ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 59 Juni 2026

Memaafkan Bukan Berarti Melupakan: Mengapa Mengingat Luka Itu Justru Sehat?

Oleh:

Chandra Yudistira Purnama

Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi

 

Pernahkah Anda mendengar pepatah klasik "forgive and forget"?. Di atas kertas, kalimat ini terdengar sangat bijak. Namun, di dunia nyata, mempraktikkannya sering kali terasa mustahil. Saat kita disakiti, dikhianati, atau dikecewakan, memaksa diri untuk melupakan kejadian tersebut justru terasa seperti mengkhianati diri sendiri. Kabar baiknya: dari kacamata psikologi, Anda memang tidak diharuskan untuk melupakan. Faktanya, "memaafkan tapi tidak melupakan" adalah sebuah respons yang sangat normal, sehat, dan manusiawi.

 

Lantas, mengapa kita tidak perlu melupakan saat memaafkan?. Berikut adalah alasan di baliknya:

 

1. Otak Kita Menjadikannya "Alarm" Pelindung Diri

Otak manusia itu luar biasa pintar. Ia secara alami dirancang untuk menyimpan memori tentang rasa sakit atau bahaya sebagai bentuk perlindungan (Hagihara et al., 2021). Ingatan tentang orang yang pernah menyakiti Anda bukanlah tanda bahwa Anda pendendam; itu adalah cara otak memasang "alarm" agar Anda tidak jatuh ke dalam lubang yang sama di masa depan. Dalam literatur neurobiologi, seperti yang sering dibahas oleh pakar trauma Dr. Bessel van der Kolk dalam bukunya The Body Keeps the Score, memori tentang pengalaman menyakitkan akan dikonsolidasikan dengan kuat oleh otak (Alberini & LeDoux, 2013). Amigdala, pusat alarm di otak kita, menyimpan memori emosional ini agar kita lebih waspada di masa depan (Šimić et al., 2021). Melupakan kejadian tersebut justru bertentangan dengan mekanisme pertahanan diri alami manusia dan bisa membuat kita kembali berisiko disakiti.

 

2. Mengubah Rasanya, Bukan Menghapus Kejadiannya

Memaafkan itu ibarat merawat sebuah luka fisik. Saat baru terluka, rasanya sangat sakit dan berdarah. Namun, seiring berjalannya waktu dan pengobatan (proses memaafkan), luka tersebut mengering dan menyisakan bekas. Memaafkan pada dasarnya adalah proses mengganti emosi negatif (seperti dendam) dengan emosi yang lebih netral atau bahkan positif (Ho et al., 2020). Tujuan dari memaafkan bukanlah untuk menghapus bekas luka (ingatan) tersebut, melainkan menghilangkan rasa sakitnya (Giri, 2022). Saat Anda sudah benar-benar memaafkan, Anda masih ingat dengan jelas kejadiannya, tetapi ketika memori itu muncul, dada Anda tidak lagi terasa sesak atau marah. Anda hanya melihatnya sebagai bagian dari masa lalu

 

3. Memaafkan Itu Keputusan Nyata, Melupakan Itu Pasif

Banyak yang salah paham bahwa seiring berjalannya waktu, kita akan lupa dengan sendirinya. Sayangnya, memori emosional tidak bekerja seperti itu. Melupakan sering kali hanyalah bentuk pelarian dari rasa sakit (Giri, 2022; Šimić et al., 2021). Sebaliknya, memaafkan adalah sebuah keputusan yang sangat berani dan disadari penuh. Selain itu memaafkan adalah keterampilan melepaskan diri dari peran sebagai korban (Mróz & Kaleta, 2023). Ia menekankan bahwa memaafkan tidak sama dengan menoleransi perilaku buruk atau berpura-pura kejadian itu tidak ada. Ini adalah langkah aktif untuk mengambil kendali penuh atas memori masa lalu agar tidak lagi meracuni dan mengendalikan hidup Anda saat ini.

 

4. Kita Berhak Menjaga Jarak (Menetapkan Boundaries)

Memaafkan seseorang tidak lantas berarti Anda harus kembali menjadi sahabat baiknya atau mengembalikan kepercayaan Anda seratus persen. Ingatan tentang masa lalu justru sangat Anda butuhkan untuk membangun batasan (boundaries) yang sehat. Hal ini sejalan dengan pandangan Dr. Robert Enright yang dengan tegas membedakan antara memaafkan (*forgiveness*) dan rekonsiliasi (*reconciliation*) (Enright, 2001). Menurut Enright, memaafkan adalah proses internal demi menyembuhkan luka batin, sementara rekonsiliasi membutuhkan interaksi dan tumbuhnya kembali kepercayaan dari kedua belah pihak (Enright, 2001). Anda bisa dengan tulus memaafkan mantan rekan kerja yang mengkhianati Anda demi kedamaian batin sendiri, namun tetap menggunakan ingatan tersebut sebagai alasan logis untuk tidak lagi berbisnis dengannya.

 

Kesimpulannya

Tuntutan sosial untuk "memaafkan dan melupakan" sering kali tidak realistis dan justru menjadi beban mental yang baru. Jangan merasa bersalah jika Anda masih mengingat rasa sakit di masa lalu. Puncak dari kedewasaan emosional bukanlah amnesia dan pura-pura tidak terjadi apa-apa, melainkan kemampuan untuk tersenyum dan berkata:

 

"Aku ingat dengan sangat jelas apa yang kamu lakukan kepadaku.

Itu adalah bagian dari ceritaku, tapi aku tidak akan membiarkan ingatan itu menyakiti atau mengendalikan kebahagiaanku hari ini."

 

Daftar Pustaka:

Alberini, C. M., & LeDoux, J. E. (2013). Memory reconsolidation. Current Biology, 23(17), 746–750.

Enright, R. D. (2001). Forgiveness is a choice: A step-by-step process for resolving anger and restoring hope. American Psychological Association.

Giri, R. S. (2022). Forgiveness: Easy to Say but Hard to Do. International Summit on Science Technology and Humanity.

Hagihara, K. M., Bukalo, O., Zeller, M., Aksoy-Aksel, A., Karalis, N., Limoges, A., Rigg, T., Campbell, T., Mendez, A., Weinholtz, C., Mahn, M., Zweifel, L. S., Palmiter, R. D., Ehrlich, I., Lüthi, A., & Holmes, A. (2021). Intercalated amygdala clusters orchestrate a switch in fear state. Nature, 594(7863), 403–407. https://doi.org/10.1038/s41586-021-03593-1

Ho, M. Y., Van Tongeren, D. R., & You, J. (2020). The Role of Self-Regulation in Forgiveness: A Regulatory Model of Forgiveness. Frontiers in Psychology, 11. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.01084

Mróz, J., & Kaleta, K. (2023). Forgive, Let Go, and Stay Well! The Relationship between Forgiveness and Physical and Mental Health in Women and Men: The Mediating Role of Self-Consciousness. International Journal of Environmental Research and Public Health, 20(13). https://doi.org/10.3390/ijerph20136229

Šimić, G., Tkalčić, M., Vukić, V., Mulc, D., Španić, E., Šagud, M., Olucha-Bordonau, F. E., Vukšić, M., & Hof, P. R. (2021). Understanding emotions: Origins and roles of the amygdala. In Biomolecules (Vol. 11, Number 6). MDPI AG. https://doi.org/10.3390/biom11060823