ISSN 2477-1686

Vol.4. No.1, Januari 2018

Empati dan Kewirausahaan Sosial

Oleh:

Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo

Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

 

Pandangan Mengenai Kewirausahaan

Ketika seseorang membangun usaha, hal pertama adalah cari untung, jika tidak bisnis akan gulung tikar. Dalam kewirausahaan (entrepreneurship), keuntungan adalah tujuan utama. Pelaku wirausaha (entrepreneurs) diafirmasi sebagai kompetensi Sarjana Psikologi menurut Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI), Hal ini menjadi lebih relevan dari sisi Psikologi yang awalnya, kajian kewirausahaan memungkinkan berkembangnya pemahaman yang melampaui tema ‘yang penting untung jangan sampai buntung.’ Kini dikenal kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) yang tak melulu fokus pada profit tetapi juga perubahan masyarakat (Mair & Noboa, 2006).Capaian kewirausahaan sosial adalah manfaat kemasyarakat berkelanjutan (sustained social  benefits) - bisnis maju masyarakat juga ikut maju. Termasuk dalam cakupan ini adalah kewirausahaan berbasis komunitas (community-based entrepriseyakni komunitas yang secara kolektif menjadi berwirausaha mencapai sasaran sosial dan ekonomi secara partisipatif (Peredo & Chrisman, 2006). Hal yang penting yaitu menyimak jajak pendapat Thomson Reuters Foundation tahun 2016 saat Indonesia masuk posisi 10 besar dunia sebagai tempat terbaik bagi perempuan wirausaha sosial (Tang & Yi, 2016). Laporan ini memotret bahwa perempuan berperan lebih mumpuni dibandingkan laki-laki. Sayangnya, Short et al (2009) menemukan bahwa selain representasi negara-negara ASEAN minim, psikologi sebagai disiplin ilmu belum berkontribusi pada pengembangan kewirausahaan sosial, apalagi yang fokus pada perempuan dan komunitas. 

Wirausaha Sosial

Schiff (2012) mengusulkan pendekatan psikologi naratif (narrative psychology) yang memberikan peluang memahami bagaimana individu mengaitkan berbagai aspek kehidupan dalam hidup menjadi kesatuan utuh. Maka wawancara pun dilakukan sepanjang Februari-April 2017 terhadap tiga orang perempuan wirausaha sosial berbasis komunitas – yaitu dari Circa yang bekerja bersama komunitas pengrajin boneka di Cihanjuang Jawa Barat, dari Du’Anyam dengan para penganyam lontar di Larantuka Nusa Tenggara Timur dan dari Toraja Melo dengan para penenun tradisional di Toraja Sulawesi Utara. Dengan berpegang pada pertanyaan bagaimana gambaran proses pemaknaan para perempuan wirausaha sosial, jawaban ketiga subyek ini memunculkan pola yakni adanya awal (the beginning) atau tahap sebelum mereka masuk ke kewirausahaan sosial, tengah (the middle) atau tahap berkolaborasi dengan komunitas dan akhir (the end) atau tahap merefleksikan masa lalu dan masa kini serta memproyeksikan masa depan. Trajektori (trajectory), atau lonjakan penuh tenaga, terjadi saat para pelaku wirausaha menanggalkan sebagian realitas versi mereka dan mengadopsi realitas versi komunitas lalu menjadikannya bagian dari diri mereka – dimana empati jadi pintu masuk yang memungkinkan hal tersebut terjadi.

Kontribusi Empati dan Kewirausahaan Sosial

Tulisan ini, yang merupakan nukilan penelitian Soerjoatmodjo (2017) yang diharapkan memberi sumbangsih yang menjembatani hal tersebut dengan fokus pada proses pemaknaan (meaning-making process), yaitu interpretasi terus-menerus terhadap pengetahuan, pengalaman, emosi, keyakinan dan sikap atas situasi tertentu yang tersusun dalam narasi (Stelter, 2007). Garud dan Gulliani (2013) berpendapat proses pemaknaan tak bisa lepas dari interaksi individu-komunitas dalam inisiatif kewirausahaan sosial. Busenitz et al (2003) pun menyarankan lebih banyak kajian di bidang kewirausahaan yang menguak keterkaitan antar individu dalam lingkungan dinamis. Apa yang bisa direkomendasikan dari tulisan ini? Kewirausahaan berpotensi meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Ternyata empati menjadi pintu masuk proses pemaknaan para pelaku wirausaha sosial mengingat Indonesia adalah lahan subur kewirausahaan sosial, diharapkan ada lebih banyak penelitian yang mengkaji hal lebih lanjut.

Referensi

Busineitz, M. et al (2003) Entrepreneurship research in emergence: Past trends and future  direction Journal of management Vol 29 (3) 285-308 doi:10.1016/S0149-2063(03)00013-8.

Garud, R. & Giuliani, A.P. (2013) A Narrative perspective on entrepreneurial opportunities Academy of Management Review Vol 38 No 1 157-16010.5465/amr.2012.0055.

Mair, J. & Noboa, J. (2006) Social entrepreneurship: How intentions to create a social  venture are formed in Mair, J. Robinson, J & Hockerts, K. (editors) Social entrepreneurship New York: Palgrave Macmillan.

Peredo, A.M & Chrisman, J.J. (2006). Toward a theory of community-based enterprise Academy of management review 31(2):309–328.

Schiff, B. (2012). The function of narrative: Toward a narrative psychology of meaning Narrative works: Issues, investigations and interventions Vol 2 No 1.

Short, J.C. et al (2009). Research in social entrepreneurship: Past contribution and future  opportunities Strategic entrepreneurship journal Vol 3 161-194 doi: 10.1002/sej.69

Soerjoatmodjo, G.W.L. (2017). Making meaning, making change: A case study of women social

entrepreneurship’s trajectory from personal narrative to community development, Universitas Pembangunan Jaya: not-yet-published manuscript.

Stelter, R. (2007). Coaching: A process of personal and social meaning making  International coaching psychology review Vol 2 No 2 The British Psychological Society ISSN: 1750-2764.

Tang, A. & Yi, B.L. (2016). Where are women most actively leading social enterprises  Thomson Reuters Foundation http://poll2016.trust.org/i/?id=1c69a62e-8b88-46a3-ba42-b3870f3c833a

 

Comments   

0 #3 LauraBig 2018-12-13 15:47
Hello. I have checked your k-pin.org and i see you've got some
duplicate content so probably it is the reason that you don't rank high in google.
But you can fix this issue fast. There is a tool that generates content like human, just search
in google: miftolo's tools
Quote
0 #2 AmeeJuicy 2018-11-27 18:16
Hi. I see that you don't update your site too often. I know that
writing articles is time consuming and boring.
But did you know that there is a tool that allows you to create new posts
using existing content (from article directories or other blogs from your niche)?
And it does it very well. The new posts are high quality and pass the
copyscape test. Search in google and try: miftolo's tools
Quote
0 #1 BestKimber 2018-11-21 03:38
I have noticed you don't monetize your website, don't waste your traffic,
you can earn additional cash every month. You can use the best adsense alternative for any type of website (they approve all
websites), for more details simply search in gooogle: boorfe's tips monetize your website
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh