ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 56 April 2026

 

Apakah Struktur Berpikir Bangsa Indonesia Perlu Direkonstruksi?

Oleh:

Meliza Rahmawati Putri & Arie Rihardini Sundari

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Pengantar

Merasa tidak berdaya dan pasrah atas apa yang menimpa (learned helplessness) sehingga bergantung pada faktor keberuntungan (lucky), diduga hasil desain sosial yang tidak disadari, yang pada akhirnya menjadi salah satu yang mendasari “SDM rendah” dewasa ini (Lihat Meinarno & Sundari, 2026). Berdasarkan World Talent Ranking 2025 yang diumumkan oleh International Institute for Management Development (IIMD) posisi Indonesia menurun tujuh peringkat dibandingkan tahun sebelumnya (kompas.com). Artinya daya saing talenta dan kesiapan ketrampilan tenaga kerja Indonesia kalah pada perbandingan 67 negara, jauh di bawah negara tetangga Malaysia dan Singapura.

Sejatinya, daya saing kerja akan meningkat jika individu memiliki paradigma ‘agile’ dan jati diri yang tangguh. Fleksibel memanfaatkan teknologi digital tanpa terjebak pada konten instan dengan pemuasan sesaat. Agar tidak dikendalikan oleh ‘norma sikap’, yang cenderung bias. Oleh karena perbandingan sosial yang disaksikan di media sosial, akan melahirkan ruminasi nyata yang mengarah pada identity distress (Papazova & Alexandrova-Karamanova, 2018; Yang dkk., 2020; Le Roux & Parry, 2022). Merombak paradigma ditawarkan sebagai alternatif memperkuat jati diri dari pengaruh kondisi sosial dan budaya dalam pembentukan identitas sosial (Putri & Sundari, 2026).

 

Penulisan artikel ini berjalan bersamaan sebuah hipotesis apakah bangsa Indonesia perlu merekonstuksi struktur berpikir? hal ini merujuk pada dasar pemikiran bahwa merekonstruksi bukan berarti menghapus pandangan kita terhadap sebuah sejarah, melainkan menata ulang cara kita memaknai pengalaman yang terjadi di masa lalu, dan mekanisme ini bekerja melalui kesadaran. Setiap kita perlu merenung, agar saat bangsa ini ingin memperlihatkan nilai yang dimiliki sejak lama, kita tidak lagi bergerak dalam bayang-bayang rasa inferior, lemah, dan memposisikan diri sebagai ‘tertinggal’. Dibutuhkan kesadaran dalam mempergunakan perbandingan sosial sebagai bahan introspeksi diri (Yang dkk., 2018). Kesadaran dapat terbentuk apabila kita memilih paradigma yang tepat. Artikel ini bermaksud menelaah hal-hal yang terkait dengan pembentukannya, bahkan sebelum masa kolonial penjajahan-pengendalian paksa pada bangsa Indonesia.

 

Peran Kognisi Sosial pada Trauma Kolonial di Masa Kontemporer

Fenomena perbandingan sosial baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di media sosial mengilustrasikan dasar yang oleh para Psikolog sosial disebut sebagai kognisi sosial (social cognition). Tujuannya untuk menggambarkan cara individu saat menginterpretasikan, menganalisis, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia sosial, juga tentang bagaimana kita berpikir mengenai orang lain. Kita semua dapat dengan mudahnya memproses informasi dari lingkungan sekitar kita, secara otomatis, tanpa usaha, dan diluar kehendak (Baron & Byrne, 2004). Maka hadirlah situasi seperti seseorang yang sering kali merasa perlu menyesuaikan diri agar tidak tertinggal, berbeda, atau merasa terasing dari lingkungan sosialnya, contoh FOMO (Fear of Missing Out). Sebuah perasaan yang muncul ketika kebutuhan ‘relate’ atau keterhubungan dengan dunia sosial yang tidak terpenuhi, takut dianggap tidak cukup modern  dan tidak sesuai standar yang entah siapa yang membuatnya.

Kondisi terasing dari lingkungan sosial, yang dituliskan Fanon dalam bukunya yang berjudul Black Skin White Mask (1952), merupakan salah satu gejala individu yang mengalami trauma kolonial, yaitu alienasi identitas. Hasil dari tatanan kolonial yang menekan proses pembentukan individu dan mendorong individu memperlihatkan citra diri yang penuh luka, secara pelan-pelan dapat menggeser keaslian diri karena dorongan untuk diterima dan dianggap selaras dengan orang lain. Kesedihan mendalam dan kehilangan serta ketidakberfungsian identitas sosial membentuk self-blame, konsep diri negatif dan perasaan direndahkan pada tingkat pribadi ataupun kolektif sehingga melipat ganda dampak trauma (Engelbrecht & Jobson, 2016).

 

Trauma kolonial yang diturunkan antar generasi akan menjadi skema diri. Diawali dari sejumlah memori kolektif berdasarkan berbagai informasi sebelumnya (prior knowledge), yang dapat berdampak pada jati diri kolektif (Putri & Sundari, 2026). Namun, bagaimana jika informasi yang kita dapatkan bahwa Indonesia adalah negara terjajah selama 350 tahun (walau fakta ini dipertanyakan oleh banyak pihak saat ini) dan sejarah pada masa kolonial hanya ditulis oleh para pemenang? Karena historiografi Indonesia masih kuat dengan fenomena people without history, yang menempatkan masyarakat sebagai subjek yang seolah tidak memiliki sejarahnya sendiri, di mana pengalaman hidup, suara, dan peran mereka seolah-olah tidak memiliki kisahnya sendiri dan tidak tercatat secara utuh (Fauzan dkk., 2022).

 

Psikologi-Kebudayaan dan Redefinisi Identitas Sosial

Gramsci (dalam Ashcroft dkk., 2017) memperkenalkan konsep subaltern yang merujuk pada kelompok masyarakat yang berada di kelas bawah dominasi kelas penguasa, seperti petani, buruh, pekerja, yang tidak memiliki akses terhadap kekuasaan, yang pada akhirnya sejarah resmi lebih banyak ditulis dari sudut pandang kelas dominan. Keberadaan dua kelas inilah yang mengakibatkan adanya kesenjangan pengetahuan kita akan sejarah Indonesia pada masa kolonial, menghadirkan sebuah pertanyaan, “Apa yang benar-benar terjadi di masa kolonial?” “Apakah identitas sosial kita sengaja dikonstruksi untuk mempertahankan feodalisme pada kelas sosial bawah yang jumlahnya dominan?”

Jika dipikir ulang, anggapan bahwa bangsa yang dijajah adalah bangsa yang lemah perlu dipertanyakan kembali. Bangsa Indonesia bukan bangsa yang miskin, tertinggal, atau tidak berdaya. Justru sebaliknya, Bangsa Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam, kekayaan local wisdom, jalur perdagangan, serta sistem sosial yang sudah terbangun sejak lama yang menjadi alasan utama wilayah ini menarik perhatian bangsa-bangsa lain. Penjajahan bukan terjadi karena kelemahan, melainkan karena kelimpahan yang ingin dikuasai oleh bangsa lain. Pada masanya, Nusantara telah memiliki peradaban maritim jauh sebelum bangsa Eropa menjelajah dan menguasai lautan dunia pada abad ke-16 dan 17. Nusantara memiliki Sriwijaya sebagai Kerajaan Maritim terbesar pertama pada abad ke-7 dan 8 yang dikenal dengan armada dagang dan armada perang yang banyak dan kuat (Budisantoso, 2006).

 

Tidak hanya hal yang wujud, kesusasteraan Nusantara juga maju. Perdana (2019) menuliskan bahwa Indonesia memiliki karya yang merupakan Memory of the World karena naskahnya diperkirakan dua kali lebih panjang dibandingkan naskah Mahabarata dan Ramayana, yaitu kitab La Galigo sebuah epik sastra Bugis yang diperkirakan tertulis pada abad ke-19. Dalam kitab La Galigo, perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki, bahkan jauh sebelum bangsa barat berbicara tentang feminisme. Perempuan tidak terbelenggu dalam rumah tangga yang secara ketertundukan dari laki-laki. Dapat diartikan bahwa pembahasan dan perilaku kesetaraan gender bukan berasal dan merupakan produk barat, namun bangsa kita, telah mengajarkannya sejak nenek moyang dahulu. Hanya saja, eksposure informasi pendidikan karakter tersebut terbatas.

Saat ini, kita perlu menyadari bahwa ada yang salah dari cara kita memandang sejarah, bahwa kolonialisme adalah praktik perampasan, bukan cermin dari rendahnya nilai dari sebuah bangsa. Kolonialisme tidak hanya merampas apa yang bangsa Indonesia miliki secara fisik, tetapi juga merusak cara pandang kita yang selalu berangkat dari rasa inferior. Karena trauma historis (termasuk trauma kolonial) itu seperti metafora yang menggambarkan emosi, pendapat, norma budaya, atau konflik tersembunyi yang memengaruhi perilaku individu dan kelompok secara tidak langsung membentuk identitas sosial.

Dalam buku The Post Human Knowledge karya Braidotti (2019), cara kita berpikir di zaman sekarang itu bukan lagi tentang mencari kenyamanan, namun bagaimana agar mampu menampung kompleksitas informasi yang kita dapatkan, sekaligus memahami hal-hal yang menyakitkan yang terjadi di masa lalu. Kita perlu memperluas kemampuan untuk membangun hubungan dengan orang lain, sejarah, lingkungan, dan teknologi. Pada akhirnya, interaksi tersebut menjadi daya dorong (drive) dalam berperilaku, bukan sekedar beradaptasi, dengan paradigma (agile mindset) yang terus bertumbuh. Individu tidak terjebak pada identitas yang kaku sebagai 'korban penjajahan' atau arsip luka masa lalu, tetapi memandang diri sebagai proses yang berkelanjutan.

 

Kesimpulan

Struktur berpikir kita merupakan interaksi antara input sensorik, pengetahuan masa lalu (yang juga dikenal sebagai skema), dan kemampuan memori kerja untuk mengolah informasi dan membuat keputusan. Artikel ini mengajak pembaca berefleksi, bagaimana kita mengelola paparan informasi yang kita terima sehari-hari, baik dalam kehidupan nyata ataupun maya, kemudian mendorong setiap kita untuk bijak saat menjadi pembelajar (long life learner) dalam pencarian makna hidup yang sesungguhnya.

 

 

Daftar Pustaka

Ashcroft, B., Griffiths, G., & Tiffin, H. (2017). Post-colonial studies: The Key Concepts (2nd ed.). Routledge.

Baron, R. A., & Byrne, D. (2004). Psikologi Sosial jilid 1 (Edisi ke-10) (Editor: Ratna Djuwita, Melania Meitty Parman, Dyah Yasmina & Lita P. Lunanta, Penerjemah; Wisnu C. Kristiaji & Ratri Medya, Editor). Jakarta: Erlangga.

Braidotti, R. (2019). Posthuman Knowledge. Polity Press.

Budisantoso. (2006). Sriwijaya Kerajaan Maritim Terbesar Pertama di Nusantara. Jurnal Ketahanan Nasional, Vol. 11 No.1 ISSN 2527-9688 (Online) ISSN 0853-9340 (Print) https://doi.org/10.22146/jkn.22105

Chaerunnisa., Rahman, N., Hasyim, M., (2023). Peran Perempuan Dalam Pengambilan Keputusan: Episode Kelahiran Sawérigading. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, Vol.2, No.7 , 12.

Engelbrecht, A., & Jobson, L. (2016). Exploring trauma associated appraisals in trauma survivors from collectivistic cultures. SpringerPlus5(1), 1565. https://doi.org/10.1186/s40064-016-3043-2

Fanon, F. (1952). Black Skin White Mask. London: by Pluto Press 345 Archway Road. London N6 5AA.

Fauzan, R., Maryuni, Y., Rustamana, A., Apriyani, P.,  (2022). Wacana Subaltern History Melalui Critical Pedagogy Dalam Pembelajaran Sejarah. Jurnal Ilmiah WUNY, 4, 15.

Le Roux, D. B., & Parry, D. A. (2022). Investigating predictors of online vigilance among university students. Information Technology and People35(1), 27–45. https://doi.org/10.1108/ITP-04-2020-0226

Meinarno, EA., Sundari, AR. (2026). Mungkinkah “SDM Rendah” Diproduksi Melalui Ketidaksadaran Sosial?. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 49 Januari 2026 ISSN 2477-1686 Published 01 January 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1957-mungkinkah-sdm-rendah-diproduksi-melalui-ketidaksadaran-sosial

Papazova, E., & Alexandrova-Karamanova, A. (2018). Dimensions of emerging adulthood and identity distress. Psychological Thought11(2), 122–137. https://doi.org/10.5964/psyct.v11i2.280

Perdana, A. (2019). Naskah La Galigo: Identitas Budaya Sulawesi Selatan di Museum La Galigo. Jurnal Pangadereng, Vol. 5 No. 1, Juni 2019 https://share.google/1alzbivFWFoMhawGN

Putri, MR., Sundari, AR. (2026). Penjajahan Masa Lampau (mungkin) yang Membuat Individu Indonesia Begini ? Buletin KPIN. Vol. 12 No. 51 Februari 2026 ISSN 2477-1686 Published 01 February 2026. http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1976-penjajahan-masa-lampau-mungkin-yang-membuat-individu-indonesia-begini

Yang, C. C., Holden, S. M., Carter, M. D. K., & Webb, J. J. (2018). Social media social comparison and identity distress at the college transition: A dual-path model. Journal of adolescence69, 92–102. https://doi.org/10.1016/j.adolescence.2018.09.007

Yang, C. Chen, Carter, M. D. K., Webb, J. J., & Holden, S. M. (2020). Developmentally salient psychosocial characteristics, rumination, and compulsive social media use during the transition to college. Addiction Research and Theory28(5), 433–442. https://doi.org/10.1080/16066359.2019.168213

https://www.kompas.com/tren/read/2025/09/10/163000465/world-talent-ranking-2025