ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 59 Juni 2026
Melawan Distraksi Digital: Kekuatan Grit dan Self-Regulated Learning
dalam Menjaga Konsistensi Belajar
Oleh:
Amru Sazulhaq
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan yang cukup besar dalam dunia pendidikan, terutama dalam cara siswa mengakses informasi dan menjalani proses belajar. Kemudahan ini sebenarnya membuka banyak peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hanya saja, di sisi lain juga muncul distraksi digital seperti media sosial, notifikasi, dan hiburan instan yang sering mengganggu fokus belajar. Situasi seperti ini membuat siswa perlu memiliki kemampuan internal yang kuat agar tetap konsisten dalam belajar, salah satunya melalui pengembangan self-regulated learning (SRL) dan grit sebagai dua faktor psikologis yang saling melengkapi.
Menurut Zimmerman (1989) self-regulated learning merupakan kemampuan individu dalam mengelola proses belajar secara mandiri, mulai dari merencanakan, memantau, sampai mengevaluasi, yang memungkinkan siswa mengontrol proses belajarnya secara aktif. Dalam pembelajaran digital, kemampuan ini jadi sangat penting karena siswa harus bisa mengatur fokusnya sendiri dan menghindari distraksi tanpa bergantung pada orang lain. Hal ini juga diperkuat oleh Xu dkk. (2023) yang menunjukkan bahwa intervensi SRL memberikan pengaruh positif dengan ukuran efek moderat (effect size = 0,69) terhadap pencapaian akademik dalam pembelajaran online dan blended learning. Angka ini menunjukkan bahwa self-regulated learning tidak hanya berpengaruh, tapi juga cukup kuat dalam meningkatkan performa belajar.
Self-regulated learning juga punya peran penting dalam membantu siswa mengelola tekanan akademik. Novarizka dkk. (2024) menemukan bahwa self-regulated learning berpengaruh signifikan terhadap stres akademik (β = 0,026; p = 0,026), dan tetap signifikan saat dimediasi oleh student engagement (β = 0,023; p = 0,009). Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan regulasi diri membantu siswa menghadapi tuntutan belajar yang tidak sederhana, apalagi dalam kondisi yang penuh distraksi. Jadi, self-regulated learning bukan hanya berpengaruh pada hasil belajar, tapi juga membantu menjaga kondisi psikologis siswa tetap stabil.
Di sisi lain, grit merupakan faktor non-kognitif yang berperan dalam menjaga konsistensi usaha dalam jangka panjang. Duckworth dan Gross (2014) mendefinisikan grit sebagai kombinasi antara passion dan perseverance dalam mencapai tujuan jangka panjang. Siswa dengan grit yang tinggi biasanya lebih tahan menghadapi kesulitan dan tidak mudah menyerah, bahkan saat dihadapkan pada distraksi yang cukup kuat. Dalam konteks pendidikan, grit sering menjadi pembeda antara siswa yang tetap konsisten belajar dan yang mudah kehilangan fokus.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa grit berpengaruh signifikan terhadap prestasi akademik. Anggraeni dkk. (2024) menemukan bahwa grit berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar dengan nilai t = 4,924 dan signifikansi p < 0,001. Sementara itu, self-regulated learning juga menunjukkan pengaruh signifikan dengan nilai t = 2,360 dan p = 0,020. Ketika dilihat secara bersamaan, kedua variabel ini memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap pencapaian akademik dengan nilai F = 19,985. Artinya, kontribusi gabungan keduanya cukup signifikan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Ini menunjukkan bahwa grit dan self-regulated learning tidak hanya penting secara terpisah, tapi juga makin efektif ketika berjalan bersama.
Hubungan antara grit dan self-regulated learning juga terbukti cukup kuat. Windayanti dan Oktaviana (2025) menemukan korelasi positif yang signifikan antara self-regulated learning dan grit dengan koefisien r = 0,618 (p < 0,05), yang menunjukkan hubungan yang kuat antara regulasi diri dan ketekunan siswa. Penelitian lain oleh Aisyah dan Pramono (2025) bahkan menunjukkan korelasi yang lebih tinggi, yaitu r = 0,817 (p < 0,01) dengan kontribusi efektif sebesar 66,8%. Ini memperlihatkan bahwa kedua variabel tersebut sangat erat kaitannya dalam meningkatkan keterlibatan belajar.
Lebih lanjut, Ajrina dan Safitri (2023) menemukan bahwa self-regulated learning berperan sebagai mediator parsial dalam hubungan antara growth mindset dan grit. Artinya, self-regulated learning tidak hanya berdampak langsung pada proses belajar, tetapi juga membantu memperkuat faktor psikologis lain yang mendukung ketekunan siswa dalam mencapai tujuan jangka panjang. Dengan kata lain, self-regulated learning bisa menjadi salah satu mekanisme penting dalam membentuk grit yang lebih kuat.
Kalau dilihat secara keseluruhan, sinergi antara grit dan self-regulated learning bisa menjadi solusi yang cukup efektif dalam menghadapi distraksi digital. Grit berperan sebagai pendorong motivasi jangka panjang yang menjaga komitmen belajar, sementara self-regulated learning membantu dari sisi strategi, seperti mengatur waktu, fokus, dan proses belajar. Dalam praktiknya, siswa bisa mengembangkan keduanya lewat penetapan tujuan belajar yang jelas, manajemen waktu yang baik, dan refleksi terhadap proses belajar yang dijalani. Dengan cara ini, distraksi digital tidak lagi sepenuhnya jadi hambatan, tapi lebih sebagai tantangan yang masih bisa dikendalikan.
Kesimpulannya, distraksi digital memang sudah menjadi bagian dari dunia pendidikan modern. Namun, dengan mengembangkan self-regulated learning dan grit, siswa tetap bisa menjaga konsistensi belajar dan mencapai keberhasilan akademik. Berbagai bukti empiris menunjukkan bahwa kedua variabel ini berpengaruh signifikan, baik secara individual maupun bersama-sama, serta memiliki hubungan yang kuat satu sama lain. Karena itu, penguatan self-regulated learning dan grit sebaiknya menjadi fokus utama dalam strategi pendidikan di era digital agar dapat membentuk pembelajar yang mandiri, tangguh, dan adaptif.
Referensi
Aisyah, A. R., & Pramono, R. B. (2025). Hubungan antara grit dan regulasi diri dalam belajar terhadap student engagement pada mahasiswa penerima beasiswa penuh. Indonesian Journal of Educational Counseling, 9(2), 261–274. https://doi.org/10.30653/001.202592.499
Ajrina, A., & Safitri, S. (2023). Self-regulated learning, growth mindset dan kegigihan mahasiswa dalam persiapan karier. Psikostudia: Jurnal Psikologi, 12(2), 231–238. http://dx.doi.org/10.30872/psikostudia.v12i2
Anggraeni, D., Wardani, D. K., & Noviani, L. (2024). The effect of self-regulated learning and grit on economic learning achievement. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 11(1), 319–328. http://dx.doi.org/10.18415/ijmmu.v11i2.5555
Duckworth, A. L., & Gross, J. J. (2014). Self-control and grit: Related but separable determinants of success. Current Directions in Psychological Science, 23(5), 319–325. https://doi.org/10.1177/0963721414541462
Novarizka, S., Na’imah, T., Dwiyanti, R., Noveni, N. A., Satata, D. B. M., & Şen, A. (2024). Self-regulated learning and academic stress of Islamic school students: Mediating effect of student engagement. International Journal of Islamic Educational Psychology, 5(2), 196–219. https://doi.org/10.18196/ijiep.v5i2.23643
Windayanti, S., & Oktaviana, M. (2025). Hubungan antara regulasi diri dalam belajar dengan grit pada siswa SMA. Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling, 15(4). https://doi.org/10.8734/liberosis.v1i2.365
Xu, Z., Zhao, Y., Zhang, B., Liew, J., & Kogut, A. (2023). A meta-analysis of the efficacy of self-regulated learning interventions on academic achievement in online and blended environments in K-12 and higher education, Behaviour & Information Technology, 42:16, 2911-2931, DOI: 10.1080/0144929X.2022.2151935
Zimmerman, B. J. (1989). A Social Cognitive View of Self-Regulated Academic Learning. Journal of Educational Psychology, 81(3), 329–339. https://doi.org/10.1037/0022-0663.81.3.329
