ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

 

Sendiri Tanpa Merasa Sepi :

Refleksi Pengalaman Kesepian Ketika Menghadapi Pandemi COVID-19

 

Oleh

Maria Nugraheni Mardi Rahayu

Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Satya Wacana

 

Sudah tiga pekan berjalan sejak pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah serta melakukan physical distancing untuk menurunkan resiko penularan COVID-19. Sejalan dengan imbauan tersebut, kampus tempat saya bekerja telah menetapkan kebijakan bagi tenaga pendidik dan kependidikan untuk bekerja di rumah. Sejak adanya kebijakan tersebut, rutinitas sehari-hari yang saya lakukan beberapa tahun belakangan mendadak berubah. Pagi hari tidak ada lagi keriuhan mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Tengah hari tidak ada lagi obrolan makan siang bersama kolega atau mahasiswa. Sore atau malam tidak ada lagi nongkrong di kafe dengan sahabat. Demikian pula di akhir pekan, tidak ada lagi perjumpaan dengan orang terdekat seperti yang biasa dilakukan. Semua aktivitas saya lakukan di rumah, kecuali ketika harus berbelanja bahan makanan untuk kebutuhan sepekan atau ke kantor untuk mengambil berkas yang harus dikerjakan. Semua komunikasi dengan kolega, mahasiswa, sahabat, dan kerabat tidak lagi dilakukan dengan tatap muka, tapi melalui telepon seluler.

 

Awalnya, program bekerja dari rumah ini menimbulkan semangat untuk mempelajari sesuatu yang baru, seperti memanfaatkan teknologi untuk kuliah atau konseling secara daring. Namun lambat laun, semangat tadi perlahan luntur seiring dengan semakin lama saya merasa jauh dari lingkungan sosial yang biasa saya jumpai. Antusiasme yang saya rasakan di awal masa bekerja dari rumah perlahan berubah menjadi rasa jenuh, terisolasi, sedih karena tidak dapat berinteraksi dengan orang-orang terdekat dan merasa putus asa karena ingin segera kembali ke rutinitas biasanya. Bahkan tak jarang muncul perasaan kesal dan marah ketika kejenuhan tadi menjadi semakin tidak tertahankan. Perasaan lain yang terasa membebani ialah keputusasaan yang muncul karena saya tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir dan semua bisa berjalan normal kembali.

 

Saya menyadari bahwa imbauan untuk melakukan physical distancing dalam situasi saat ini diperlukan untuk menekan jumlah kasus penularan Covid-19, tetapi sebagai “social being” manusia juga memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Ketika kuantitas dan kualitas hubungan sosial yang kita jalin tidak sebanding dengan yang diharapkan, sangat mungkin kita akan mengalami perasaan kesendirian yang tidak nyaman dan dapat menimbulkan stres. Kondisi inilah yang sering kita sebut sebagai kesepian (Hawkley, 2007). Salah satu kondisi yang dapat menimbulkan perasan kesepian ini adalah adanya perubahan dalam pencapaian hubungan sosial seseorang (Perlman & Peplau, 1981). Kesepian dapat dipicu karena adanya perubahan level pencapaian interaksi sosial yang kita nilai kurang optimal dibandingkan dengan sebelumnya. Perubahan ini dapat muncul karena adanya keterpisahan fisik dengan orang lain yang kita anggap dekat sehingga mengurangi frekuensi interaksi yang kemudian membuat kepuasan kita terhadap hubungan tersebut menjadi berkurang.  Keadaan saat ini yang mengharuskan kita untuk mengurangi interaksi tatap muka membuat kita mengalami keterpisahan fisik dengan orang lain, sehingga kita menjadi rentan untuk mengalami kesepian.

 

Perasan kesepian tidak selalu berasal dari pengalaman kesendirian akan tetapi tergantung dari bagaimana kita memandang dan menilai pengalaman yang sedang dihadapi. Oleh karenanya, pengalaman kesepian merupakan suatu pengalaman yang subjektif, serta tidak selalu terasa sama bagi setiap orang. Saat mengalami kesepian, kita bisa saja merasakan berbagai macam emosi yang berbeda dengan pengalaman orang lain. Rubenstein, Shaver, dan Peplau (1979) menjelaskan empat kategori perasaan yang dialami oleh orang yang kesepian, di antaranya adalah perasaan yang tergolong dalam keputusasaan (desperation), kejenuhan yang tidak tertahankan (impatient boredom), pencelaan diri (self-deprecating) dan depresi (depression). Jika tidak diatasi, perasaan-perasaan ini dapat memunculkan kondisi psikologis lain yang lebih serius. Agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius, kita perlu mengatasi perasaan kesepian yang dialami saat ini dengan tetap mengikuti protokol physical distancing.

 

Mengatasi Kesepian Saat #DiRumahAja

“Loneliness does not come from having no people around you, but from being unable to communicate the thing that seem important to you.”

-Carl Jung-

 

Kutipan kalimat Jung di atas menyadarkan saya bahwa perasaan kesepian tidak benar-benar berakar dari kesendirian, akan tetapi dari pemikiran bahwa kita tidak lagi bisa menjalin hubungan dengan orang yang penting bagi kita seperti sebelumnya. Oleh karenanya, cara pertama yang saya terapkan untuk mengatasi kesepian ialah dengan melakukan kontak sosial (social contact) dengan orang-orang terdekat melalui media dan teknologi yang kita miliki. Meskipun tidak dapat berkomunikasi secara tatap muka, kita tetap bisa mengobrol dengan teman atau kerabat melalui pesan singkat, telepon, atau dengan video call. Kita dapat membicarakan aktivitas sehari-hari yang kita lakukan di rumah masing-masing maupun mencurahkan perasaan dan pemikiran yang kita miliki selama hari-hari ini. Cara ini merupakan cara yang relatif sederhana dan mudah yang dapat kita lakukan untuk mengurangi perasaan terisolasi yang kita alami. Kita juga dapat mengadakan video call secara berkelompok dengan menggunakan aplikasi seperti Zoom, Google Hangout, atau Skype sehingga kita dapat berkomunikasi dengan beberapa orang dalam lingkaran sosial kita secara sekaligus. Selain itu, kita juga dapat menunjukkan perhatian kita kepada teman atau kerabat tanpa dengan bertemu secara langsung, misalnya dengan mengirimkan makanan atau vitamin yang kita pesan melalui aplikasi ojek daring. Melalui cara itu kita juga turut membantu pelaku bisnis lokal dan pekerja harian yang mungkin mengalami kerugian di masa pandemi ini.

 

Strategi kedua yang dapat kita lakukan ialah dengan aktif melakukan aktivitas yang kita sukai meskipun sendiri (active solitude), misalnya dengan menyelesaikan pekerjaan yang kita miliki, melakukan hobi yang kita sukai, atau mempelajari sesuatu yang baru. Dalam masa seperti ini, sangat mungkin kita merasa jenuh dengan pekerjaan yang harus kita kerjakan. Oleh karena itu, selain menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan yang harus kita lakukan, memiliki hobi menjadi salah satu alternatif yang dapat membantu kita untuk meringankan perasaan kesepian. Jika kita suka membaca, buku bacaan baru yang menarik atau membaca kembali buku lama bisa menjadi salah satu aktivitas untuk menikmati waktu luang. Jika kita suka menulis, kita dapat mencoba untuk membuat suatu tulisan tentang pengalaman kita atau hal lain yang membuat kita tertarik. Mempelajari sesuatu yang baru juga dapat menjadi salah satu aktivitas yang dapat kita lakukan saat kesepian. Apalagi saat ini banyak sumber informasi yang dapat kita manfaatkan untuk memberikan inspirasi tentang hal baru yang dapat kita pelajari. Misalnya mencoba memasak resep baru yang sederhana dengan bahan dan peralatan yang ada di rumah/kost, berlatih memainkan alat musik, atau mempelajari bahasa asing. Melalui berbagai aktivitas ini, kita dapat menikmati waktu yang ada sekaligus meningkatkan potensi diri.

 

Penutup

Merasakan kesepian di tengah kondisi harus berjauhan dengan keluarga dan orang terdekat di masa yang penuh ketidakpastian merupakan suatu pengalaman psikologi yang wajar terjadi. Namun, perlu disadari bahwa kita tidak hanya dapat mengalami kesepian melainkan juga memiliki kemampuan untuk mengatasi perasaan tersebut dan tidak membiarkannya berlarut-larut. Kita bisa dan memiliki daya untuk mengatasi pengalaman kesepian yang kita alami melalui tindakan-tindakan yang sederhana dengan sumber daya yang kita miliki saat ini.

 

Referensi:

Hawkley, L. (2007). Loneliness. In R. F. Baumeister & K. D. Vohs (Eds.), Encyclopedia of social psychology (pp. 532-534). Newbury Park, CA: Sage.

Perlman, D., & Peplau, L.A. (1981). Toward a social psychology of loneliness. In S. Duck & R. Gilmour (Eds.), Personal Relationships in disorder (pp. 31-56). London: Academic Press.

Rubinstein, C., Shaver, P., & Peplau, L.A. (1979). Loneliness. Human Nature, 2, 58-65.