ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

Dilema Moral Masyarakat dalam Menghadapi Pandemi Korona: Aku Tahu, Tapi….

 

Oleh

Wanda Fitri

Program Studi Psikologi, UIN Imam Bonjol Padang

 

 

Pendahuluan

Kepekaan masyarakat terhadap himbauan pemerintah dalam memutuskan perkembangan rantai virus korona yang sangat meresahkan saat ini menjadi sebuah tantangan yang lebih pada tuntutan. Penyebaran virus korona yang dimulai sejak pertengahan bulan Januari 2020 di Wuhan Cina yang kemudian merebak hampir ke seluruh dunia hanya dalam hitungan minggu. Hampir seluruh negara di dunia terpapar virus covid 19 ini. Di Indonesia lonjakan kasus positif korona cukup tinggi dan semakin menguatirkan. Laporan dari Achmad Yurianto, ketua Satgas Covid 19, saat ini tercatat sebanyak 2491 positif (kemungkinan akan terus bertambah) dan 209 orang diantaranya meninggal, serta 192 sembuh (Kabar Petang Tvone: 6/4/2020).

Tindakan pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona disikapi dengan berbagai cara oleh masyarakat. Sepintas kebijakan untuk tetap di rumah dan menjaga jarak adalah penyelesaian yang mudah. Namun kenyataannya di lapangan tidak sesederhana yang terlihat. Hanya dalam hitungan hari masalah sosial lain bermunculan. Di beberapa daerah terjadi penolakan larangan berdagang di pusat perbelanjaan,  protes meminta kompensasi atas larangan yang dibuat karena mereka perlu bekerja untuk tetap bertahan hidup. Misalnya, pedagang garmen, pedagang kaki lima, tukang beca, tukang ojek, sopir taksi, sopir angkot, pedagang asongan, buruh harian, dan sebagainya. Akibatnya banyak diantara mereka yang terpaksa mudik dengan alasan ekonomi meski tindakan itu juga dilarang karena sangat beresiko kepada mereka dan orang lain.

 

Pemetaan Kondisi Masyarakat di Tengah Wabah

Sejak virus korona mulai menyebar di Indonesia dipertengahan bulan Februari yang lalu berbagai sikap diperlihatkan masyarakat. Berdasarkan pengamatan secara langsung maupun melalui media seperti televisi dan media sosial, secara umum respon masyarakat dapat dipetakan sebagai berikut:

1.    Periode I:  Awal penyebaran virus: menimbulkan rasa takut dan panik,  hal itu ditandai dengan membeli barang-barang kebutuhan pokok secara berlebihan, memborong masker dan hand sanitazer, mudah tersinggung, menyerap informasi tentang virus korona sebanyak mungkin, dan ikut membagikan (share) informasi apa saja yang terkait dengan korona dan pencegahannya melalui media sosial

2.    Periode II: Masa lonjakan penyebaran virus: mulai stres, hal itu ditandai dengan protes, banyak komplain, dan mulai cemas bagaimana cara membayar cicilan motor, listrik,  tunggakan hutang, sewa rumah, dan sebagainya karena tidak memiliki gaji bulanan yang bisa menjamin pengeluaran tersebut,  dan memutuskan mudik  meski tahu tindakan tersebut sangat beresiko.

3.    Periode III: Mulai mengamati keadaan: mulai pasrah dan menerima keadaan, hal itu ditandai dengan munculnya tindakan empati dari berbagai kalangan melalui gerakan donasi membantu tenaga medis dan masyarakat yang kurang mampu. Sebaliknya, bagi mereka yang keluarga, lingkungan, atau daerahnya belum ditemukan kasus ODP, PDP, maupun positif  mulai keluar rumah melakukan aktivitas seperti biasa dengan alasan bosan di rumah dan lingkungannya mash aman. Contoh: berbelanja ke mal/pasar, tetap melaksanakan ibadah di mesjid, menenangkan diri ke tempat wisata, menginap di puncak, memancing, tetap melaksanakan hajatan (resepsi pernikahan), dan seterusnya. Periode ini sedang dan masih berlangsung saat ini

4.    Periode IV: Belajar dari keadaan, hal ini ditandai dengan munculnya kesadaran dan sikap optimis. Pada periode ini orang-orang mulai memperhatikan dan merasakan akibat dari ketidakdisiplinan mereka mematuhi himbauan tinggal di rumah dan menjaga jarak sebagai bentuk usaha melawan korona. Keberhasilan negara-negara  lain melawan korona akan ditiru dengan baik. Orang-orang mulai kooperatif  dan mendisplinkan diri. Sebagian juga semakin religius, berdoa bersama kepada Tuhan meminta keselamatan dan perlindungan.

 

Dilema Moral Vs Pilihan Rasional 

Berkaitan dengan pemetaan di atas, ketidakpatuhan sebagian masyarakat dalam menjaga diri dari ancaman virus korona dapat dianalisis dari pendekatan moral. Terutama pada kelompok masyarakat ekonomi kelas bawah atau dari sektor informal. Sikap bandel mereka untuk tetap keluar rumah (bekerja) meski mereka sadar akan resiko yang mengancam merupakan sebuah dilema (dilema moral). Tentu saja mereka tidak dengan sengaja ingin mencelakai orang lain hanya untuk menyelamatkan diri dan keluarganya.

Dalam kajian psikologi moral umumnya dipertanyakan bagaiman seseorang dihadapkan pada pilihan untuk menjalankan nilai moral tertentu namun di sisi lain menyebabkan pelanggaran terhadap nilai moral yang diyakini. Haidt (2012) menjelaskan bahwa penilaian moral seseorang terkait dengan kondisi emosinya saat ia menghadapi situasi tertentu. Artinya, dalam kerjanya pertimbangan moral tidak memerlukan pertimbangan rasional.  Sebaliknya menurut Lind (2008), seseorang tidak akan mampu melakukan penilaian moral tanpa didahului oleh penalaran atau pertimbangan rasionalitasnya. Pilihan dan  keputuan moral merupakan hasil kerja dari kognisi yang dipengaruhi oleh emosi.

Weber (dalam Johnson, 1994) sebagai orang yang pertama kali mengenalkan teori pilihan rasionalitas melihat kenyataan sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada motivasi individu dan tindakan sosial. Tindakan sosial apapun wujudnya hanya dapat dimengerti menurut arti subjektif dan motivasi apa yang mendasarinya. Artinya, setiap tindakan yang dilakukan oleh individu hanya individu itu sendiri yang mengerti. Tidak selalu semua perilaku dapat dimengerti sebagai suatu manifestasi rasionalitas. Untuk mengetahui arti subjektif dan motivasi individu yang bertindak yang diperlukan adalah kemampuan untuk berempati pada peranan orang lain.

Melihat kepada tindakan yang dilakukan oleh masyarakat yang terkesan tidak kooperatif dikarenakan alasan ekonomi bukanlah sebuah pelanggaran. Dalam kajian psikologi moral tindakan ini disebut dilema moral. Pilihan individu untuk tetap keluar bekerja bukan moralitas yang hanya berorientasi pada diri sendiri (self oriented) sehingga mengabaikan kepentingan orang banyak (social oriented). Jika dikaitkan dengan teori pilihan rasionalitas maka apa yang dilakukan oleh kelompok masyarakat di atas adalah sebuah pilihan rasional. Dari sisi pelaku apa yang dilakukannya adalah sangat rasional karena mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya jika tidak bekerja (keluar rumah). Dengan kata lain, jika mereka tetap di dalam rumah (tidak bekerja) maka mereka tidak makan.

Demikian juga dengan mereka yang melakukan mudik. Mudik  adalah sebuah pilihan yang paling rasional di tengah kondisi chaos ini, tidak memiliki  sumber penghasilan sementara kehidupan terus berlanjut. Mudik menjadi pilihan yang efektif meski pelaku sadar bahwa tindakan mereka sangat beresiko terhadap diri maupun orang lain. Sebaliknya, sikap bandel yang ditunjukan oleh masyarakat yang bukan karena faktor ekonomi dapat dikatakan sebagai bentuk rendahnya kesadaran dan tanggungjawab sosial. Mereka tidak berada dalam dilema moral, karena mereka tidak melawan “penjahat perut” untuk menyelamatkan diri.   

 

Penutup   

Usaha melawan korona adalah tindakan super penting, namun pemerintah juga harus berhati-hati agar kondisi sosial ekonomi masyarakat tidak menjadi chaos. Disamping terus melakukan sosialisasi melawan korona pemerintah juga seharusnya memikirkan kompensasi untuk masyarakat ekonomi bawah. Keterlibatan seluruh lapisan masyarakat juga menjadi penting sebagai penopang dari kebijakan tersebut. Gerakan sosial melalui kegiatan amal dan donasi yang dilakukan oleh sekelompok orang seharusnya dapat merangsang kesadaran masyarakat lebih luas betapa pentingnya bekerjasama dan berpartisipasi aktif dalam mencegah penyebaran virus corona di Indonesia.  

 

Referensi:

Haidt, J. (2012). The Righteous Mind:Why Good People Are Divided by Politics and Religion. New York: Vintage

 

Johnson, D.P. (1994). Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Lind, G. (2008). The Meaning and Measurement of Moral Judgment Competence. A Dual-Aspect Model. In: Daniel Fasko, Jr. & Wayne Willis, eds.: Contemporary Philosophical and Psychological Perspectives on Moral Development and Education, pp. 185-220. Creskill: Hampton Press.