ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.10, Mei 2018

 

Fenomena Impression Management pada Media Sosial

Oleh

Frida Medina Hayuputri

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Media sosial merupakan sebuah wadah yang memungkinkan individu berinteraksi secara maya (virtual), tanpa dibatasi jarak dan waktu. Meskipun hanya bersifat maya, saat ini sosial media sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan nyata, terutama generasi muda. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS), sebanyak 81.7% generasi muda memiliki Facebook, 70.3% memiliki Whatsapp, dan 54.7% memiliki Instagram. Oleh karena itu, media sosial memiliki pengaruh yang besar pada kehidupan.

 

Dalam media sosial, individu memiliki kecenderungan untuk berusaha menampilkan kesan-kesan tertentu yang dianggap “hebat” oleh khalayak. Individu yang semula “bukan siapa-siapa”, seketika bisa berubah menjadi “seseorang yang dianggap hebat”, yang biasa disebut dengan istilah “from zero to hero”. Adapun proses dimana individu berusaha menampilkan petunjuk-petunjuk tertentu untuk menimbulkan kesan tertentu pada diri individu lain yang menanggapi disebut impression management.

 

Proses Impression Management

Diri kita mengetahui bahwa individu lain membuat penilaian berdasarkan petunjuk-petunjuk yang kita berikan, dan dari penilaian tersebut muncul sebuah perlakuan. Jika mereka menilai kita berstatus rendah, maka kita tidak akan mendapatkan perlakuan yang istimewa. Oleh karena itu, kita sengaja menampilkan diri kita (self-presentation) seperti yang kita kehendaki.

Rakhmat (2016) berpendapat bahwa peralatan lengkap yang kita gunakan untuk impression management disebut front, yang terdiri dari setting, appearance, dan manner. Setting adalah lokasi beserta rangkaian peralatan ruang yang kita gunakan. Appearance adalah petunjuk artifaktual, seperti baju yang dipakai, kosmetik, tas, sepatu, atribut pangkat, dan sebagainya. Manner adalah gaya bertingkah laku, seperti cara kita berdiri, berjalan, duduk, berbicara, memandang, dan sebagainya.

Fenomena Impression Management pada Sosial Media

Media sosial bisa membentuk visualisasi pada individu dengan segala aktivitasnya (Kertamukti, 2015). Visualisasi tersebut akan menimbulkan kesan (impression) pada diri individu. Oleh karena itu, individu cenderung melakukan impression management agar memperoleh kesan yang baik dan sesuai harapan, padahal terkadang kesan yang ditampilkan tersebut tidak sesuai dengan yang terjadi di kehidupan nyata, dan cenderung membawa dampak buruk bagi individu.

Salah satu contoh kasus pengaruh buruk impression management pada media sosial, terjadi pada seorang pengguna salah satu media sosial (Instagram) yang bernama Lissette Calveiro. Lissette merupakan pengguna Instagram yang terkenal, atau yang biasa disebut dengan selebgram (selebriti instagram). Pada setiap unggahannya, Lissette menampilkan foto-foto dengan penampilan dan lokasi yang mewah, serta gaya yang hebat. Namun ternyata, semua kemewahan yang diunggah tersebut merupakan hasil dari uang pinjaman. Demi menjaga pamornya di Instagram, Lissette hampir jatuh miskin karena harus membayar hutang-hutangnya, akibat selalu memamerkan pakaian baru yang bermerk, liburan mewah ke berbagai negara, serta makan di restoran mewah (Muliana, 2018). 

Tidak hanya Lissette, fenomena ini juga banyak ditemui pada masyarakat pengguna media sosial yang lain. Jika kasus semacam ini ditinjau berdasarkan pendapat Rakhmat (2016) mengenai impression management, maka yang berperan sebagai setting adalah lokasi tempat individu berfoto untuk diunggah ke media sosial. Pengguna media sosial cenderung untuk selalu mencari tempat yang baru dan bagus untuk diunggah, misalkan sedang makan di restoran mewah (agar terlihat mampu dalam segi finansial), sedang berada dalam pusat kebugaran (agar telihat sehat dan senang berolahraga), sedang kuliah (agar terlihat pintar), dan sebagainya. Adapun hal yang berperan sebagai appearance adalah atribut yang digunakan untuk diunggah ke media sosial, misalkan memakai baju trend terbaru, tas dan sepatu bermerk, memakai seragam dinas beserta atribut pangkat, dan sebagainya. Sedangkan yang berperan sebagai manner adalah gaya tubuh saat berfoto di media sosial, misalkan gaya berdiri agak miring agar tubuh terlihat langsing, bergaya seperti model agar terlihat keren, dan sebagainya.

Semua hal tersebut sebenarnya boleh saja dilakukan, selama kita tidak memaksakan diri, serta tidak terjadi ketimpangan antara kehidupan di media sosial dengan kehidupan nyata. Hal ini dimaksudkan agar media sosial tidak berakibat buruk bagi diri sendiri, seperti contoh kasus selebgram Lissette yang terlilit banyak hutang demi unggahan media sosial. Oleh karena itu, kita diharapakan untuk bijak dalam menggunakan media sosial.

Referensi

Kertamukti, Rama. (2015). Instagram dan pembentukan citra (studi kualitatif komunikasi visual dalam pembentukan personal karakter account instagram @basukibtp). Jurnal Komunikasi Profetik, 8, (01), 57-66.

Muliana, Vina. (2018, 7 Maret). Demi jadi selebgram, wanita ini rela terbelit utang Rp 142 juta. Dibuka dari http://liputan6.com,  7 Maret 2018.

Rakhmat, Jalaluddin. (2016). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh