ISSN 2477-1686

  Vol.5 No. 8 April 2019

Dear Couple, Bertengkarlah!

 

Oleh

Yuarini Wahyu Pertiwi

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

 

Rumah tangga itu harus langgeng, harmonis, dan rukun!.” Kalimat ini sering terucap dari mereka yang sudah berumah tangga atau yang hanya sekedar menilai kehidupan rumah tangga orang lain. Faktanya, langgeng dan harmonis bukan tanpa pertengkaran atau selalu rukun. Ibarat kapal pesiar yang tidak selalu tenang mengarungi lautan, suami sebagai nahkoda dituntut piawai memegang kemudi sampai akhirnya berlabuh di pulau yang indah. Survey William Doherty melansir 44% pasangan menikah yakin bahwa bertengkar membantu menjaga komunikasi tetap terbuka (dalam Strickler J, 2012). Selain itu, Petterson, Grenny, McMillan & Switzler (2013) menemukan bahwa pasangan yang berdebat atau bertengkar secara sehat berpotensi lebih bahagia dibandingkan dengan pasangan yang mendiamkan masalah. Hal ini mendasari bahwa konflik rumah tangga itu wajar dan bertengkar itu biasa bahkan sebuah keniscayaan, tentunya dengan cara yang elegan, secara tepat dan bukan tanpa aturan. Berdasar perspektif psikologi, Johnson (dalam supratiknya, 2012) mengungkapkan manfaat positif konflik dapat menyadarkan pasangan bahwa ada persoalan yang perlu dipecahkan atau selama ini tidak jelas, mendorong perubahan diri, membuat kehidupan menarik, tercapai keputusan bersama yang berkualitas, menghilangkan ketegangan kecil, sadar akan diri, menjadi hiburan dan mempererat hubungan. Namun bagaimana cara bertengkar yang elegan agar konflik terselesaikan? Ada sebuah pandangan dalam agama Islam, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Kamu harus memberi makan kepadanya sesuai yang kamu makan, kamu harus memberi pakaian kepadanya sesuai kemampuanmu memberi pakaian, jangan memukul wajah, jangan kamu menjelekannya, dan jangan kamu melakukan boikot kecuali di rumah.” (HR. Ahmad 20011, Abu Daud 2142). Hadist tersebut menjelaskan bahwa saat pasangan bertengkar dilarang memukul wajah (agresi fisik) maupun menjelekkan (agresi verbal), serta memboikot satu sama lain. Arti kalimat “memukul wajah” meliputi agresi fisik secara kesuluruhan. Kandungan dalam hadist tersebut pada saat ini di Indonesia, direpresentasikan dalam Undang-undang Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU KDRT). Kalimat “Tidak menjelekkan” berarti tidak menghina pasangan, karena akan menyakiti perasaan terlebih apabila berkenaan tentang keluarganya. Secara psikologis seorang yang emosi marahnya memuncak, cenderung berperilaku agresif. Sedangkan kalimat “tidak memboikot” berarti menjaga rahasia rumah tangga agar tidak terbawa keluar rumah. Ketika berada di rumah, pasangan bisa saling emosi dan menjauh. Akan tetapi, ketika berada di luar rumah atau di hadapan orang lain pasangan seyogyanya melokalisir konflik dan tetap menunjukkan kemesraan.

Kesimpulannya, “Bertengkarlah dengan elegan!”. Untuk dapat menyuburkan cinta dari pasangan menikah, setelah bertengkar lakukanlah tiga hal ini:

1). katakan “saya”, yaitu tidak menyalahkan pasangan meski kecenderungan merasa paling benar dimiliki manusia. Hal ini seperti hasil studi bahwa saat marah orang merasa lebih pintar dan benar (Zajenkowski & Gignac, 2018).

2). Meminta maaf. Lewicki (2016) menemukan bahwa mengakui kesalahan dan mengatakan akan memperbaiki kesalahan merupakan redaksi paling ampuh dalam meminta maaf dibandingkan sekedar ucapan permohonan maaf.

3). Berpelukan. Murphy, Deverts, dan Cohen (2018) meneliti dan menemukan bahwa pasangan yang berpelukan segera setelah pertengkaran tidak mengalami penurunan mood dibandingkan pasangan yang tidak berpelukan. Hal ini menguatkan bahwa pelukan bukan sekedar sentuhan fisik namun juga sentuhan emosi. Sebagai penutup, mari bertengkar tetapi ada batasannya, yaitu sebagaimana sabda Nabi Muhammad: “Tidak ada (di perkenankan) mendiamkan melebihi tiga (hari)” (HR. Muslim, Hadits No.2562). Perlakukan pasangan kita dengan kebaikan dan rasa hormat bukan karena siapa dia, tetapi karena siapa kita.

 

Referensi:

 

Lewicki, R. J. (2016). An Exploration of the Structure of Effective Apologies. Negoitation and Conflict Management Research, 9, 177-196.

 

Murphy, M. L., Deverts, D. J., & Cohen, S. (2018). Receiving a hug is associated with the attenuation of negative mood that occurs on days with interpersonal conflict. PLOS ONE, 1-17.

 

Patterson, K., Grenny, J., McMillan, R., & Switzler, A. (2013). Crucial Conversations. Jakarta: PT Dunamis Intrasarana.

 

Strickler, J. (2012, January 28). Variety section. Retrieved April 9, 2019, from Startribune.com: http://www.startribune.com/couples-who-argue-together-stay-together/138166289/

 

Zajenkowski, M., & Gignac, G. E. (2018). Why do angry people overestimate their intelligence? Neuroticism as a suppressor of the association between Trait-Anger and subjectively assessed intelligence. Intelligence, 7, 12-21.

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh