ISSN 2477-1686

Vol.4. No.4, Februari 2018

Mengenal Kohort: Veteran Generation,

        Baby Boomers, Millennials,

Gen X & Gen Z

Oleh:

Tjitjik Hamidah

Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I

Oleh:

Tjitjik Hamidah

Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I

 

Memahami Istilah Kohort

Istilah Kohort akhir-akhir ini muncul dan banyak dibicarakan terkait penamaan generasi. Kohort atau generasi adalah orang-orang yang memiliki tahun kelahiran  pada titik yang sama dan akan mengalami kejadian hidup dengan cara yang sama. Perbedaan generasi yang dilatarbelakangi oleh perbedaan pengalaman kehidupan pada masa tertentu akan menimbulkan perbedaan dalam mempersepsi nilai-nilai kehidupan, keyakinan dan norma yang dibentuk oleh kejadian/pengalaman yang signifikan yang mendominasi selama masa perkembangannya.

Setiap kelompok generasi terkena peristiwa sejarah yang sama dan kecenderungan sosial yang dianggap menciptakan nilai yang sama sehingga mereka memandang dunia secara hampir sama. Teori generasi menunjukkan bahwa setiap generasi memiliki sejarah bersama berdasarkan kejadian, kondisi, dan pengalaman yang diperkirakan mempengaruhi cara mereka memandang dunia (Suryadi, 2010).

Teori generasi menunjukkan bahwa generasi adalah orang dapat mempengaruhi cara pandang mereka terhadap dunia dan berpikir untuk menciptakan satu set nilai bersama antar anggota.

Ada beberapa pembagian generasi secara umum berdasarkan urutan kelahiran yang memiliki karakteristik tersendiri.

1.    The Traditionalists (Veteran Generation) lahir antara tahun 1925 dan 1945, dibesarkan pada situasi ketidakpastian ekonomi dan politik pada masa PD II. Situasi ini secara alami menuntun mereka untuk bekerja keras, konservatif secara finansial, dan waspada. Kesetiaan organisasi adalah esensi dan mereka percaya  bahwa senioritas penting untuk maju dalam karir seseorang sehingga mereka menghormati senioritas, kurang toleran dan cenderung mengarah pada gaya kepemimpinan otoritas (komando dan kontrol yang ketat).

2.    Generasi Baby boomer lahir antara tahun 1946 – 1964 generasi ini memiliki karakter disiplin dan pekerja keras, agak kaku terhadap nilai-nilai, struktur dan penghargaan, menjaga harga diri dan senang jika dimintai pendapat, merasa berpengalaman tetapi kurang mengikuti perkembangan teknologi.

3.    Generasi  X (lahir 1965-1980) memiliki sikap yang lebih terbuka dalam berkomunikasi secara langsung atau lewat lewat media sosial yang standar, menghargai proses dalam pekerjaan, aktif mendapatkan informasi, berkomitmen terhadap tugas tetapi cenderung egois. Penelitian Sabina dan OfritKol (2016) menemukan bahwa generasi X adalah generasi yang sangat berpendidikan dan memiliki karakteristik cerdas dalam teknologi dan media, skeptis dan pragmatis.

4.    Generasi Y (lahir 1980-2000) disebut millenial. Penelitian Howe dan Strauss (dalam, Saroja et al., 2015) mengatakan bahwa Millenials atau generasi Y memiliki 7 ciri yang membedakan dari generasi yang lain seperti: special, sheltered, confident, team-oriented, achieving, pressured dan coventional. Lebih lanjut, Tim Majalah Femina (2015) menunjukkan bahwa generasi Y adalah pribadi yang bekerja untuk dapat menerapkan kreativitas, serta mencari lingkungan kerja yang santai penuh hura-hura. Mereka bekerja tidak terlalu serius, karena bekerja bukan untuk kehidupan atau menghidupi keluarga seperti yang dilakukan generasi sebelumnya. Mereka sangat technominded dan berinteraksi lebih banyak lagi melalui gadget (Skype, Whatsapp, Twitter,Facebook), walau dengan teman satu kantor.

5.    Generasi Z lahir antara tahun 1995 – 2010 (generasi termuda) adalah generasi yang lahir di era digital, tidak terlalu mementingkan sebuah proses dan daya juang karena dihadapan mereka banyak pilihan, senang belajar sesuatu yang baru lewat komunikasi digital.

Pandangan Mengenai Nilai Kerja  

Satu area spesifik yang menghasilkan wawasan tentang memahami perbedaan generasi adalah nilai kerja. Selanjutnya, menjadi bahan pertimbangan tersendiri dalam penempatan kerja dalam suatu organisasi mengingat setiap generasi memiliki tuntutan yang berbeda. Pengertian nilai kerja yang diungkapkan oleh Schwartz (dalam, Jo-Ida &  Melanie, 2011) adalah konsep atau keyakinan yang menuntun tindakan seseorang dalam mengatasi situasi tertentu dalam mencapai tujuan kerja.

Pengetahuan dari nilai kerja tiga generasi bisa membantu para manajer memahami setiap generasi tentang  harapan kerja dan memberi pemahaman bagaimana cara terbaik mengelola anggota masing-masing generasi dan dapat memfasilitasi manajemen lintas generasi yang optimal. Perbedaan generasi juga berhubungan dengan perilaku organisasi lainnya dan perilaku konsumen terutama kaitannya dengan pembelian secara on-line.

Referensi

Suryadi, B. (2010). Generasi Y: Karakteristik, masalah dan Peran Konselor. Jakarta: Fak. Psikologi UIN.

Jo-Ida, H., & Melanie, L. (2011). Work Values Across Generations. Journal of Career Assessment.

Published by: http://www.sagepublications.com

Tim Majalah Femina .(2015). Ciri Khas Gen Y. Retreived 18 April 2015

Saroja, D., Deeparechigi, V., & Thanam, S. (2015)Perceptions on the challenges of online purchasing: a study from “baby boomers”, generation “X” and generation “Y” Malaysia: Taylors University.

Sabina, L., & OfritKol. (2016). Generation vs Generation Y Journal of Retailing and Consumer Services. Israel: Department of Economics and Business Management, Ariel University.

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh