- Details
- Written by Wong Loong Ching & Yusak Novanto
- Category: Vol. 12 No. 59 Juni 2026
ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 59 Juni 2026
Kekuasaan di Kantor: Jabatan Bukan Satu-satunya Sumber Pengaruh
Oleh:
Wong Loong Ching & Yusak Novanto
Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan
Di sebuah kantor, Dimas dari tim IT mungkin tidak memiliki jabatan tinggi. Namun, ketika jaringan bermasalah, akses sistem terkunci, atau data penting tidak bisa dibuka, banyak pekerjaan tiba-tiba menunggu dirinya. Pengaruh Dimas tidak berasal dari posisi formal, melainkan dari akses, keahlian, dan ketergantungan orang lain terhadap perannya. Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa kekuasaan di tempat kerja tidak selalu tampak dalam struktur organisasi. Dalam psikologi industri organisasi, power dapat dipahami sebagai kapasitas seseorang untuk memengaruhi tindakan, keputusan, atau pengalaman pihak lain. Kapasitas ini tidak hanya muncul dari jabatan, tetapi juga dari akses terhadap hal yang dibutuhkan orang lain, seperti informasi, keahlian, dukungan sosial, atau hubungan lintas bagian. Karena itu, membaca power hanya dari struktur formal dapat membuat organisasi melewatkan kompetensi orang-orang yang sebenarnya menjaga pekerjaan tetap berjalan (Tripathi, 2021; van Baarle et al., 2022).
Untuk membaca power secara lebih utuh, setidaknya terdapat tiga sumber pengaruh kekuasaan yang perlu diperhatikan. Pertama, Otoritas Posisional, yaitu pengaruh yang berasal dari jabatan, mandat, dan kewenangan resmi. Atasan, koordinator, atau pemegang keputusan memiliki power karena organisasi memberi hak untuk mengarahkan, mengevaluasi, menentukan prioritas, atau memberi konsekuensi. Namun, pengaruh formal tidak hanya bekerja melalui sanksi. Hofmann et al. (2017) menunjukkan bahwa otoritas juga bergantung pada legitimasi, yaitu sejauh mana posisi dan keputusan seseorang dianggap sah, masuk akal, dan layak diikuti.
Kedua, Pengaruh Relasional, yaitu power yang muncul dari hubungan antar individu. Seseorang dapat berpengaruh karena dipercaya, dianggap kompeten, sering diminta nasihat, atau memegang pengetahuan yang sulit digantikan. Dalam organisasi, pengaruh tidak selalu bergerak dari atasan ke bawahan. Bawahan pun dapat memengaruhi atasan ketika atasan bergantung pada informasi, keterampilan, atau pengalaman kerja yang dimiliki oleh seorang bawahan (Tripathi, 2021). Schaerer et al. (2018) juga menunjukkan bahwa memberi nasihat dan informasi dapat menjadi jalur halus menuju power, karena nasihat dan informasi ikut membentuk tindakan dan pengambilan keputusan orang lain.
Ketiga, Keterlekatan Struktural, yaitu power yang berasal dari posisi seseorang dalam jaringan dan alur kerja organisasi. Seseorang dapat menjadi penting karena menghubungkan orang, informasi, unit, atau proses yang saling bergantung. Lin et al. (2022) menjelaskan bahwa individu yang menjembatani celah antar kelompok dapat memperoleh keuntungan informasi dan kontrol. Dalam praktik sehari-hari, ini tampak pada orang yang tahu siapa harus dihubungi, memahami alur tidak tertulis, atau menjadi penghubung ketika sistem formal berjalan lambat.
Dampaknya nyata bagi organisasi. Jika power hanya dibaca dari jabatan, organisasi dapat salah menilai kontribusi. Orang yang tampak menonjol bisa mendapat perhatian berlebih, sementara orang yang diam-diam menopang pekerjaan justru terabaikan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi promosi, pengembangan talenta, pembagian beban kerja, hingga perencanaan suksesi. Organisasi juga dapat gagal melihat titik rapuh, misalnya ketika sebuah proses terlalu bergantung pada satu orang, satu akses, atau satu jalur komunikasi.Hal ini tentu saja membahayakan organisasi.
Karena itu, pembacaan “peta” kekuasaan di dalam suatu organisasi perlu diterapkan secara praktis. Dalam pengembangan kepemimpinan dan manajerial, organisasi perlu melihat bukan hanya siapa yang memiliki jabatan, tetapi juga siapa yang dapat dipercaya dan menjadi rujukan. Dalam manajemen talenta, organisasi perlu mengenali individu yang kontribusinya tidak selalu terlihat di struktur organisasi. Dalam manajemen risiko, organisasi perlu memetakan ketergantungan tersembunyi ini agar pekerjaan tidak lumpuh ketika satu orang tidak tersedia atau tidak bersedia melakukannya.
Pada akhirnya, kekuasaan di kantor bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi paling tinggi. Ia juga tentang orang-orang yang menjaga pekerjaan tetap bergerak, sering kali tanpa banyak sorotan. Ada yang memegang mandat formal, ada yang memegang kepercayaan, dan ada pula yang menjadi jembatan diam-diam antara banyak bagian. Ketika organisasi mampu melihat pengaruh kekuasaan ini dengan lebih utuh, manusia di dalamnya tidak hanya dinilai dari jabatan, tetapi juga dari peran nyata yang mereka jalankan dalam kehidupan kerja sehari-hari.
Daftar Pustaka
Hofmann, E., Hartl, B., Gangl, K., Hartner-Tiefenthaler, M., & Kirchler, E. (2017). Authorities’ coercive and legitimate power: The impact on cognitions underlying cooperation. Frontiers in Psychology, 8, Article 5. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2017.00005
Lin, Z., Zhang, Y., Gong, Q., Chen, Y., Oksanen, A., & Ding, A. Y. (2022). Structural hole theory in social network analysis: A review. IEEE Transactions on Computational Social Systems, 9(3), 724–739. https://doi.org/10.1109/TCSS.2021.3070321
Schaerer, M., Tost, L. P., Huang, L., Gino, F., & Larrick, R. (2018). Advice giving: A subtle pathway to power. Personality and Social Psychology Bulletin, 44(5), 746–761. https://doi.org/10.1177/0146167217746341
Tripathi, N. (2021). Reverse the lens, set focus on the followers: A theoretical framework of resource dependence, upward influence, and leadership. Frontiers in Psychology, 12, Article 699340. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.699340
van Baarle, S., Bobelyn, A. S. A., Dolmans, S. A. M., & Romme, A. G. L. (2022). Power as an enabling force: An integrative review. Human Relations. https://doi.org/10.1177/00187267221128561
- Details
- Written by Sicha Cahya Fitri
- Category: Vol. 12 No. 59 Juni 2026
ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 59 Juni 2026
Anak dalam Bayang-Bayang Ketidaksiapan Orang Tua Menikah : Kesehatan Mental Anak
Oleh:
Sicha Cahya Fitri
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Bagaimana kita mendefinisikan kata pernikahan? Apakah suatu tindakan yang kita lakukan hanya karena kita ingin, atau suatu keputusan besar yang diambil karena kita benar-benar siap? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi mempunyai makna yang sangat dalam. Menikah bukanlah sekedar peristiwa seremonial yang sering kita bayangkan dan bukan juga sebuah pemenuhan ekspektasi sosial. Menurut Broderick (1992, dalam Olson,D.H, dkk) pernikahan adalah komitmen etis, hukum, dan sosial antara dua orang untuk hidup bersama, berbagi tanggung jawab, mengelola keuangan, dan membangun keluarga. Dari pengertian tersebut kita bisa menyadari bahwa pernikahan bukanlah hal yang sederhana. Pernikahan adalah komitmen jangka panjang yang menuntut pelakunya untuk siap secara emosional, mental, finansial, dan kesiapan berbagai peran dan tanggung jawab.
Sering kali, keinginan untuk menikah ini lahir dari dorongan usia, tekanan lingkungan, atau ketakutan individu merasa kesepian. Namun pada kenyataannya keinginan tidak selalu sejalan dengan kesiapan yang kita miliki. Siap berarti kita mampu untuk mengelola konflik dengan baik, kita bisa berkomunikasi secara sehat, dan kita bersedia untuk bertumbuh bersama pasangan. Tanpa modal kesiapan tersebut, pernikahan akan sangat beresiko menjadi ruang pertarungan ego kedua belah pihak, bukan ruang pertumbuhan yang seharusnya dicapai bersama.
Ketika pernikahan yang dijalani tanpa kesiapan yang matang, dampakya tidak hanya berhenti pada pasangan itu saja. Anak yang lahir dari keluarga tanpa kesiapan itu akan berpotensi tumbuh dalam ketidakstabilan emosi dan lingkungan yang aman. Menurut Degenova & Rice (2005) keluarga sangat berpengaruh terhadap individu terkhusus anak. Sehingga konflik akibat ketidaksiapan orang tua menikah akan sangat berpengaruh kepada perkembangan dan pertumbuhan anak. Disinilah pentingnya memaknai menikah bukan hanya sebagai “keinginan untuk hidup bersama”, tetapi sebagai keputusan yang diambil dengan kesadaran penuh untuk membangun fondasi keluarga yang sehat.
Menikah seharusnya bukan sekedar jawaban dari pertanyaan, “kapan?”, akan tetapi jawaban dari pertanyaan, “apakah aku sudah siap?”. Siap menerima kekurangan pasangan, siap mengelola luka masa lalu, siap berdiskusi, siap memaafkan, dan siap bertanggung jawab atas segala keputusan yang diambil. Namun realitasnya, tidak semua pernikahan dibangun di atas kesiapan tersebut. Hubungan tanpa kesiapan bisa mudah goyah saat dihadapkan dengan tekanan ekonomi, perbedaan, atau konflik sehari-hari. Pada titik inilah pernikahan yang tidak dipersiapkan dengan matang mulai menunjukkan keretakan. Berdasarkan penelitian Fatma dan Sakdiyah (2015) terdapat perbedaan yang sangat menonjol antara kebahagiaan pasangan yang menikah dengan persiapan denga pasangan yang menikah dengan persiapan yang kurang.
Saat konflik menjadi makanan sehari-hari pasangan dan komunikasi berubah menjadi kegiatan saling salah menyalahkan, akan ada anak yang sering kali menjadi saksi paling setia dari ketidaksiapan itu. Anak-anak akan menyerap emosi yang bertebaran dirumah, ketegangan, kemarahan, dan kekecewaan, meski mereka tidak selalu mampu untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada tahun 2021, ada 2.982 kasus terkait perlindungan anak khusus, dengan 1.138 diantaranya merupakan kasus anak yang menjadi korban kekerasan fisik dan/atau psikis. Selain itu terdapat 2.971 kasus anak yang menjadi korban pola asuh orang tua yang salah, baik anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal, berkonflik, dan juga orang tua yang bercerai.
Keluarga berkonflik sangat berdampak pada kesehatan mental anak-anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengartikan kesehatan mental sebagai kondisi kesejahteraan dirinya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Azizah dan Suryadi (2025), terlihat jeas bahwa konflik orang tua sangat berpengaruh pada kesehatan mental anak. Anak bisa jadi lebih mudah marah, tiba-tiba menangis, menarik diri dari lingkungan, atau berubah menjadi lebih pendiam karena merasa tidak aman di rumahnya sendiri. Suasana rumah yang penuh ketegangan akan membuat anak sulit mengatur emosinya dan kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Jika konflik seperti ini terus menerus berlangsung tanpa penyelesaian yang baik, dampaknya tidak berhenti pada masa kecil anak saja, melainkan akan terbawa sampai mereka remaja dan dewasa. Karena itu, anak membutuhkan rumah yang stabil, hubunga yang hangat dengan orang tua, dan dukunga emosional dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Rasa aman dan kasih sayang yang konsisten menjadi kunci penting agar kesehatan mental anak tetap terjaga dan anak dapat tumbuh dengan lebih baik lagi.
Untuk itu menikahlah saat kita merasa cukup siap untuk segala hal yang akan dihadapi. Usia bukan patokan kesiapan menikah, jadi tidak perlu memikirkan tuntutan sosial. Fokus mengenal diri sendiri untuk mengetahui kesiapan diri. Jangan sampai kesehatan mental orang yang kita sayang terusik karena kesalahan kita.
Referensi:
Azizah, M., & Suryadi, S. (2025). Dampak Konflik Orang Tua Terhadap Kesehatan Mental Anak Usia Dini. Dunia Anak: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8(1), 43-55.
Olson, D. H., DeFrain, J.& Skogrand, L. (2019). Marriages and families: Intimacy, diversity, and strengths (9th ed.). New York, NY: McGraw-Hill Education.
DeGenova, M. K.& Rice, F. P. (2005). Intimate relationships, marriages, and families (6th ed.). McGraw-Hill.
Fatma, S. H & Sakdiyah, E.H. (2015) Perbedaan KebahagiaanPasangan Pernikahan dengan Persiapan dan Tanpa Persiapan pada Komunitas Young Mommy Tuban. Jurnal Psikologi Tabularasa, 10(1)c, 103-114.http://etheses.uinmalang.ac.id/1589
Indonesia, K. P. A. (n.d.). Infografis Data Pengaduan dan Media Kasus Perlindungan Anak Tahun 2021–2024. https://www.kpai.go.id
- Details
- Written by M. Zaidane Prayoga
- Category: Vol. 12 No. 59 Juni 2026
ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 59 Juni 2026
Helicopter Parenting dan Kemandirian Dewasa Muda di Indonesia: Dukungan atau Hambatan Perkembangan?
Oleh
M. Zaidane Prayoga
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Fenomena keterlibatan orang tua yang sangat intens dalam kehidupan anak hingga usia dewasa semakin terlihat dalam masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah urban. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pemberi dukungan emosional dan finansial, tetapi juga terlibat dalam pengambilan keputusan akademik, relasi sosial, hingga pilihan karir anak yang telah memasuki usia 18–25 tahun. Pola asuh ini dikenal sebagai helicopter parenting, yaitu gaya pengasuhan yang ditandai dengan pengawasan ketat, kontrol tinggi, dan kecenderungan mengambil alih tanggung jawab anak. Dalam konteks Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan kolektivisme, pola ini sering dianggap sebagai bentuk kasih sayang. Namun dari sudut pandang psikologi perkembangan, pertanyaan yang muncul adalah apakah perlindungan berlebihan ini mendukung atau justru menghambat kemandirian dewasa muda.
Secara konseptual, helicopter parenting merujuk pada keterlibatan orang tua yang melampaui kebutuhan perkembangan anak, terutama ketika anak sudah berada pada tahap dewasa awal. Studi terkini menunjukkan bahwa pola asuh ini berkaitan dengan rendahnya kemampuan regulasi diri, peningkatan kecemasan, serta ketergantungan yang lebih tinggi pada figur otoritas (Hong & Cui, 2020; Love et al., 2020). Dalam lima tahun terakhir, penelitian semakin menyoroti dampaknya terhadap emerging adulthood, yaitu fase transisi antara remaja dan dewasa penuh yang ditandai dengan eksplorasi identitas, pilihan karir, serta pembentukan komitmen relasional.
Jika dianalisis menggunakan Self-Determination Theory (SDT), perkembangan psikologis yang sehat memerlukan terpenuhinya tiga kebutuhan dasar: autonomy, competence, dan relatedness. Otonomi merujuk pada kemampuan individu untuk merasa memiliki kendali atas pilihan hidupnya. Kompetensi berkaitan dengan keyakinan akan kemampuan diri, sedangkan keterhubungan menyangkut relasi sosial yang suportif. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa helicopter parenting cenderung menghambat pemenuhan kebutuhan otonomi dan kompetensi karena orang tua terlalu sering mengintervensi keputusan anak (Darlow et al., 2021; Cui et al., 2022). Ketika individu tidak diberi ruang untuk belajar dari kegagalan atau mengambil risiko secara adaptif, perkembangan rasa percaya diri dan problem solving dapat terhambat.
Dalam konteks global, studi oleh Rousseau dan Scharf (2021) menemukan bahwa mahasiswa yang melaporkan tingkat helicopter parenting tinggi menunjukkan skor lebih rendah pada career adaptability dan decision-making autonomy. Penelitian lain pada populasi Asia menunjukkan bahwa kontrol orang tua yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan gejala kecemasan dan depresi pada dewasa muda, meskipun dimediasi oleh faktor budaya (Leung & Shek, 2020). Artinya, walaupun dalam budaya kolektivistik kontrol orang tua dapat dipersepsi sebagai bentuk perhatian, kebutuhan psikologis dasar individu tetap berperan penting dalam menentukan kesejahteraan.
Di Indonesia, dinamika ini menjadi semakin relevan mengingat tingginya angka pengangguran usia muda dan ketidakpastian transisi pendidikan ke dunia kerja. Dewasa muda dituntut untuk mandiri, adaptif, dan mampu mengambil keputusan strategis. Namun, jika sejak awal ruang otonomi dibatasi, individu mungkin mengalami kebingungan identitas dan ketergantungan berkepanjangan. Beberapa penelitian nasional dalam lima tahun terakhir menunjukkan adanya hubungan negatif antara kontrol orang tua yang tinggi dan kemandirian mahasiswa dalam aspek pengambilan keputusan serta kesiapan karir (Putri & Suryani, 2021; Rahmawati et al., 2023).
Dari perspektif perkembangan, fase dewasa muda merupakan periode penting untuk membangun identitas yang stabil dan rasa kompetensi personal. Intervensi yang terlalu dominan dapat menghambat proses eksplorasi tersebut. Namun demikian, penting untuk membedakan antara keterlibatan yang suportif dan kontrol yang mengekang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa autonomy-supportive parenting—yakni keterlibatan yang tetap memberikan ruang pilihan—berkorelasi positif dengan kesejahteraan psikologis dan kemandirian (Cheung & Pomerantz, 2022). Dengan demikian, kualitas interaksi menjadi faktor kunci, bukan sekadar intensitas keterlibatan.
Secara teoritis, hubungan antara helicopter parenting dan kemandirian dapat dijelaskan melalui mekanisme mediasi kebutuhan otonomi. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, individu cenderung mengalami keraguan diri, kesulitan mengambil keputusan, dan ketergantungan emosional. Sebaliknya, ketika orang tua memberikan dukungan tanpa mengambil alih kontrol, dewasa muda lebih mampu mengembangkan identitas yang matang dan kesiapan menghadapi tantangan sosial. Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini relevan untuk mengharmoniskan nilai kolektivisme dengan kebutuhan perkembangan individu.
Berdasarkan telaah literatur lima tahun terakhir (2020–2025) dari database Scopus, Web of Science, dan Google Scholar, mayoritas penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan populasi mahasiswa usia 18–25 tahun. Hasilnya relatif konsisten menunjukkan bahwa helicopter parenting berhubungan negatif dengan autonomy, self-efficacy, career adaptability, dan psychological well-being. Namun, studi longitudinal dan intervensi berbasis keluarga masih terbatas, terutama di Indonesia. Padahal, pendekatan semacam ini penting untuk memahami hubungan sebab-akibat serta dinamika jangka panjang.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa helicopter parenting berpotensi menjadi hambatan perkembangan kemandirian dewasa muda apabila keterlibatan orang tua bersifat controlling dan tidak memberi ruang otonomi. Dalam konteks Indonesia, fenomena ini perlu dipahami secara sensitif terhadap budaya, namun tetap berlandaskan teori psikologi perkembangan. Dukungan keluarga tetap merupakan faktor protektif yang penting, tetapi harus diseimbangkan dengan pemberian tanggung jawab dan kesempatan belajar mandiri. Ke depan, penelitian empiris di Indonesia perlu memperluas desain longitudinal serta mempertimbangkan variabel moderator seperti gender, status sosial ekonomi, dan nilai budaya keluarga agar pemahaman terhadap fenomena ini semakin komprehensif.
Daftar Pustaka:
Cheung, C. S., & Pomerantz, E. M. (2022). Parents’ involvement in children’s learning and autonomy support: A meta-analytic review. Psychological Bulletin, 148(5–6), 427–458. https://doi.org/10.1037/bul0000362
Cui, L., Darling, C. A., Coccia, C., & Fincham, F. D. (2022). Helicopter parenting and emerging adults’ adjustment: The mediating role of autonomy. Journal of Adult Development, 29(2), 123–135. https://doi.org/10.1007/s10804-021-09385-7
Darlow, V., Norvilitis, J. M., & Schuetze, P. (2021). The relationship between helicopter parenting and adjustment to college. Journal of Child and Family Studies, 30, 191–202. https://doi.org/10.1007/s10826-020-01860-5
Hong, X., & Cui, L. (2020). Helicopter parenting and college students’ psychological maladjustment: The role of self-control and self-efficacy. Journal of Child and Family Studies, 29, 332–343. https://doi.org/10.1007/s10826-019-01529-6
Leung, J. T. Y., & Shek, D. T. L. (2020). Parental control and adolescent well-being in Asian contexts. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(21), 7841. https://doi.org/10.3390/ijerph17217841
Love, H., May, R., & Cui, M. (2020). Helicopter parenting, self-regulation, and emerging adult adjustment. Emerging Adulthood, 8(3), 217–229. https://doi.org/10.1177/2167696818755635
Putri, A. R., & Suryani, A. (2021). Peran kontrol orang tua terhadap kemandirian mahasiswa. Jurnal Psikologi Indonesia, 10(2), 115–126. https://doi.org/10.7454/jpi.v10i2.1023
Rahmawati, D., Hidayat, R., & Lestari, S. (2023). Parental overinvolvement and career readiness among Indonesian university students. Jurnal Psikologi Ulayat, 10(1), 45–59. https://doi.org/10.24854/jpu.v10i1.3456
Rousseau, S., & Scharf, M. (2021). Helicopter parenting and career indecision in emerging adulthood. Journal of Vocational Behavior, 126, 103547. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2021.103547
- Details
- Written by Nurhalijah Munthe
- Category: Vol. 12 No. 59 Juni 2026
ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 59 Juni 2026
Motivasi Belajar Gen Z: Antara Dukungan dan Ekspektasi Orang Tua
Oleh:
Nurhalijah Munthe
Fakultas Psikologi,Universitas Sumatera Utara
Motivasi belajar menjadi salah satu hal penting yang memengaruhi keberhasilan akademik anak, terutama pada generasi Z yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang terus terjadi. Generasi ini tidak hanya menghadapi tuntutan akademik, tetapi juga tekanan sosial dan ekonomi yang semakin kompleks. Karena itu, motivasi belajar anak Gen Z tidak bisa dilihat hanya dari faktor diri sendiri, tetapi juga dari lingkungan di sekitarnya, terutama keluarga.
motivasi belajar sering dijelaskan melalui Self-Determination Theory (SDT) yang dikemukakan oleh Ryan & Deci, (2018) Teori ini menekankan bahwa individu memiliki tiga kebutuhan dasar psikologis, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan (relatedness). Ketika kebutuhan ini terpenuhi, individu cenderung memiliki motivasi yang lebih kuat dalam belajar. motivasi belajar yang berasal dari dua yaitu dari dalam diri (intrinsik) yang artinya dorongn dari anak sendiri sedangkan motivasi dari luar (ekstrinsik) dorongan dari luar bisa dari teman, guru dan orang tua (Grajcevci & Shala, 2017).
Menurut Zimmer-Gembeck et al., (2023) dan (Sari & Daulay, 2024) menunjukkan bahwa pentingnya dukungan orang tua terhadap motivasi anak. Dukungan orang tua disini banyak bentuknya bisa berupa dukungan emosional, materi atau moral. Hal ini sejalan dengan Penelitian oleh (Luecken et al., 2016) menunjukkan bahwa anak dukungan emosional berupa kehangatan dan penerimaan dari orang tua cenderung memiliki tingkat stress rendah pada proses belajar. Menurut Grajcevci dan Shala (2017), pemberian reward dapat meningkatkan rasa semangat, gembira dan bahagia untuk belajar. Selain itu, Sentuhan fisik yang hangat diketahui dapat meningkatkan hormon oksitosin yang berperan dalam menciptakan perasaan nyaman dan mengurangi kecemasan (Field, 2010). Dalam konteks belajar, kondisi emosional yang stabil ini membantu anak lebih fokus dan terbuka terhadap proses pembelajaran. Dukungan ini membantu anak merasa dihargai dan mampu, sehingga meningkatkan rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan akademik.
Namun, dalam proses belajar terkadang orang tua memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi. Banyak orang tua memiliki harapan besar terhadap prestasi anak sebagai bentuk konpenasasi dari pememuhan kebutuhan yang telah orang tua penuhi kepada anak dalam proses belajar, serta investasi masa depan. Sayangnya, ketika ekspektasi ini disampaikan secara berlebihan atau disertai tuntutan yang kaku, anak dapat mengalami kecemasan, takut gagal, bahkan kehilangan kepercayaan diri anak dan merasa terbebani. Hal ini sebenarnya wajar, karena orang tua ingin anaknya memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa mereka banggakan .
Namun, jika ekspektasi terlalu menekan, anak dapat kehilangan rasa kontrol atas dirinya, sehingga belajar hanya karena tuntutan, bukan keinginan sendiri. Dalam praktiknya, ekspektasi orang tua yang awalnya dimaksudkan sebagai dorongan berubah menjadi tekanan. Anak mungkin tetap mencapai hasil yang diharapkan, tetapi prosesnya tidak lagi sehat secara psikologis. Mereka bisa merasa lelah, tertekan, dan tidak menikmati proses belajar.
Dengan demikian, ekspektasi orang tua memiliki dua sisi. Ekspektasi dapat menjadi dorongan yang positif jika disertai dukungan emosional dan cara penyampaian yang tepat. Namun, ekspektasi juga dapat menjadi beban jika terlalu tinggi dan disampaikan secara kaku. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa besar harapan orang tua, tetapi juga bagaimana harapan tersebut dikomunikasikan.
Referensi
Field, T. (2010). Touch for socioemotional and physical well-being: A review. Developmental Review, 30(4), 367–383. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.dr.2011.01.001
Grajcevci, A., & Shala, A. (2017). Exploring the Link between Achievement Goals, Motivation, and Parental Expectations among University Students in Kosovo. CEPS Journal, 7(4), 147–164.
Luecken, L. J., Hagan, M. J., Wolchik, S. A., Sandler, I. N., & Tein, J.-Y. (2016). A Longitudinal Study of the Effects of Child-Reported Maternal Warmth on Cortisol Stress Response 15 Years After Parental Divorce. Psychosomatic Medicine, 78(2), 163–170. https://doi.org/10.1097/PSY.0000000000000251
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2018). Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness. Guilford Publications.
Sari, I. M., & Daulay, A. A. (2024). Studi Kasus Analisis Dukungan Orang Tua dalam Memotivasi Belajar Anak. Psyche 165 Journal, 17(3), 261–267. https://doi.org/10.35134/jpsy165.v17i3.432
Zimmer-Gembeck, M. J., Skinner, E. A., Scott, R. A., Ryan, K. M., Hawes, T., Gardner, A. A., & Duffy, A. L. (2023). Parental Support and Adolescents’ Coping with Academic Stressors: A Longitudinal Study of Parents’ Influence Beyond Academic Pressure and Achievement. Journal of Youth and Adolescence, 52(12), 2464–2479. https://doi.org/10.1007/s10964-023-01864-w
- Details
- Written by Felicia Natalie Irawan, Louisa Abigail, Natasha Angel, Laurentius Sandi Witarso
- Category: Vol. 12 No. 59 Juni 2026
ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 59 Juni 2026
Limited Banner, Unlimited Stress: Fenomena Gacha di Era Digital
Oleh
Felicia Natalie Irawan, Louisa Abigail, Natasha Angel, Laurentius Sandi Witarso
Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Antara Keberuntungan dan Ketidakpastian
Pernahkah Anda sangat ingin mendapatkan karakter atau item tertentu pada sebuah game online? Anda sudah berusaha mendapatkannya beberapa kali namun selalu gagal. Pada akhirnya kemudian Anda harus merogoh kocek yang tidak sedikit supaya karakter atau item tersebut bisa kita dapatkan dengan segera. Inilah gambaran fenomena di Indonesia yang sedang populer yaitu game yang berbasis sistem “gacha”. Industri game online berbasis sistem “gacha” sedang berkembang pesat di Indonesia.
Permainan gacha menggunakan mekanisme hadiah acak (random reward mechanism), dimana pemain harus membuka kotak atau menarik/pull karakter tertentu untuk mendapatkan item atau karakter tertentu (Tang, et al., 2025). Mekanisme gacha ini dapat memicu sensasi yang mirip dengan berjudi. Jika seseorang tidak berhasil mendapatkan karakter atau item yang ia inginkan setelah beberapa kali percobaan, ia akan mengalami techno-distress. Menurut Hämäläinen, et al. (2023), techno-stress merupakan suatu proses ketika kondisi lingkungan teknologi dinilai sebagai tuntutan (techno-stressors) yang membebani pengguna, sehingga memicu berbagai cara untuk mengatasinya, dan akhirnya menimbulkan dampak tertentu bagi individu.
Fitur gacha dalam game online memicu techno-stressors berupa ketidakpastian yang menyebabkan kekesalan dan kekecewaan (Hämäläinen, et al., 2023). Jika emosi negatif tersebut bertahan dalam jangka waktu yang lama, maka dapat memicu timbulnya distress. Distress sendiri merupakan stres yang menghasilkan dampak negatif karena jika terjadi dalam jangka waktu yang lama, tubuh akan berada pada tahap kelelahan dalam menghadapi stressor yang mengancam sehingga menimbulkan berbagai penyakit (Shafira & Nasution, 2022). Lebih berbahayanya lagi, jika seorang individu kecanduan dengan game online, khususnya yang berbasis gacha, individu dapat membentuk pola hidup konsumtif dan impulsif dalam kehidupan sehari-hari (Ardiansyah, et al., 2025).
Tipuan Psikologis Di Balik Mekanisme Gacha
Lantas, bagaimana fitur gacha dapat ‘memperdaya’ pemainnya secara psikologis? Secara mekanisme, fitur gacha ini mirip dengan konsep variable ratio reinforcement, sebuah metode yang dapat meningkatkan perilaku tertentu. Dalam variable ratio reinforcement, reward diberikan setelah sejumlah respons yang tidak dapat diprediksi, bisa setelah percobaan pertama, kelima, atau percobaan kesekian lainnya. Pola ini membuat individu terus merespons secara konsisten, karena mereka berharap setiap upaya berikutnya dapat mendatangkan reward yang diharapkan. Mekanisme gacha juga mengikuti prinsip yang sama, dimana hasil akan bergantung pada keberuntungan dan sulit untuk diprediksi sehingga pemain tidak dapat memprediksi secara pasti kapan atau dalam tarikan keberapa mereka dapat mendapatkan item atau karakter yang mereka inginkan. Terlebih lagi, pada umumnya developer game online akan membuat peluangnya rendah, khususnya untuk item spesial yang terbatas.
Ditengah ketidakpastian tersebut, pemain secara tidak langsung dipaksa untuk terus ‘menarik’ item hingga mereka mendapatkan item yang diinginkan. Ketika mereka berhasil mendapatkan item yang diinginkan dari sistem gacha ini, otak akan melepaskan neurotransmiter dopamin yang melahirkan perasaan bahagia dan kepuasan yang intens. Menurut Ardiansyah et al. (2025), pelepasan dopamin yang tidak teratur karena diberikan secara acak dan tidak terduga menghasilkan siklus penguatan perilaku yang sangat kuat dan adiktif. Maka tak heran walaupun sistem ini sangat menjengkelkan, pemain akan tetap terus bermain dan larut dalam sistem permainan ini.
Gacha dan Limited Banner
Pada umumnya, fitur gacha dalam game online disertai dengan fitur lain yaitu limited banner. Fitur limited banner adalah kumpulan beberapa item-item (batch) dalam game yang tersedia dalam periode yang terbatas. Limited banner dapat memunculkan perasaan fear of missing out (Utama & Utami, 2024) yang kemudian menimbulkan distress bagi para pemainnya (Hämäläinen, et al., 2023). Fear of missing out atau sering disebut FoMo adalah kekhawatiran bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman yang bermanfaat yang tidak dialami oleh seseorang (Przybylski et al., 2013). Para pemain yang mendengar kabar bahwa limited banner telah hadir akan merasakan FoMo apabila dirinya tidak segera mendapatkan batch item tersebut. Limited banner juga dapat menimbulkan distress karena pemain harus berjuang mengumpulkan poin untuk mendapatkan kesempatan gacha yang sifatnya terbatas.
Permainan yang seharusnya menyenangkan malah terasa membebani sampai muncul stres akibat keinginan untuk mendapatkan item limited banner karena diperlukan kemampuan yang baik dalam membagi tanggung jawab antara kehidupan sesungguhnya dan “kehidupan” dalam game. Selain periode waktu yang terbatas, ketidakberhasilan pemain dalam mendapatkan kesempatan untuk memenangkan limited banner dan kegagalan dalam mendapatkan batch item yang diinginkan juga dapat menimbulkan perasaan stres berupa perasaan kesal dan kecewa yang dapat berlangsung dalam durasi yang cukup ekstensif, mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari. Kekesalan dan kekecewaan yang muncul bisa memengaruhi kehidupan di luar game tersebut.
Meningkatkan Kualitas Diri Bukan Kualitas Item
Gacha telah membuktikan diri sebagai pedang bermata dua yang memberikan adrenalin seru sekaligus potensi stres yang serius. Setelah mengetahui dinamika tarik ulur emosi, kita sampai pada satu kesimpulan yaitu kunci untuk menikmati dunia gacha bukanlah berhenti bermain, tetapi bermain dengan bijak. FoMo dan keinginan buta untuk memiliki karakter atau item limited banner membuat tujuan awal kita terlupakan, yaitu mencari hiburan. Ketika layar ponsel lebih sering membuat kita kecewa dan membuat kita merasa banyak menghabiskan uang, maka disaat itulah kita melenceng dari hakikat bermain game yaitu untuk hiburan. Jadikanlah setiap tarikan gacha sebagai bonus kecil, bukan target utama karena game yang sebenarnya adalah sebuah tempat pelarian yang menyenangkan, bukan penjara yang memenjarakan kesehatan mental dan finansial. Jadikanlah game gacha sebagai sarana unlimited fun, bukan sebagai sumber unlimited stress.
Referensi
Ardiansyah, R. M., Safitri, D., & Sujarwo. (2025). Analisis Pengaruh Kecanduan Game Gacha terhadap Pola Konsumtif dan Pengelolaan Keuangan Anak di Era Digital. JICN: Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara, 2(3), 3125–3135. https://jicnusantara.com/index.php/jicn/article/view/4181/4245
Hämäläinen, A., Koskelainen, T., & Teukku, S. (2023). Technostress in Digital Games
: Case Genshin Impact. In SCIS 2023 : Proceedings of the 14th Scandinavian Conference on Information Systems (Article 5). Association for Information Systems. https://aisel.aisnet.org/scis2023/5/
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
Tang, Y., Yiu, R., Mi, E., & Lai, W. (2025). How Gacha Gaming and Life Quality Shape problem gambling risk: insights from a cross-sectional study using Hong Kong-based online survey of young adults. In Frontiers in Psychiatry (Vol. 16, pp. 1–10). Frontiers Media. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2025.1663328
Utama, B. V., & Utami, R. H. (2024). Hubungan Antara Fear of Missing Out dengan Internet Gaming Disorder Pada Pemain Game Gacha. In Trend: International Journal of Trends in Global Psychological Science and Education, 2(1), 61–66. https://doi.org/10.62260/