- Details
- Written by Putri Fiddina Tanjung & Dina Nazriani
- Category: Vol. 9 No. 14 Juli 2023
ISSN 2477-1686
Vol. 9 No. 14 Juli 2023
Mengapa Perfeksionisme Bisa Menjadi Musuh Terbesar Kita?
Oleh:
Putri Fiddina Tanjung & Dina Nazriani
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Perfeksionisme adalah kecenderungan untuk mengejar kesempurnaan dan mencari hasil yang sempurna dalam segala hal yang dilakukan. Menurut Agustin (2021), orang yang perfeksionis akan selalu berupaya untuk tampil sempurna dengan menerapkan personal standards yang sangat tinggi bagi diri mereka sendiri atau orang lain. Hal ini sering kali diiringi dengan kritik yang berlebihan terhadap kesalahan dan kekurangan, baik pada diri sendiri maupun orang lain.
Mengenal Perfeksionisme
Menurut American Psychological Association, perfeksionisme adalah kecenderungan untuk menuntut orang lain atau diri sendiri mencapai tingkat kinerja atau standar yang sangat tinggi atau bahkan sempurna, melebihi yang dibutuhkan. Perfeksionisme umumnya dikaitkan dengan depresi, kecemasan, gangguan makan, dan masalah kesehatan mental lainnya. Layaknya koin, perfeksionis memiliki dua sisi, yaitu sisi positif, dan negatif. Sisi positif disebut perfeksionis adaptif dan sisi negatif disebut perfeksionis maladaptif. Perfeksionisme adaptif mengacu pada dorongan positif untuk mencapai prestasi yang tinggi dan menetapkan standar yang tinggi untuk diri sendiri, tanpa disertai kekhawatiran berlebih tentang penilaian orang lain yang bersifat maladaptif. Sebaliknya, perfeksionisme maladaptif melibatkan kecemasan berlebih tentang penilaian orang lain dan melihat kegagalan sebagai ancaman bagi eksistensi diri. Perfeksionis adaptif memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai hasil dan prestasi yang tinggi, namun tidak mengaitkan kegagalan dengan ancaman pada eksistensi diri. Perfeksionisme maladaptif inilah yang dapat menjadi musuh terbesar seseorang, dikarenakan perfeksionisme jenis ini berkaitan erat dengan depresi dan gejala psikopatologi lainnya (Blatt, 1995; Hewitt dkk., 1996).
Sisi Gelap Perfeksionisme Maladaptif
Menurut Agustin (2021) perfeksionisme yang maladaptif dianggap tidak sehat karena cenderung memunculkan reaksi yang berlebihan, dapat menyebabkan stres yang tinggi, dan bahkan dapat berujung pada depresi. Sebagai contoh, orang yang memiliki perfeksionisme maladaptif dapat mengalami sakit perut yang intens ketika akan menghadapi tes atau melakukan presentasi karena mereka sangat takut gagal atau tidak dapat memenuhi harapan orang lain.
Perilaku perfeksionisme maladaptif sering dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti merasa tidak bahagia, memiliki rasa rendah diri yang berlebihan, gangguan makan, dan bahkan insomnia. Referensi beberapa studi menunjukkan bahwa perfeksionisme yang maladaptif dapat menyebabkan gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan stres. Beberapa sisi gelap dari perfeksionisme maladaptif antara lain:
- Kecenderungan mengalami depresi dan kecemasan yang tinggi.
- Keterikatan yang kuat pada citra diri yang sempurna yang sulit dicapai.
- Kesenjangan antara harapan yang tinggi dan kinerja yang sebenarnya yang dapat menyebabkan perasaan ketidakpuasan diri.
- Kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan merasa rendah diri ketika tidak dapat memenuhi standar yang ditetapkan.
- Kesulitan dalam menyelesaikan tugas atau proyek karena takut tidak bisa mencapai kesempurnaan.
Cara Mengatasi Perfeksionisme Maladaptif
Meskipun terkadang mungkin tidak dapat menghilangkan semua kecenderungan perfeksionis, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk mengatasi aspek negatif perfeksionisme yang berdampak buruk pada kehidupan sehari-hari. Pryor (2019) mengemukakan berbagai strategi yang dapat membantu kita memahami, menghindari, dan mengurangi perfeksionisme maladaptif. Diantaranya sebagai berikut:
1. Ingat bahwa perfeksionisme adalah ilusi belaka. Seringkali kita dicekoki pernyataan yang keliru dari orang tua, teman, maupun media sosial, bahwa kesempurnaan adalah suatu keharusan untuk dicapai.
2. Uraikan tujuan-tujuan besar menjadi bagian yang lebih kecil dan mudah dicapai. Rayakanlah setiap pencapaian walaupun kecil.
3. Singkirkan pemikiran yang terlalu mengkritisi diri, dan mulai katakan pada diri sendiri “It’s okay if this isn’t perfect.”
4. Lakukan hal positif untuk diri sendiri. Saat merasa stres dan mencari-cari kesempurnaan, cobalah untuk berhenti sejenak. Berlatihlah untuk rileks atau berjalan-jalan sebentar, jika memungkinkan.
5. Buat dan gunakan mantra positif seperti " You are enough” atau “Your best is enough,” dan ucapkan atau pikirkan mantra tersebut saat menghadapi situasi yang menekan.
6. Mencari bantuan dari profesional.
Referensi:
Agustin, S. (2021). 4 Bahaya sifat perfeksionis dan cara mengatasinya. Alodoc. Diakses dari https://www.alodokter.com/waspada-pribadi-perfeksionis-rentan-mengalami-depresi
American Psychological Association. (2023). APA Dictionary of Psychology. American Psychological Association. https://dictionary.apa.org/perfectionism
Blatt, S.J. (1995). The destructiveness of perfectionism: Implications for the treatment of depression. American Psychologist. 50, 1003 – 1020. https://doi.org/10.1037/0003-066X.50.12.1003
Hewitt, P. L., Flett, G. L., & Ediger, E. (1996). Perfectionism and depression: longitudinal assessment of a specific vulnerability hypothesis. Journal of Abnormal Psychology, 105(2), 276. https://doi.org/10.1037/0021-843X.105.2.276
Hill, R. W., Huelsman, T. J., Furr, R. M., Kibler, J., Vicente, B. B., & Kennedy, C. (2004). A new measure of perfectionism: The perfectionism inventory. Journal of personality assessment, 82(1), 80-91. https://doi.org/10.1207/s15327752jpa8201_13
Pryor, J. R. (2019). Pushing back on perfectionism: How to be happily imperfect. Northwestern University. Diakses dari https://counseling.northwestern.edu/blog/maladaptive-perfectionism-coping strategies/
