ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.11, Juni 2018

Pemahaman Agama Yang Utuh Sebagai Upaya Mencegah Terorisme

Oleh

Indah Rizki Maulia

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya 

Isu terorisme sepertinya masih mewarnai Indonesia. Adanya peristiwa pemboman yang terjadi pada beberapa waktu terakhir antara lain di Surabaya tanggal 13 Mei 2018 membawa keresahan tersendiri di masyarakat. Menurut Martin (2018) keresahan dan ketakutan yang menyebar luas memang merupakan salah satu tujuan dari terorisme. Terganggunya persatuan bangsa dan toleransi beragama di Indonesia juga menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.

Tersangka pemboman di Surabaya dikatakan memiliki motif agama dalam melakukan aksinya karena objek penyerangannya adalah tempat ibadah agama lain. Terlepas dari benar tidaknya bahwa para tersangka memang benar merupakan pelaku pemboman dengan motif agama ataupun adanya isu-isu mengenai konspirasi politik menjelang Pilkada 2018 dan Pemilihan Presiden 2019, perlu kiranya dipahami bahwa ekstremisme dalam hal apapun termasuk agama dapat membawa individu ke arah yang salah. Para ekstremis yang melewati batas hingga mengambil jalan menjadi teroris selalu membangun argumen untuk merasionalisasi aksi kekerasan yang dilakukan baik dengan alasan membela negara, masyarakat, agama, dan hal lainnya (Martin, 2018).

Tony Peachy seorang tentara Kanada bercerita dalam tulisannya tentang ketertarikannya menjadi pelaku terorisme. Pada tulisan tersebut diungkapkan bahwa keluarga dan gereja selalu mengajarkan tentang nilai-nilai keadilan, namun justru Peachy mengalami ketidak adilan oleh negaranya. Ditambah lagi dengan informasi-informasi negatif yang didapatnya dari media. Ini membuatnya berpikir bahwa tiap rasa sakit dan kedukaan harus mendapatkan keadilan baik di bumi maupun di kehidupan setelah kematian. Peachy mengatakan pada saat itu dengan kenaifannya hanya memahami bahwa kehidupan harusnya sesuai dengan nilai-nilai yang dipercayainya (Peachey, 2016).

Apa yang terjadi pada Peachey juga dapat terjadi pada penganut agama lain di belahan bumi lainnya termasuk di Indonesia, dimana kenyataan di masyarakat dan negara kadang atau bahkan sering kali tidak sesuai dengan yang mereka pahami dalam ajaran agamanya. Hal ini kemudian mendorong beberapa orang untuk melakukan perilaku teorisme demi menegakkan nilai-nilai yang dipercayainya.

Apakah ini kesalahan agama? Kita meyakini bahwa agama berisi kebaikan dan merupakan jalan hidup yang berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Letak kesalahan kemungkinan besar berada pada manusianya. Salah satu kemungkinan kesalahan perilaku ini dimulai dari adanya kesalahan berpikir. Manusia dapat membuat kesimpulan dan memutuskan suatu tindakan berdasarkan informasi yang tersimpan dalam ingatannya dan pola pikir yang digunakan. Jika ajaran-ajaran agama menjadi dasar berpikir seseorang maka seharusnya akan menjadi hal yang baik ketika manusia memperoleh pemahaman yang utuh/menyeluruh dari ajaran agamanya.

Jika memang benar ada muslim/penganut agama Islam yang menjadi teroris maka kemungkinan mereka belum memahami Islam secara utuh dan benar, karena Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al An’aamayat 82, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezholiman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Dengan demikian seharusnya perbuatan zholim seperti menghilangkan nyawa orang lain (tidak dalam kondisi perang) apalagi yang sedang beribadah tidak dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya beragama Islam. Menghina agama lain pun bahkan bukanlah perbuatan yang diperbolehkan dalam Islam sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an surat Al An’Aamayat 108, “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.”

Beberapa upaya dapat dilakukan untuk menambah informasi dan memperdalam pemahaman mengenai ajaran agama, antara lain dengan membuat sarana belajar agama intensif untuk seluruh lapisan masyarakat. Mengadakan mentoring agama di sekolah-sekolah bahkan institusi lain seperti perkantoran, dimana mentoring tersebut diisi oleh materi-materi yang dapat membantu umat memahami agamanya secara benar dan utuh. Untuk mengadakan program mentoring ini pemerintah dapat bekerjasama dengan para pemuka agama yang baik dan lurus pemahaman agamanya. Mengadakan kajian-kajian tematik mengenai penerapan agama dalam semua aspek kehidupan bermasyarakat baik dalam hal keimanan, ibadah, politik, ekonomi, sosial, dan aspek lainnya. Banyak lagi hal lainnya yang dapat dilakukan untuk bisa membantu semua umat beragama agar lebih memahami ajaran agamanya secara utuh. Diharapkan pemahaman agama yang semakin baik dan lurus akan memperbaiki proses berpikir dan perilaku dari para pemeluknya. Kita harapkan tidak ada lagi terorisme di bumi Indonesia ini dan di seluruh belahan bumi lainnya.

Referensi

Martin,G. (2018). Understanding terrorism: challenges, Perspective, & Issues (6th ed.). California: Sage Publications, Inc.

Peachey,T. (2016). Reasonable grounds for the irrational: or How I briefly became a domestic terrorist. Canada: Kindle.

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh