ISSN 2477-1686

Vol.3. No.7, Juli 2017

Perubahan Cara Belajar: Reorientasi Proses Belajar Mengajar 

Eko A Meinarno 

PIC Modul-Buku K-PIN

Ingat dongeng pigmalion, pinokio, dan bebek yang buruk rupa, serta kisah Ekalaya belajar dengan “mengintip” Durna mengajar Arjuna? Secara singkat cerita pigmalion adalah seorang pemahat yang membuat patung cantik rupawan. Sedemikian cantiknya sehingga ia berharap “andai patung cantik ini gadis yang hidup” maka ia ingin menikahinya. Ternyata Dewi Venus mendengar dan kemudian mengabulkannya. Jadilah pigmalion menikahinya. Pada cerita Ekalaya mengintip proses belajar mengajar yang dilakukan Durna dan Arjuna. Dia memang bukan murid Durna, tapi dia punya patung Durna di rumahnya. Maka setiap kali hendak berlatih panah dia minta restu kepada “Durna” patung. Dia berharap bahwa dia mendapat restu dari “gurunya”. Sampai suatu saat ia mengintip kelas Durno dan Arjuna. Saat adu tanding tak disangka bahwa kemampuan Ekalaya justru mengungguli Arjuna. Padahal di awal ujian, Durna yakin Ekalaya takkan sanggup menandingi murid kesayanganya. Demikian kisah Pinokio si boneka kayu, “ayahnya (pembuat boneka)” berharap andai dia anak manusia maka Pak Gepeto akan menyayangi seperti anaknya sendiri. Si bebek buruk rupa lebih mengenaskan. Anak bebek yang jelek ini dicemooh saudara sesarangnya karena dianggap suaranya jelek. Namun induk bebek senantiasa menghiburnya, bahwa itu bukan salahnya. Sampai suatu saat terbukti bahwa anak itu bukan bebek, tapi angsa yang indah menawan dan elegan. Si induk sangat bahagia, sementara saudara-saudara sesarangnya hanya bingung.

Efek Pigmalion

Keempat dongeng itu menurut saya mempunyai analogi yang sama dengan kehidupan mahasiswa kita. Polanya adalah ada perbedaan antara harapan dan kenyataan. Harapan dari pihak otoritas atau lingkungan sering tidak sama dengan apa yang ada dalam diri inividu. Hal ini juga terjadi pada dosen. Para dosen terkadang masih terjebak bahwa mahasiswa belum tahu apa-apa. Padahal ini tidak. Para tokoh utama dari keempat cerita tadi diposisikan sebagai orang yang lemah, tapi ternyata para tokoh ini mempunyai potensi yang bagus. Hal yang dibutuhkan dari para individu ini adalah harapan dari pihak otoritas. Dalam bahasa ilmiah psikologinya adalah Efek Pigmalion (Rosenthal Effect).  

Bentuk “Efek Pigmalion” Dalam Proses pembelajaran

Efek Pigmalion ini membuat kita tersadar bahwa guru (kita gunakan istilah dosen) adalah perangkat yang paling penting dibandingkan segala fasilitas pendidikan mulai dari materi hingga masalah keuangannya (Glock, 1972). Temuan ini juga menempatkan desain perlakuan dan pengharapan dosen kepada peserta didik akan berdampak pada perilaku khususnya perilaku akademik (Glock, 1972; Dworkin & Dworkin, 1979). Secara khusus, perlakuan negatif akan membuat peserta didik menghasilkan perilaku akademik yang negatif (capaian prestasi rendah, motivasi rendah).  

Pengharapan dan cara berkomunikasi terhadap mahasiswa juga menjadi hal penting dari penerimaan terhadap mahasiswa. Secara empiris bahwa pengharapan terkait erat dengan capaian akademik mahasiswa (Cooper, 1979). Rosenthal (1974, dalam Cooper, 1979) menyebutkan ada empat faktor kategorisasi perilaku di kelas yang sering dilakukan guru terhadap siswa yang dianggap cerdas. Pertama iklim. Guru cenderung membangun atsmofir sosial-emosional yang hangat pada individu-individu cerdas. Guru sering mengangguk dan tersenyum pada si pintar daripada kepada siswa yang biasa saja. Kedua input. Guru lebih sering memberikan materi ajar yang lebih maju kepada yang lebih pintar. Ketiga output. Para guru memberikan banyak waktu dan interaksi akademik lebih banyak kepada siswa pintar ketimbang dengan siswa biasa. Keempat umpan balik. Guru lebih memberi pujian dan perhatian untuk tiap-tiap respon yang benar pada murid pintar. Sebaliknya guru lebih memberikan perhatian pada perilaku salah pada murid yang biasa.

Apakah perlakuan seperti efek pigmalion hanya berlaku di sekolah? Priyabhashini and Krishnan (2005) meneliti kepemimpinan tranformasional pada 101 manajer di India. Salah satu hasil penelitian ini menyebutkan bahwa harapan pimpinan (manajer) terhadap bawahan berhubungan positif bermakna dengan faktor-faktor kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional mengajak bawahan untuk dapat melihat arah dan tujuan perusahaan. Para bawahan dianggap mampu bekerja dengan potensi yang dimiliki. Dengan demikian para bawahan akan merasa percaya diri dan yakin bahwa dirinya layak untuk maju dalam karirnya. 

Menerapkan Efek Pigmalion bagi Mahasiswa

Bagaimana dengan situasi mahasiswa di Indonesia? Hal yang mungkin agak terlewat dari kita bahwa mahasiswa di Indonesia sesungguhnya adalah individu-individu yang istimewa. Bayangkan, data BPS menunjukkan bahwa yang mampu menembus pendidikan perkuliahan (mulai dari Diploma I sampai S3) SMA hanya 5,17% dari sekitar 238 juta warga Indonesia (bandingkan dengan 9,24% rakyat Indonesia yang sama sekali tidak/belum sekolah) (BPS 2010). Jadi mahasiswa yang saat ini masuk ke ruangan kita (dosen) adalah sepersekian dari ratusan juta orang Indonesia. Dari titik ini saja jelas mereka adalah yang “terpilih”. Jika terpilih maka tak ada alasan untuk membedakan perlakuan bukan?

Mahasiswa yang saat ini para dosen hadapi adalah generasi milenial. Generasi yang nyaris tak punya batasan akses pengetahuan. Mereka mempunyai Guru Besar dalam arti sesungguhnya yakni Mbah Google. Semua yang diminta, keluar dalam hitungan detik. Lantas apa peran dosen di era kekinian? Sebagaimana hasil riset berbasis efek Pigmalion, maka dosenlah yang mengubah sudut pandang terhadap mahasiswa. Mereka bukan lagi obyek yang lemah. Justru mereka diajak menjadi mitra. Untuk mengubah persepsi tadi mungkin ada beberapa arahan teknis sederhana.

Pertama, dosen dengan lapang dada dan rendah hati menunjukkan harapan dan kepercayaan bahwa mahasiswa akan sukses dalam belajar bahkan sukses dalam hidup. Dasarnya adalah bahwa para dosen berharap bahwa para mahasiswa ini manusia hebat. Ini akan dimaknai oleh mahasiswa sehingga mereka akan mewujudkan harapan dosen tadi. Oleh karenanya mahasiswa akan menunjukkan kinerjanya yang lebih baik.

Kedua, Isu lama yang tak berkesudahan: tahu macam-macam metode, tapi tidak dijalankan. Umumnya hal ini sulit dilaksanakan karena minim dukungan. Memberikan pelatihan kepada para dosen bukan ide buruk, tapi berbiaya besar. Dosen mungkin tahu metode pengajaran-pengajaran canggih, tapi melaksanakannya bukan perkara mudah. Hambatan dirasakan banyak, tanpa solusi.

Perubahan tak perlu drastis. Menambahkan kuis, mencari artikel jurnal (dalam atau luar negeri), membuat artikel atau makalah, membuat makalah berjenjang, dan lain-lain juga bisa dilakukan. Sesekali kuliah dilakukan dengan mengirim materi lebih dulu kemudian mendiskusikannya di ruang terbuka (materi ajar tak usah diubah dari yang lama) juga memberi nilai tambah bagi dosen dan mahasiswa. Saya sendiri beberapa kali meminta mahasiswa pergi dari kelas saya untuk mengunjungi situs bersejarah atau sekedar ke perpustakaan hanya untuk “mendapat suasana” dari materi yang saya sampaikan. 

Ketiga, menegakkan keadaan berpusat pada mahasiswa. Prinsipnya mengalokasikan waktu dan kegiatan belajar lebih kepada mahasiswa. Cara berpikir metode pengajaran berorientasi mahasiswa jelas ditekankan sejak awal. Itu dapat terlihat dari Buku Rancangan Pengajaran Semester (BRPS) (lihat Meinarno, 2015) dalam bab metode pengajaran. Penulisan persentase bukan sekedar angka, tapi bagaimana kontribusi mahasiswa terhadap diri dan kelas yang mereka ikuti. Misalnya jika dalam satu sesi (100%) dibagi menjadi tiga bagian, orientasi sekian persen; latihan sekian persen; dan umpan balik sekian persen. Kemudian berikan bobot masing-masing dan tentukan siapa yang berperan, bisa dosen, bisa juga mahasiswa. Dengan adanya hal itu maka sedari awal persiapan perkuliahan dosen sudah tahu bobot dirinya dan bobot kerja keras mahasiswa.

Membahas reorientasi dosen terhadap mahasiswa sampai ke tahpan teknis tentu tidak mudah. Tulisan inipun masih perlu diperluas kajiannya. Namun setidaknya penulis yakin bahwa para mahasiswa di Indonesia sejatinya adalah berlian. Berlian dari masyarakatnya.

Referensi:

BPS. http://sp2010.bps.go.id/. Diunduh 4 Maret 2017.

BPS. http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/topik?kid=6&kategori=Pendidikan

Cooper, H.M. (1979) Pygmalion grows up: A model for teacher expectation communication and performance influence. Review of Educational Research, 49 (93), 389-410.

Dworkin, N., Dworkin, Y. (1976). The legacy of pygmalion in the classroom. The Phi Delta Kappan, 60(10), 712-715.

Glock, M.D. (1972). Is there a pygmalion in the classroom? The Reading Teacher, 25(5), 405-408.

Meinarno, E.A. (2015). Modul pembuatan BRPS. Tidak dipublikasikan. 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh