ISSN 2477-1686

                                                                                       Vol.4. No.18 September 2018

“Baper” : Termonologi di tengah Tergerusnya Budaya Meminta Maaf

Oleh

Frida Medina Hayuputri

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI 

Istilah "baper" kini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Banyak orang di sekitar kita yang menggunakan istilah ini di dalam percakapannya sehari-hari. Istilah "baper" itu sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari "bawa perasaan". Awalnya istilah ini ditujukan pada orang yang mudah terbawa perasaan (carried away) terhadap berbagai macam hal, misalkan mendadak teringat pada mantan kekasih ketika mendengar lagu sedih, mudah terharu ketika menonton film sedih, mudah terpesona oleh ketampanan aktor di suatu film, dan lain sebagainya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, istilah "baper" ini menjadi berkembang maknanya. Kini, istilah ini cenderung digunakan untuk menggambarkan orang yang mudah tersinggung (sensitif) terhadap sesuatu hal. Misalkan orang yang diledek oleh temannya, dan ia tersinggung (sakit hati), alih-alih meminta maaf, biasanya temannya yang meledek itu malah akan berkata "ah, baper banget sih lo". Istilah baper ini seolah menjadi barometer asyik atau tidaknya seseorang di dalam pergaulan. Orang yang dianggap "baperan" (mudah tersinggung) akan dinilai tidak asyik oleh teman-temannya, dan biasanya cenderung dianggap sebagai pihak yang bersalah.

Tergerusnya Budaya Meminta Maaf

Dari ilustrasi di atas, bisa kita lihat bahwa istilah "baper" kini semakin sering digunakan, di tengah tergerusnya budaya meminta maaf. Istilah ini perlahan sudah menggeser pentingnya makna meminta maaf. Sehingga banyak orang yang merasa tidak bersalah dan tidak perlu meminta maaf pada korban yang sudah disakitinya, karena mereka menganggap bahwa si korbanlah yang bersalah karena sudah menjadi orang yang "baper".     

Padahal meminta maaf bukanlah suatu simbol kelemahan atau kekalahan. Meminta maaf justru sebagai simbol kekuatan, karakter yang baik, dan juga integritas pribadi (Kador, 2009). Untuk menyadari kesalahan diri, membutuhkan kedewasaan dan kebijaksaan karena jauh lebih sulit dibandingkan dengan melihat kesalahan orang lain. Bagi orang yang terbuka pikirannya, ia akan menjadi semakin peka dalam melihat kesalahannya sendiri. Kesadaran akan kesalahan diri membuat seseorang menjadi lebih rendah hati dan terhindar dari rasa egois.

Dari ulasan di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa semenjak dikenalnya istilah "baper", orang menjadi lebih sulit untuk meminta maaf, bahkan ketika sudah tahu bahwa yang dilakukan atau yang diucapkannya salah, alih-alih meminta maaf, malah ia cenderung mengucapkan "ah, baper banget sih lo", kepada orang yang disakitinya.

Padahal jika ada orang lain yang tersakiti oleh kata-kata atau perbuatan kita, sesungguhnya mengucap permintaan maaf, jauh lebih mulia dibandingkan dengan mengucap "baper" kepada orang tersebut. Karena kita tidak pernah tahu isi hati dan perasaan orang lain. Kita pun juga tidak bisa menganggap bahwa perkataan dan perbuatan kita itu selalu benar dan tidak menyakiti orang lain, karena terkadang yang menurut pemikiran kita adalah benar, belum tentu juga dinilai benar oleh orang lain. Jika kita ingin dihargai oleh orang lain, maka kita pun juga harus menghargai orang lain.

Meminta Maaf yang Efektif

Untuk dapat membangkitkan dan menerapkan budaya meminta maaf dalam kehidupan kita, maka diperlukan pemahaman mengenai permintaan maaf yang efektif. Berikut ini merupakan hal-hal yang sangat esensial bagi permintaan maaf yang efektif (Arif, 2016) :

1.    Si pelaku menunjukkan penyesalan yang tulus, rasa malu, ataupun kerendahan hati, saat ia menyadari betapa si korban telah menderita akibat perbuatannya.

2.    Si pelaku mengakui perbuatan spesifik yang telah dilakukannya serta menerima sepenuhnya tanggung jawab atas perbuatannya. Tidak mencari pembenaran atau rasionalisasi atas apa yang telah terjadi.

3.    Si pelaku menunjukkan empati terhadap penderitaan korban. Kemudian memberikan penjelasan faktual dan tidak defensif tentang alasannya melakukan perbuatan tersebut, dan berusaha memastikan bahwa peristiwa semacam itu tidak akan diulangi lagi.

4.    Si pelaku menawarkan upaya kompensasi atau reparasi, yaitu hal-hal dapat dilakukan yang sekalipun belum tentu menghilangkan derita atau mengganti kehilangan yang dialami si korban, tetapi diharapkan dapat sedikit meringankan penderitaan dan membantu si korban menjalani hidup.

Oleh karena itu, mari kita bangkitkan dan terapkan kembali budaya meminta maaf di kehidupan kita. Jangan pernah merasa gengsi dan penuh dengan pembenaran (rasionalisasi) untuk meminta maaf, pada saaat kita melakukan kesalahan (baik perkataan maupun perbuatan). Karena pada hakikatnya, meminta maaf bukanlah simbol kelemahan ataupun kekalahan, justru sebagai simbol bahwa kita adalah pribadi yang memiliki kekuatan, karakter, dan integritas yang baik.

Referensi

 

Arif, Iman S. (2016). Psikologi positif: pendekatan saintifik menuju kebahagiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kador, J. (2009). Effective apology: mending fences, building bridges, and restoring trust. Oakland: Berrett-Koehler Publishers.