ISSN 2477-1686

Vol.4. No.2, Januari 2018

Kepribadian pada Celebrity Worship

Oleh

Tjitjik Hamidah

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Fenomena Celebrity Worship

Salah satu fenomena menarik di kalangan anak muda beberapa tahun terakhir ini adalah sikap ‘fanatik’ atau tergila-gila pada kebudayaan Korea, biasa disebut Korea Wave atau Hallyu Wave. Budaya Korea kini terkenal secara global bukan hanya dari drama saja, tetapi juga film, musik, grup mu sik (boyband dan girlband), busana hingga makanan khas Korea. Hal tersebut terjadi kurang lebih lima tahun terakhir, saat banyak anak muda yang “mengelu-elukan” idola Korea di dunia musik. 

Salah satunya adalah munculnya Korean Pop atau biasa disebut dengan K-Pop, yang kini digandrungi anak muda di Indonesia. Jenis musik yang ditawarkan bermacam-macam, mulai dari pop, dance, electropop, hip-hop, rock, R&B juga electronic.

Bagi masyarakat, fans K-Pop sering dianggap bersikap berlebihan, delusinonal, histeris, obsesif, adiktif, dan konsumtif. Fans K-pop dikenal gemar menghambur-hamburkan uang untuk membeli tiket konser, merchandise, album, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan idola. Selain itu, mereka merasa memiliki hubungan ‘spesial’ dengan idola bahkan tidak membiarkan sang idola menjalin hubungan dengan lawan jenis. Bahkan beberapa fans rela melakukan hal ekstrim, seperti selalu mengikuti idola kemana pun ia pergi - biasa disebut dengan stalking.

Perilaku pengidolaan menurut Raviv (1996, dalam Dita & Bagus, 2012) disebut dengan worship yaitu bentuk kekaguman dengan intensitas berlebihan dalam memberikan penghormatan terhadap sosok idola. Semakin tinggi tingkat pengidolaan/worship seseorang, semakin tinggi tingkat keterlibatan dengan sosok yang diidolakan (celebrity involvement).

Menurut tingkatan ini, semakin seseorang memuja atau terlibat dengan sosok selebriti tertentu, semakin besar pula keintiman (intimacy) yang diimajinasikan terhadap sosok celebrity yang diidolakan. Dari bentuk kekaguman tersebut, terbentuk perilaku memuja selebriti yang disebut dengan celebrity worship.

Penelitian Jung (2011) menjelaskan bahwa ruang lingkup K-pop mengalami peningkatan terkait dengan pencarian pada jumlah situs web. Pencarian untuk K-Popdi Google menghasilkan lebih dari 86 juta hasil dalam bahasa Inggris; 2,100,000 hasil di Indonesia; 2.200.000 hasil di Thailand; dan 3.100.000 hasil di Vietnam (1 November 2010). Pada grafik Google Trends, terlihat jelas bahwa volume pencarian untuk K-Pop telah melampaui J-Pop sejak akhir 2009. Dapat disimpulkan bahwa eksistensi Hallyu Wave semakin meningkat pada awal tahun 2010 sejak diperkenalkannya K-Pop ke Asia hingga Negara di luar Asia.

Pengertian Celebrity Worship

Celebrity worship secara luas diartikan sebagai senang dengan selebriti atau idola tertentu yang memengaruhi kehidupan fans dan dapat digambarkan sebagai obsesif terhadap sesuatu (McCutcheon, 2002). Salah satu hal yang terdapat pada celebrity worship adalah perilaku parasosial yaitu hubungan khayalan yang bersifat satu arah mengenai kedekatan dengan selebriti (Dita & Bagus, 2012)

Menurut Griffiths (2013) celebrity worship digambarkan sebagai gangguan obsesif-adiktif ketika individu terlalu terlibat dan tertarik, dengan kata lain benar-benar terobsesi, dengan detil kehidupan pribadi selebriti.

Aspek dan Dimensi pada Celebrity Worship

Maltby (2004), mengungkapkan bahwa celebrity worship berhubungan dengan kesehatan mental dan kepribadian serta memiliki hubungan signifikan dengan kesejahteraan psikologis yang lemah. Kesehatan mental yang diidentifikasi dalam penelitian ini, adalah depresi, kecemasan, gejala somatik, disfungsi sosial, stres dan kepuasan hidup.

Celebrity worship menurut Maltby dkk (2006) memiliki tiga dimensi/aspek yang dapat digambarkan sebagai tingkatan, yaitu Entertainment-Social, Intense-Personal, dan Borderline-Pathological.

  1. Tahap Entertainment-Social, yaitu motivasi yang mendasari pencarian aktif fans terhadap idola.
  2. Tahap Intense-Personal, merupakan aspek yang merefleksikan perasaan intensif dan kompulsif terhadap idola, hampir sama dengan tendensi obsesif pada fans.
  3. Tahap Borderline-Pathological, merupakan aspek yang paling ekstrim dimana merupakan tingkatan paling parah dari hubungan parasosial dengan idola.

Selanjutnya penelitian Maltby, Houran dan McCutcheon (2004), menemukan bukti bahwa tiga dimensi celebrity worship sejalan dengan tiga dimensi tipe kepribadian Eysenck, yaitu ekstraversi, neurositisme dan psikotisme, antara lain:

  1. Tahap Entertainment-Sosial mencerminkan dimensi kepribadian ektraversi seperti sosiabel, aktif, lincah dan berani;
  2. Tahap Intense-Personal mencerminkan dimensi kepribadian neurositisme seperti tertekan, emosional, cemas dan moody;
  3. Tahap Borderline-Pathological mencerminkan dimensi kepribadian psikotisme seperti impulsif, anti sosial, dan egosentris.

Secara spesifik, pengukuran entertainment-sosial pada Celebrity Attitude Scale (CAS) menunjukkan disfungsi dan gejala depresif. Individu memiliki nilai intense-personal tinggi menunjukkan kepribadian neurotisisme, perilaku dan sikap melarikan diri dari kenyataan atau denial, stres, sangat emosional, tegang dan cenderung menarik diri dari dunia.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Celebrity Workship

Menurut McCutcheon, dkk. (2002) terdapat tiga faktor yang memengaruhi celebrity worship, antara lain: usia, ketrampilan sosial, dan jenis kelamin. Selanjutnya, Maltby (2004) di dalam penelitiannya menjelaskan bahwa celebrity worship berhubungan dengan kepribadian, kesehatan mental serta memiliki hubungan yang signifikan dengan kesejahteraan psikologis yang lemah. Kesehatan mental yang diidentifikasi adalah depresi, kecemasan, gejala somatik, disfungsi sosial, stres dan kepuasan hidup.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi individu melakukan worship kepada selebriti yang dikagumi.

Referensi

Dita, D. & Bagus, A.P. (2012). Pemujaan terhadap idola pop sebagai dasar intimate relationship pada dewasa awal. Jurnal Psikologi Kepribadian dan Sosial. Vol 1 No. 2, Juni: 53-60.

Griffiths, M. D. (2013). Celebrity worship syndrome:A brief psychological overview. [Online]. https://www.psychologytoday.com/blog/inexcess/201307/celebrity-worship-syndrome. Diakses pada tanggal 13 Maret 2015.

Maltby, J., dkk. (2004). Personality and coping: A context for examining celebrity worship and mental health. British Journal of Psychology. Vol. 95, September: 411-428.

Maltby, J., dkk. (2006). Extreme celebrity worship, fantasy proneness and dissociation: Developing the measurement and understanding of celebrity worship within a clinical personality context. Journal of Personality and Individual Differences. Vol. 40, September: 273-283.

McCutcheon, L.E., Lange, R. & Houran J. (2002). Conceptualization and measurement of celebrity worship. British Journal of Psychology. Vol. 93, Februari: 67-87.

 

Comments   

0 #38 mega888 apk 2018-12-16 09:15
Offer a good package for that serious affiliate who uses a
leg-up into the arena of web-marketing. The truth about the Internet is that so many consumers are trying to make their living from it.
Quote
0 #37 ntc33 download 2018-12-16 08:04
Involved with a testing basis. Talk about if he wants to interchange links
with your site. Do some research and a few good helpful
content.
Quote
0 #36 office design works 2018-12-15 10:14
I know this website offers quality depending posts and other stuff,
is there any other web site which offers these data in quality?
Quote
0 #35 Alberta 2018-12-14 22:25
Have you ever thought about creating an ebook or guest authoring on other
websites? I have a blog based upon on the same subjects you discuss and would
love to have you share some stories/information. I know my subscribers would appreciate your work.
If you are even remotely interested, feel free to send me an e mail.
Quote
0 #34 Louann 2018-12-14 05:37
You will want a company that charges an affordable rate. Ought
to will specialise in either residential or business interior design though.
These are then kiln baked generate the flooring
tiles.
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh