ISSN 2477-1686

 

Vol.5 No. 20 Oktober 2019

Meneropong Arah Psikologi Kita

(Bagian Pertama)

 

Oleh

Tugimin Supriyadi

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

 

Mencermati, menganalisa dan merasakan peran psikologi di negara kita, menjadi sebuah perenungan. Benarkah psikologi kita yang selama ini kita manfaatkan untuk menyelaraskan klien berkiblat pada psikologi barat? Kiblat psikologi di Indonesia bila dicermati sampai dengan saat ini memang masih terasa kental dan masih mengarah pada kiblat psikologi yang ke barat-baratan. Disadari atau tidak, memang marwah psikologi kita berasal dari barat. Namun demikian bolehkah kita mempunyai tujuan yang spesifik, kapan psikologi kita beridentitaskan “Psikologi Indonesia?” Barangkali lebih spesifik lagi psikologi kita berlabel “Psikologi Nasional,” atau lebih elegan dengan sebuatan “psikologi nusantara”, kenapa tidak?

Berangkat dari logika kecil ketika dosen-dosen kita membimbing dan menguji Tesis dan Disertasi, kiblat mereka adalah tokoh barat. Bila anak bimbingannya memanfaatkan penulis buku dan jurnal dari orang-orang Indonesia justru dipertanyakan. Penulis buku atau jurnal terkadang justru dipertanyakan kapasitas dan kapabilitasnya bila penulis lokal. Mengapa demikian? Ya, karena diakui atau tidak selama ini kita telah mem –barat-kan psikologi kita. Bukankah sehausnya meng-Indonesia-kan psikologi barat. Selebihnya penulis buku dan jurnal dari dalam negeri juga tidak sedikit yang kualitasnya bisa dibilang mendekati dengan penulis barat, kalau tidak boleh dibilang sama kualitasnya dengan penulis barat.

Kita mempunyai Fakultas Psikologi dari Universitas ternama seperti UGM, UI, Unpad, Unair  dan sebagainya, yang nota bene bisa dibilang pelopor Psikologi Indonesia, namun referensi dari dari dosen-dosen Universitas ternama tersebut masih dipertanyakan oleh para pembimbing dan penguji Tesis dan Disertasi. Bisa dibilang kalau grand teori dari dari penelitian kita tidak memakai buku atau jurnal internasional, dibilang “kurang keren?”

Berdasar dari pemikiran itulah, maka tidak ada salahnya selalu mengkaji, menganalisa, dan mengambil sebauh pelajaran, serta meneropong arah dan perkembangan psikologi kita. Psikologi kita memang berasaal dari barat, tapi haruskah kita kebarat-baratan?

Bila konsep psikologi kita masih berkutat pada Konsep Psikoanalisa dan Psikodinamika, tentu tidak ada salahnya. Bila konsep psikologi  kita masih berkutat pada Konsep behaviorisme dan Kognivitisme, juga bukan kekeliruan dan bila kita masih memakai Konsep Humanisme dan Eksistensialisme-pun juga bukan kemunafikan. Karena memang itulah konsep-konsep psikologi yang sejak awal diperkenalkan. Konsep Psikologi yang masih lumayan baru seperti Konsep Transpersonal-lah yang membawa kita pada perenungan, bahwa psikologi kita mulai berkembang. Setidaknya awal ketika kita mengenal psikologi (waktu itu) masih belum memperhitungkan peran religius, namun belakangan ini peran religius mulai dipertimbangkan maknanya.

 

Konsep  Psikologi Raos

Tentu masih segar dalam ingatan kita, bahwa kita memiliki Psikologi lokal (kalau tidak mau dibilang psikologi ketimuran) yang sering di sebut dengan “Psikologi Raos”. Psikologi Raos itu sendiri merupakan pangejewantahan dari perkembangan “kawruh jiwa.” Ya, kawruh jiwa adalah psikologi raos yang dikembangkan oleh Ki Ageng Suryo Mentaram.  Raos dalam bahasa Jawa memiliki banyak makna, namun dalam bahasa Indonesia sering di artikan sebagai rasa, atau feeling atau lazim juga diartikan sebagai affection. Jauh ke belakang mengingatkan kita akan ajaran Sultan Agung Hanyakra Kusuma (1593-1645), yang konon sangat familier dengan kata “cipta, rasa dan karsa.” Bahkan sering disejajarkan dengan pernyataan Immanuel Kant (1724-1804) tentang koqnitif, afektif dan konatif. Raos yang dikembangkan oleh Ki Ageng Suryo Mentaram memang tidak bisa disamakan dengan ajaran Sultan Agung tentang cipta, rasa dan karsa.  Namun demikian keduanya memiliki arah yang sama pada panggulawantah (memaknai dan mengolah) rasa.

Ada yang membuat penasaran ketika saya mencoba memahami buku saudara  Kholik (2017) dengan judul Psikoterapi Jawa. Terbersit pemikiran inilah sebuah upaya untuk kita agar kita tidak terjebak dan selalu mendewa-dewakan psikologi barat, namun berusaha mensejajarkan psikologi barat dengan dengan Psikologi Raos. Namun sebesar apapun upaya itu, tentu butuh pembuktian secara ilmiah, apakah dengan mempelajari dengan cermat Psikologi Raos yang nota bene sebagai pangejowantahan dari :kawruh Jiwa”, itu dapat mempercepat akselerasi ilmiah me-nasionalisme-kan pengetahuan psikologi kita menuju psikologi nusantara?

Kita bisa berharap bahwa alasan kita sebagai orang timur, dengan cara berpikir timur, khususnya dalam Kawruh Jiwa, dimana selalu menggunakan raos (rasa) dalam berikir. Lebih dalam lagi, kita berusaha senantiasa menggunakan rasa (raos ing rasa) atau berpikir dengan rasa (ketimbang otak untuk berpikir) (Raos sing pikir) atau berpikir dengan otak (bukan berarti otak tidak dikutsertakan), lebih dikedepankan baik dalam interaksi pribadi, sosial maupun dalam interaksi kebudayaan. Dalam Kawruh Jiwa, Raosing pikir atau berpikir dengan otak, atau si pikir adalah sebagai perabot ing karep lan aku (Kholik, 2018).

Selanjutnya, dalam kawruh jiwa raosing pikir digunakan untuk memahami ketepatan raosing raos. Maknanya, bahwa mahasiswa kita yang selama ini mengenyam pendidikan tidak akan mengalami apa yang dikatakan sebagai gap, namun yang terjadi adalah congruence (kawruh jiwa menyebutnya raos luluh) antara pikiran yang didominasi barat dengan perasaan yang lebih nusantara. Karena hal ini fakta yang nyata dan ada dalam interaksi di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam belajar ilmu psikologi yang selama ini kita rasakan (Sugiharto, 2015).

Harapannya ke depan kita bisa mengambil masing-masing makna dari psikologi barat dan psikologi ketimuran yang nantinya akan menjadi ciri khas Psikologi Indonesia. Hal inilah yang menjadikan kita memiliki pijakan akan pengembangan psikologi di masa yang akan datang, sehingga tidak ada beban dalam perenungan makna psikologi, bahwa sebenarnya kita sedang memainkan peran psikologi yang berasal dari psikologi kita dan di kombinasi dengan psikologi barat, sehingga menjadi satu kesatuan psikologi yang telah mengandung makna dari keduanya, namun tidak ada rasa psikologi yang saling menomorduakan antar paham psikologi. (Bersambung).  

Referensi:

Corey, G. (2009). Konseling dan psikoterapi: Teori dan praktik. Terjemahan Edi Korwara dari Theory and Practice: Counseling and Psychotheraphy. Bandung:  Refika Aditama.

 

Fikriono, M. (2018). Kawruh Jiwa. Warisan spiritual Ki Aeng Suryomentaram. Banten: Avanica-Kaurama Buana Antara.

Kholik, A. (2017) Psikoterapi Jawa: Pendekatan kawruh jiwa Ki ageng Suryomentaram. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Sugiarto, R. (2015). Psikologi Raos: Saintifikasi kawruh jiwa Ki Ageng Suryomentaram.Yogyakarta: Pustaka Ifada.