ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.11, Juni 2018

Molly’s Game: Sepenggal Kisah Dampak Kekerasan Domestik

Oleh

Pradipta Christy Pratiwi

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Sinopsis Molly’s Game

Sebagai penikmat film, penulis cukup antusias untuk menunggu tayangnya film yang diperankan oleh Jessica Chastaindi akhir Bulan Februari 2018. Sebagai aktris utama, Jessica sangat tampil prima dan menjiwai peran sebagai Molly Dubin Bloom. Molly adalah seorang anak perempuan yang cerdas, berprestasi dan seorang atlit ski. Ia merupakan anak pertama dari dua saudara laki-laki yang lebih muda. Ayahnya merupakan seorang dosen sekaligus psikolog. Relasi Molly dan ayahnya cenderung tidak baik. Ayah Molly tampak sebagai orang tua penuntut dan terlalu keras terhadap Molly di bandingkan dua adik laki-lakinya. Pertengkaran terus terjadi hingga pada suatu hari, Molly terpaksa keluar dari rumah dan hidup mandiri atas desakan dari ayahnya.

Molly hidup dengan bekerja hari demi hari untuk membayar sewa rumah dan kebutuhan sehari-hari. Bersama dengan bosnya, ia sukses membangun bisnis poker yang beranggotakan orang-orang terkenal dan kaya dari berbagai profesi. Pada akhirnya, Molly menjadi ratu poker. Jatuh bangun Molly mempertahankan usahanya dan ia pun berurusan dengan pengadilan karena pelanggaran undang-undang. Molly membuat buku biografi hidupnya dan menyewa pengacara agar terlepas dari hukuman. Begitu panjang perjalanan yang harus dilalui hingga pada suatu titik seolah tidak ada lagi harapan.

Suatu malam di musim dingin, Molly berjumpa dengan ayahnya. Inilah kunci dan inti dari serangkaian peristiwa sebelum dan sesudahnya. Molly menjadi saksi pertengkaran ayah dan ibunya ketika ia berusia 20-an tahun. Ia mendengar bahwa ayahnya telah berselingkuh. Ia sangat terpukul dan kecewa. Itulah yang menjadi penyebab Molly begitu membenci ayahnya. Seperti benang kusut, respon Ayahnya terhadap Molly juga penuh dengan kekakuan dan perlakuan yang tidak menyenangkan secara psikologis. Faktanya lebih mengagetkan, ketika ayahnya memberikan pengakuan bahwa justru Molly mengetahui perselingkuhan ayahnya sejak Molly berusia 5 tahun bukan di saat 20 tahun, tentunya hal itu tidak disadari Molly. Malam yang begitu mengharukan bagi seorang anak perempuan dan ayahnya, sekaligus seorang klien dengan terapisnya. Terapi yang harusnya dijalani oleh Molly selama 3 tahun, digantikan sesi terapi selama 3 menit dengan 3 pertanyaan dari Molly. Berdasar cerita yang ditampilkan melalui film Molly’s Game, kali ini kita akan membahas mengenai respon dan penanganan yang diperlukan bagi anak yang mengalami kekerasan domestik ditinjau dari perspektif psikologi. Apakah situasi kekerasan domestik akan menimbulkan resiko buruk yang berkepanjangan? Lalu bagaimana strategi untuk mengatasinya?

Kekerasan Domestik

Seseorang yang mengalami kekerasan dari orang-orang terdekat, dapat mengalami isu yang sangat kompleks. Kebimbangan, frustrasi dan rasa sakit seringkali dialami oleh korban kekerasan domestik. Pengertian kekerasan domestik (Home Office, dalam Abrahams, 2007) disebutkan sebagai suatu perilaku yang mengancam, penuh dengan kekerasan dan abusif secara sengaja (yang menyebabkan kerugian pada aspek fisik, psikis, seksual dan/atau finansial) antara dua orang yang memiliki relasi intim atau anggota keluarga tanpa memandang gender.

Bentuk dari kekerasan domestik sangat beragam, pada kasus film Molly’s Game, kekerasan yang ia terima termasuk dalam mental abuse. Semasa kecil, Molly menyaksikan perselingkuhan ayahnya. Dalam perkembangan usianya, Molly mengalami kritik yang persisten, kekerasan verbal dan intimidasi dari ayahnya. Perlakuan ayahnya ini sebagai kompensasi rasa malu terhadap anak perempuannya tersebut. Bentuk kekerasan psikis lainnya, ancaman, perlakuan yang membahayakan bagi anak, isolasi dari anggota keluarga lainnya atau ketiadaan privasi (Abrahams, 2007). Kasus kekerasan domestik biasanya tidak hanya berbentuk episode tunggal, namun akan bertambah frekuensi dan intensitasnya dari waktu ke waktu. Kekerasan yang terjadi juga dapat berubah menjadi siklus yang tidak berkesudahan.

Dampak yang terjadi dari kekerasan domestik, dapat ditelaah dari hirarki kebutuhan Maslow. Dampak yang dilami oleh korban dapat bervariasi dari hirarki paling bawah (fisiologis) hingga aktualisasi diri (Abrahams, 2007). Molly harus pergi dari rumah orang tuanya karena respon marahnya terhadap ayah. Ia kehilangan hak pemenuhan kebutuhan fisiologis, keamanan dan penerimaan dari orang tuanya. Dampak lainnya, seperti yang disampaikan oleh Bruce Perry (dalam Barbeau, 2009), seorang ahli di bidang krisis dan perkembangan anak, bahwa individu merupakan refleksi dari lingkungan yang membentuknya. Apabila lingkungan individu aman dan dapat diprediksi, maka individu akan tumbuh dengan regulasi diri yang baik dan produktif dalam keluarga, komunitas dan masyarakat. Sebaliknya, jika individu berkembang dalam lingkungan yang membahayakan dan mengancam, individu akan tumbuh menjadi impulsif, agresif, tidak peka terhadap orang lain dan kesulitan dalam membangun relasi. Situasi stres yang berkepanjangan menyebabkan meningkatnya hormon kortisol yang membahayakan tubuh dan otak apabila tidak ada kesempatan untuk rileks dan kembali normal setelah episode krisis yang dialami individu.

Meninjau film Molly’s Game, Molly menyaksikan perselingkuhan ayahnya saat usianya menginjak 5 tahun. Molly mengalami kesulitan mengontrol marah dan sensitif ketika masih kanak-kanak sedangkan ia mengalami masalah perilaku ketika dewasa. Hal ini sejalan dengan dampak sebagai saksi kekerasan domestik yang dapat dialami individu di masa kanak-kanak (Barbeau, 2009), yaitu:

  1. Mengalami masalah emosi dan perilaku yang semakin memuncak di usia 10 hingga 17 tahun dibandingkan anak lainnya yang tidak mengalami kekerasan domestik;
  2. Banyak anak mengalami simtom trauma (PTSD) meliputi ketakutan, kecemasan, sensitif, sulit berkonsentrasi dan marah yang meledak-ledak;
  3. Agresif terhadap teman, guru dan orang tua;
  4. Masalah emosi seperti depresi, kekhawatiran, menolak sekolah, menarik diri dari interaksi sosial;
  5. Beberapa anak menyampaikan keluhan fisik, seperti tubuh terasa sakit dan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya secara medis;
  6. Sikap yang tidak sesuai dengan norma sosial, menyelesikan konflik dengan kekerasan atau melakukan kekerasan dalam relasi intim ketika dewasa

Efek berkepanjangan yang mungkin terjadi adalah ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan depresi. Adanya kecemasan dan perilaku buruk yang berkaitan dengan penggunaan obat-obatan terlarang dan konsumsi alkohol. Selain itu juga akan berakibat pada keluhan gangguan kesehatan fisik termasuk penyakit jantung, kanker, stroke, bronkitis kronis dan emphysema (Suderman & Jaffee, Agar, dalam Barbeau, 2009).

Penanganan yang Dibutuhkan oleh Korban Kekerasan Domestik

Strategi yang dapat dilakukan pada korban kekerasan domestik (Barbeau, 2009) adalah penanganan psikoedukasi, sesi kelompok dan sesi individual. Metode psikoedukasi digunakan untuk membantu anak dan menolong mereka belajar keterampilan konkrit. Salah satunya adalah mengajarkan kepada mereka dalam menghadapi traumanya. Tujuan program ini adalah menyediakan situasi aman, pertemuan yang menyenangkan untuk mendiskusikan trauma dan belajar mengelola respon terhadap hal tersebut.

Dalam sesi kelompok (Barbeau, 2009), fasilitator kelompok perlu memastikan bahwa kondisi dan konten yang akan dibahas menolong dan memulihkan anak-anak. Sesi kelompok bertujuan untuk membantu anak mempelajari keterampilan dan mendorong mereka untuk bercerita. Cerita personal yang disampaikan oleh anak kepada anggota kelompok akan menormalisasikan pengalaman anggota yang lain dan belajar cara baru untuk menghadapi masalah yang dialami. Pada sesi individu, konselor akan menggunakan aktivitas dan strategi yang aktif. Konselor dapat menggunakan permainan dan storytelliing untuk memfasilitasi keterampilan penyelesaian masalah pada anak. Pada situasi ini, konselor diharapkan dapat peka terhadap tanda-tanda yang muncul pada anak seperti kecemasan atau agitasi, menghindar atau menunjukkan respon emosi yang tidak dapat dikendalikan.

Referensi

 

Abrahams, H. (2007). Supporting Women After Domestic Violence: Loss, Trauma and Recovery. London: Jessica Kingsley Publishers.

Barbeau, E. (2009). Best Practices for the Children Who Witness Abuse Program,  BC Yukon Society of Transition Houses, Vancouver, Canada.

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh