ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 66 September 2026
KPIN itu Setara Proyek Manhattan
Oleh:
Eko A Meinarno1 & Rocky2
1Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia
2Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta
Pengantar
Akhirnya kami dapat menyaksikan film Oppenheimer. Secara garis besar, film ini beriksah tentang ilmuwan fisika yang bekerja pada pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan tujuan untuk membuat bom atom dalam rangka mengakhiri Perang Dunia II (PD II). Ilmuwan ini bekerja sekitar 2-3 tahun dalam Proyek Manhattan di bawah kendali pemerintah AS. Akhirnya tim ini sukses membuat bom atom pertama dan mengujinya pada Juli 1945.
Tentu dari film ini bukan capaian bom atom yang menjadi perhatian, tapi tentu hal lain. Banyak hal menarik dari film atau tepatnya tokoh ini dan seputar masalah yang muncul dari proyek itu.
Hal Utama
Hal yang menjadi acuan tingkah laku Oppenheimer (menciptakan bom atom) adalah untuk mengalahkan Jerman NAZI. Ia merekrut dan membangun tim yang solid, dari berbagai universitas untuk mendapat pemikiran yang terbaik. Ia harus berpikir cepat dan keras agar target tercapai. Walau tidak ditekankan, tapi kita tahu bahwa karya dia harus selesai dengan cepat agar perang dapat diakhiri dengan cepat juga. (fokus pada musuh yang dihadapi).
Pemerintah Amerika Serikat
Pemerintah AS meminta Oppenheimer karena latar ilmu dan wawasannya luas. Sebagai orang yang cerdas, bahkan kepribadiannya pun tidak mudah ditebak. Jangankan atasannya, istrinya pun masih tidak memahaminya dengan utuh. Namun yang utama bagi pemerintah AS adalah tujuan atau target tercapai yakni pembuatan bom pamungkas untuk mengakhiri perang dunia kedua.
Kualitas Diri
Oppenheimer bukan orang yang mudah diperintah, tapi bukan pula orang yang tidak menerima masukan (termasuk kritik). Ia tidak dengan mudah mau disetir oleh pemerintah AS. Ia tahu tujuan yang akan dicapai adalah tujuan pemerintah, tapi ia tidak tenggelam dalam perintah itu. Ia tidak mudah dikendalikan oleh karena pemberi perintahnya pemerintah. Hanya kesamaan tujuanlah makanya ia bersedia bekerja dengan pemerintah.
Hal ini juga membawanya pada situasi yang tidak menguntungkan. Ia akhirnya berhadapan dengan orang yang tidak puas dengannya. Ada saja pihak yang kemudian menyudutkannya dengan hal-hal yang tidak terkait dengan dirinya. Yang penting Oppenheimer harus dipojokkan atau jika mungkin disingkirkan. Namun kembali lagi, Oppenheimer adalah orang yang cerdas, dan negara pada saat itu membutuhkannya.
Refleksi KPIN
KPIN atau Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara telah hadir dalam kancah pendidikan psikologi di Indonesia sejak 2014. Artinya sudah satu dasawarsa lewat KPIN tumbuh dan berkembang. Di dalam KPIN terdiri dari banyak kampus psikologi (ada yang masuk dan ada yang keluar, dan ada yang bertahan).
Dosen Berdasar Bidang Keahlian di KPIN
KPIN tidak melulu sekedar keanggotaan kampus/institusi saja. Di KPIN justru keahlian menjadi perhatian. Data dari 95 dosen yang memasukkan data di KPIN yang merupakan basis data terbuka para dosen yang kampusnya tergabung dalam KPIN. Data ini berisi nama dan minat keahlian. Penulisan minat/keahlian masing-masing menulis lima bidang psikologi (tulisan ini dibuat sebelum 17 Agustus 2026, sehingga data yang dirujuk masih amat mentah). Data ini telah ada sekitar 2-3 tahun terakhir (sekitar tahun 2023). Selama ini, data itu belum digunakan secara utuh. Data yang kemudian diolah dan menjadi laporan ini adalah hanya memperhatikan peminatan yang pertama dan kedua. Pengolahan dibantu mesin akal imitasi ChatGPT. Pembersihan data juga dilakukan khususnya pada dosen yang diketahui tidak menuliskan keahlian dan yang sudah keluar dari organisasi KPIN. Dengan demikian yang dapat diolah sampai akhir adalah 92 orang. Berdasar hasil ditemukan bidang keahlian yang besar (dengan jumlah ahli 10-16) yakni tiga bidang. Keahlian sedang (5-9) yakni empat bidang, dan untuk keahlian kecil/spesifik ada 66 bidang dengan anggota hanya 1-4 orang saja. Berikut adalah tabel olahan data.
|
Bidang Keahlian Utama |
Jumlah Dosen |
|
Psikologi Klinis |
16 |
|
Psikologi Pendidikan |
13 |
|
Psikologi sosial |
12 |
|
PIO |
9 |
|
well-being |
7 |
|
Psikologi positif |
6 |
|
Psikologi Komunitas dan Pemberdayaan |
5 |
|
Kesehatan mental |
4 |
|
Psikologi Keluarga |
4 |
|
Psikologi Lingkungan |
4 |
|
Psikologi kesehatan |
3 |
|
Terapan Psikologi Sosial |
3 |
|
Psikometrika |
4 |
|
Psikologi perkembangan |
4 |
|
Intervensi pada remaja |
3 |
|
Psikologi Perkembangan (terutama remaja) |
3 |
|
Budaya |
3 |
|
Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus |
3 |
|
Karir |
3 |
|
Psikologi Bencana |
2 |
|
Psikolog Klinis Perkembangan (anak dan remaja berkebutuhan khusus) |
2 |
|
Psikologi sosial dan kepribadian |
2 |
|
Kelanjutusiaan |
2 |
|
Metode Penelitian Kuantitatif |
2 |
|
Adiksi |
2 |
|
Kecemasan dan Depresi |
2 |
|
Psikologi Literasi dan Media |
2 |
|
Gender |
2 |
|
Psikologi sosial dan terorisme |
1 |
|
Singleness (lajang) |
1 |
|
Kesehatan mental anak dan remaja |
1 |
|
Intergroup Relations |
1 |
|
Psikologi Islam |
1 |
|
Psikologi Klinis Anak |
1 |
|
Psikologi Forensik |
1 |
|
Counseling dan Coaching |
1 |
|
Psikologi komunikasi |
1 |
|
Cross-cultural psychology |
1 |
|
Psikodiagnostik |
1 |
|
Psikologi klinis-sosial |
1 |
|
Integritas Akademik |
1 |
|
Psikologi musik |
1 |
|
Psikologi Kebangsaan |
1 |
|
Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi |
1 |
|
Psikologi Sosial Organisasional |
1 |
|
Bibliotherapy |
1 |
|
toponymic attachment |
1 |
|
psychology of terrorism |
1 |
|
psikologi ciber/media |
1 |
|
relasi romantis |
1 |
|
Peace Psychology |
1 |
|
Pain (nyeri/rasa sakit) |
1 |
|
Higher education issues |
1 |
|
Skizofrenia/psikotik |
1 |
|
Kesehatan Mental Anak & Remaja |
1 |
|
Parenting dan pendidikan |
1 |
|
intellectual humility |
1 |
|
Occupational Stress |
1 |
|
Social Anxiety |
1 |
|
Psikologi Lalu-lintas |
1 |
|
Self Growth |
1 |
|
Pemanfaatan teknologi dalam dunia kerja |
1 |
|
well-being at work |
1 |
|
Kepemimpinan |
1 |
|
Metode Kualitatif |
1 |
|
Psikologi agama |
1 |
|
Etika Publikasi |
1 |
|
Psikologi kognitif |
1 |
|
Regulasi Diri dalam Belajar |
1 |
|
Psikologi Sekolah |
1 |
|
Psikologi Abnormal |
1 |
|
Sexual Offense and Aggresion |
1 |
Tabel 1. Kepakaran dan jumlah dosen di berbagai kampus psikologi yang tergabung dalam KPIN.
Dengan data seperti ini, yakni 72 bidang keahlian dapat dibayangkan bagaimana perkembangan psikologi di Indonesia mestinya berkembang.
Pengumpulan data ini mestinya tidak berdiri sendiri. Data itu hanya memberi gambaran saja, tapi perlu kita pahami bahwa data itu muncul dari berbagai kampus psikologi di Indonesia dari Banda Aceh sampai Makassar. Tidak mudah mencari ahli psikologi di bidang-bidang tertentu. Belum lagi peluang kerja sama keilmuan yang mungkin terjadi di internal KPIN.
Variasi bidang keahlian ini tentu bukan suatu hal yang biasa. Semakin variatif anggota organisasi maka semakin mudah para anggotanya memeroleh ide dan akhirnya meningkatkan kinerja organisasi itu sendiri (Mehari et al., 2024). Di sini kita mulai dapat melihat KPIN sebagai hub/penghubung (seperti stasiun kereta Manggarai). Ahli psikologi gender bisa mempunyai kerja sama dengan ahli psikologi kepemimpinan, atau psikologi klinis dan psikologi kesehatan.
Penyerapan Kemajuan oleh Semua Pihak
Di KPIN yang terbuka kesempatan pembuatan program/acara/aktivitas yang berifat nasional. Teman-teman dapat melihat tingkat keberhasilannya. Jika dianggap sukses, individu atau kampus mengikuti langkah pembuatannya. Acara-acara kampus yang awalnya dibuat sendirian, dengan KPIN dapat berkembang menjadi ajang acara nasional. Hal-hal dasar dapat diadaptasi dengan cepat tanpa waktu yang lama. Para anggota melihat secara langsung, yang artinya belajar pada saat yang sama (real time). Hal ini tentunya tidak lepas dari budaya organisasi KPIN yang mendukung keterbukaan ide, yang menjadi pendorong anggotanya untuk berkolaborasi antar institusi (Wang et al., 2021).
KPIN itu kumpulan orang-orang dengan kapasitas kognitif memadai. Di KPIN kita berbagi pengetahuan dan menerima pengetahuan. Sebagai contoh, perbincangan ringan antara Idhamsyah E Putra dan Eko A Meinarno yang kemudian sesekali ditimpali oleh Subhan El Hafiz, bukan tanpa isi. Di antara ketiganya sering terjadi kiriman-kiriman sumber akademis untuk menguatkan isi perbincangan mereka. Dan itu dilakukan secara terbuka, terpantau, dan bisa ditimpali lagi dengan data atau fakta lain bahkan tercatat (Meinarno, Putra, Hafiz, & Wardani, 2023). Dengan demikian, perbincangan itu menjadi bagian dari pengetahuan organisasi.
Berbagai program dibuka oleh KPIN. Ada program menulis yang wujudnya adalah buku, atau program menulis ringan yang terbit dua kali dalam sebulan (Buletin KPIN yang sudah dikenal banyak pihak). Program penulisan ringan ini ditawarkan secara terbuka (misal kajian Darth Vader, Buletin KPIN edisi Mei 2025). Program buku misalnya buku Psikologi Indonesia dan Kesehatan Mental Perspektif Indonesia (https://k-pin.org/galeri-buku-kpin/). Lainnya adalah produk rancangan pengajaran semester (RPS) yang dikerjakan bersama (https://k-pin.org/galeri-brps-modul/). Yang menarik adalah RPS itu generik dan dapat langsung digunakan oleh kampus-kampus psikologi. Artinya program kolaborasi amat sangat dimungkinkan.
Agilitas (luwes, lincah) dari KPIN juga terlihat. Di dalam KPIN yang terbuka tanpa sekat. Agilitas ini terlihat dari kerja sama yang mudah dan gerakan lincah terhadap berbagai institusi lain. Hal ini terbukti dari kegiatan yang telah dilakukan KPIN dengan HIMPSI Banten tahun 2024. Acara dibuka untuk umum dan khususnya para psikolog yang membutuhkan acara pengayaan keprofesian. Acara ini dimungkinkan oleh para narasumber yang bukan melulu psikolog. Dan pintu terbuka bagi para narasumber. Juga di dalam KPIN, ketua tidak sulit dikontak, para pengurus juga tidak bersekat kantornya. Dengan demikian para anggota dan pengurus saling kontak secara terbuka. Acara yang dibuat dengan cepat misalnya peringatan 10 tahun KPIN, Desember 2024. Dampak acara itu adalah munculnya ide penulisan bersama untuk Buletin KPIN (Darth Vader, edisi Mei 2025; Sejarah Kampus Psikologi, edisi Juli 2025).
Acara-acara KPIN tanpa disadari mulai membangun jaringan. Misalnya acara Psikologi Bencana yang awalnya hanya di KPIN, sekarang menjangkau HIMPSI Pusat, berkat jalinan kerja sama yang ajeg di tahun 2026. Narasumber acara Psikologi Bencana, juga menjadi penulis yang kontinu/sinambung di Buletin KPIN sepanjang tahun 2026, selaras dengan acara webinarnya. Hal ini menunjukkan pola integrasi dalam KPIN itu sendiri.
Kembali ke Proyek Manhattan
Sebagaimana pemerintah AS yang mengundang Oppenheimer dan semua ilmuwan fisika untuk proyek pembuatan bom atom, demikian pula dengan KPIN. Para pendiri KPIN berpikir bahwa organisasi ini tumbuh sesuai harapan dari para anggotanya, bukan arahan dari satu pihak. Ini yang membedakan tujuan antara Proyek Manhattan dan KPIN, tapi keduanya jelas dibangun untuk mengumpulkan sumber daya berupa ilmuwan psikologi terkemuka Indonesia. Sebagai analogi, saat pemerintah AS mendapat bom atomnya, KPIN melalui produk Buletin KPIN telah menghasilkan hal yang besar yakni Pandangan Konsep Sehat & Sakit Pada Masyarakat (2016), ditulis oleh Budi Sarasati (Universitas Bhayangkara) dengan hits (pengunjung/pembaca) sebesar 114.895; Spiritualitas: Makna dan Fungsi (2018) oleh Nandaka dan Clara Moningka (Universitas Pembangunan Jaya), 121.685; Dan Pentingnya K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja (2017) oleh Selviana (Universitas Persada Indonesia YAI) dengan hits 209.386. Kesemuanya dapat dicek di https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel. Jumlah hits ini tidak main-main, hingga ratusan ribu! Angka ratusan ribu bisa mewakili atau menunjukkan adanya kebutuhan penjelasan psikologis atas gejala yang disampaikan para penulis. Melihat hal ini, para anggota KPIN dapat secara optimistis yakin bahwa KPIN bisa mengguncang psikologi Indonesia bahkan regional ASEAN.
Penutup
Tulisan ini ditulis dalam rangka mengingatkan kembali semangat keneradaan KPIN. Nama-nama sudah tercatat dan terpampang. Fasilitas sudah ada. jalur komunikasi juga sudah terbuka. Maka kolaborasi berbasis kebersamaan adalah keniscayaan. "Kita tidak harus mengetahui segalanya. Kita hanya harus mengetahui di mana pengetahuan itu berada."
Referensi:
Mehari, A. T., Ayenew Birbirsa, Z., & Nemera Dinber, G. (2024). The effect of workforce diversity on organizational performance with the mediation role of workplace ethics: Empirical evidence from food and beverage industry. PLOS ONE, 19(7), e0297765. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0297765
Meinarno, E. A., Pratiwi, I. W., Rachmawati, S., Puspitasari, D. N. (2017). Kajian Strategis Buletin untuk Pembangunan Kepakaran. Buletin KPIN. Vol.3. No.3, Maret 2017. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/160-kajian-strategis-buletin-untuk-pembangunan-kepakaran.
Meinarno, E. A., Putra, I. E., Hafiz, S. E. & Wardani, L. M. I. (2023). KPIN Berembug Karir Dosen di Perguruan Tinggi. Buletin KPIN. Vol. 9 No. 04 Februari 2023. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1231-kpin-berdiskusi-karir-dosen-di-perguruan-tinggi.
Wang, H., Rispens, S., & Demerouti, E. (2022). Boosting creativity in functional diverse work groups: The importance of help-seeking behavior and openness to experience. European Journal of Work and Organizational Psychology, 31(5), 768–780. https://doi.org/10.1080/1359432X.2022.2047937