ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 59 Juni 2026
Peran Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Anak dalam Perspektif Psikologi
Oleh:
Mukhlizah Rahmah
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Seberapa besar pengaruh perhatian, cara orang tua mendidik, dan seberapa aktif mereka terlibat dalam kehidupan anak terhadap prestasi akademik anak? Karena hasil belajar adalah tanda penting dalam proses keberhasilan pendidikan anak. Namun, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa faktor keluarga, terutama peran orang tua, berpengaruh besar terhadap prestasi akademis anak. Dalam teori ekologi perkembangan yang dikemukakan oleh Urie Bronfenbrenner, keluarga tergolong dalam sistem mikrosistem yang memberikan pengaruh langsung terhadap perkembangan pikiran, sosial, dan perasaan anak. Artinya, interaksi sehari-hari antara orang tua dan anak merupakan dasar penting dalam membentuk semangat belajar dan kebiasaan belajar anak.
Dari penelitian meta-analisis oleh Hill dan Tyson (2015) dalam Developmental Psychology menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memiliki korelasi yang positif dan signifikan terhadap prestasi akademik siswa sekolah dasar hingga menengah. Keterlibatan ini mencakup dukungan emosional, komunikasi akademik, dan pengawasan terhadap aktivitas belajar (Hill, 2015). Teori kelekatan oleh John Bowlby menekankan bahwa hubungan emosional yang aman akan membantu anak berkembang dengan rasa percaya diri yang baik serta kemampuan mengatur perasaan secara tepat. Anak-anak yang merasa aman dalam memiliki orang tua cenderung lebih mampu fokus dan bertahan dalam belajar.
Penelitian oleh Wang dan Eccles (2016) menunjukkan bahwa bantuan emosional dari orang tua secara langsung membantu meningkatkan motivasi batin dan tingkat keterlibatan belajar siswa. Penelitian lain yang dilakukan oleh Pinquart (2017) juga menunjukkan bahwa hubungan yang positif berdampak pada hasil belajar yang lebih baik karena meningkatkan kemampuan mengatur diri. Ini sesuai dengan teori kebutuhan Abraham Maslow, yang mengatakan bahwa kebutuhan akan rasa aman dan kasih sayang harus terpenuhi terlebih dahulu, sebelum seseorang bisa mencapai aktualisasi diri, termasuk dalam mencapai kesuksesan akademik.
Konsep pola asuh sangat penting dalam hal ini, yang dijelaskan oleh Diana Baumrind. Ia membagi pola asuh menjadi tiga jenis, yaitu otoriter, permisif, dan demokratis (authoritative). Pola asuh yang demokratis dianggap sebagai cara terbaik dalam membantu tumbuh kembang akademik anak. Meta-analisis yang dilakukan oleh Pinquart pada tahun 2016 menunjukkan bahwa gaya asuh yang demokratis memiliki hubungan positif dengan hasil belajar dan semangat belajar siswa. Pola asuh yang terlalu keras atau terlalu longgar justru menghasilkan hubungan yang kurang baik atau bahkan negatif terhadap prestasi akademik. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Madigan dan timnya pada tahun 2019 dalam jurnal Child Development menunjukkan bahwa adanya kehangatan emosional serta kontrol yang konsisten dari orang tua dapat membantu meningkatkan hasil belajar anak.
Dalam hal ini, teori pembelajaran sosial dan modeling juga diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar anak. Menurut Albert Bandura, anak belajar dengan mengamati dan meniru contoh yang ada (modeling). Orang tua yang menunjukkan kebiasaan membaca, disiplin, dan mengelola waktu dengan baik secara tidak langsung membantu membentuk cara belajar anak. Menurut penelitian Gnambs dan Hanfstingl tahun 2016, terdapat hubungan antara sikap orang tua yang positif terhadap pendidikan dengan tingkat efikasi diri akademik anak mereka. Efikasi diri yang tinggi memiliki hubungan yang sangat jelas dengan pencapaian akademik yang lebih baik. Dalam hal ini, peran orang tua di masa kini sangat penting karena keterlibatan mereka tidak hanya terbatas pada bantuan saat belajar, tetapi juga melibatkan pengawasan dalam penggunaan teknologi. Studi yang dilakukan oleh Dong, Cao, dan Li tahun 2020 menunjukkan bahwa ketika orang tua mengawasi dan membimbing penggunaan internet anak, maka hasil belajarnya meningkat dan gangguan saat belajar berkurang.
Selain itu, penelitian oleh Yang dan tim (2023) menunjukkan bahwa ketidakpedulian emosional orang tua, yang disebabkan oleh penggunaan teknologi, terkait dengan menurunnya kesejahteraan psikologis remaja. Hal ini secara tidak langsung juga memengaruhi hasil belajar anak.
Kesimpulan
Berdasarkan teori psikologi perkembangan dan berbagai penelitian, dapat disimpulkan bahwa peran orang tua sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Beberapa faktor seperti dukungan emosional, cara orang tua menasihati yang demokratis, contoh perilaku positif yang diberikan, serta keterlibatan aktif orangtua dalam kegiatan belajar-mengajar, ternyata mampu meningkatkan semangat belajar, keyakinan diri, dan hasil belajar anak. Keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama memiliki peran penting dalam membentuk dasar keberhasilan pendidikan anak. Karenanya, hasil belajar anak merupakan hasil dari kerja sama antara kemampuan anak itu sendiri dan tingkat bantuan yang diberikan keluarga. Ketika orangtua mampu menciptakan lingkungan penuh kasih sayang, teratur, dan mendukung, anak pun memiliki kesempatan lebih baik untuk berkembang optimal, baik dalam belajar maupun dalam perkembangan psikologisnya. Karena cara orang tua berinteraksi dan memberi perhatian terhadap anak menjadi hal penting yang membantu meningkatkan prestasi belajarnya.
Saran
Pertama Orang tua perlu membangun hubungan emosional yang hangat dan suportif dalam lingkungan keluarga. Kedua dapat menerapkan pola asuh demokratis yang seimbang antara disiplin dan kasih saying serta dapat menjadi contoh untuk anak dalam proses belajar. Ketiga orang tua harus melibatkan diri secara aktif dalam aktivitas akademik anak, serta dapat mengawasi penggunaan teknologi agar dapat mendukung proses pembelajaran.
Daftar Pustaka
Dong, H., Cao, S., & Li, H. (2020). Young children’s online learning during COVID-19 pandemic: Chinese parents’ beliefs and attitudes. Computers & Education, 157, 103978. https://doi.org/10.1016/j.compedu.2020.103978
Gnambs, T., & Hanfstingl, B. (2016). The decline of academic motivation during adolescence: An accelerated longitudinal cohort analysis on the effect of psychological need satisfaction. Learning and Individual Differences, 43, 134–142. https://doi.org/10.1016/j.lindif.2015.09.009
Hill, N. E., & Tyson, D. F. (2015). Parental involvement in middle school: A metaanalytic assessment of the strategies that promote achievement. Developmental Psychology, 51(9), 740–763. https://doi.org/10.1037/a0038923
Madigan, S., Prime, H., Graham, S. A.,Rodrigues, M., & Jenkins, J. M. (2019). Parenting behavior and child academic outcomes: A meta-analysis. Child Development, 90(1), 7–29. https://doi.org/10.1111/cdev.13009
Pinquart, M. (2016). Associations of parenting styles and dimensions with academic achievement in children and adolescents: A meta-analysis. Psychological Bulletin, 142(5), 463–490. https://doi.org/10.1037/bul0000035
Pinquart, M. (2017). Associations of attachment dimensions with academic achievement: A meta-analysis. Educational Psychology Review, 29(3), 475–490. https://doi.org/10.1007/s10648-016-9373-8
Wang, M. T., & Eccles, J. S. (2016). Social support matters: Longitudinal effects of social support on three dimensions of school engagement from middle to high school. Journal of Research on Adolescence, 26(3), 586–603. https://doi.org/10.1111/jora.12195
Yang, W., Tang, L., Shen, X., Niu, G., Shi, X., Jin, S., Zhang, Y., & Yuan, Z. (2023). Parental phubbing and adolescent depressive symptoms during COVID-19: A serial mediating model. Behavioral Sciences, 13(5), 371. https://doi.org/10.3390/bs13050371
