ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 65 September 2026

 

Hidup Biasa atau Flourishing: Kamu yang Mana?

Oleh:

Nikmah Ramadhani, Lulu Sri Suwandini, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

Pernah tidak kamu merasa hidup begitu-begitu saja? Bangun dari tidur, menjalani aktivitas, lalu kembali mengulangi rutinitas yang sama setiap harinya. Normal bukan?, bahkan mungkin baik-baik saja. Tapi sebenarnya di dalam diri, pasti ada rasa kosong yang sulit dijelaskan. Tidak benar-benar sedih, tapi juga tidak benar-benar bahagia. Banyak orang berada di titik ini tanpa menyadarinya. Mereka menjalani hidup seperti biasa, tetapi belum tentu benar-benar “hidup” sepenuhnya. Dalam psikologi positif, kondisi ini sering dibandingkan bersama konsep flourishing, yaitu keadaan ketika seseorang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang, memiliki makna hidup, serta merasakan kepuasan dalam menjalani hari-harinya. Lalu pertanyaannya, di antara hidup biasa atau berkembang, kamu berada di posisi yang mana?


Semuanya Terasa Datar

Menjalani kehidupan sehari-hari dengan aktivitas rutin, mungkin dari luar tidak ada masalah yang terlihat, seperti baik-baik saja. Tetapi, tidak sedikit yang merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan. Kelelahan, kehilangan semangat, ataupun merasa kosong tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini sering muncul secara perlahan. Awalnya mungkin hanya rasa jenuh karena rutinitas yang berulang. Namun, jika terus menerus berlangsung, seseorang bisa mulai merasa bahwa hidupnya hanya berjalan begitu-begitu saja tanpa arah yang jelas. Aktivitas yang dilakukan hanya terasa seperti kewajiban semata, bukan lagi sesuatu yang memberi kepuasan pada hidupnya.

 

Dalam psikologi positif, keadaan tersebut berkaitan dengan konsep languishing, yaitu kondisi ketika seseorang tidak mengalami gangguan mental yang serius, namun kesejahteraannya juga belum optimal (Keyes, 2014). Seseorang yang berada di kondisi ini cenderung merasa “stuck” dan hidupnya tidak berkembang. Selain itu kurangnya keterlibatan dalam aktivitas yang bermakna juga dapat memengaruhi kesejahteraan seseorang. Ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa minat, rasa puas terhadap hidup cenderung menurun (Weziak-białowolska et al., 2021). Hal inilah yang sering membuat seseorang merasa “hanya menjalani hidup”, bukan benar-benar “menghidupi kehidupannya”. Namun, apakah hidup memang hanya sebatas itu-itu saja? Sekadar berjalan tanpa arah yang jelas? Atau sebenarnya ada kondisi lain yang memungkinkan seseorang untuk menjalani hidupnya lebih bermakna?

 

Saya ingin bukan sekadar “Bahagia”.

Seseorang yang hidup flourishing biasanya tidak hanya merasakan emosi positif, namun juga memiliki tujuan hidup yang jelas. Mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan berarti. Pada hal ini, kesejahteraan tidak lagi sekadar tentang “merasa baik-baik saja”, tetapi juga tentang “hidup lebih baik” dengan utuh (Diener et al., 2018). Konsep flourishing diperkuat dengan pendekatan psikologi positif yang menjelaskan bahwa kesejahteraan sebagai sesuatu yang multidimensional. Artinya, hidup yang baik tidak hanya diukur dari kebahagiaan, namun juga dari hubungan sosial yang sehat, pencapaian yang diraih, serta rasa memiliki tujuan hidup.

Penelitian menjelaskan bahwa pada masa dewasa awal, kesejahteraan seseorang dipengaruhi oleh nilai hidup dan arah tujuan yang dimiliki (Luh et al., 2024). Ketika seseorang memiliki nilai hidup yang jelas dan tujuan yang ingin dicapai, mereka bisa lebih mampu merasakan kepuasan dalam hidupnya. Dan kata-kata bahwa, Saya ingin bukan sekedar “Bahagia” bukan hanya tulisan dan angan-angan. Namun, untuk mencapai kondisi tersebut bukanlah hal yang berlangsung tanpa aba-aba. Orang yang terlihat baik-baik saja belum tentu berada dalam keadaan flourishing. Banyak juga yang masih berada di antara “bertahan” dan “berkembang”, tanpa benar-benar menyadari perbedaannya. Lalu, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Hal apa yang menimbulkan seseorang sulit keluar dari kondisi hidup yang terasa biasa-biasa saja?

 

Dari Bertahan Ke Berkembang: Kamu yang Mana?

Banyak orang tidak paham bahwa mereka ternyata sedang berada di titik “cukup untuk bertahan”, namun belum benar-benar berkembang. Hari-hari tetap dijalani dengan aktivitas yang sama, tanggung jawab tetap diselesaikan, dan hidup terlihat berjalan seperti biasanya. Namun, jika dipikirkan lebih jauh, ada satu pertanyaan sederhana yang sering kita lewatkan, yaitu apakah kita benar-benar hidup, atau hanya sekadar menjalani hidup?.

 

Kondisi ini sering terjadi karena seseorang terlalu fokus pada tuntutan sehari-hari. Adanya target, tugas, dan ekspektasi membuat hidup terasa seperti daftar kewajiban yang harus diselesaikan dengan segera. Akibatnya, waktu untuk memahami diri sendiri, atau pun membangun hubungan yang bermakna, atau sekadar menikmati proses tidak terasa. Hal ini membuat seseorang terjebak dari kondisi hidup “biasa saja” dan terus berada dalam fase languishing (Keyes, 2014). Selain itu, tidak adanya arah serta tujuan hidup juga menjadi faktor penting. Saat seseorang tidak mempunyai tujuan yang jelas, aktivitas yang dilakukan terasa hampa. Sebaliknya, seseorang yang punya tujuan hidup cenderung lebih mampu merasakan kepuasan dan kesejahteraan dalam hidupnya (Luh et al., 2024).

 

Inilah yang membedakan antara sekadar

 “Menjalani Hidup Dan Menghidupi Kehidupan”.

 

Keinginan beralih dari kondisi bertahan menuju berkembang tidak hanya ingin. Tetapi, bisa dimulai dari langkah kecil, seperti mencoba memahami apa prioritas diri serta membangun hubungan baik dengan orang lain sebagai awal menuju kehidupan yang lebih bermakna. Dari perubahan kecil yang dilakukan dengan konsisten dapat membantu seseorang menuju kondisi flourishing. Karena, pada akhirnya hidup bukan hanya tentang menyelesaikan  rutinitas setiap harinya, namun tentang bagaimana kita benar-benar sadar kita berada dalam setiap prosesnya dan mengembangkannya.

 

 

 Reference:

 

Diener, E., Oishi, S., & Tay, L. (2018). Advances in subjective well-being research. Nature Human Behaviour, 2(4), 253–260. https://doi.org/10.1038/s41562-018-0307-6

Keyes, C. L. M. (2014). The Mental Health Continuum : From Languishing to Flourishing in Life *. 43(2), 207–222. https://doi.org/10.2307/3090197

Luh, N., Vivekananda, A., Ema, E., & Polii, V. (2024). Schwartz Value dan Perma Well-Being pada Dewasa Awal. 8(3), 277–288. https://doi.org/10.28932/humanitas.v8i3.8866

Weziak-bialowolska, D., Bialowolski, P., Lee, M. T., Chen, Y., Vanderweele, T. J., & Mcneely, E. (2021). Psychometric Properties of Flourishing Scales From a Comprehensive Well-Being Assessment. 12(April), 1–15. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.652209