ISSN 2477-1686

Vol.3. No.12, November 2017

 

Kata Ajaib Itu Bernama Maaf

Sri W Rahmawati

Fakultas Psikologi, Universitas Tama Jagakarsa

Kejadian yang serupa dengan peristiwa di bawah ini tidak hanya sekali dua terjadi. Seorang ibu yang ditemani putrinya, marah-marah kepada petugas bandara saat memasuki security check point (SCP) karena diminta untuk melepaskan jam tangannya yang terdeteksi sebagai unsur logam dan membuat alarm berbunyi. Sang ibu pejabat merasa tidak terima dengan perlakuan petugas, memarahi dan memukulnya hingga mengenai lengan. Saat dilerai oleh petugas lain, sang ibu pejabat menjadi semakin marah dan menampar petugas di pipi kirinya.  Peristiwa yang sebenarnya sepele ini akhirnya menjadi berita yang sempat viral, dan sekaligus mencerminkan ketidakdisiplinan masyarakat kita dalam mematuhi sebuah prosedur. Pada akhirnya, kejadian ini dapat diselesaikan dengan jalan damai dengan permintaan maaf dari ibu pejabat tersebut setelah sejumlah orang ikut turun tangan.

Dalam kehidupan ini, tidak jarang seseorang dapat melakukan kesalahan.  Orang tua yang mendidik anak dengan penuh cinta, adalah juga manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan dalam metode mendidik, walaupun didasari oleh maksud baik. Seorang guru yang mengajar penuh dedikasi, sangat mungkin melakukan kesalahan dengan menegur keras anak didiknya untuk meluruskan perilakunya, dan kemudian dianggap menindas muridnya. Seorang remaja yang berinteraksi dengan teman sebayanya, sangat jamak melakukan kesalahan yang mengakibatkan renggangnya persahabatan. Demikian pula seorang bawahan yang melakukan tugasnya, dapat menjadi abai dengan menyelesaikan tugas melebihi jadwal seharusnya. Kesalahan adalah hal manusiawi dan lumrah terjadi. Maka alangkah sesaknya relasi yang terbangun antar manusia bila kata maaf semakin menipis dalam interaksi tersebut. Orang merasa gengsi untuk meminta maaf; sebaliknya pihak yang terkena dampak perlakuan tersebut juga tak berbesar hati untuk memberikan maaf.

Memaafkan adalah proses untuk menghentikan perasaan dendam, jengkel, atau marah karena merasa disakiti. Pemaafan (forgiveness) sendiri, menurut Strelan dan Covic (2006) adalah suatu proses menetralisir sumber stres yang dihasilkan dari suatu hubungan interpersonal yang menyakitkan. Melengkapi pandangan Strelan dan Covic di atas, Thompson, Snyder Hoffman, Michael, Rasmussen, Billings, Heinze Neufield, Shorey Roberts dan Robert (2005) mendefinisikan pemaafan sebagai upaya untuk menempatkan peristiwa pelanggaran yang dirasakan sedemikian hingga respon seseorang terhadap pelaku, peristiwa, dan akibat dari peristiwa yang dialami diubah dari negatif menjadi netral atau positif.

 

Dampak Memaafkan

Memaafkan memang tidak mudah. Memaafkan membutuhkan proses dalam diri seseorang untuk melakukannya. Luskin (dalam Martin, 2003), pernah melakukan eksperimen memaafkan pada sejumlah orang. Hasil penelitian Luskin menunjukkan bahwa memaafkan akan menjadikan seseorang: (a) jauh lebih tenang kehidupannya; (b) tidak mudah marah dan tersinggung; (c) mampu membina hubungan lebih baik dengan sesama; (d) konflik yang terjadi dengan orang lain akan semakin berkurang frekuensi maupun intensitasnya. Intinya, memafkan akan membawa efek yang positif bagi kesehatan diri seseorang maupun bagi keharmonisan interaksinya dengan orang lain.

Memaafkan atau pemaafan (forgiveness) merupakan salah satu karakter positif yang membantu individu mencapai tingkatan optimal dalam hal kesehatan fisik, psikologis, dan spiritual. Pada beberapa tahun belakangan, pemaafan semakin populer sebagai sarana terapi, yang digunakan sebagai suatu cara untuk menerima dan membebaskan emosi negatif seperti marah, depresi, rasa bersalah akibat ketidakadilan, memfasilitasi penyembuhan, perbaikan diri, dan perbaikan hubungan interpersonal dengan berbagai situasi permasalahan (Walton, 2005). Pemaafan selanjutnya secara langsung mempengaruhi ketahanan dan kesehatan fisik dengan mengurangi tingkat permusuhan, meningkatkan sistem kekebalan pada sel dan neuro-endokrin, membebaskan antibodi, dan mempengaruhi proses dalam sistem saraf pusat (Worthington, van Oyen, Lerner, & Scherer, 2005).

 

Mengembangkan Budaya Maaf

Budaya maaf perlu ditumbuhkembangkan agar menjadi kebiasaan positif yang tetap hidup di tengah masyarakat. Maaf yang diinginkan di sini adalah maaf yang tulus dan keluar dari hati, bukan sekedar kata-kata manis untuk berbasa-basi untuk tujuan pencitraan. Budaya maaf perlu dikembangkan terlebih dahulu pada lingkup keluarga. Pemberian contoh dari orang tua terhadap anak mengenai aplikasi langsung penggunaan kosakata maaf ini perlu dibiasakan. Tidak hanya seorang anak yang dituntut untuk meminta maaf pada orang tuanya bila melakuka kesalahan, namun orang tua pun perlu mentradisikan budaya maaf dengan menecontohkannya terlebih dahulu kepada anak. Atau seorang suami meminta maaf kepada sang istri bila melakukan kesalahan, dan tidak hanya seorang istri yang meminta maaf kepada suami saat melakukan tugas yang kurang sempurna dalam rumah tangga. Pemberian contoh pemaafan dari para para pejabat sebagai pemimpin komunitas ke masyarakat juga saat ini sangat minim. Pejabat sering kali lebih banyak menggunakan strategi membela diri saat melakukan kesalahan dalam penunaian tugas. Sementara yang diharapkan oleh masyarakat adalah permintaan maaf tulus serta kesediaan untuk bertanggung jawab. Di ruang-ruang pendidikan, guru pun perlu memberikan keteladanan kepada para siswanya dalam mengeksplorasi konsepsi kata maaf dalam  keseharian melakukan pendidikan dan pengajaran.

Pribadi-pribadi pemaaf serta memiliki keluasan hati untuk meminta maaf, akan tumbuh dari rumah-rumah yang didalamnya memiliki tradsi kebermaafan yang kental. Pribadi seperti ini juga akan muncul dari ruang-ruang pendidikan manakala guru dan pendidik memberikan contoh secara konsisten dalam pembudayaan maaf dalam proses pendidikan, yang tak kalah pentingnya adalah para pejabat negara, sosok pimpinan yang memiliki tanggung jawab dalam menjalan tugas kenegaraan, akan menjadi model yang paling dicontoh oleh masyarakat dalam menghidupkan budaya maaf pada skala negara. Maaf adalah sebuah kata ajaib yang sederhana namun maknanya sungguh dalam. Maaf mencerminkan kelapangan dada dan kematangan dalam mengelola emosi negatif menjadi hal yang positif. Maaf adalah juga merupakan karakter khas pada berbagai tradisi yang hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia, sehingga perlu terus dijaga dan dikembangkan. Dengan terpeliharanya tradisi maaf ini, maka relasi yang tulus, jujur, saling percaya dan menghargai,  akan tetap tumbuh sebagai ciri unggul dari masyarakat bangsa Indonesia.

Referensi

Martin, A.D. 2003. Emotional quality management: Refleksi, revisi dan revitasilisasi         hidup melalui kekuatan emosi. Jakarta: Penerbit Agra.

Strelan, P., & Covic, T. 2006. A reviewer for forgiveness porcess models and a     coping framework to guide future research. Journal of Social and Clinical   Psychology, 23 (10), 1059-1085.

Thompson, L.Y., Snyder, C.R.,  Hoffman L.,  Michael S.T., Rasmussen, H.S., Billings      L.S., Heinze L., Neufield J.E., Shorey, H.S.,  Roberts J.C., & Robert D.E. 2005.          Dispostional forgiveness of self, other, and situation. Journal of Social and          Personality Psychology, 73 (2), 313-359.

Walton, E. 2005. Therapeutic forgiveness: Developing a model for empowering   victims of sexual abuse. Clinical social work journal, 33 (2), 193-207.

Worthington Jr, E.L., van Oyen, W.C., Lerner, A.J., & Scherer, M. 2005. Forgiveness        in health research and medical practice. Explore, 1 (3), 169-176.

 

 

 


 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh