ISSN 2477-1686

Vol.4. No.4, Februari 2018

 

Spiritualitas: Makna dan Fungsi

Oleh:

Pasha Nandaka dan Clara Moningka

Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

 

Banyak tokoh yang dianggap sebagai figur spiritual. Orang kerap menggambarkan figur spiritual adalah seperti Dalai Lama, Bunda Teresa, Mahatma Gandhi, Malcolm X, dan lain sebagainya. Figur tersebut seringkali direpresentasikan sebagai gambaran seseorang yang menjaga diri dari hal yang bersifat duniawi. Apakah hal ini berarti orang yang tidak menjaga diri dari keduniawian tidak memiliki spiritualitas?

Istilah spiritualitas seringkali disalahartikan dan dilihat sebagai sesuatu yang konteksnya sama dengan agama, keyakinan tertentu, aturan moral dan tradisi – tradisi. Spiritualitas pada dasarnya bukanlah sesuatu yang formal, terstruktur dan terorganisir seperti agama pada umumnya. Spiritualitas berasal dari kata ‘spiritus’ yang artinya adalah nafas kehidupan. Spirit merupakan kekuatan yang tidak terlihat yang memberikan nafas bagi kehidupan kita, menghidupkan kita, dan memberikan kita energi. Spirit membantu kita dalam mendefinisikan kebenaran, keunikan diri sesungguhnya dalam diri kita dan menegaskan individualitas kita. Sedangkan agama berasal dari bahasa latin yaitu ‘religio’ yang artinya adalah kepercayaan atau koneksi. Agama pada umumnya merepresentasikan jalan spiritual seseorang. Agama merupakan suatu sistem tua untuk suatu kekuatan yang tidak terlihat.

Spiritualitas dan agama merupakan suatu konteks yang berbeda namun selalu beriringan. Spiritualitas lebih melihat kedalam batin menuju kesadaran akan nilai – nilai universal seseorang. Sedangkan agama melihat keluar diri seseorang menggunakan ritus (tata cara keagamaan) formal dan kitab suci. Agama lebih melihat kepada orientasi eksternal sedangkan spiritualitas mencakup bagaimana seseorang memandang kedalam batinnya. Jadi, spiritualitas dapat dijangkau oleh semua orang baik yang religius maupun yang tidak. Spiritualitas merupakan proses transformasi melalui berbagai aspek kehidupan yang terintegrasi meliputi fisik, emosional, pekerjaan, intelektual dan rasional. Spiritualitas sangat berkaitan dengan kreativitas, cinta, pengampunan, kasih sayang, kepercayaan, penghormatan, kebijaksanaan, keyakinan, dan rasa akan kesatuan.

Sebagai manusia, kita dibentuk dari tubuh, pikiran, emosi dan jiwa (spirit). Spiritualitas memberikan ekspresi bahwa ada sesuatu didalam diri kita; yang berkaitan dengan perasaan, dengan kekuatan yang datang dari dalam diri kita, dengan mengetahui diri terdalam kita. Spiritualitas merupakan sebuah istilah dimana banyak orang menginginkannya untuk dapat dimasukan kedalam kehidupan kita. Spiritualitas dapat merefleksikan nilai seperti memberikan kontribusi kepada umat manusia serta alam semesta. Peran spiritualitas sangat berperan penting bagi kehidupan kita baik terhadap kehidupan berkeluarga, beragama bahkan pada kehidupan kerja kita.

Spiritualitas memiliki dua komponen yaitu vertikal dan horizontal. Komponen vertikal dalam spiritualitas adalah hasrat untuk melampaui ego atau self-esteem diri. Komponen vertikal ini bisa berkaitan dengan Tuhan, jiwa, alam semesta, kekuatan tertinggi atau sesuatu lainnya. Komponen horizontal lebih kepada perwujudan sesuatu yang tidak dapat dilihat. Sedangkan, komponen horizontal dalam spiritualitas adalah hasrat untuk melayani orang lain dan bumi. Komponen horizontal ini ditunjukkan dengan bagaimana seseorang berusaha untuk membuat perbedaan melalui tindakannya. Komponen horizontal ini lebih kepada perwujudan sesuatu yang dapat dilihat.

Spiritualitas membantu individu dalam menemukan makna dan tujuan dalam hidup mereka dan lebih menunjukkan nilai personalnya. Nilai personal ini merefleksikan hasrat untuk membuat perbedaan dan membantu untuk membuat dunia lebih bermakna. Maka dari itu, memiliki spiritualitas dikehidupan sehari–hari sangat penting untuk membuat kita menjadi individu yang utuh dan bermakna.

 

Referensi

Ajala, E. M. (2013). The impact of workplace spirituality and employees wellbeing at the industrial sector: the Nigerian experience, The African symposium, 3 (13), 3-13.

Dehaghi, M. R., Goodarzi, M., & Arazi, Z. K. (2012). The effect of spiritual values on employees organizational commitment and its models, Social and Behavioral Sciences, 62, 159-166

Howard, S. (2002). A spiritual perspective on learning in the workplace, Journal  of managerial psychology, 17 (3), 230-242

 

Widyarini, N. (2011). Perilaku kewargaorganisasian dan kinerja dalam tugas, dengan predictor kepemimpinan spiritual, iklim spiritualitas kerja, dan budaya organisasi terbuka. (Disertasi tidak dipublikasikan). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh