ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.10, Mei 2018

Anakku Mogok Sekolah

Oleh

Krishervina Rani Lidiawati

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Latar belakang

Setiap orang tua menginginkan anaknya memiliki pendidikan yang baik secara kualitas dan fasilitas sekolah (Slavin, 2012). Hal ini terlihat dari usaha orang tua dalam memilihkan sekolah yang terjangkau baik dari segi biaya dan jarak bagi anak-anaknya. Bahkan orang tua akan memberikan les tambahan untuk dapat meningkatkan kemampuan anak sehingga dapat berkembang dengan baik. Namun harapan ini terkadang tidak sesuai dengan yang di harapkan oleh orang tua. Salah satu hal yang membuat sedih adalah anaknya kurang berminat ke sekolah, bahkan tidak mau masuk sekolah atau sering kita dengar di kalangan masyarakat dengan istilah mogok sekolah. Jika sebuah mobil mogok tentunya kita akan mencari penyebabnya. Demikian pula halnya jika anak mogok sekolah tentunya ada penyebabnya.

Banyak faktor yang menjadi penyebab anak kurang berminat atau kurang termotivasi untuk datang ke sekolah. Meskipun sekolah memiliki fasilitas dan kualitas baik, belum dapat menjamin daya tarik anak untuk mau bersekolah di tempat itu. Beberapa faktor yang mungkin memicu anak kurang termotivasi untuk pergi ke sekolah karena anak merasa bosan, terlalu lelah dengan tuntutan akademis yang cukup tinggi baik dari orang tua maupun pihak sekolah, pola asuh yang otoriter,  perilaku tidak menyenangkan di sekolah seperti bullying atau kurang dapat bergaul sehingga terjadi konflik dengan teman sebaya. Kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan tersebut memicu anak untuk tidak menyukai sekolah dan enggan untuk pergi ke sekolah (Papalia & Martorell, 2015). Disisi lain, terdapat faktor dari dalam diri yang membuat anak mogok sekolah seperti kurang memiliki motivasi, ingin mendapatkan seluruh perhatian dari orang tua, kebutuhannya tidak dipenuhi, permasalahan tumbuh kembang anak yang tidak setara dengan anak-anak seusianya, serta hambatan-hambatan lain yang dihadapi anak. Faktor-faktor dari dalam diri individu ini termasuk kurang adanya rasa percaya pada diri untuk mampu melakukan sesuatu atau mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu dibutuhkan dukungan dan dorongan agar anak mampu memiliki minat untuk ke sekolah.

Hal yang menarik yaitu terdapat anak yang mampu bertahan, bahkan tetap berprestasi di bidang akademiknya dan ada pula anak yang tidak dapat bertahan memilih untuk tidak sekolah lagi. Meskipun lingkungan keluarga, sekolah dan pertemanan tidak mendukung dalam berprestasi, namun karena keinginan yang kuat dalam diri anak tersebut maka dapat bertahan dan memiliki performa yang baik dalam bidang akademis. Demikian pula sebaliknya, meskipun kondisi lingkungan sekolah dan keluarga cukup baik namun anak tetap tidak ingin sekolah.

Berdasarkan pemaparan di atas maka dibutuhkan dorongan agar anak dapat masuk ke sekolah. Dorongan ini dikenal dengan istilah motivasi. Motivasi dipahami sebagai dorongan dalam diri individu untuk tetap terlibat dalam suatu kegiatan tertentu. Selain itu, motivasi membuat individu terlibat secara intensif dan mendorong individu dalam mencapai tujuan khusus. Motivasi membuat individu terlibat secara aktif dan mengarahkannya untuk bisa tetap semangat dalam mengerjakan suatu aktivitas (Plotnik & Kouyoumdjian, 2014).

Tuntutan anak untuk dapat terus memiliki minat pergi ke sekolah tentunya membutuhkan motivasi dalam diri anak tersebut. Motivasi dari diri bersumber dari motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal ini adalah dorongan dalam diri individu. Misalnya, anak yang terdorong untuk memiliki prestasi belajar yang baik disekolahnya, ingin mengembangkan bakatnya, atau pun ingin mendapatkan nilai terbaik di kelas karena ia menginginkannya. Orang tua tidak perlu menyuruh belajar tapi ia sudah rajin belajar, mengerjakan PR karena ia telah memiliki tujuan dan kesadaran dalam dirinya. Sementara untuk motivasi eksternal adalah dorongan yang diberikan orang lain atau pun hal-hal di luar dirinya, sehingga ia mau melakukannya (Plotnik & Kouyoumdjian, 2014). Misalnya, karena orang tua menjanjikan hadiah maka anak tersebut semakin rajin belajar dan termotivasi untuk mendapatkan yang terbaik. 

Oleh karena itu, orang tua yang memiliki anak mogok sekolah sangat diharapkan dapat menjadi sumber motivasi agar anak-anak mereka menjadi semangat belajar. Orang tua dapat menjalin komunikasi yang baik, sehingga dapat memberikan dorongan kepada anak pada waktu dan cara yang tepat. Memotivasi anak dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti lewat pujian yang bisa diberikan sebagai tanda penghargaan orang tua kepada usaha yang telah dilakukan anak, pelukan atau bahasa nonverbal lain seperti memberikan tanda ibu jari sebagai tanda “good job”, namun jika masalah mogok sekolah bersalah dari dalam diri anak, maka perlu dibangkitkan kesadaran dan kebutuhan belajar bukan kewajiban belajar.

Kesimpulan

Ketika anak berperilaku yang tidak kita harapkan pastilah ia memiliki alasan dibalik perilaku itu. Orang tua yang bijak tentu akan menyikapi dengan mencari tau permasalahannya dan mencari solusi yang terbaik demi kepentingan anak, bukan tuntutan-tuntutan yang diharapkan anak, namun dorongan dan dukungan dari orang tua yang membuat anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Referensi

 

Karademas, E.C. (2006). Self-efficacy, social support and well:being: the mediating role of optimism. Journal of Personality and Individual Differences, 40, 1281-1290.

Papalia, D. E & Martorell, G. (2015). Experience human development (13th ed.). New York: McGraw-Hill.

Plotnik, R & Kouyoumdjian, H. (2014). Introduction to Psychology, Tenth Edition. Canada : Wadsworth Cengage Learning.

Slavin, R.E. (2012). Educational Psychology. Engleewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

 

Comments   

0 #1 lucky herwandoko 2018-05-15 07:05
Sangat informatif.
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh