ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

Humor dan Optimisme untuk Menangkal Corona

 

Oleh

Nurul Hidayati

Fakultas Psikologi, Universitas 45 Surabaya

 

Kondisi persebaran virus corona (covid-19) yang hingga 4 April 2020 secara global telah berdampak pada 202 negara, dengan total mencapai 972.303 kasus terkonfirmasi, 50.322 kasus meninggal, dengan angka kematian mencapai 5,2 %. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus positif covid-19 telah mencapai 1.986 orang, dengan kasus sembuh sebanyak 134, dan kasus meninggal sebanyak 181 orang (infeksiemerging.kemkes.go.id). Penyebaran covid-19 di Indonesia telah memasuki bulan ke-dua (kasus pertama dikonfirmasi pada awal Maret 2020).

 

Semenjak pertengahan Maret 2020 lalu, tepatnya sejak 16 Maret 2020, para pelajar dan mahasiswa di negeri kita tercinta mulai mengalami belajar dari rumah (learning from home). Kemudian, para pekerja pun secara bertahap juga menjalankan kebijakan bekerja dari rumah (working from home) sebagai dampak pademi covid-19.

 

Ketika mahasiswa dikenakan kebijakan belajar dari rumah (learning from home) dan para pekerja (termasuk guru dan dosen) juga melakukan bekerja dari rumah (working from home) melalui berbagai media digital yang menunjang, ternyata muncul reaksi beragam. Infeksi covid-19 memang telah menjadi masalah kesehatan di hampir semua negara seluruh dunia, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Dari sharing para mahasiswa terhadap penulis, penulis juga menangkap stres dan kecemasan yang dialami mahasiswa. Menariknya, kuliah daring yang dilakukan sebagai alternatif pembelajaran di masa pandemic covid-19 tersebut, bagi dosen dan mahasiswa juga menjadi stressor tersendiri.

 

Dari sisi mahasiswa, keluhan yang muncul antara lain dikarenakan beban tugas yang dirasakan menumpuk, dan penjelasan melalui perkuliahan daring dirasa tidak sepenuhnya bisa sejelas perkuliahan tatap muka langsung. Bagi dosen sendiri, keluhan yang muncul antara lain terkait rasa stres dan frustrasi ketika pemahaman mahasiswa terhadap materi tidak seperti yang diharapkan, koreksi tugas mahasiswa yang menumpuk, dan tugas yang tidak seperti harapan.

 

Dalam menyikapi hal-hal yang berubah dengan cepat ini, optimisme dan humor bisa menjadi salah satu cara menjalani hari-hari dengan tetap sehat secara psikologis. Kesehatan (dalam pembukaan konstitusi Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO) didefinisikan sebagai kebugaran menyeluruh fisik, jiwa, dan sosial, dan bukan sekedar lepas dari kondisi sakit dan lemah. Dalam Seligman (2013) dikemukakan bahwa optimisme yang lebih besar memberikan perlindungan terhadap kesehatan, sedangkan pesimisme memperlemah seseorang.

 

Maka, tantangannya adalah, meskipun kita semua terpengaruh oleh pandemi covid-19, namun bagaimana upaya yang kita bisa lakukan untuk tetap sehat. Artikel ini dituliskan dari hasil refleksi pengalaman penulis selama hampir satu bulan menjalani working from home dan merupakan bagian dari upaya menyalakan nyala harapan dibandingkan mengutuk gelap. Sebagaimana dikemukakan Matthew A. Budd (dalam Adams, 2008) bahwa hidup itu lebih besar dari penyakit, diagnosis, pengobatan, atau mekanisme penyakit. Tertawa, sentuhan kecil, atau air mata dapat membangun kembali tubuh dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh obat semata.

 

Optimisme dan Kesehatan

Hal yang penting untuk kita pahami, sesuai yang dikemukakan Seligman (2013), bahwa sikap optimis dapat membuat orang tidak mudah terkena penyakit, termasuk penyakit yang disebabkan virus, seperti coronavirus (covid-19).nBerikut beberapa penjelasan berkaitan dengan kaitan optimisme dan kesehatan kita:

(1)  Orang optimis cenderung memilih gaya hidup yang lebih sehat. Mereka percaya bahwa tindakan yang mereka ambil berpengaruh penting.

(2)  Dukungan sosial. Orang yang optimis biasanya lebih bahagia dan memiliki dukungan social yang lebih baik daripada orang pesimis.

(3)  Mekanisme Biologis. Respon kekebalan tubuh orang optimis lebih baik dibanding orang pesimis. Orang pesimis mudah menyerah dan lebih mudah stress, sedang orang optimis mengatasi stres dengan lebih baik.

 

Ketika memperoleh berbagai informasi terkait covid-19 yang demikian banyak beredar di masyarakat, dan ketika kehidupan kita terdampak oleh pandemi covid-19, kita perlu mengembangkan optimisme sehingga membuat diri cenderung lebih sehat.

 

Humor dan Kesehatan

Patch Adams, seorang dokter yang mengembangkan pendekatan humor dalam layanan kesehatan mengemukakan bahwa masalah kesehatan yang paling berbahaya bagi banyak orang yakni gabungan kebosanan, ketakutan, dan kesepian. Salah satu cara mengukurnya yakni dengan bertanya seberapa baik hubungan dengan diri sendiri, teman, dan keluarga. Humor sangatlah penting dalam penyembuhan penyakit seseorang, komunitas, dan masyarakat. Humor adalah faktor utama yang mencegah kelelahan dalam hidup. Kita perlu membangun suasana penuh rasa percaya, cinta, dan memberikan sentuhan humor di dalamnya. Humor memiliki banyak wajah dan bersifat sangat individual sehingga kita perlu mencoba dan terus mencoba, sentuhan humor yang mana yang cocok untuk seseorang. Namun hasilnya akan sepadan. Sudah saatnya berusaha menggabungkan tawa dan cinta dengan layanan kesehatan. Tujuan kita bukan menyakiti orang atau meremehkan penderitaan, namun untuk membuat orang-orang yang menderita merasa gembira. Sifat dari penderitaan membutuhkan kegembiraan sebagai obat (Adams & Mylander, 2008).

 

Bahwa dalam masa pandemi covid-19 ini, kebanyakan kita memiliki waktu yang lebih panjang bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Kita dapat memanfaatkannya, selain dengan tetap menjalankan tugas-tugas dari institusi kerja kita dari rumah, juga dengan mengembangkan berbagai kegiatan yang menyemai kebahagiaan dalam diri. Misalnya dengan: (1) Mengeksplorasi berbagai minat seperti olahraga, memasak, dan menanam bunga; (2) Bermain-main dengan berbagai media seni, misalnya: membuat lukisan bersama anak-anak, membuat crafts dari barang-barang yang sudah tak terpakai; (3) Bermain pura-pura (pretend play) atau bermain khayal, misalnya bermain pesawat luar angkasa bersama anak-anak, sandiwara boneka, drama; (4) Menonton film atau tayangan lucu yang menghibur; (5) Saling menceritakan kisah atau pengalaman unik dan lucu; (6) Mengembangkan ketertarikan, keingintahuan, sudut pandang baru, dan imajinasi dari hal-hal kecil dan sederhana di lingkungan terdekat; (7) Mengembangkan kacamata humor dan respon baru. Alih-alih marah dan terganggu oleh hal-hal kecil, kita memilih untuk melihat dari kacamata yang lebih fun dan kreatif.

 

Contoh, ketika ada mahasiswa terlambat masuk kelas daring karena kehabisan kuota internet atau mahasiswa yang sama sekali tidak merespon penugasan daring. Ketika ada dosen yang hanya memberikan tugas, tanpa menerangkan, di kelas daring. Daripada terjebak dalam kesal dan amarah, mahasiswa ataupun dosen bisa mengubah perspektifnya. Ada seorang rekan dosen yang menceritakan ada mahasiswa yang buang angina begitu keras saat pembelajaran daring, dan ketika ia melihat melalui kacamata humor, hal tersebut menjadi hiburan segar dan bukannya membuatnya kesal.

 

Contoh lain, ketika ayah atau ibu yang biasa bekerja di kantor, kini bekerja di rumah, dan harus beradaptasi dengan kondisi rumah yang ramai dengan polah tingkah anak-anak yang terkadang tetap mengajak orang tua mereka bermain di saat ayah ibunya harus bekerja (working from home), maka perlu memutar perspektif dan melihat situasi tersebut dari sisi fun- nya dan bukan sebagai stressor tambahan.

 

Ada hal-hal yang bisa kita ubah dan kita memiliki kendali atasnya, dan ada hal-hal yang di luar kendali kita. Adanya virus covid-19 adalah sesuatu yang di luar kendali kita, namun cara kita berpikir dan bersikap terhadap pandemi covid-19 merupakan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Kita bisa bersikap negatif, pesimis, dan merasa tenggelam oleh rasa tidak berdaya. Sebaliknya kita bisa bersikap lebih optimis, terus melakukan kegiatan-kegiatan positif dan produktif, menguatkan relasi dan meningkatkan kebahagiaan melalui sentuhan humor keseharian. Sebagaimana ungkapan Viktor E. Frankl, “When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves” / Ketika situasi berada di luar kendali kita, kita ditantang untuk mengubah diri sendiri.

 

Kesimpulan dan Saran

Mengikuti berita dan informasi penyebaran covid-19 yang kian meluas, apabila tidak disertai dengan upaya memilah-milah, mengembangkan sikap optimis dan sentuhan humor, akan membuat kesehatan seseorang akan terdampak secara negatif. Dengan kebijakan bekerja dan juga belajar di rumah, anak-anak, remaja, dan para orang tua memiliki banyak waktu untuk berkegiatan di rumah, dan dengan mengembangkan optimisme dan sense of humor, diharapkan relasi antar anggota keluarga tidak dipenuhi ketegangan dan lebih membahagiakan. Apabila kita memanfaatkan momen ini secara positif, maka kesehatan kita lebih terpelihara. Dengan kata lain, kita dapat menagkal (dampak negatif) corona (covid-19) dengan humor dan optimisme.

 

Referensi:

 

Adams, P, & Mylander, M. (2008). Patch Adams. Kisah Inspiratif Seorang Dokter Eksentrik yang Menyembuhkan dengan Humor dan Kebahagiaan. Penerbit B-First.

 

Arifiati, R.F., & Wahyuni, E.S. (2019). Peningkatan Sense of Humor untuk Menurunkan Kecemasan pada Lansia. Indonesian Journal of Islamic Psychology. Vol 1 (2): 139-169.

 

Frankl, V.E. (2004). Man’s Search for Meaning. Mencari Makna Hidup. Penerbit Nuansa.

 

Seligman, M. (2013). Beyond Authentic Happiness. Menciptakan Kebahagiaan Sempurna dengan Psikologi Positif. Penerbit Kaifa.

 

Update Data Penderita Covid-19 (http://www.infeksiemerging.kemenkes.go.id) Diakses pada 4 April 2020.