ISSN 2477-1686

Vol.3. No.7, Juli 2017

Keragaman Komunikasi Budaya 

Nellawaty A. Tewu & Renada Gita Paramitha 

Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas YARSI

 

Keanekaragaman Budaya dan Bahasa di Indonesia

Indonesia memiliki suku dan budaya yang sangat kaya. Hingga saat ini, banyak suku yang masih mempertahankan budaya yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Komunikasi merupakan salah satu warisan yang masih banyak dipertahankan oleh banyak suku di Indonesia, di mana suku-suku tersebut masih menggunakan bahasa daerah tempat suku mereka tinggal. Komunikasi juga bisa menjadi sumber konflik karena timbulnya kesalahpahaman. Beberapa suku memiliki kesamaan kata namun dengan makna sedikit berbeda atau sama sekali berbeda. Contonya bahasa Jawa dan Sunda, ada beberapa kata dalam bahasa Jawa yang dianggap merupakan kata untuk orang tua sehingga masuk dalam kategori bahasa halus, namun dalam bahasa Sunda justru sebaliknya, atau setidaknya bukan masuk dalam kategori bahasa halus, namun bahasa biasa atau untuk interaksi antara orang satu usia. Begitu pula beberapa kata yang memiliki arti berbeda seperti “amis” bermakna anyir dalam bahasa Jawa, namun bermakna manis dalam bahasa Sunda.

Potensi kesalahpahaman dalam komunikasi juga terjadi di pulau Flores, sebagai bagian provinsi Nusa Tenggara Timur. Secara etik, masyarakat suku Flores menggunakan Bahasa Melaju (sebutan Bahasa Indonesia bagi suku Flores) dengan menggunakan dialek Sikka. Walaupun memiliki delapan kabupaten dalam satu pulau yang sama, terkadang dalam berkomunikasi masyarakat suku Flores menggunakan Bahasa daerahnya sendiri seperti Bahasa Kedang, Lamaholot, Sikka, Lio, Ende dan Manggarai.

Beberapa perbedaan dalam masyarakat penganut budaya tertentu di Pulau Flores dapat memicu terjadinya kesalahan komunikasi sehingga dapat menimbulkan konflik antar budaya yang berbeda, salah satunya yaitu memiliki perbedaan makna suatu kata dalam penggunaannya. Misalnya, pemakaian kata “mena” memiliki arti yang berbeda antara suku Nagekeo dan Lamaholot. Masyarakat di Nagekeo mengartikan “mena” sebagai penunjuk, yaitu “di sana”, tetapi masyarakat di Lamaholot mengartikan “mena” sebagai kata makian untuk kaum perempuan dan jika kata tersebut dilontarkan pada perempuan maka dapat memicu perang.

Selain verbal, perbedaan bahasa non-verbal pada masyarakat suku Flores juga dapat menimbulkan konflik antar budaya. Misalnya, suku Nagakeo dan Ngada biasanya mereka memberi nama pada keturunanya berdasarkan pada nama tumbuhan atau hewan yang diyakini sebagai inkarnasi para leluhur mereka seperti, meo (kucing), lako (anjing), kaju (kayu), watu (batu). Sementara suku Ende dan suku Sikka tidak memperbolehkan penggunaan nama-nama tersebut pada diri manusia karena dianggap pamali.

Peran Bahasa Nasional Sebagai Bahasa Pemersatu

Perbedaan kemungkinan karena suku bangsa Flores berasal dari percampuran etnis antara Melayu, Portugis, dan Melanesia. Menurut Correa (1971), lokasi pulau Flores yang berdekatan dengan Timor (daerah jajahan Portugis) termasuk daerah melting point atau tempat peleburan berbagai suku bangsa yaitu perpaduan dari Protomelayu, Negroid, Europoid, Indome-lanoid, Australoid, dan Papua. Keragaman tersebut setidaknya semakin meyakinkan peran pentingnya bahasa nasional yakni bahasa Indonesia. Dalam perkembangannya, pengajaran bahasa nasional di pelosok Indonesia juga beragam. Ahwan (2013) dalam penelitiannya tentang komunikasi suku pendatang (Arab) dan suku Bangil asli Pasuruan, Jawa Timur menemukan bahwa suku Bangil mengajarkan keturunan mereka bahasa daerah terlebih dahulu sehingga mereka mengerti cara berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, seumuran, dan yang lebih muda. Mereka baru mengajarkan anak-anak mereka Bahasa Indonesia pada anak-anak setelah masuk usia sekolah. Sementara suku Dayak Kenyah terlebih dahulu mengajarkan keturunan mereka bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional pada saat anak-anak mereka masih pada usia balita, baru kemudian setelah usia 6 tahun anak-anak diajarkan bahasa daerah yaitu bahasa Dayak dengan harapan anak-anak mereka dapat mempelajari bahasa Dayak dengan lebih mudah (Suradi,2014).

Referensi:

Febriyanti. F. (2014). Hambatan komunikasi antarbudaya masyarakat suku Flores Dan Lombok di desa Bukit Makmur Kecamatan Kaliorang Kabupaten Kutai Timur. Ejournal Ilmu Komunikasi, 2(3), 453-463.

Gobang. J. K. G. D. (2014). Konflik budaya lokal pada masyarakat  di Pulau Flores  (Sebuah analisis komunikasi lintas budaya). Jurnal komunikasi,9(1).

Ahwan Z. (2014) Studi fenomenologis: perbedaan budaya berkomunikasi antara masyarakat pendatang keturunan Arab [Oyek] dengan penduduk asli Bangil Kabupaten Pasuruan. Diunduh dari http://jurnal.yudharta.ac.id/wp-content/uploads/2014/11/1.pdf

Suradi. (2013). Bentuk komunikasi dalam menjalankan proses enkulturasi budaya (Studi pada masyarakat suku Dayak Kenyah di desa Pampang, Kecamatan Samarinda Utara). Diunduh dari http://ejournal.ilkom.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2016/02/jurnal%20adi%20(02-25-16-03-13-08).pdf

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh