ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

 

Sendiri Tapi Tak Sepi: Refleksi Karantina Diri

 

Oleh

Dicky Sugianto

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

 

Pandemi COVID-19 (yang kini disebut SARS-CoV-2) mengubah tata hidup kita sesehari. Salah satu bentuk perubahan yang saya alami adalah mengkarantina diri sebagai bentuk perilaku bertanggung jawab saya selama masa pandemi ini. Saya kebetulan memang bukan tipe orang yang membutuhkan koneksi sosial terus-menerus. Meskipun lebih sering menghabiskan waktu sendiri, karantina diri tak ayal mengizinkan perasaan kesepian datang. Beberapa kali, saya rindu untuk bepergian dan menghabiskan waktu bersama dengan teman dan kerabat.

 

Keuntungan dari situasi lingkungan yang sepi, tenang, dan teduh ini adalah saya banyak mendapatkan waktu untuk berefleksi dan berkontemplasi. Saya membayangkan perjuangan para garda depan kesehatan yang merelakan diri merawat mereka yang diduga maupun positif terjangkit SARS-CoV-2. Saya membayangkan kesulitan para pekerja harian yang kehilangan pendapatan. Mereka yang hanya bisa makan satu hari dari pendapatan mereka hari itu. Saya membayangkan orang-orang yang harus terjebak dengan orang-orang yang melakukan kekerasan pada mereka. Saya juga berpikir mengenai orang-orang yang begitu tertekan, cemas, dan takut dengan adanya penyakit yang mengancam dan persebarannya cepat ini.

 

Pandemi dan fenomena karantina diri ini juga membuat saya terbeban akan penderitaan yang kita alami bersama. Kesadaran ini membuat saya terusik dan ingin melakukan sesuatu untuk setidaknya meringankan penderitaan kita bersama. Saya prihatin dengan teman-teman saya, maka saya membuat unggahan di media sosial dan menawarkan diri untuk menjadi teman bicara mereka ketika mereka harus tinggal di rumah. Seorang teman saya yang lain pun memiliki keprihatinan yang sama. Ia kemudian bekerja sama dengan Woman Blitz dan Think.Woman, sebuah insiasi sosial untuk memberdayakan wanita melalui penggunaan teknologi, bersama dengan saya membuat ruang bicara daring menggunakan aplikasi chat. Kami mendengarkan keluh kesah dan tekanan yang dialami orang-orang selama masa kerja dari rumah dan saya mendapati bagi beberapa orang, bekerja dari rumah dapat memicu gangguan psikologis yang cukup berat.

 

Bentuk inisiasi sederhana untuk sekedar mendengarkan keluh kesah orang lain tanpa saya sangka membantu saya mengatasi kesepian saya. Saya mendapatkan banyak wawasan baru dan juga merasa terhubung dengan orang lain, sehingga saya merasa lebih damai. Saya kemudian berpikir bahwa welas asih rupanya dapat membantu kita untuk beradaptasi dengan perubahan yang tidak menyenangkan ini.

 

Welas asih memberikan ruang bagi kita untuk mengalihkan perhatian kita sejenak dari dalam diri kita (apa yang kita rasakan dan pikirkan) kepada orang lain (Haukaas, Gjerde, Varting, Hallan, & Solem, 2018). Penderitaan yang dialami oleh orang lain menggerakkan kita untuk berkomitmen untuk mengentaskan mereka dari kesulitan mereka (Davis, 2017). Proses ini pun membuat kita merasa terhubung dengan orang lain dan membangun dukungan sosial yang baik (Condon & DeSteno, 2017). Pada akhirnya, welas asih membuat kita bersama-sama pulih dari situasi yang menekan kita.

 

Bagaimana kini dengan Anda? Apakah Anda merasa kesepian seperti saya di tengah isolasi diri ini? Apakah Anda juga terbeban dengan penderitaan kita bersama? Jika ya, mungkin kita bisa bersama-sama mencoba berwelas asih kepada orang lain, dimulai dari orang terdekat kita. Semoga penderitaan kita saat ini bisa entas segera.

 

“We can’t heal the world today, but we can begin with a voice of compassion, a heart of love, an act of kindness.”

-   Mary Davis -

 

 

Referensi:

Condon, P., & DeSteno, D. (2017). Enhancing compassion: social psychological perspectives. In E. Seppälä, E. Simon-Thomas, S. L. Brown, & M. C. Worline (Eds.), The Oxford handbook of compassion science (pp. 372-383). New York, NY: Oxford University Press.

Davis, M. H. (2017). Empathy, compassion, and social relationship. In E. Seppälä, E. Simon-Thomas, S. L. Brown, & M. C. Worline (Eds.), The Oxford handbook of compassion science (pp. 387-408). New York, NY: Oxford University Press.

Haukaas, R. B., Gjerde, I. B., Varting, G., Hallan, H. E., & Solem, S. (2018). A randomized controlled trial comparing the attention training technique and mindful self-compassion for students with symptoms of depression and anxiety. Frontiers in Psychology, 9. doi: 10.3389/fpsyg.2018.00827.