ISSN 2477-1686

Vol.3. No.10, Oktober 2017

Menemukan keindahan saat berduka

(Belajar dari FilmCollateral Beauty) 

Oleh:

Pradipta Christy Pratiwi

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Film Collateral Beauty

Pada akhir tahun 2016 hingga awal tahun 2017 yang lalu, para pecinta dramaromance disuguhi tayangan sebuah film yang cukup menjadi pusat perhatian. Film ini dibintangi oleh aktor berkulit hitam yang sangat mumpuni dalam acting, yaitu Will Smith, bersama dengan sederetan bintang film terkenal lainnya seperti Kate Winslet, Edward Norton dan Helen Mirren. Film bertajuk Collateral Beautyini disutradarai oleh David Frankel. Collateral Beauty dianggap cukup menjanjikan karena pemeran utamanya, Will Smith, telah sukses membawakan beberapa film sebelumnya, sebut saja Pursuit of Happ(y)ness, Concussion dan Focus. Hal ini terbukti dengan Collateral Beauty memperoleh rating yang cukup memuaskan pada poin 6.8/10, data ini diperoleh dari situs resmi IMDB tahun 2017. Kesuksesan film ini tidak hanya berkat pemerannya saja, namun juga alur cerita yang insightful dan kisah yang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari.

Collateral Beauty berkisah mengenai Howard Inlet, seorang eksekutif periklanan yang sangat sukses dan inspiratif di New York. Howard adalah orang yang pintar, memiliki semangat tinggi dan kharismatik bagi rekan-rekan kerjanya. Hingga pada suatu kali, kondisi ini berubah drastis dan Howard mengalami kehancuran. Hatinya hancur ketika putri tercintanya meninggal karena kanker. Howard tampil sebagai pribadi yang dingin, pemarah dan tidak memiliki semangat hidup. Ia menelantarkan pekerjaannya, lebih banyak menghabiskan waktunya seorang diri, menolak untuk mengakui bahwa putrinya sudah meninggal, bermimpi tentang putrinya, seringkali menangis, marah dan bepergian tanpa tujuan dengan sepedanya serta tampak enggan melakukan berbagai aktivitas. Kedukaan ini menyentuh hati rekan-rekan kerja Howard, mereka mengetahui bahwa Howard mengirimkan surat kepada “Love”, “Time” dan “Death”. Hal ini kemudian memberikan inspirasi pada rekan-rekan kerja Howard untuk menyewa aktris dan aktor untuk memainkan peran-peran tersebut. Usaha rekan-rekannya ini ternyata membuahkan hasil, tidak hanya bagi Howard namun juga bagi kehidupan mereka masing-masing. Madeline (mantan istri Howard) juga turut andil dalam kebangkitan semangat hidup Howard, ia membantu Howard untuk turut serta dalam support group agar Howard dapat menerima kematian putri tercintanya.

Kedukaan (Grieving)

Setiap individu pasti pernah mengalami kesuksesan, kegagalan, kebahagiaan dan bahkan kedukaan dalam hidupnya. Ketika suatu peristiwa memunculkan kedukaan bagi individu, kondisi ini disebut grieving dalam ilmu psikologi.DiMatteo (1991) menyebutkan bahwa grieving adalah respon afektif atau psikologis terhadap berbagai kondisi kehilangan (bereavement). Responnya akan berpengaruh juga pada kondisi fisik atau perilaku individu. Pada situasi grief, terdapat beberapa istilah prinsip yang seringkali terkait (Rodriguez, 2001), yaitu loss, abnormal grief dan guilt. Lebih jauh lagi dijelaskan bahwa grief ini merupakan suatu pengalaman ketika individu atau kelompok mengalami kehilangan. Pengalaman ini tidak hanya berupa peristiwa tunggal namun dapat mencakup beberapa fenomena yang memiliki proses multidimensional (komponen biologis, psikologis, spiritual dan sosial). Dalam film Collateral Beauty, Howard mengalami peristiwa menyakitkan ketika harus menghadapi kenyataan bahwa putri tercintanya meninggal dunia.

Reaksi grief berkaitan dengan peristiwa kehilangan, misalnya kematian, sangatlah beragam. Reaksinya sangat personal, bergantung pada signifikansi kehilangan atau derajat perasaan kehilangan yang subjektif. Seberapa bermaknanya relasi antara survivor dan lingkungan sosialnya juga menjadi penentu. Pemaknaan ini terbentuk dari sistem keyakinan individu, seperti kerangka agama/spiritual, lalu cara berpikir, kerangka emosi individu. Hal-hal ini juga penting dalam membantu individu menghadapi proses kehilangannya. Masyarakat dari berbagai budaya memiliki ekspektasi terhadap kehidupan dan ekspektasi ini mempengaruhi proses grief. Beberapa pertanyaan yang umum dialami dalam berbagai budaya, seperti “Mengapa orang harus mati?”, “Kematian itu bagian dari hidup atau tanda kelemahan atau kegagalan manusia?”, atau “Apakah ada kehidupan setelah kematian?”. Jawaban-jawaban atas pertanyaan ini akan membantu individu dalam mengatasi proses grief-nya (Rodriguez, 2001).

Pengalaman Individu yang Mengalami Kedukaan

Perspektifindividu yang mengalami grief dapat berupa ketidakpercayaan atas peristiwa yang terjadi, menganggap peristiwa tersebut tidak riil dan adanya kekosongan dalam diri (DiMatteo, 1991). Hal ini juga yang terjadi pada Howard, ia bungkam ketika diminta untuk menyebutkan siapa nama putrinya dan dimana putrinya saat ini. Howard menolak untuk mengakui bahwa putrinya telah tiada.Kondisi emosi Howard yang tidak stabil juga merupakan tanda dari grieving. Emosi individu yang mengalami grieving meliputi perasaan marah, rasa bersalah, mudah tersinggung, kesedihan yang ekstrim dan mood depresif. Mood depresif ini ditandai dengan perasaan tidak berharga, perilaku vegetatif, dan keyakinan negatif yang salah tentang diri sendiri.

Keengganan Howard untuk melakukan aktivitas dan bekerja merupakan gejala selama periode kehilangan putrinya, selain itu juga dapat ditandai dengan menghindari sosialisasi dengan orang lain. Pengalaman kehilangan juga dapat memunculkan perilaku beresiko seperti merokok dan konsumsi alkohol yang berlebihan. Perilaku beresiko tersebut dilakukan sebagai wujud usaha untuk melawan perasaan menyakitkan akibat kehilangan daripada mengakui dan menerima peristiwa kehilangannya (DiMatteo, 1991).

The Transformational Stages of Grief, yang dikembangkan oleh John Schnider (dalam James, 2008) menggambarkan 8 tahapan proses grieving yang komprehensif. Tahapan pertama adalah tahapan awal individu dalam menyadari pengalaman kehilangannya. Kondisi penuh stres ini mengancam homeostatis tubuh, ditandai dengan syok, bingung, menghindar, dan lainnya. Hal ini dapat menjadi tanda yang adaptif saat menyadari bahwa telah terjadi peristiwa duka. Individu memasuki tahapan kedua ketika individu mencoba untuk mengadopsi beberapa strategi koping yang pernah digunakan pada pengalaman sebelumnya. Beberapa perilaku yang muncul seperti ketegangan otot, gangguan tidur, atau merasa bersalah. Tahapan ketiga akan muncul beberapa pemikiran yang tidak realistis atau asumsi-asumsi yang tidak diperlukan. Hal ini bertujuan agar individu dapat terpisah dari subjek/objek yang telah hilang. Perilaku yang dapat muncul seperti depresi, cemas, pesimis, penolakan atau bahkan hedonis. Tahapan keempat, merupakan tahapan paling menyakitkan, kekosongan, tidak punya tujuan, kesepian, tidak berdaya dalam melewati masa sulit. Berlanjut pada tahapan kelima, dimana individu mulai membangun perspektif mengenai pengalaman kehilangannya dan ingin berdamai dengan pengalaman tersebut. Strategi yang dilakukan biasanya berupa mengumpulkan aspek-aspek positif dan negatif dari pengalaman kehilangan. Perilaku yang tampak seperti kesabaran, keterbukaan, mengampuni dan penerimaan.

Berlanjut pada tahap keenam, grief dapat dilalui sehingga individu dapat beraktivitas dengan tujuan yang realistis tanpa bermaksud untuk mengkompensasi kehilangannya. Individu mampu tetap mengingat subjek/objek yang tidak ada lagi di sisinya namun tetap juga mampu melanjutkan hidup. Pada tahapan ini, individu mengalami kedamaian, mampu mengampuni diri sendiri dan merawat diri. Pada tahapan ketujuh, individu fokus pada menemukan potensi daripada keterbatasan, melihat masalah sebagai tantangan, dan memiliki rasa keingintahuan kembali. Tahapan yang terakhir, yaitu tahapan kedelapan ditandai dengan transformasi individu. Individu menyadari dan mengalami pertumbuhan psikologis yang lebih baik daripada sebelumnya. Transformasi ini dibarengi dengan dimensi seperti kesadaran interpersonal, unconditional love, kreativitas, empati yang mendalam dan komitmen (James, 2008).

Apa yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Social Support?

Menilik dari peristiwa yang digambarkan dalam film Collateral Beauty, kondisi yang dialami Howard sangat stresful, kehilangan anggota keluarga yang dicintai dapat menyebabkan respon emosi negatif yang sangat kuat. DiMatteo (1991) menyebutkan bahwa tahap pemulihan bagi individu yang mengalami grieving memerlukan waktu yang panjang dan mungkin menyakitkan baginya. Tidak ada aturan pasti mengenai berapa lama individu akan menyelesaikan proses kehilangannya (Rodriguez, 2001), sangat beragam waktu yang dibutuhkan. Yang pasti diperlukan respon positif dan validasi dari orang-orang terdekat, dukungan dari pihak-pihak terkait agama dan tenaga profesional yang ahli dalam bidang kesehatan mental.

 

Berbagai penelitian menyampaikan perlunya kontribusi dari psikolog atau konselor untuk dapat memberikan psikoedukasi dan konseling pada individu yang mengalami kedukaan dan/atau bagi orang-orang terdekatnya. Ketika psikoedukasi mengenai grieving dilakukan, hal ini akan membantu mereka untuk mengenali gejala-gejala klinis yang diderita sehingga dapat segera memperoleh penanganan dari profesional.  Dukungan yang paling dibutuhkan adalah dukungan emosional dari orang-orang terdekat agar individu dapat berproses untuk menyesuaikan diri terhadap situasi baru setelah kehilangan (DiMatteo, 1991). Respon-respon emosional positif, tanpa memberikan kritik atau penilaian negatif yang berlebihan, akan sangat membantu. Misalnya, “Merasakan sakit dan kesedihan pada waktu kehilangan itu wajar”, “Saya tidak tahu bagaimana rasanya memiliki anak dan harus kehilangan dia, namun hal itu tampak sangat menyakitkan”, atau “Saya mengerti jika kamu berpikir sudah tidak ada tujuan hidup lagi saat ini”. Individu cenderung kesulitan untuk berkonsentrasi dan fokus setelah mengalami kehilangan, maka dari itu diperlukan dukungan orang-orang terdekat untuk memperhatikan pola makan dan jadwal tidurnya. Hal lain yang terpenting juga adalah membantunya kembali menjalani hari-hari selanjutnya secara normal dan realistis (Rodriguez, 2001).

Referensi:

Collateral Beauty. (2017). Retrieved August 2, 2017 http://www.imdb.com/title/tt4682786/?ref_=nv_sr_1

DiMatteo, M. R. (1991). The psychology of health, illness, and medical care (An individual perspective). Belmont: Brooks/Cole Publishing Company

James, R. K. (2008). Crisis intervention strategies (6th Edition). Belmont, California: Thomson Higher Education

Rodriguez, J. (Ed.). (2001). Psychology and mental health. Pasadena, California: Salem Press, Inc.

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh