ISSN 2477-1686 

   Vol.5 No. 9 Mei 2019

 

Yuk, Ketahui Model Pembelajaran Yang Efektif!

Oleh

Nindira Shadrina Ghassani dan Clara Moningka

Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

Makna Belajar

Kegiatan belajar merupakan suatu proses yang paling pokok pada setiap jenjang pendidikan. Secara umum belajar adalah proses yang dilakukan setiap individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku, baik dalam pengetahuan, keterampilan maupun sikap sebagai bentuk pengalaman dari materi yang telah dipelajari. Kegiatan belajar akan maksimal apabila siswa memahami makna belajar itu sendiri. Belajar merupakan tindakan dan perilaku yang kompleks. Sebagai perilaku, maka belajar hanya dialami oleh individu itu sendiri yang akan menjadi penentu terjadi atau tidaknya proses belajar. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk menggunakan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu, dan sebagai pedoman untuk guru atau pihak tertentu dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar sehingga memudahkan siswa dalam memahami setiap materi yang diberikan.

Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis

Saat ini kemampuan berpikir kritis itu sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena untuk mengembangkan kemampuan berpikir lainnya, seperti kemampuan untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah dalam belajar. Mengapa demikian? berpikir kritis adalah suatu aktifitas kognitif yang berkaitan dengan penggunaan nalar. Belajar untuk berpikir kritis berarti menggunakan proses-proses mental, seperti memperhatikan, mengkategorikan, seleksi, dan menilai atau memutuskan. Kemampuan dalam berpikir kritis memberikan arahan yang tepat dalam berpikir dan bekerja, dan membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu dengan yang lainnya dengan lebih akurat. Oleh sebab itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah atau pencarian solusi. Kemampuan berpikir kritis merupakan integrasi (gabungan) dari beberapa bagian pengembangan kemampuan, seperti observasi, analisis, penalaran, penilaian, pengambilan keputusan, dan persuasi. Semakin baik pengembangan kemampuan-kemampuan ini, maka kita akan semakin dapat mengatasi masalah-masalah kompleks dengan hasil yang memuaskan. Apa saja sih tahapan penerapan berpikir kritis dalam belajar? yaitu keterampilan menganalisis, mensintesis dan integrasi tentunya.

Taksonomi Bloom

Bloom merupakan ilmuwan psikologi pendidikan yang mengenalkan teori “Level Of Knowledge” ia melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran. Dalam Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika, Bloom dan kawan-kawan mengemukakan bahwa dari evaluasi hasil belajar yang banyak disusun di sekolah, ternyata persentase terbanyak butir soal yang diajukan hanya meminta siswa untuk mengutarakan hapalan mereka.Menurut Bloom, hapalan merupakan tingkat terendah dalam kemampuan berpikir. Masih banyak level lain yang lebih tinggi yang harus dicapai agar proses pembelajaran dapat menghasilkan siswa yang kompeten di bidangnya. Pada tahun 1956, Bloom dan kawan-kawan mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Taxonomy Bloom, merupakan struktur hierarkhi yang mengidentifikasikan skills mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi. Tentunya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, level yang rendah harus dipenuhi terlebih dahulu yang dibagi menjadi tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Singkatnya, Ranah Kognitif berisi perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, dan keterampilan berpikir. Ranah afektif mencakup perilaku terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, minat, motivasi, dan sikap.Ranah Psikomotorik berisi perilaku yang menekankan fungsi manipulatif dan keterampilan motorik atau kemampuan fisik.

Jadi ketika kita menerapkan model pembelajaran dalam belajar harus sampai ke tahap yang lebih tinggi. Mengapa demikian?karena ketika menganalisa, kita dapat memiliki kemampuan memisahkan konsep kedalam beberapa komponen untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas sehingga kita dapat menganalisa konsep tersebut secara utuh. Dalam sintesa, kita dapat merangkai atau menyusun kembali komponen-komponen sehingga kita dapat menciptakan arti atau pemahaman baru. Dalam integrasi, syarat nilai yang tinggi dan pembentukan karakter juga diperlukan untuk membekali siswa dalam mengantisipasi tantangan ke depan yang dipastikan akan semakin berat dan kompleks. Guru sebagai pengembang kurikulum selanjutnya dituntut untuk mampu secara terampil menghadirkan suasana dan aktivitas pembelajaran yang berorietansi pada penanaman dan pembinaan kepribadian, watak dan karakter siswa.

Pembelajaran yang Efektif

Perkembangan dunia pendidikan terus berlangsung sejalan dengan tuntutan hidup manusia untuk menjawab perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin hari semakin maju dan kompleks. Dunia pendidikan juga dituntut untuk peka terhadap perubahan dan perkembangan sekecil apapun dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks ini peran guru tidaklah kecil. Guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan terdepan dituntut untuk terus mengembangkan pengetahuan, kemampuan serta keterampilannya. Salah satu tugas utama guru adalah menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar. Untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar yang efektif, seorang guru membutuhkan pengetahuan tentang hakikat model pembelajaran dan teori yang mendukung model tersebut.Oleh karena itu disarankan kepada semua yang berhubungan  dengan dunia pendidikan dan khususnya guru dapat membaca dan memahami teori-teori dalam pembelajaran, karena dengan adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan model-model pembelajaran yang akan dilaksanakan dan akan membantu peserta didik dalam proses belajar.

Referensi

 

Bloom, B. S.(1956). Taxonomy of educational objectives. New York: David. Mc. Kay Company, Inc. Diakses dari http://repository.uinsu.ac.id/842/2/ISI%20PSIKOLOGI%20PEND.pdf

Lefrancois, G. R. (2000). Theories of human learning: What the old man said (4th Edition). USA: Wadsworth/Thomson Learning.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh