ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.9, Mei 2018

Keterampilan Sosial dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Oleh

 

Sandra Handayani Sutanto

 

Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan

 

Illustrasi

 

Beberapa minggu belakangan ini whatsapp group arisan di sebuah kompleks perumahan membahas mengenai kelakuan bapak X. Bapak X dikenal sebagai tetangga yang tidak bisa mendengar suara berisik dalam bentuk apapun, termasuk suara klakson mobil yang lewat, suara tertawa anak-anak, suara perbaikan tetangga rumahnya, bahkan suara gonggongan anjing. Reaksi bapak X saat mendengar suara yang menurutnya kurang berkenan ialah mendatangi rumah tetangga, menyatakan keberatannya dan memberikan teguran langsung atau menunjukan kemarahan kepada para tetangga. Seringkali teguran tersebut diberikan pada orang yang salah, dan mengakibatkan kekesalan pada tetangga yang ditegur. Bapak X juga tidak bersosialisasi dengan para tetangga, parkir mobilnya pun dibuat agak menghalangi jalan, agar tidak ada kendaraan yang parkir di depan rumahnya. Perilaku bapak X ini pada akhirnya mendatangkan keresahan pada tetangga yang tinggal di jalan yang sama.

 

Keterampilan sosial

 

Dari kasus di atas, dapat dipelajari bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita memerlukan keterampilan sosial untuk berinteraksi dengan orang lain. Greene (dalam Freeman, 2015) menyatakan bahwa keterampilan sosial memerlukan beberapa keahlian berkomunikasi, mulai dari menginterpretasikan petunjuk, mengenali perilaku tertentu yang turut mempengaruhi orang  lain dan memahami suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Dalam kasus bapak X, reaksi bapak X terhadap kondisi di lingkungannya dengan memarahi tetangganya turut memengaruhi kenyamanan berelasi. Bapak X juga agak kesulitan untuk memahami kondisi kehidupan bertetangga yang terjadi di lingkungannya.

 

Pentingnya keterampilan sosial

 

Keterampilan sosial adalah dasar untuk berinteraksi dengan orang lain. Minimnya keterampilan sosial akan menimbulkan efek jangka pendek, jangka menengah hingga jangka panjang dalam pendidikan, psikososial dan vokasional, seperti kesulitan perilaku di sekolah, kenakalan remaja, penolakan dari teman sebaya, kesulitan emosional, hingga kesulitan dalam membangun relasi dengan orang lain. Untuk konteks bertetangga, minimnya keterampilan sosial berakibat pada buruknya hubungan antar tetangga.

 

Penyebab minimnya keterampilan sosial

 

Pertanyaan yang mungkin muncul dari situasi ini ialah :  mengapa Bapak X sepertinya sulit berinteraksi dengan tetangga? Keterampilan sosial adalah hal yang dipelajari sejak masa kanak-kanak awal. Gresham (dalam Gresham, 2016) menyatakan hambatan keterampilan sosial dibagi menjadi dua. Pertama adalah acquisition deficit, hasil dari kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan keterampilan sosial, ketidakmampuan untuk memperlihatkan perilaku sosial dan kesulitan mengetahui perilaku sosial yang tepat untuk situasi tertentu. Acquisition deficit ditandai dengan ‘tidak bisa’ karena yang bersangkutan tidak mampu menampilkan keterampilan sosial secara optimal pada situasi tertentu. Hambatan kedua adalah performance deficit, gagal untuk menunjukan keterampilan sosial pada level tertentu walaupun mengetahui bagaimana untuk menunjukan keterampilan sosial tersebut. Tipe yang seperti ini bisa dikatakan ‘tidak mau’ karena tahu apa yang harus dilakukan, tetapi memilih untuk tidak menampilkan keterampilan sosial tersebut.

 

Cara mengembangkan keterampilan sosial

 

Lalu apa yang harus dilakukan sebagai tetangga dalam situasi seperti ini? Sebagai tetangga yang terganggu, kita bisa melakukan beberapa cara saat berhadapan dengan tetangga seperti bapak X. Mulailah dari belajar berempati bahwa individu yang mengalami hambatan keterampilan sosial memiliki penyebab tertentu yang mungkin tidak diketahui secara pasti. Jika perilaku individu tersebut  dirasa sudah sangat mengganggu, maka cara mediasi bisa dilakukan dengan cara bicara baik-baik mengenai keberatan atau hal yang mengganggu para tetangga. Keterampilan sosial menjadi hal yang penting bagi kesuksesan individu di masa depan. Shapiro (2004) memberikan beberapa tips bagi orangtua untuk mengajarkan keterampilan sosial bagi anak-anak, sebagai berikut:

 

  1. Belajar mengkomunikasikan diri dengan terlebih dahulu, dengan cara mengajarkan mengenai keunikan diri mereka sehingga mereka menjadi lebih percaya diri. Setelah itu anak-anak diajarkan untuk mengenalkan diri, mengingat nama, memberikan pujian, mencari kesamaan dengan lawan bicara, mempertahankan pembicaraan dengan lawan bicara
  2. Melatih kemampuan non-verbal, kemampuan non-verbal dibagi menjadi dua yaitu : bahasa tubuh dan para-language. Bahasa tubuh meliputi kontak mata, ekspresi wajah, gesture dan jarak sosial. Para-language mencakup semua hal yang bersifat oral/ucapan, termasuk volume suara, aksen, warna suara
  3. Menjadi bagian dari kelompok, hal ini bisa dilakukan dengan melatih anak untuk berinteraksi dan menjadi bagian dari kelompok, misalnya mengikuti kegiatan yang disukai bersama dengan anak-anak lain, meminta untuk bergiliran dalam kelompok, mengajak anak untuk mengikuti acara keluarga. Selain itu, anak juga bisa diajarkan untuk menerima perbedaan dirinya dengan orang lain.
  4. Mengekspresikan perasaan dengan tepat, keberhasilan mengekspresikan perasaan dengan tepat turut memprediksi kesuksesan di masa remaja dan dewasa. Keterampilan yang dipelajari meliputi empati, pengendalian diri, mengatasi rasa marah terhadap orang lain, menghadapi kemarahan yang dilakukan oleh orang lain, dan mengatasi perubahan yang sewaktu-waktu bisa terjadi dalam hidup. 
  5. Peduli terhadap diri sendiri dan orang lain, kepedulian dan kebaikan menjadi salah satu landasan moral dalam komunitas. Kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain ditunjukan dengan cara meminta bantuan dari individu yang lebih dewasa, memahami akibat perbuatan terhadap orang lain, memahami perilaku orang lain, menunjukan minat dan kepedulian terhadap orang lain, menolong, dan menghargai orang lain.
  6. Penyelesaian masalah, kadangkala kita tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan masalah sederhana dan melihat ada banyak sisi dari sebuah masalah. Anak-anak diajarkan untuk menemukan alternatif penyelesaian masalah, mengevaluasi solusi yang mereka pilih, dan berpikir sebelum melakukan tindakan.
  7. Mendengarkan, emampuan ini lebih komplek dari yang kita sadari karena dalam mendengarkan kita perlu untuk membagi fokus bukan hanya kepada apa yang akan diutarakan tetapi juga berfokus terhadap pemikiran dan perasaan orang lain. Keterampilan ini meliputi mendengarkan instruksi, mendengar untuk mendapatkan informasi, mendengar aktif dan memberikan umpan balik yang positif.
  8. Standing up for yourself, hal ini berarti berani menyatakan haknya, bersikap asertif, belajar berkata ‘tidak’, mengungkapkan kemarahan dengan tepat.
  9. Mengatasi konflik, konflik merupakan hal yang tidak terelakan dalam hidup. Kemampuan anak untuk mengatasi konflik secara konstruktif akan menjadi hal yang penting untuk mencapai kesuksesanya. Keterampilan ini mencakup mengenali konflik pribadi, meminta maaf, menyelesaikan konflik dengan damai, berkompromi, negosiasi, menemukan win-win solution, dan mediasi.

I believe you learn social skills by mixing with people. –Joe Morgan.

 

Referensi

 

Freeman, J. (2015). Developing social skills and relationship. Reclaiming Children and Youth, 23(4), 48-51.

 

Gresham, F.M. (2016). Social skills assessment and intervention for children and youth. Cambridge Journal of Education, 46(3), 319-332. DOI:10.1080/0305764X.2016.1195788.

 

Shapiro, L.D. (2004). 101 ways to teach children social skills : A-ready to-use, reproducible activity books. United States of America : The Bureau for at Risk Youth. 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh