ISSN 2477-1686

                                                                                                                                                                                                                                                                           Vol.4. No.18 September 2018

Bernalar Jernih untuk Jalani Hidup di Era Media Sosial

Oleh

Eko A. Meinarno

Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

Pengantar

Salah satu implikasi besar dari kemajuan teknologi adalah lahirnya media sosial berbasis internet. Sebagaimana televisi atau yang lebih dulu yakni inovasi mesin cetak, media sosial khususnya dengan internet mampu memberi perubahan sosial baru. Namun mengapa media sosial mampu memberi gebrakan sosial baru dengan cepat? 

Puspitasari menuliskan bahwa media sosial merupakan salah satu media yang memposisikan para penggunanya untuk dapat mencari informasi, saling berkomunikasi dan menjalin pertemanan secara online (selanjutnya disebut dalam jaringan/daring) (Puspitasari, 2016; Selviana, 2016). Terlepas dari jenis penggunannya terbukti bahwa 97,4 persen orang Indonesia mengakses akun media sosial saat mengunakan internet (Sugiharto, 2016 dalam Rahman, 2018).

Media sosial tidak lagi semata sebuah perbincangan, tapi sebuah kenyataan sosial. Apa yang ada di media sosial? Sangat banyak, dari yang paling heboh, yang paling suci seperti belajar agama Islam (Sadida, 2017), yang paling profan, sampai hiruk-pikuk politik. Riset yang dilakukan Selviana (2017) menunjukkan penggunaan situs jejaring sosial memberikan pengaruh secara langsung terhadap moral remaja, yang berarti bahwa bila penggunaan situs jejaring sosial dipakai untuk hal-hal yang baik, maka dapat turut membentuk moral remaja ke arah yang lebih baik. Namun penggunaan teknologi juga tidak melulu positif. Ketidakarifan dalam pengunaan teknologi dalam pendidikan juga ditengarai memunculkan plagiarisme (Setyowati, 2018) membuat seseorang menipu orang lain, bertengkar, bullying (Selviana, 2016), menipu diri sendiri (Rahman, 2018) dan tidak ketinggalan menjadi media penyebaran berita bohong (hoax).

Kekhawatiran terhadap cepatnya penyebaran berita bohong tak lepas dari kondisi individu yang berkarakter atau setidaknya berciri zombi (zombi: seseorang yang bodoh, Echols & Shadily, 1979). Salah satu indikasi sederhana keadaan mirip zombi adalah ketika secara sadar individu menyalin (copy) dan meneruskan (forward) pesan dari pihak lain tanpa ada upaya dari diri untuk mengerti dan memahami beritanya. Menjadi zombi di dunia maya juga tak perlu digigit atau kena sentuhan zombi lainnya, karena teknologinya memungkinkan. Padahal ada dampak lain dari perilaku tadi yang tidak dipikirkan para zombi, sangat mungkin penerima selanjutnya tanpa menyaring informasi akan kembali mengirimkan ke orang lain, atau dapat direspon dengan emosi marah, dan lainnya. 

Generasi Milenial

Saat ini yang menjadi perhatian dari pengguna media sosial adalah Generasi Z. generasi ini diperkirakan lahir antara tahun 1995–2010. Ciri era kelahiran mereka adalah lahir di era digital yang karena kemudahannya cenderung tidak terlalu mementingkan sebuah proses dan daya juang karena di hadapan mereka banyak pilihan, senang belajar sesuatu yang baru lewat komunikasi digital (Hamidah, 2018). Ciri generasi ini menunjukkan ada hal yang perlu diperhatikan karena peluang menjadi zombi menjadi sangat mungkin.

Untuk terhindar menjadi zombi perlu ada pengembangan dari ciri tadi. Sebagai contoh alat komunikasi digital diarahkan untuk mencari banyak informasi pendukung atau yang menentangnya. Pilihan apapun bukan semata dilihat keuntungan sesaat, tapi lebih ditekankan pada dampak pilihan. Kesenangan belajar bukan semata untuk belajar prosedural penggunaan alat komunikasi (klik ini klik itu), tapi senang belajar mencari tahu informasi dengan metode pikir sederhana 5W+1H misalnya.

Modal Intrinsik                      

Cara pikir (Berpikir Kritis)

Pepatah Melayu “pikir itu pelita hati” masih relevan untuk saat ini. Bagi masyarakat yang dapat mengenyam pendidikan tinggi sebenarnya sangat beruntung karena nalarnya masih dapat terasah. Di perguruan tinggi mahasiswa diajak untuk menjadi manusia yang kritis (Meinarno, 2017a) dengan harapan bahwa karakterisik yang terbangun adalah mahasiswa berkemampuan analisis (Meinarno, 2017a, 2017b).

Berpikir kritis dijelaskan oleh Takwin sebagai upaya pencarian yang aktif, sistematis, mengikuti kaidah-kaidah logika serta mempertimbangkan berbagai sudut pandang untuk mengerti dan dan mengevaluasi sesuatu informasi dengan tujuan untuk menentukan apakah informasi itu diterima, ditolak atau ditangguhkan penilaiannya (Takwin, 1997 dalam Takwin, Meinarno, Salim, Kurniawati, Diponegoro, Prasetyawati, 2011). Definisi yang diajukan Takwin tampak relevan sebagai modal terhindar sebagai zombi. Apa yang kita dapat tidaklah dengan mudah untuk diterima dan disebarluaskan. Kita perlu mengerti apa, mengapa, bagaimana, dan relevansinya berita yang kita dapatkan dengan urusan diri dan orang lain.

Ketika individu menerima berita bohong sepantasnya ia/mereka tidak akan mudah menjadi penyebar berita bohong. Secara individual ia akan mencoba mencari sumber lain untuk menegaskan atau menolak apa yang ia terima. Jika tidak dapat dipertanggungjawabkan maka ia tidak akan lanjutkan penyebaran info tadi. Analisis dan pikiran kritisnya akan menahan dirinya untuk menjadi bagian guncangan masyarakat akibat sebaran berita tadi (Meinarno, 2018).

Nilai sebagai Acuan

Pentingnya nilai sebagai acuan perilaku sudah dinyatakan oleh para ahli psikologi sosial. Nilai menjadi penting karena pergeseran era generasi juga berdampak pada nilai yang diacu oleh generasi milenial. Sebagai contoh, nilai nasional Indonesia yakni Pancasila (Meinarno, 2017c) tengah berhadapan dengan nilai-nilai yang sama sekali dianggap baru atau bahkan bertentangan. Bukan tidak mungkin nilai-nilai global yang diadopsi Gen-Y sangat mungkin bisa mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa dan negara kita (Sarwono, 2015). Setidaknya hal ini terjadi saat pilkada Jakarta tahun 2017.  

Ahli lainnya seperti Schwartz (2017, dalam Meinarno, 2017c) berpendapat bahwa nilai berhubungan dengan perilaku khusus. Dengan dasar itu, kita dapat menduga bahwa jika acuan nilai nasional yang kita gunakan dalam keseharian maka perilaku seperti zombi dapat kita minimalkan.

Tabel 1. Nilai nasional (lihat Meinarno, 2017c; Meinarno & Mashoedi, 2016; Meinarno & Saleh, 2017; Meinarno & Suwartono, 2011; Juneman, Putra & Meinarno, 2012). 

Nilai

Definisi

Rincian

Nilai pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa (Religio-toleransi)

Percaya pada Tuhan dan menjalankan perintah-Nya sesuai keyakinan dan tidak memaksakan kepercayaan pada orang lain

faithfulness, toleransi pada kelompok yang berbeda keyakinan, spirituality and religiousness

 

Nilai kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab (kemanusiaan)

 

Mengakui persamaan hak dan kewajiban, sayang pada sesama, menjalin hubungan dengan bangsa lain berdasar sikap saling menghormati

 

respek, fair, courage

 

Nilai ketiga, Persatuan Indonesia (patriotisme)

 

mengutamakan kepentingan bangsa daripada diri/kelompok, cinta tanah air dan bangsa dan mengembangkan rasa persatuan bagi bangsa.

 

loyalitas, kewarganegaraan (memiliki pendirian yang kuat terhadap kewajibannya, setia kawan)

 

Nilai keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan (demokrasi)

 

pengambilan keputusan berdasar musyawarah untuk kepentingan bersama dengan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, dapat dipertanggungjawabkan dan melaksanakan keputusan yang diambil.

 

tanggung jawab, harmoni

 

Nilai kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (keadilan sosial)

 

menjaga keseimbangan hak-kewajiban sosial dengan mawas diri (dalam bentuk kualitas luhur manusia) dan pengembangan diri yang bertujuan untuk memajukan kehidupan sosial.

 

persahabatan, keadilan dan kerendahatian, menolong

 

Nilai nasional yang digunakan sebagai acuan memperhalus dari cara berpikir kritis. Sebagai contoh jika memang sebuah berita itu benarpun apakah ketika kita sebarkan akan menimbulkan hal yang buruk atau baik (lihat tabel 1 nilai nasional keempat). Apakah dengan menyebarkan keburukan (yang secara kebetulan benar) akan menimbulkan permusuhan antarkelompok (lihat tabel 1 nilai nasional kelima), dan seterusnya. 

Dua Perilaku:

Berpikir Terbuka

Sebagai individu kita perlu mempunyai patokan mengapa dapat mempercayai informasi yang ada. Menurut Taylor (2012 dalam Puspitasari, 2016), alasan kita menggunakan atau mempercayai sebuah informasi dapat kita lihat dari beberapa faktor. Faktor yang tampaknya paling mungkin diperhatikan para zombi adalah kemenonjolan. Ciri yang menonjol akan lebih banyak digunakan sebagai dasar penilaian. Latar belakang atau setting kurang diperhatikan. Padahal agar tidak menjadi zombi, kemampuan melihat keseluruhan adalah yang penting. Hal ini justru perlu dilatih, karena berpikir terbuka dengan nalar adalah proses yang rumit dan melelahkan bagi otak (Wahyudi, 2016). Tidak mengherankan jika kemudian banyak orang menjadi zombi, malas bernalar. 

Penekanan pada kemenonjolan juga menunjukkan indikasi daya nalar rendah. Hal yang diolah hanya yang terlihat di permukaan saja. Sebuah analogi yang cukup relevan adalah hasil dari Programme for Interational Student Assessment 2012 (PISA 2012) terhadap siswa Indonesia menunjukkan daya nalar siswa masih terbatas pada kemampuan kognisi tingkat rendah seperti mengingat (hafal). Siswa Indonesia sangat kesulitan menganalisis dan memberdayakan pengetahuannya untuk memecahkan masalah (Abduhzen, 2014).  

Dalam tataran masyarakat keadaan ini tidak menguntungkan, karena yang terbangun akhirnya masyarakat zombi. dan yang menarik adalah internet juga dapat memberikan wawasan. Mudah saja, karena saat ini semua ada dalam satu genggaman, individu dapat menerima informasi sekaligus memeriksa silang. Hal ini yang di masa lalu tidak gampang. Dengan demikian menjadi zombi sebenarnya juga adalah pilihan bukan kepastian.

Penerima yang Baik

Hal minimal terakhir untuk tidak menjadi zombi cukup sederhana. Dikarenakan sebagian besar dari pengakses media sosial adalah pasif maka cara pikir mendengar empatik dari DeVito tampaknya bisa digunakan. Artikel ini hanya memaparkan tiga metode mendengar empatik dari DeVito (2015, dalam Sutanto, 2018) yang dapat diterapkan dalam interaksi di media sosial adalah sebagai berikut:

1. Dari sisi pendengar/penerima cerita, cobalah untuk mengambil sudut pandang pembicara/pencerita. Untuk memahami perspektif pembicara, cobalah untuk melihat urutan kejadian cerita, dan mencari tahu bahwa hal tersebut dapat memengaruhi pemikiran, perasaan dan apa yang diungkapkan oleh pembicara.

2. Hindari mendengar secara ofensif. Proses mendengar informasi yang tidak utuh hanya akan membuat kita cenderung untuk mengkritisi/mencari-cari kesalahan (tidak sama dengan berpikir kritis) dan menyerang pembicara/orang yang menyampaikan cerita.

3. Berusahalah untuk mendengarkan individu yang menyampaikan cerita secara objektif. Penilaian kita terhadap seseorang bisa mendistorsi pesan yang disampaikan.

Pada Akhirnya

Remaja atau generasi milenial yang mempunyai karakteristik khusus ini secara prinsip punya modal agar tidak menjadi zombi di media sosial. Tidak mudah mengekor atau sekedar mengirim informasi. Ada dua modal intrinsik dalam diri yakni kemampuan berpikir kritis dan nilai acuan. Berpikir kritis mengajak individu mengolah lebih dalam informasi yang diterima. Nilai acuan menjadi dasar untuk mengevaluasi respon apa yang tepat.

Paparan ini juga memberi pilihan perilaku dunia nyata yang relevan diterapkan di dunia maya. Pertama adalah berpikir terbuka, tetap memberikan peluang masukan dan informasi lain masuk. Kedua adalah menjadi penerima yang baik. Terkadang, pepatah bicara itu perak, diam itu emas masih relevan, sehingga menjadi penerima pasif pun (manusia bernalar) tidak masalah.

Referensi:

Abduhzen, M. Mengkhawatirkan masa depan. (2014, Maret 8). Kompas.

Echols, JM., & Shadily, H. (1979). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta. Gramedia.

Hamidah. Tj. (2018). Mengenal kohort: Veteran generation, baby boomers, millennials, gen x & gen z. Buletin K-PIN, 4(4). Diunduh dari http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/242-mengenal-kohort-veteran-generation-baby-boomers-millennials-gen-x-gen-z

Juneman, J., Putra, F., & Meinarno, EA. (2012). Kompatibilitas keutamaan karakter dengan nilai-nilai Pancasila: Perspektif kontrak psikologis dan kontrak sosial. Prosiding SNaPP: Sosial, Ekonomi dan Humaniora, 3(1), 253-260.

Meinarno, E. A. (2017a). Perubahan Cara Belajar: Intervensi Perilaku belajar mahasiswa baru. Buletin K-PIN. 3(6).  

Meinarno, E. A. (2017b). Perubahan Cara Belajar: Menjalankan metode-metode pengajaran baru pada mahasiswa. Buletin K-PIN. 3(8).  

Meinarno, EA. (2017c). Peran identitas etnis, identitas agama, dan identitas nasional yang dimediasi nilai nasional terhadap bhinneka tunggal ika (Disertasi tidak dipublikasikan). Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta.

Meinarno, E. A., &  Mashoedi, SF. (2016). Pembuktian kekuatan hubungan antara nilai-nilai pancasila dengan kewarganegaraan. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 1(1), 12-22.

Meinarno, E.A., & Saleh, A.Y. (2017). Learning from problems: Ideas for Pancasila): education course design. Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR Vol. 158. Proceedings of International Conference on Teacher Training and Education 2017 (ICTTE 2017).

Meinarno, E. A., & Suwartono, C. (2011). The measurement of Pancasila: An effort to make psychological measurement of pancasila values. Jurnal Psikologi, 2(2).

Meinarno, E. A. (2018). Dari berpikir cara daftar pustaka untuk menangkal berita bohong. Buletin Online K-PIN, 4(1). Diunduh dari: http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/231-dari-berpikir-cara-daftar-pustaka-untuk-menangkal-berita-bohong-3

Puspitasari, D.N. (2016). Kebebasan berpendapat dalam media social. Buletin Online K-PIN 2(14). Diunduh dari: http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/110-kebebasan-berpendapat-dalam-media-sosial

Rahman, M.S. A. (2018). Media asosial, sebuah dikotomi: Koneksi atau isolasi? Buletin Online K-PIN, 4(8). Diunduh dari: http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/262-media-asosial-sebuah-dikotomi-koneksi-atau-isolasi

Sadida, N. (2017). Belajar Islam di Media Sosial. Buletin Online K-PIN. Diunduh dari: http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/203-belajar-islam-di-media-sosial

Sarwono, S.W. (2015) Cucu, kesenjangan antargenerasi. Buletin Online K-PIN, 1(4). Diunduh dari: http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/35-cucu-kesenjangan-antar-generasi

Selviana. (2016). Media Sosial Dalam Perspektif Psikologi. Buletin Online K-PIN,2 (11). Diunduh dari: http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/91-media-sosial-dalam-perspektif-psikologi

Selviana, S. (2017). Empati dan penggunaan situs jejaring sosial sebagai faktor dalam membentuk moral remaja. Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology, 3(2), 143-157.

Setyowati, R.B. (2018). Plagiarisme: Sebuah kenyataan yang harus diatasi. Buletin Online K-PIN, 4(8). Diunduh dari http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/264-plagiarisme-sebuah-kenyataan-yang-harus-diatasi

Sutanto, S.H. (2018). Mendengar empatik dalam kehidupan sehari-hari. Buletin Online K-PIN, 4(1). Diunduh dari: http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/232-mendengar-empatik-dalam-kehidupan-sehari-hari-2

Takwin, B., Meinarno., E. A., Salim, E. S., Kurniawati, F., Diponegoro, M., & Prasetyawati, W. (2011). Buku orientasi belajar mahasiswa: Belajar di perguruan tinggi. Direktorat Pendidikan Universitas Indonesia. Depok.

Wahyudi, M. Z. ( 2016, Oktober 9). Saat menilai dengan emosi. Kompas.