ISSN 2477-1686 

 Vol.4. No.10, Mei 2018 

Karakter: Sebuah Pengantar   

Oleh:

Suprapti Sumarmo Markam

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Pendahuluan

Orang tua, meskipun tidak menyatakannya secara eksplisit, ingin agar anaknya kelak menjadi anak yang soleh, pandai, mandiri, sayang pada orangtua dan sesama, serta memiliki sifat utama lainnya. Hal ini merupakan upaya pendidikan karakter, yakni mengembangkan perilaku dan sifat, yang mencerminkan nilai-nilai baik, yang menuju suatu kebajikan (virtue) universal.

Sifat dan nilai yang manakah yang akan diutamakan dalam keluarga? Ini sangat bergantung pada zaman, lingkungan sosial-budaya setempat dan faktor-faktor lain. Dalam era 1950-an (mungkin sekarang juga masih demikian), kebanyakan keluarga di Indonesia berusaha agar anak-anaknya, khususnya anak usia remaja, memiliki kemandirian, semangat juang, kebanggaan dan kehormatan diri, pandai dan berhasil dalam karir, dan sebagainya. Keluarga di Jakarta era 2000-an mungkin lebih mengutamakan agar anak-anak mempunyai wawasan internasional, mencapai prestasi dan karir setinggi mungkin juga berhasil dalam kompetensi.

Apakah yang Dimaksud  dengan “Karakter”?

Karakter, atau watak, atau perangai, atau sifat, adalah salah satu aspek kepribadian yang merupakan hasil interaksi terus menerus antara faktor-faktor bawaan dan faktor-faktor lingkungan. Interaksi ini membentuk suatu kecenderungan yang sifatnya neuropsikis, untuk bertingkah laku dengan cara tertentu ketika menghadapi stimuli dari lingkungan (Allport dalam Suryabrata, 2001).

Di antara faktor-faktor “bawaan” terdapat faktor genetik berupa temperamen, otak dan susunan saraf, serta sensitivitas faali seseorang. Faktor “lingkungan” dapat merupakan lingkungan fisik dan lingkungan sosial dan psikologis. “Kecenderungan” dalam definisi di atas pada suatu saat dalam perkembangan manusia, menjadi suatu struktur yang relatif autonom dan menjadi penentu tingkah laku seseorang. Kecenderungan ini kadang-kadang dinamakan, sifat, diri/aku, kepribadian, atau karakter.

Apakah yang dianggap merupakan “karakter” atau karakter yang baik? Bagi Russel (1957), empat ciri utama karakter yang baik adalah vitalitas, keberanian, sensitivitas dan inteligensi. Bagi Slamet Iman Santoso (1979) watak yang baik ialah bila seseorang itu jujur, mempunyai kehormatan diri, tahu batas kemampuan diri, dan pintar, terutama yang berhubungan dengan ketrampilan hidup mandiri. Sementara Soedarsono (2008) menyebutkan bahwa karakter adalah lima sikap dasar, yakni jujur, terbuka, berani bertanggung jawab, berkomitmen, dan berbagi pengalaman.

Kini ada gerakan yang dinamakan “psikologi positif” yang diprakarsai antara lain oleh Peterson dan Seligman (2004) yang membahas kekuatan kebajikan dan karakter. Seligman melakukan suatu survei internasional dan mengemukakan (berdasarkan analisis faktor) 24 jenis karakter yang menuju pada enam kebajikan universal. Berikut ini adalah kebajikan dan karakter yang tercakup dalamnya:

  1. Kearifan dan pengetahuan. Mencakup karakter a) kreativitas, b) keinginan mengetahui, c) keterbukaan, d) kecintaan untuk belajar, e) adanya perspektif
  2. Keteguhan hati (courage). Mencakup karakter a) keberanian, b) ketekunan, c) integritas, termasuk di sini kejujuran, d) vitalitas
  3. Perikemanusiaan dan cinta kasih. Mencakup karakter a) cinta, b) kebaikan hati (kindness) dan c) kecerdasan sosial
  4. Keadilan. Mencakup a) kesadaran berwarganegara (citizenship), b) keadilan (fairness), c) kepemimpinan
  5. Pembatasan diri (temperance). Mencakup karakter a) memaafkan, b) rendah hati, c) kehati-hatian (prudence), dan d) regulasi diri
  6. Transendensi/spiritualitas. Mencakup karakter a) apresiasi terhadap keindahan, b) berterimakasih, bersyukur (gratitude), c) harapan, d) humor

Pada umunya semua karakter ada pada seseorang atau suatu kelompok orang, namun karakter yang kuat tidak sama antara satu orang dengan yang lain. Beberapa penelitian untuk kebajikan dan karakter ini telah dilakukan. Studi yang dilakukan pada masyarakat Jakarta menemukan bahwa kekuatan karakter beberapa kelompok populasi di Jakarta mengarah pada kebajikan “spiritualitas”. “perikemanusiaan” dan “keadilan” (Oriza & Nurwianti, 2009; Ratri, 2008).

Kebajikan dan kekuatan karakter ini juga diteliti dengan aspek nilai. Penelitian  Juneman, Meinarno, dan Putra (2012) menguji hubungan antara kebajikan dan karakter dengan nilai nasional (Pancasila). Hasilnya menunjukkan adanya korelasi positif antar sejumlah dimensi kebajikan/kekuatan, karakter dan nilai nasional. Kebajikan transedensi berkorelasi dengan nilai religio-toleransi (sila pertama), kebajikan keadilan berkorelasi dengan nilai nasional keadilan sosial (sila 5) dan nilai kemanusiaan (sila 2) dan yang terakhir adalah hubungan positif kebajikan transedensi dan nilai demokrasi (sila 4).   

Penutup

Tulisan awal ini merupakan salah satu respon awal terhadap pertanyaan mendasar tentang karakter dan sekaligus pembuka wawasan atas kajian karakter dalam psikologi. Zaman bergerak, tapi kembali pada tema awal tulisan ini bahwa perilaku, sifat, yang mencerminkan nilai-nilai baik, yang menuju suatu kebajikan (virtue) universal tetap dibutuhkan sepanjang masa.

*Naskah ini adalah bagian dari makalah yang berjudul Keluarga dan Pembentukan Karakter yang dipaparkan pada seminar dan lokakarya bagi guru-guru, dalam rangka pendidikan karakter di sekolah. Acara diselenggarakan oleh Yayasan Jati Diri Bangsa (2010). Naskah ini disunting dan dilengkapi oleh Eko A Meinarno dan Tim Editor Buletin KPIN.

Referensi

Juneman, J., Putra, F., Meinarno, EA. (2012). Kompatibilitas keutamaan karakter dengan nilai-nilai Pancasila: Perspektif kontrak psikologis dan kontrak sosial. Prosiding SNaPP: Sosial, Ekonomi dan Humaniora, 3(1), 253-260.

Oriza, ID., Nurwianti, F. (2010). Hubungan antara kekuatan karakter dan kebahagiaan pada orang Indonesia. Ringkasan Laporan Penelitian. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tidak dipublikasikan.

Peterson, C., Seligman, ME. (2004). Character strengths and virtues: A handbook and classification (Vol. 1). Oxford University Press.

Ratri, ID. (2008). Profil kekuatan karakter dan kebajikan. Tugas Akhir Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tidak dipublikasikan.

Russel, B. (1957). On education. 12th ed. London: Unwin Brothers ltd.

Santoso, SI. (1979). Pembinaan watak tugas utama pendidikan. Jakarta: UI Press.

Soedarsono, S. (2004). Character building, membentuk watak. Jakarta: PT. Gramedia.

Suryabrata, S. (2001). Psikologi kepribadian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh