ISSN 2477-1686 

Vol.3. No.13, Desember 2017

Strategi Coping untuk Individu dengan Peran Ganda

Oleh:

Madinna Ramadhani & Clara Moningka 

Fakultas Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

Dilema Kuliah dan Bekerja

Melakukan aktivitas berkuliah sambil bekerja bukanlah hal asing lagi bagi mahasiswa. Banyak faktor yang membuat mereka memilih untuk bekerja, seperti mendapatkan uang, pengalaman baru, dan lain-lain. Hal ini dapat memunculkan stres dikarenakan mengatur waktu. Santrock (2006) mengartikan stres sebagai respon seorang individu terhadap stresor, yaitu kejadian yang mengancam seorang individu dan membebani kemampuan untuk coping. Stres dapat menekan seseorang sehingga ia tidak berdaya dan menimbulkan dampak negatif, seperti pusing, darah tinggi, tidak bisa mengontrol emosi, sulit tidur, dan lain-lain. Stres digambarkan sebagai kekuatan yang menimbulkan tekanan-tekanan dalam diri, dalam hal ini, stres muncul jika tekanan yang dihadapi melebihi batas optimal (Greenberg, 2008).

Pada umumnya individu menganggap sekolah sebagai sesuatu yang penting karena dapat menunjang karir mereka. Namun setelah bekerja mereka juga merasakan bahwa bekerja dan menghasilkan uang adalah sesuatu yang penting. Individu cenderung berusaha mencapai beberapa tujuan secara bersamaan. Greenberg (2008) menyatakan bahwa pada saat ini, individu cenderung berfokus pada tujuan; terkadang bisa lebih dari beberapa tujuan (goal) dan merasa harus mencapai sesuatu dalam jangka waktu yang cenderung pendek.  Terkadang peran ganda sebagai mahasiswa dan pekerja; dan tujuan untuk lulus dan juga mencari nafkah menyebabkan stres pada individu yang menjalaninya.

Hal ini didukung penelitian Octavia dan Nugraha pada mahasiswa yang bekerja (dalam Kalezaran, Moningka, Angkawijaya, 2017). Pada penelitian ini, diketahui bahwa kuliah sambil bekerja dapat menimbulkan perubahan dalam aktivitas kuliah dan belajar mahasiswa. Individu menjadi tidak fokus pada kegiatan perkuliahan, menunda menyelesaikan tugas, bolos, bahkan tidak melanjutkan kuliah. Hal ini menunjukkan bahwa adanya ketidakseimbangan antara kuliah dan bekerja atau yang disebut juga sebagai konflik antara kuliah dan bekerja (work-study conflict). Pada dasarnya konflik ini terjadi karena keterlibatan peran sebagai pekerja dan peran sebagai mahasiswa untuk berpartisipasi di kampus untuk belajar (Millis, Lingard & Wakefield, dalam Kalezaran, Moningka, dan Angkawijaya, 2017).

Strategi Coping

Salah satu cara menanggulangi stres karena peran ganda tersebut adalah dengan coping. Coping adalah proses yang dilakukan individu untuk mengelola perbedaan yang mereka rasakan antara tekanan dan sumber daya yang muncul pada saat stres (Sarafino, 2011). Terdapat dua fungsi coping, yaitu mengubah masalah yang memunculkan stres (emotion-focused coping) atau mengatur respon emosi pada masalah tersebut (problem-focused coping).Sarafino (2011) menjelaskan bahwa emotion-focused coping bertujuan untuk mengkontrol respon emosi terhadap situasi stres. Orang-orang dapat mengatur respon emosi mereka melalui pendekatan perilaku dan kognitif. Problem-focused coping bertujuan untuk mengurangi tekanan pada situasi yang membuat stres. Kedua coping ini dapat digunakan secara bersamaan. Percobaan dalam meminimalisasikan stres disebut proactive coping, dan hal ini biasanya menggunakan metode problem-focus (Carver & Connor-Smith, 2010). Berikut metode-metode proactive coping:

1.    Mencari dukungan sosial dengan cara bergabung dengan komunitas atau organisasi sesuai ketertarikan mereka, yang bisa jadi tempat untuk saling berbagi.

2.    Memperbaiki kontrol terhadap diri. Ketika stres dalam hidup, individu yang kurang bisa mengkontrol diri akan mudah menyerah dan cenderung meningkatkan level stres mereka.

3.    Mengorganisasikan lingkungan individu lebih baik. Pada umumnya, stres terjadi karena perilaku seperti seringkali telat, atau percaya bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk menyelesaikan suatu tugas. Salah satu pendekatan hal ini adalah time management. Lakein dalam Sarafino (2011) menjelaskan bahwa time management meliputi tiga elemen, yaitu (1) menentukan tujuan, (2) membuat daftar prioritas yang harus dilakukan, (3) membuat jadwal mengenai apa yang harus dilakukan pada hari itu.

4.    Disman dan Holmes dalam Sarafino (2011) menemukan bahwa individu yang olahraga atau yang sehat secara fisik jarang merasakan kecemasan, depresi, dan tekanan dalam hidup mereka dari pada individu yang kurang sehat.

5.    Mempersiapkan untuk situasi stres. Hal ini dapat mengurangi potensi untuk stres.

Selain mengurasi stres, para mahasiswa yang bekerja juga dapat melakukan time management. Keahlian dalam time management sangat penting karena hal ini dapat meningkatkan produktivitas individu, fokus dengan prioritas yang telah dibuat, dan meningkatkan efektivitas dalam organisasi (Forsyth, 2009). Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatur waktu (Forsyth, 2009):

1.    Merencanakan pekerjaan dan mengerjakan rencana tersebut. Hal ini dapat dirangkum dengan (1) membuat daftar tugas yang harus dilakukan, (2) melakukan tugas tersebut sesuai dengan prioritas, (3) lakukan seperti rencana yang telah dibuat. Untuk melakukan ini, setiap individu harus disiplin.

2.    Membuat check-list. Yaitu membuat daftar tugas-tugas yang perlu dilakukan, lalu mencoret daftar tersebut apabila tugas telah selesai.

3.    Berpikir ke depan. Belajarlah untuk berpikir ke depan dan mengambil pengelihatan sistematik untuk beberapa hal, maka individu akan mengetahui kapan suatu tugas harus mulai untuk diselesaikan. Contohnya, lakukan hal ini saat membuat dokumen. Berpikir ke depan berarti membayangkan bahwa jika individu tidak menyelesaikan dokumen tersebut, ia akan memiliki beban kerja yang banyak.

4.    Pagi, siang, atau malam. Sangat penting untuk memutuskan pola bekerja atau kuliah apakah pagi, siang, atau malam, tergantung dengan bodyclock seseorang.

Dapat didapatkan kesimpulan bahwa keahlian time management sangat penting untuk para mahasiswa yang bekerja atau magang. Hal ini penting karena apabila time-management individu berantakan, dapat memunculkan stres.

 Referensi:

 

Aamodt, M.G. (2010). Industrial/organizational psychology: An applied approach (6th ed). Belmont, CA: Wadsworth Cengage Learning.

Forsyth, P. (2009). One hundred great time management ideas. Singapore: Marshall Cavendish International.

Greenberg, J. S. (2008). Comprehensive stress management (10th ed). New York: McGraw Hill.

Kalezaran, T., Moningka, C., &Angkawijaya, Y.F. (2017). Hubungan Conflict Self-Efficacy dengan Work-Study Conflict Pada Mahasiswa.(Manuskrip dalam proses penerbitan). Universitas Pembangunan Jaya, Jakarta.

Sarafino, E.P., & Smith, T. W. (2011). Health psychology (7th ed). United States of America: John Willey & Sons, Inc.

Solomon, M. R. (2013). Consumer behavior: Buying, having, being (10th ed). New Jersey: Pearson Education, Inc.

 

Comments   

0 #1 PearleneChief 2018-03-27 19:02
I have checked your blog and i have found some duplicate
content, that's why you don't rank high in google's search
results, but there is a tool that can help you to create 100% unique articles,
search for; boorfe's tips unlimited content
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh