ISSN 2477-1686

Vol.3. No.13, Desember 2017

Serba Serbi Gangguan Kecemasan

Oleh:

Rika Fitriyana

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara

Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Data Riskesdas 2013 memunjukkan prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk. Melihat tingginya angka tersebut di atas menjadi sinyal bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus mencari tahu mengenai masalah kesehatan mental.

Berdasarkan data di atas, penulis menitikberatkan pada gangguan kecemasan yang dialami oleh jutaan orang di Indonesia. Berbicara mengenai kecemasan tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tekanan. Riset menunjukkan bahwa respon kecemasan ditemukan pada hampir setiap spesies yang ada di muka bumi (Craske, Barlow, & Meadows, 2011). Dengan begitu terbuka kemungkinan bagi siapa saja untuk terpapar hidup dengan rasa cemas jika tidak ditangani dengan baik.

Kecemasan merupakan dasar dari keseluruhan emosi yang dirasakan manusia. Sesekali rasa cemas akan datang dan menjadi bagian normal dari hidup seseorang. Misalnya saja ketika anda hendak memulai sesuatu yang baru, atau harus mengambil keputusan penting maka hal tersebut melibatkan rasa takut dan khawatir. Jika hal tersebut tidak ditangani secara cepat maka akan berdampak pada sendi kehidupan sehari-hari.

Secara singkat, kecemasan dapat diartikan sebagai perasaan tidak nyaman yang atau ketakutan yang dialami secara berlebihan oleh individu. Biasanya hal ini bersifat terselubung dan ditutupi dengan perilaku defensive seperti menghindar dari sumber pencetus (Morgan et al, 2001). Rasa cemas itu merupakan sesuatu yang normal pada manusia. Namun ketika rasa tersebut tidak dapat dikendalikan dan berdampak pada kehidupan sehari-hari maka hal tersebut menjadi petunjuk perlunya penanganan yang serius.

Apa yang harus dilakukan?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan terkait dengan deteksi dini gangguan kecemasan:

1.  Kenali tanda dan gejalanya. Biasanya individu yang mengalami kecemasan akan merasa takut dan khawatir secara berlebihan, mudah lelah, mudah terganggu, tegang otot, serta sulit tidur.

2.  Kenali jenis-jenis gangguan kecemasan seperti serangan panik, fobia, kecemasan sosial, kecemasan perpisahan, gangguan obsesif-kompulsif, dan kecemasan secara umum.

3. Bagi individu yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan kecemasan perlu untuk menjadi lebih waspada karena beresiko mengalami hal yang sama.

4. Segera cari bantuan professional seperti psikolog ataupun psikiater jika dirasa kecemasan yang muncul sudah sangat mengganggu ketika menjalankan aktivitas sehari-hari.

Bagaimana cara mengatasi gangguan kecemasan?

Pada umumnya, penanganan gangguan kecemasan biasanya merupakan sinergi antara pengobatan medis dan psikoterapi. Pengobatan medis bertujuan untuk memulihkan sistem biologi tubuh yang tidak seimbang. Sedangkan psikoterapi bertujuan untuk menangani kognitif dan perilaku yang turut berkontribusi sehingga menimbulkan gangguan kecemasan (Tian Po Oei, 2011).

Selain itu, adanya kelompok pendukung dapat membantu meringankan permasalahan yang muncul dan bisa berfungsi sebagai tempat untuk membicarakan berbagai hal yang menjadi kekhawatiran pada diri individu. Pembelajaran mengenai teknik manajemen stress juga dapat membantu dalam meringankan beban pikiran yang menjadi pemicu munculnya gangguan kecemasan.

Kecemasan merupakan sensasi yang tidak menyenangkan, akan tetapi hal tersebut tidak membahayakan dan memiliki peran penting untuk tujuan tertentu dalam kehidupan sehari-hari

(Prof. Tian Po Oei, B.A, M.Psychology, Ph.D, FAPS)

Referensi:

American Psychological Association. (2013). Diagnostic statistical manual of mental disorder (5 th ed.). U.S: APA Publisher.

Craske M. G., Barlow D. H., & Antony M. M. Mastery of your specific phobia: therapist guide (2nd ed.). New York: Oxford University Press.

Morgan, C.T., King, R. A., Weisz, J. R., & Schopler, J. (2001) Introduction to  Psychology (7nd ed.). New York: McGraw-Hill Publisher.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peran keluarga dukung kesehatan jiwa masyarakat. Diunduh dari: http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html

National Institute of Mental Health. (2016). Anxiety disorder. Diunduh dari: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/anxiety-disorders/index.shtml.

Oei, Tian Po.  (2011). A group cognitive behaviour therapy program for anxiety, fear, and phobias. Depok: LPSP3 UI.

 

 

 

Comments   

0 #1 AmeeJuicy 2018-08-23 07:06
Hello. I see that you don't update your website too often. I know
that writing articles is boring and time consuming.
But did you know that there is a tool that allows you to create new posts using
existing content (from article directories or other pages from your niche)?

And it does it very well. The new articles are high quality and pass the copyscape test.
Search in google and try: miftolo's tools
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh