ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.11, Juni 2018

Memilih Cara Untuk Mati: Motivasi Untuk Sembuh Dari Narkoba

Oleh

Dwiputri Hairunissa dan V. Fitrisia Agustina

Fakultas Psikologi, Universitas Tama Jagakarsa

Pengguna Narkoba di Kalangan Mahasiswa

Ratu dangdut itu menangis terisak ketika menjawab pertanyaan mengenai empat anggota keluarganya yang tertangkap polisi karena kasus narkoba, sebelumnya ramai pemberitaan beberapa selebriti tanah air tersangkut kasus serupa. Tidak hanya menjerat selebriti yang lekat dengan peredaran dan penyalahgunaan narkoba, permasalahan narkoba juga menjerat masyarakat secara luas dengan berbagai macam latar belakang. Menurut data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan ada 27,32 persen mahasiswa dan pelajar dari jumlah keseluruhan pengguna narkoba di Indonesia, bahkan saat ini ada sekitar 200 jenis baru narkoba di dunia yang 68 di antaranya sudah ada yang masuk ke Indonesia (Putsanra, 2017).

Dampak Penyalahgunaan Narkoba

Dampak penyalahgunaan narkoba akan menyebabkan adiksi, adiksi terjadi ketika seseorang mengkonsumsi narkoba kemudian keinginan untuk mengkonsumsi menjadi tidak terkendali dan menggebu-gebu, adiksi mempunyai bermacam-macam gejala sering juga disebut drug syndrome. Efek adiksi tidak hanya berakibat bagi kualitas hidup penguna narkoba tetapi berdampak juga kepada lingkungan dan orang-orang terdekat. Gangguan fisik dan mental, hancurnya kehidupan rumah tangga, masalah pekerjaan seperti ketidakhadiran, keterlambatan, dan kinerja yang buruk,serta penurunan fungsi kognitif yang berakibat pada rendahnya prestasi akademik dan rendahnya self-esteem siswa juga dapat terjadi. Berbagai kajian juga menemukan bahwa salah satu penyebab terjadinya perilaku kriminal karena penyalahgunaan narkoba.

Akibat adiksi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan pengguna narkoba oleh karena itu treatment yang diberikan tidaklah mudah, harus ada kesadaran pribadi dan kerjasama antara pengguna narkoba dengan pihak yang melakukan treatment. Karena jika pengguna narkoba tidak termotivasi dan mempunyai masalah dengan staff program maka kecenderungan untuk menghentikan dan keluar dari program pemulihan akan terjadi (Ball dkk, 2006).

Motivasi Sebagai Penyemangat untuk Sembuh

Motivasi merupakan hal yang sangat penting, seperti yang diungkapkan oleh mantan pengguna narkoba berinisial G, 23 tahun. Berdasarkan pengakuannya G telah menggunakan berbagai jenis narkoba selama sembilan tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti.Sebenarnya G sudah dua kali menjalani rehab karena permintaan orang tua namun mengalami relapse (kambuh). Ketiga kalinya keinginan untuk sembuh dan bebas dari narkoba, serta hidup secara normal membawanya datang sendiri ke panti rehabilitasi untuk proses penyembuhan. Selain itu G juga mengatakan bahwa dia ingin mati secara wajar bukan mati karena zat haram tersebut. Apa yang terjadi di dalam diri G merupakan motivasi internal. Motivasi internal mengacu kepada persepsi dan kognisi yang diekspresikan dengan pernyataan pribadi yang berhubungan dengan perubahan perilaku seperti “saya lelah dengan kehidupan sebagai pemakai”.

Motivasi untuk sembuh G juga di dorong oleh rasa tanggung jawab untuk meneruskan usaha keluarga dan perasaan bersalah telah mengecewakan keluarga. Disini motivasi eksternal yang berperan, dimana motivasi eksternal mengacu kepada keputusan untuk merubah perilaku karena takut kepada konsekuensi dan tekanan dari luar seperti hukum yang berlaku dan faktor keluarga (De leon, Malnick, & Hawke, 2000).

Menurut Simpson dan Joe (1993)motivasi untuk sembuh dari narkoba memiliki tiga tahap yaitu:

a.    Problem recognition, menyadari bahwa masalah pribadi yang terjadi diakibatkan oleh penggunaan narkoba, dan masalah tersebut akan hilang jika berhenti menggunakan narkoba.

b.    Desire for help, suatu proses kognitif dimana individu menyadari bahwa dirinya membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan permasalahan narkoba yang menimpanya.

c.    Treatment readiness, ketika individu berkomitmen dan secara aktif berpartisipasi dalam proses penyembuhan

Saat ini G sudah bersih dari narkoba selama tujuh bulan dan telah bekerja sebagai konselor di sebuah panti rehabilitasi selama tiga bulan. G merasa hidupnya jauh dari masalah ketika sembuh dari narkoba walaupun diakui kadang muncul sugesti untuk menggunakan kembali, namun G berusaha melawannya dengan berpikir positif dan menjauhi teman yang dulu sesama pemakai. Sembuh dari narkoba dan menjadi konselor juga membuat hidup lebih berarti karena bisa berbagi pengalaman serta mengenal berbagai karakter manusia, pridejuga lebih tinggi, demikian G bercerita.

Referensi

Ball, S. A., Carroll,K.M., -Ball, M.C., Rounsaville, B.J.(2006). Reasons for dropout from drug abuse treatment: Symptoms, personality, and motivation. Addictive Behaviors, 31, 320–330.

De leon, G., Melnick, G., Hawke, J. (2000). The Motivation-Readiness Factor In Drug Treatment, Implication For Research and Policy. Advances in Medical Sociology, 7,103-129

Putsanra, D.P.(2017). 27 Persen Pengguna Narkoba di Indonesia adalah Pelajar & Mahasiswa. Diunduh dari https://tirto.id/27-persen-pengguna-narkoba-di-indonesia-adalah-pelajar-amp-mahasiswa-czi5

Simpson, D. D.,&Joe, G.W. (1993). Motivation as a predictor of early dropout from drug abuse treatment. Psychotherapy30, 357-368.

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh