ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.10, Mei 2018

Gender dalam Bahasa Kita

Oleh

 Novika Grasiaswaty

Fakultas Psikologi, Universitas YARSI

Bahasa sebagai pembeda Manusia dengan mahkluk lainnya

Bahasa menjadi salah satu pembeda manusia dengan makhluk lainnya (Chomsky, 2006). Bahasa menjadi salah satu capaian manusia dalam proses sosialisasi dan interaksi dengan manusia lain. Di antara manusia sendiri, bahasa dijadikan salah satu pembeda untuk menentukan kompetensi seseorang (Watson & Wolfel, 2015). Bahkan, jika mengutip pernyataan Chomsky “even at low levels of intelligence, a pathological level, we find a command of languange that is tottally unattainable by an ape that may, in other respect, surpass a human imbecile in problem-solving ability and other adaptive behavior (p.9)”.

Penggunaan bahasa yang mampu mempengaruhi konstruk pemikiran dimulai dari awal tahun 1930 ketika Sapir dan Whorf menyatakan hipotesis mereka mengenai bagaimana bahasa mampu membentuk kognisi seseorang. Awalnya, hipotesis ini dianggap skeptis oleh para ilmuwan sosial di dunia, terutama dikarenakan belum banyaknya bukti yang mendukung hipotesis ini. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak penelitian mengenai bahasa yang mencoba menguji kebenaran hipotesis ini.

Fenomena gender dalam bahasa

Salah satu fenomena menarik tentang bahasa yang mampu membentuk persepsi seseorang adalah pada bahasa-bahasa Eropa yang relatif memiliki “gender grammatical” atau kecenderungan bahasa yang memberikan ‘gender’ pada kata-kata mereka. Sebagai contoh Perancis yang menggunakan partikel ‘la’ dan ‘le’ untuk membedakan gender setiap kata. Kalimat “Le verre est sur la table” berarti gelas itu berada di atas meja, kata le verre mengacu pada verre yang berarti gelas dan ‘memiliki jenis kelamin laki-laki, sementara kata table yang berarti meja berjenis kelamin perempuan sehingga diberi partikel ‘la’ (Seugneuric, et.al, 2007). Bahasa Spanyol juga tidak luput dari pemberian gender pada kata-katanya. Kata-kata dengan akhiran ‘o’ dianggap sebagai ‘laki-laki’ sementara kata-kata berakhiran ‘a’ dianggap berjenis kelamin perempuan sehingga akan memiliki partikel yang berbeda.

Menarik jika kemudian timbul pertanyaan, bagaimana jika kata yang sama memiliki gender yang berbeda pada bahasa yang berbeda? Salah satu media massa di Eropa menuturkan, ketika peresmian sebuah jembatan di Eropa, media lokal Jerman memberitakan jika jembatan yang baru sangat ‘cantik’ dan seolah-olah ‘membawa ke surga’, sementara media lokal Perancis menuturkan jembatan tersebut “kuat kokoh” dan “gigantic”. Ketika ditelusuri lagi, kata jembatan di bahasa Perancis merupakan kata bergender laki-laki yang sangat kuat asosiasi maskulinnya dengan kata “kuat kokoh’, sementara di Jerman kata yang sama berjenis kelamin perempuan, yang tentu saja berasosiasi ‘feminim’ dengan kata cantik.

Studi yang lebih jauh coba dilakukan oloh Borditsky, et.al (2003) mengenai perbedaan pemberian partikel pada bahasa yang berbeda akan menghasilkan persepsi yang berbeda pula meskipun benda yang digunakan sama. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan partikel ini membentuk pikiran yang berbeda pada kedua penutur bahasa. Ketika diminta membayangkan kata ‘kunci’, partisipan penutur Jerman lebih mengasosiasikan kata tersebut dengan sifat-sifat feminim, misalnya ‘mungil’, ‘indah”, sementara partisipan penutur Spanyol mengasosiasikan kata tersebut dengan sifat-sifat maskulin, misalnya ‘kuat’, dan ‘kencang’. Tidak heran kata ‘kunci’ pada bahasa Jerman memiliki partikel ‘perempuan’, sehingga dikategorisasikan dekat dengan konsep-konsep perempuan di dalam otak penutur. Berbeda dengan ‘kunci’ pada bahasa Spanyol yang memiliki partikel ‘laki-laki’.  

Salah satu studi yang cukup komprehensif mengenai bahasa, yang memiliki gender dan tidak, dilakukan oleh Prewitt-Freilino, Caswell, dan Laakso (2011) terhadap 134 negara dan memetakan negara mana saja yang memiliki kecenderungan bahasa yang gendered serta genderless (Indonesia masuk pada kelompok genderless). Hasil pemetaan tersebut mengindikasikan bahwa pada negara yang memiliki gender dalam bahasanya justru lebih jarang mengalami diskriminasi gender. Salah satu argumen dari peneliti adalah dengan adanya gender, peran perempuan jadi lebih terlihat bila dibandingkan dengan bahasa yang tidak memiliki gender dalam pengucapannya. Pada bahasa yang tidak memiliki gender, mayoritas kata dikonotasikan sebagai ‘pria’ dan menghilangkan peran ‘perempuan’, yang bisa jadi berdampak pada diskriminasi gender yang lebih sering muncul.

          Dari pembahasan di atas dan temuan-temuan lintas budaya, terlihat bagaimana bahasa turut berperan serta dalam membentuk persepsi gender para penuturnya. Temuan-temuan tersebut tentu memberikan tantangan tersendiri bagi psikolog, salah satunya agar dalam proses adaptasi alat ukur psikologi yang sebelumnya diketahui berasal dari negara yang memiliki gender grammatical’. Tantangan lain tentu saja bahasa bisa jadi memiliki peran membentuk persepsi yang lain, tidak hanya pada persepsi gender. Bagaimana Indonesia dengan beragam bahasa dan suku yang ada memiliki ‘gramatical’ tersendiri, sehingga bukan hal yang tidak mungkin jika setiap penutur bahasa akan memiliki persepsi yang berbeda. Adalah tantangan tersendiri bagi para ilmuwan psikologi di Indonesia untuk dapat membuat ataupun mengadaptasi alat ukur yang relatif bebas dari bias terkait gender dalam bahasa kita.

Referensi 

Boroditsky, L. (2011). How languages shape thougt: the language we speak affect our perception of the world. Scientific American. Februari 2011.

Boroditsky, L., Ham, W., Ramscar, M. (2002) What is universal in event perception? Comparing english and Indonesians.

Boroditsky, L., Gaby, A. (2010). Remembrances of Times East: Absolute Spatial Representations of Time in an Australian Aboriginal Community. Psychologycal Science. Vol, 21, No 11. 

Boroditsky, L., Fuhrman, O., & McCormick, K. (2010). Do English and Mandarin Speakers think about time differently? Cognition, Vol.9. Doi:10.1016/jcognition.2010.09.10

Chomsky, N. (2006). Language and Mind, 3rd Ed, Cambridge University Press: New York.

Fausey, C.M., & Boroditsky, L. (2011). Who dunnit? Cross-linguistic differences in eye-witness memory. Psychological Bulletin Review. Vol 18, 150-157.

Ji, L. J., Zhang, Z., & Nisbett, R. (2004). Is it culture or is it language? Examination of language effect in cross-cultural research on categorization. Journal of Personality and Social Psychology, 87, 57-65.

Prewitt-Freilino, J.L., Caswell, T.A., Laakso, E.K. (2011). The Gendering of Language: A Comparison of Gender Equality in Countries with Gendered, Natural Gender, and Genderless Languages. Sex Role.

Watson, J.R., & Wolfel, R. (2015). The Intersection of Language and Culture in Study Abroad: Assessment and Analysis of Study Abroad Outcomes. Frontiers: the Interdisciplinary Journal of Study Abroad, Vol, 25.

Comments   

0 #2 BestTrista 2018-10-17 03:33
I have noticed you don't monetize your website,
don't waste your traffic, you can earn extra bucks every month.

You can use the best adsense alternative for any type of website
(they approve all websites), for more info simply search in gooogle:
boorfe's tips monetize your website
Quote
0 #1 XKandy 2018-08-31 17:46
Hi admin. It was hard to find this site in google. It's not even in top 10.
You should focus on strong backlinks from top websites in your niche.
I know of a very effective free method to get high quality links and
instant traffic. The best thing about this method is that you start getting
traffic right away. For more details search in google
for: masitsu's tricks
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh