ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.14 Juli 2018

 

Menghormati Perbedaan Melalui Konflik Konstruktif

Oleh:

Naila Diyaul Aulia dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo

Mahasiswa dan Dosen Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

 

Maraknya konflik SARA

 

Isu bernuansa suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) marak terjadi saat pelaksanaan pilgub DKI Jakarta 2017. Selain aksi demo besar-besaran, massa menuntut Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dipenjara. Selain itu, berbagai poster dan spanduk berisi kampanye hitam bernuansa SARA terhadap pasangan calon bermunculan (Mardira, 2018).

 

Pilkada serentak 2018 memungkinkan adanya gema dari pilkada DKI Jakarta pada tahun sebelumnya, yakni konflik bernuansa SARA.Potensi ini perlu dikembangkan dan diarahkan untuk mencapai luaran konflik yang lebih konstruktif. Dengan mengarahkan luaran konflik dan proses terjadinya konflik, maka kerusuhan, kekerasan dan tindakan represif pada pesta demokrasi dapat lebih ditekan.

 

Tidak mudah untuk membangun konflik konstruktif, apalagi jika perbedaan terus digemakan sebagai bahan perpecahan. Namun demikian, penyadaran publik tentang kebhinekaan harus terus digemakan sebagai dasar dari upaya membangun kebersamaan. Perbedaan akan bisa diterima dengan terbuka manakala antar elemen dalam perbedaan itu memiliki relasi saling menguntungkan (Zahrotin, 2018).

 

Pembentukan Satgas Anti-SARA

 

Dengan latar belakang inilah, Polri membentuk Satgas Anti-SARA untuk mengantisipasi kejahatan berkonten SARA dalam gelaran pesta demokrasi. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri, Brigjen Muhammad Iqbal mengatakan, pembentukan Satgas Anti-SARA untuk mewujudkan pilkada yang santun dan beretika, tanpa kampanye menyinggung SARA. Selain itu, tiap kontestan juga harus berkomitmen menjaga mutu demokrasi dengan tidak menggunakan isu SARA dalam kampanye (Mardira, 2018).

 

Sejarah membuktikan, perbedaan suku, agama, ras dan cara pandang telah akrab bagi masyarakat nusantara. Perbedaan ajaran pada zaman Mataram Kuno, hingga pada era setelahnya muncul saloka  Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Perbedaan tidak menjadi konflik dan perpecahan bangsa, dalam perjalanan Majapahit misalnya, yang memecah bangsa justru ambisi-ambisi politik dan ambisi kuasa segelintir orang. Pemberontakan yang timbul dimulai dari keinginan untuk berkuasa bukan dari perbedaan SARA (Zahrotin, 2018).

 

Konflik konstruktif dalam Menghasilkan Konsensus

Konflik konstruktif terjadi ketika orang memfokuskan diskusi mereka mengenai masalah sambil menunjukkan rasa hormat pada orang-orang dengan sudut pandang lain. Konflik ini disebut "konstruktif" karena posisi yang berbeda didorong sedemikian rupa sehingga gagasan dan rekomendasi dapat diklarifikasi, dirancang ulang, dan diuji secara logis. Mempertahankan perdebatan yang terkait dengan isu membantu peserta menguji kembali asumsi dan kepercayaan mereka tanpa memicu dorongan untuk membela dan emosi negatif dan mekanisme pertahanan diri yang terkait (McShane &Von Glinow, 2010).

Konflik konstruktif merupakan konflik yang bersifat fungsional, konflik ini muncul karena adanya perbedaan pendapat dari kelompok-kelompok dalam menghadapi suatu permasalahan. Konflik ini akan menghasilkan suatu konsensus dari berbagai pendapat tersebut dan menghasilkan suatu perbaikan. Misalnya perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi (Tidajoh,Areros, dan Tarore,2017).

Pada dasarnya proses konflik berawal disaat satu pihak tidak dapat menerima terhadap segala keputusan pihak lain terutama dalam melakukan tugas pekerjaan, sehingga konflik ini dapat menimbulkan ketidaksesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota atau kelompok (dalam suatu organisasi/perusahaan) yang membagi sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja dan atau kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai maupun persepsi.

Konflik yang terjadi biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya karena faktor komunikasi (communication factors), faktor ini dapat menyebabkan terjadinya konflik ketika para anggota dalam sebuah organisasi maupun antar organisasi tidak dapat atau tidak mau untuk saling mengerti dan saling memahami dalam berbagai hal dalam organisasi, terjadinya salah pengertian ketika berkomunikasi juga dapat menyebabkan konflik.Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa konflik konstruktif adalah konflik yang prosesnya mengarah kepada mencari solusi mengenai substansi konflik, dimana konflik ini membangun situasi yang baru dari pihak yang terlibat konflik (Muchsin & Hambali, 2017).

Referensi

 

Mardira, S. (2018). Melawan isu SARA di pilkada serentak 2018. Okezone News. Diunduh dari https://news.okezone.com/read/2018/01/23/337/1848818/melawan-isu-sara-di-pilkada-serentak-2018.

 

McShane, S. L.& Glinow, M. A. V. (2010). Organizational behavior (5th ed.). New York: McGraw-Hill.

 

Muchsin & Hambali. (2017). Model pengembangan manajemen konflik berbasis sekolah. Seminar Nasional II USM 2017. Diunduh dari file:///C:/Users/user/Downloads/375-695-1-SM.pdf.

 

Tidajoh, M. G., Areros, W. A., &Tarore, H. S. (2017). Pengaruh konflik terhadap kinerja karyawan pada PT. Pegadaian (Persero) Manado. Jurnal administrasi bisnis, 5(5),1-8. Diunduh dari https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jab/article/viewFile/17506/17038.

 

Zahrotin, A. (2018). SARA dan peluang konflik konstruktif pilkada. Oase. Diunduh dari https://www.medcom.id/oase/kolom/yKXVYjab-sara-dan-peluang-konflik-konstruktif-pilkadaK.

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh