melalui Media Sosial.  Diakses dari https://www.abahraka.com/2019/07/bersilaturahmi-melalui-media-sosial.html tanggal 18 April 2020.

Yuwanto, L. 2013. Kebosanan dan FlowAkademik. Diakses dari https://www.ubaya.ac.id/2018/content/articles_detail/81/Kebosanan-dan-FlowAkademik.html tanggal 18 April 2020.