ISSN 2477-1686

Vol.4. No.6, Maret 2018

 

Fenomena Tinggal di Perumahan Elite: Pengalaman Menjadi Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) Pilkada Kota Bekasi

Oleh

Budi Sarasati

Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Latar Belakang

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh keinginan Penulis melihat sebuah Perubahan Sosial Kehidupan Bertentangga yang terjadi di lingkungkan sekitar Penulis tinggal. Fenomena terlihat saat Penulis menjadi Petugas Pemutakhiran Data Pemilih pemilihan Walikota Bekasi dan Gubernur Jawa Barat. Kegiatannya disebut sebagai COKLIT (Pencocokan dan Penelitian  antara data Kelurahan dan Kartu Keluarga warga. Area tugas dari Penulis adalah RW (Rukun Warga) A, Kelurahan X, Kecamatan Y. Area COKLIT adalah RW A dengan luas area sekitar 1,5 Km². Jumlah Penduduk sekitar 900 orang, jumlah Kepala Keluarga sekitar 250 KK. Petugas COKLIT yang menjadi responsden terdiri dari 4 orang, yang wilayah kerjanya meliputi 2 orang dilingkungan perumahan (khususnya perumahan “elite”) dan 2 orang di non perumahan (perkampungan). Masa observasi sebanyak tiga kali, yaitu saat pelaporan tahapan COKLIT. Penulisan ini akan berbentuk fenomenologi, yaitu pendekatan menggunakan pemahaman tentang bagaimana keseharian, dunia intersubyektif. Penulis ingin menginterpretasikan tindakan sosial  dan orang lain sebagai sesuatu yang bermakna dalam seting kehidupan sosial masyarakat di mana Penulis tinggal.

Menurut Creswell (1998), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut Epoche (jangka waktu). Konsep Epoche adalah membedakan wilayah subjek dengan interpretasi peneliti. Konsep Epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang  apa yang dikatakan oleh responden.

Pelaksanaan COKLIT

Pelaksanaan COKLIT dimulai pada tanggal 20 Januari 2018 dan berakhir tanggal 18 Februari 2018. Untuk menjadi petugas COKLIT  harus ada rekomendasi dari Ketua RW masing-masing wilayah, dan sebelum melaksanakan tugas, seluruh petugas dilantik oleh Ketua PPS (Petugas Pencacah Suara) Kota Bekasi  dan Kepala Kelurahan X. Para petugas diberi perangkat untuk melaksanakan COKLIT seperti  seragam dan identitas petugas. Hari pertama adalah hari Sabtu tanggl 20 Januari 2018, dalam keadaan hujan kami melakukan apel lapangan dan langsung terjun ke lapangan secara serempak. (seluruh wilayah Kota di Indonesia melakukan hal yang sama yaitu pelantikan dan langsung mendata ke warga ). Minimal warga yang terdata lima rumah, dan hasil pendataan harus di foto dan dikirim kan ke PPS untuk dijadikan sebagai bukti bahwa PPDP sudah melakukan tugas.

10 hari pertama kegiatan di RW A sedang berlangsung, dan kami saling berkomunikasi dengan baik. Terjadi beberapa peristiwa yang diceritakan oleh teman Penulis, bahwa dirinya diberlakukan tidak sopan oleh beberapa warga yang terganggu dengan kegiatan COKLIT. Perlakukan yang didapatkan oleh Penulis maupun rekan Penulis antara lain : warga tidak mau membukan pintu rumahnya, warga lama sekali berespon dan tidak membukan pintu rumah terhadap Petugas COKLIT, warga bersikap sinis saat dimintai bukti KK untuk dicocokkan dengan data kelurahan, warga tidak bisa ditemui karena bekerja dan harus berulang-ulang datang ke rumah warga tersebut baru bisa didapatkan data (walaupun sudah meninggalkan pesan kepada penghuni rumah lainnya), warga bertransaksi dengan petugas dengan tetap membiarkan petugas di luar pintu pagar rumah (bahkan ada yang di jaga anjing jenis “herder” sambil menggonggong tak henti-henti). Tidak semua menanggapi buruk, ada juga yang ramah dan sopan, serta menghargai petugas.

10 hari pertama berlangsung dengan tantangan yang luar biasa. Rekan Penulis menceritakan betapa dia merasa sangat tidak dihargai, direndahkan dan disepelekan oleh beberapa warga. Hal ini berdampak pada capain COKLIT yang masih sedikit (sekitar 150 pemilih berbanding 490 pemilih). Berbeda dengan Penulis. Penulis masih bisa bertoleransi terhadap perlakukan warga. Berasa sedikit tersinggung, tapi segera bisa menetralisir sendiri perasaan Penulis. Penulis menyadari bahwa itu sudah menjadi konsekuensi petugas, tanpa melihat alasan lain yang lebih rasional.

Fenomena diatas, bisa digambarkan dari aspek stratifikasi sosial, dimana orang bersikap sesuai dengan level dimana dia berada distrata sosial tersebut. RW A di perumahan X terdiri dari kelas menengah dengan rata-rata pendidian Strata 1 ke atas. Tingkat penghasilan di atas 20 juta dan rata-rata menjabat setingkat middle manajer. Sebagaian lain adalah pengusaha yang sudah mempunyai omset milyaran, serta sebagian lainnya adalah petinggi di kantor pemerintahan atau bahkan anggota dewan. Konsekuensi dari kelas sosial  adanya in grup dan out grup, dimana seseorang dianggap sebagai out grup bila tidak memiliki karakteristik yang sama dengan grup nya. Fenomena lain yang dapat dianalisa adalah sifat Individualis. Orang-orang dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain, menjalankan segala sesuatu atas dasar pertimbangan rasional bukan tradisi. Tradisi menghormati tamu sudah bukan menjadi hal biasa di lingkungan perumahan seperti lingkungan RW A, malahan sebaliknya bila melihat orang yang tidak dikenal maka reaksi adalah curiga, padahal petugas COKLIT adalah warga dimana dia tinggal yang ditugasi oleh Ketua RW, menggunakan seragam dan papan nama. 

 

Observasi Penulis berlanjut saat Penulis melakukan pelaporan tahap kedua. Momen itu Penulis gunakan untuk mewawancarai dua orang petugas COKLIT, tentang Bagaimana pengalaman setelah 20 hari bertugas, bagaimana Perasaan petugas menghadapi warga yang cuek dan meremehkan, bagaimana sikap petugas menghadapi warga yang tidak kooperatif. Jawaban mereka cenderung sebagai berikut: lingkungan perumahan mempunyai masyarakat yang cenderung angkuh dan sombong, tidak respek pada orang asing, susah ditemui, dan kurang ramah. Bila dilihat dari pendekatan kognitif, fenomena tersebut menekankan bahwa tingkah laku adalah sebuah proses mental, dimana individu aktif menangkap, menilai, membandingkan dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi.

 

Kesimpulan

Kesimpulan Penulis, bahwa dalam perilaku sosial:

Perubahan sikap individu karena pengaruh kelompok sosial, institusi sosial, atau perilaku orang lain

Status sosial dan peran sosial adalah hasil interaksi sosial antara individu dengan individu, individu dengan grup nya dan sebaliknya.

Referensi

Soekanto, Soerjono. (1990). Sosiologi suatu pengantar edisi keempat. Jakarta: Rajawali Pers.

Creswell, John W. (1998). Qualitative inquiry and research design; Choosing among five traditions. United States: Sage Publications, International Educational and Professional Publisher. 

Oskamp, Stuart., Schultz., & Wesley. (1998). Applied social psychology second edition. New Jersey: Prentice Hall, Upper Saddle River.

Fakih, M. (2001). Sesat pikir teori pembangunan dan globalisasi. Yogyakarta: Insist Press & Pustaka Pelajar.

Hughes, J.A. (1990). Aspect of modern sociology; The philosophy of social research second edition. New York: Longman Inc.

 

 

1

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh