ISSN 2477-1686

 

 

 Vol.4. No.14 Juli 2018

 

Trend “Pelakor: : Sebuah Konsekuensi Gaya Hidup Hedonis

Oleh

Frida Medina Hayuputri

Fakultas Psikologi – Universitas Persada Indonesia YAI

Salah satu bentuk gaya hidup yang saat ini banyak dijumpai di sekeliling kita adalah gaya hidup hedonis. Hedonisme berasal dari bahasa Yunani yaitu hedone yang berarti kenikmatan. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kenikmatan sebanyak mungkin dan menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Orang yang menganut gaya hidup hedonis akan menjadikan kenikmatan sebagai tujuan utama, bagaimanapun caranya dan apapun akibatnya. Orientasi hidupnya selalu diarahkan pada kenikmatan dan sebisa mungkin menghindari perasaan menderita (yang tidak mengenakkan).

 

Trend "Pelakor" : Sebuah Konsekuensi Gaya Hidup Hedonis

Istilah "pelakor" sedang menjadi trend belakangan ini. Istilah ini merupakan singkatan dari "perebut laki orang". "Pelakor" adalah julukan yang ditujukan kepada perempuan yang menjalin hubungan spesial dengan laki-laki yang sudah beristri. "Pelakor" ini biasanya menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah mapan secara finansial.

Alasan para "pelakor" menganggap bahwa suami orang lebih menarik daripada laki-laki single (bujangan) adalah bahwa karena dinilai sudah mapan secara finansial, sedangkan bujangan masih harus berjuang, kurang mapan, dan kurang menarik. Sehingga jika menjalin hubungan spesial dengan suami orang yang notabene sudah mapan, dirinya bisa hidup enak tanpa harus  bersusah payah bekerja. "Pelakor" ini menjadikan kenikmatan duniawi sebagai tujuan utamanya, tanpa memikirkan akibatnya yaitu menyakiti istri dan anak-anak dari laki-laki yang ia dekati, serta sebisa mungkin menghindari perasaan yang tidak mengenakkan, yaitu menghindari lelahnya bekerja keras untuk memenuhi gaya hidupnya.

 

Jika ditinjau dari teori menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (2006) yang mengatakan bahwa gaya hidup hedonis sangat erat kaitannya dengan pola hidup konsumtif, serta teori Cicerno (dalam Russel, 2007) tentang karakteristik gaya hidup hedonis, maka dapat ditarik suatu kesimpulan mengenai munculnya trend “pelakor” sebagai sebuah konsekuensi gaya hidup hedonis, antara lain :

  1. Pandangan hidup serba instant yaitu melihat materi dan kenikmatan duniawi bukan dari prosesnya (ingin jalan pintas)
  2. Menjadi pengejar identitas fisik.  Memiliki pandangan bahwa memiliki barang-barang berteknologi mutakhir dan serba mewah (contohnya ponsel dan mobil tipe keluaran terbaru) adalah suatu kebanggaan
  3. Memiliki cita rasa yang tinggi. Memiliki rasa tidak puas dengan barang-barang yang sudah dimiliki oleh kebanyakan orang (contohnya tidak mau memakai mobil dengan julukan “mobil sejuta umat”)
  4. Tidak tahan hidup menderita
  5. Tidak bisa mengatur keuangan (boros).

Orang yang memiliki kecenderungan seperti itu, membutuhkan materi (uang) yang tidak sedikit, sehingga biasanya akan melakukan pembenaran (rasionalisasi) untuk memenuhi semua kesenangannya, termasuk menjadi “pelakor” karena tidak mau bersusah payah bekerja. Pelakor juga tidak akan mempedulikan bahwa perbuatannya akan berdampak negatif bagi dirinya sendiri, dan juga menyakiti orang lain.     

Sebenarnya tidak akan ada “pelakor” (“perebut laki orang”), jika sang “laki orang” tersebut tidak mau direbut, dan tetap mempertahankan rumah tangga dengan istri dan anak-anaknya. Namun, pada kenyataannya tetap saja banyak laki-laki yang terpikat pesona “pelakor”.

Lalu bagaimana caranya agar bisa menghindari godaan pelakor? Hal–hal berikut ini bisa dilakukan sebagai teknik preventif, yaitu :

  1. Para suami sebaiknya membekali diri dengan iman dan kasih sayang yang tulus kepada keluarga, serta selalu mengingat bahwa istri dan anak lah yang mendampingi suami dari nol (dari sebelum mapan, hingga mapan seperti sekarang ini).
  2. Para suami  sebaiknya berpikir lebih panjang, dan menyadari bahwa “pelakor” hanya berorientasi pada materi dan kenikmatan duniawi, sehingga jika suami mendadak mengalami musibah, misalkan sakit parah atau jatuh miskin, “pelakor” akan meninggalkan mereka, dan mencari laki-laki mapan yang lain. Hal ini sesuai dengan karakteristiknya yang tidak tahan hidup menderita dan memiliki pandangan hidup serba instant. Sedangkan dalam keadaan musibah seperti ini, istri dan anak-anak akan tetap setia mendampingi suami.
  3. Para istri sebaiknya tetap pandai merawat diri, agar tetap menarik di mata suami. Tetapi tidak harus selalu dengan perawatan yang serba mahal, misalkan dengan berolahraga di rumah, luluran di rumah, dan sebagainya.
  4. Suami dan istri sebaiknya saling menghormati, menghargai, dan mempercayai di dalam rumah tangga, jangan ada pihak yang merasa dominan dan menindas pasangannya.

Oleh karena itu, kita semua diharapkan lebih bijaksana dalam mengikuti suatu gaya hidup, agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang berdampak negatif bagi diri sendiri, maupun orang lain.

Referensi

 

Engel, J. F. , Blackwell, R. D. , & Miniard, P. W (2006). Consumer behavior (10th edition). USA : The Dryden Press.

 

Russel, B. (2007). Sejarah filsafat barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Comments   

0 #1 Ricky 2018-07-23 15:24
Sangat menarik ketika fenomena dan istilah Pelakor dikaitkan dalam teori Psikologi..
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh