ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 68 Oktober 2026
Tersenyum di Luar, Lelah di Dalam:
Memahami Kesehatan Mental di Era Modern
Oleh:
Dewi Syukriah & Fara Dwi Andjarsari
Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia Y.A.I
Ketika “Baik-Baik Saja” Tidak Selalu Berarti Baik
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kita semakin terbiasa melihat orang lain melalui potongan-potongan kecil kehidupan mereka: unggahan media sosial, pencapaian pekerjaan, foto liburan, senyum ketika bertemu, atau jawaban singkat “aku baik-baik saja” Ketika ditanya “apa kabar”. Namun, apa yang tampak dari luar tidak selalu menggambarkan keadaan psikologis seseorang. Ada orang yang tetap bekerja, mengajar, belajar, mengurus keluarga, bercanda dengan teman, bahkan terlihat produktif dan bahagia seperti tidak ada beban hidup, tetapi sebenarnya sedang mengalami kelelahan emosional. Mereka tetap tersenyum, sementara di dalam dirinya ada rasa lelah yang sulit dijelaskan dengan kata-kata verbal.
Kondisi semacam ini penting dibicarakan karena kesehatan mental bukan sekadar ada atau tidak adanya gangguan psikologis. World Health Organization (WHO, 2025) mendefinisikan kesehatan mental sebagai keadaan kesejahteraan mental yang memungkinkan seseorang menghadapi tekanan hidup, mengenali kemampuannya, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi dalam komunitas. Artinya, seseorang yang masih mampu menjalankan rutinitas belum tentu berada dalam kondisi mental yang optimal. Fungsi sehari-hari dapat tetap berjalan, sementara beban psikologis terus menumpuk.
Mengapa Manusia Modern Mudah Merasa Lelah?
Kehidupan modern menawarkan banyak kemudahan, tetapi sekaligus menciptakan bentuk tekanan baru. Teknologi membuat pekerjaan lebih cepat, komunikasi lebih mudah, dan informasi tersedia hampir tanpa batas. Di sisi lain, batas antara waktu bekerja dan beristirahat menjadi semakin kabur. Pesan pekerjaan dapat masuk pada malam hari Ketika waktu istirahat, berita terus berganti siang dan malam, dan media sosial membuat seseorang hampir selalu terhubung dengan kehidupan orang lain. Tubuh mungkin sedang duduk di rumah, tetapi pikiran belum tentu benar-benar beristirahat.
Tekanan tersebut tidak berdiri sendiri. WHO (2025) menjelaskan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor individual, keluarga, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ketidakpastian finansial, konflik hubungan, tuntutan pekerjaan, kesepian, pengalaman kehilangan, kekerasan, ketimpangan, dan lingkungan yang tidak mendukung dapat meningkatkan kerentanan psikologis. Karena itu, kelelahan mental sebaiknya tidak selalu dipandang sebagai tanda bahwa seseorang “kurang kuat”. Sering kali, kelelahan merupakan respons terhadap tuntutan yang berlangsung terlalu lama tanpa kesempatan pemulihan yang memadai.
Media Sosial: Terhubung, tetapi Juga Membandingkan
Media sosial menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Media sosial dapat memberi banyak manfaat: mempertahankan hubungan, menemukan komunitas, memperoleh informasi, dan mendapatkan dukungan. Namun, penggunaan yang tidak sehat juga dapat memunculkan tekanan secara psikologis. Kita cenderung melihat versi kehidupan orang lain yang sudah dipilih dan diedit sedemikian rupa—prestasi, tubuh yang terlihat ideal, keluarga harmonis, karier yang berkembang, atau perjalanan menyenangkan—kemudian tanpa sadar membandingkannya dengan kehidupan kita secara utuh, termasuk kegagalan dan kekurangan yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Tinjauan sistematis mengenai intervensi penggunaan media sosial menunjukkan bahwa hubungan media sosial dengan kesejahteraan mental tidak sesederhana anggapan bahwa berhenti menggunakan media sosial pasti membuat seseorang lebih sehat. Plackett dan kolega (2023) menemukan hasil yang beragam: sebagian intervensi meningkatkan kesejahteraan mental, sebagian memberikan hasil campuran, dan sebagian tidak menunjukkan perubahan. Intervensi berbasis pendekatan psikologis, termasuk prinsip cognitive behavioural therapy, justru tampak lebih menjanjikan dibanding sekadar membatasi atau menghentikan penggunaan media sosial. Temuan ini mengingatkan bahwa persoalannya bukan hanya “berapa lama” kita berada di media sosial, tetapi juga bagaimana kita menggunakannya dan bagaimana kita memaknai apa yang kita lihat.
Lelah Biasa atau Sudah Perlu Diperhatikan?
Merasa sedih, cemas, jenuh, atau lelah sesekali merupakan bagian dari pengalaman manusia. Tidak setiap kesedihan berarti depresi dan tidak setiap kekhawatiran berarti gangguan kecemasan. Yang perlu diperhatikan adalah intensitas, durasi, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. WHO (2025) menjelaskan bahwa depresi berbeda dari perubahan suasana hati biasa; gejalanya dapat berupa suasana hati yang terus menurun, kehilangan minat atau kesenangan, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, sulit berkonsentrasi, rasa tidak berharga, keputusasaan, dan energi yang sangat rendah.
Demikian pula dengan kecemasan. Rasa khawatir sebelum menghadapi ujian, wawancara, masalah keluarga, atau masalah pekerjaan adalah hal yang wajar. Tetapi ketika rasa takut dan khawatir menjadi berlebihan, sulit dikendalikan, berlangsung lama, serta mulai mengganggu hubungan, pekerjaan, sekolah, tidur, atau aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut patut mendapatkan perhatian. Data WHO menunjukkan bahwa gangguan kecemasan merupakan kelompok gangguan mental yang paling umum secara global. Ini menunjukkan bahwa pengalaman psikologis yang sering disembunyikan di balik penampilan “baik-baik saja” sebenarnya dialami oleh sangat banyak orang.
Budaya Produktif dan Rasa Bersalah untuk Beristirahat
Salah satu paradoks kehidupan modern adalah bahwa istirahat sering dianggap sebagai sesuatu yang harus “diperoleh”. Seseorang baru merasa pantas beristirahat setelah seluruh pekerjaan selesai, padahal pekerjaan hampir tidak pernah benar-benar habis. Akibatnya, muncul rasa bersalah ketika tidak produktif. Bahkan waktu luang dapat berubah menjadi proyek baru: harus berolahraga, harus membaca, harus mengembangkan diri, harus membalas pesan, dan harus tetap terlihat aktif.
Dalam kondisi seperti ini, penting untuk mengubah cara pandang terhadap istirahat. Istirahat bukan lawan dari produktivitas, melainkan bagian dari kemampuan manusia untuk mempertahankan fungsi dalam jangka panjang. Tidur yang cukup, mengambil jeda dari pekerjaan, aktivitas fisik, hubungan sosial yang suportif, dan kesempatan melakukan kegiatan yang menyenangkan merupakan bagian dari pemeliharaan kesehatan mental. WHO juga menempatkan keterampilan sosial-emosional, interaksi sosial yang positif, pekerjaan yang layak, lingkungan yang aman, dan ikatan komunitas sebagai faktor protektif bagi kesehatan mental.
Belajar Mendengarkan Diri Sendiri
Menjaga kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar. Kadang-kadang langkah pertama justru sangat sederhana: mengakui bahwa kita sedang lelah. Banyak orang terbiasa menekan emosi karena merasa harus kuat, takut dianggap mengeluh, atau tidak ingin membebani orang lain. Padahal, memberi nama pada perasaan—sedih, kecewa, takut, marah, kewalahan, kesepian—dapat membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Setelah itu, kita dapat mulai melihat kebutuhan yang selama ini diabaikan. Apakah tubuh membutuhkan tidur? Apakah beban kerja perlu dibatasi? Apakah ada hubungan yang terus-menerus menguras energi? Apakah kita membutuhkan waktu tanpa gawai? Apakah ada masalah yang sudah terlalu berat untuk ditanggung sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk kelemahan, melainkan bagian dari kesadaran diri. Dukungan dari orang yang dipercaya juga penting. Dalam banyak situasi, percakapan yang aman dan tidak menghakimi dapat menjadi pintu awal untuk mencari pertolongan yang lebih tepat.
Mencari Bantuan Bukan Berarti Gagal
Ketika tekanan psikologis berlangsung lama, semakin berat, atau mulai mengganggu fungsi sehari-hari, mencari bantuan profesional merupakan pilihan yang rasional. Psikolog, psikiater, konselor, dan tenaga kesehatan terlatih dapat membantu seseorang memahami kondisi yang dialami serta menentukan bentuk intervensi yang sesuai. WHO menegaskan bahwa terdapat intervensi psikologis yang efektif untuk berbagai masalah seperti depresi dan kecemasan. Sayangnya, stigma masih membuat sebagian orang menunda pertolongan karena takut dianggap lemah, berlebihan, atau “kurang bersyukur”.
Kita perlu membangun budaya yang lebih manusiawi: budaya yang tidak hanya bertanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang keadaan seseorang; yang tidak buru-buru memberi nasihat ketika orang lain bercerita; dan yang memahami bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kita juga perlu berhenti mengukur berat-ringannya masalah seseorang hanya dari apa yang terlihat.
Penutup
Pada akhirnya, senyum tidak selalu berarti seseorang sedang bahagia, sebagaimana diam tidak selalu berarti tidak ada masalah. Di era modern, kemampuan untuk tetap berfungsi sering membuat kelelahan psikologis tidak terlihat. Karena itu, kesehatan mental membutuhkan ruang untuk dibicarakan dengan jujur tanpa harus menunggu seseorang benar-benar jatuh tanpa adanya pertolongan.
Mungkin kita tidak dapat menghilangkan seluruh tekanan kehidupan modern. Namun, kita dapat belajar mengenali batas diri, membangun hubungan yang lebih suportif, menggunakan teknologi secara lebih sadar, memberi tubuh dan pikiran kesempatan untuk pulih, serta mencari bantuan ketika diperlukan. Di balik tuntutan untuk terus terlihat kuat, ada satu hal yang sering terlupakan: manusia tidak harus selalu tampak baik-baik saja untuk tetap berharga. Kadang-kadang, mengakui “saya sedang lelah” justru merupakan langkah awal untuk kembali sehat. It’s okay not to be okay.
Referensi:
Plackett, R., Sheringham, J., & Dykxhoorn, J. (2023). The impact of social media interventions on mental well-being: A systematic review. Journal of Medical Internet Research, 25, e44922.
Ramadhan, R. N., Rampengan, D. D., Yumnanisha, D. A., & Setiono, S. B. V. (2024). Impacts of digital social media detox for mental health: A systematic review and meta-analysis. Narra X, 4(2), e786.
World Health Organization. (2025). Anxiety disorders. WHO Fact Sheets.
World Health Organization. (2025). Depressive disorder (depression). WHO Fact Sheets.
World Health Organization. (2025). Mental health: Strengthening our response. WHO Fact Sheets.
World Health Organization. (2025). World mental health today: Latest data. Geneva: World Health Organization.
