ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 56 April 2026
Burnout Akademik: Malas atau Kelelahan Emosional?
Oleh:
Luvita Saron Febiola
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Mahasiswa sering kali diberi label “malas” ketika sering menunda tugas-tugas akademik hingga menumpuk, ataupun saat pengerjaan skripsi yang tak kunjung selesai. Di berbagai kampus di Indonesia, fenomena prokrastinasi dan penurunan motivasi belajar kerap dianggap sebagai persoalan disiplin pribadi. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut dapat berkaitan dengan burnout akademik (Farkhah dkk., 2022; Maulana & Syakarofath, 2025). Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa stres akademik berhubungan signifikan dengan meningkatnya burnout pada mahasiswa (Rabuka dkk., 2023). Hal ini menunjukkan bahwa “kemalasan” mungkin hanyalah gejala yang tampak di permukaan.
Yang perlu disadari, fenomena ini bukan hanya dihadapi oleh mahasiswa di Indonesia. Tinjauan literatur menunjukkan bahwa tekanan akademik kronis, tuntutan performa tinggi, serta kurangnya dukungan sosial menjadi faktor penting yang memicu burnout pada mahasiswa secara global (Chong et al., 2025). Penelitian lain juga melaporkan bahwa beban tugas yang berlebihan dan tekanan untuk berprestasi dapat meningkatkan munculnya gejala burnout (Liu et al., 2023). Dengan demikian, burnout akademik merupakan isu global yang berdampak luas terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Burnout akademik merupakan kondisi kelelahan psikologis yang dialami mahasiswa akibat tekanan akademik yang berlangsung secara kronis. Kondisi ini tidak hanya ditandai oleh rasa lelah secara emosional, tetapi juga oleh munculnya sikap menjauh dari aktivitas perkuliahan serta menurunnya keyakinan terhadap kemampuan diri dalam menyelesaikan tuntutan akademik (Liu et al., 2023; López-Gómez et al., 2025). Dengan kata lain, burnout akademik bukan sekadar rasa lelah setelah menghadapi ujian atau tugas berat, melainkan respons jangka panjang terhadap tuntutan yang terus-menerus tanpa pemulihan yang memadai.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa burnout akademik berkembang ketika stres akademik tidak terkelola secara efektif dalam waktu lama (Rabuka dkk., 2023; Yusriyyah dkk., 2023). Tekanan untuk mempertahankan nilai, memenuhi tenggat waktu, serta menyeimbangkan aktivitas akademik dan nonakademik dapat menguras sumber daya psikologis mahasiswa. Dalam kondisi tersebut, mahasiswa cenderung mengalami penurunan motivasi belajar (Maisyaroh & Kholisna, 2024) dan peningkatan prokrastinasi akademik (Maulana & Syakarofath, 2025). Bahkan, tinjauan penelitian internasional menunjukkan bahwa burnout akademik berkaitan dengan distres emosional serta penurunan performa akademik secara umum (Chong et al., 2025).
Penting untuk membedakan burnout akademik dari kemalasan. Kemalasan biasanya bersifat situasional dan berkaitan dengan kurangnya dorongan sesaat. Sebaliknya, burnout akademik merupakan respons psikologis terhadap stres kronis yang berkepanjangan (Liu et al., 2023). Mahasiswa yang mengalami burnout sering kali bukan tidak mau mengerjakan tugas, melainkan merasa tidak lagi memiliki energi psikologis untuk melakukannya. Faktor-faktor seperti tekanan akademik berkelanjutan, kurangnya dukungan sosial, serta rendahnya resiliensi memperbesar risiko terjadinya burnout akademik (Liu et al., 2023; Wardani dkk., 2024). Penelitian pada mahasiswa yang aktif berorganisasi menunjukkan bahwa resiliensi berperan sebagai faktor pelindung yang signifikan terhadap burnout (Wardani dkk., 2024).
Dampak burnout akademik tidak dapat dianggap remeh, terutama pada mahasiswa tingkat akhir. Burnout akademik dapat memperlambat penyelesaian tugas akhir serta meningkatkan distres psikologis (Farkhah dkk., 2022; Rosmawati & Merida, 2025). Jika tidak ditangani, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius. Melihat luasnya dampak tersebut, burnout akademik perlu dipahami sebagai persoalan psikologis, bukan sekadar kelemahan karakter. Edukasi mengenai manajemen stres, penguatan regulasi emosi, serta pengembangan resiliensi menjadi langkah preventif yang penting. Selain itu, lingkungan akademik yang suportif dan realistis dalam menetapkan tuntutan juga berperan besar dalam mencegah burnout akademik (Chong et al., 2025). Alih-alih melabeli mahasiswa sebagai malas, mungkin yang mereka alami adalah kelelahan emosional yang belum tertangani dengan baik.
Referensi:
Chong, L. Z., Foo, L. K., & Chua, S. L. (2025). Student burnout: A review on factors contributing to burnout across different student populations. Behavioral Sciences, 15(2), 170. https://doi.org/10.3390/bs15020170
Farkhah, S. B., Hasanah, M., & Amelasasih, P. (2022). Conseils : Jurnal bimbingan dan konseling islam pengaruh academic burnout terhadap prokrastinasi akademik dalam menyusun skripsi pada mahasiswa. Conseils: Jurnal Bimbingan Dan Konseling Islam, (1), 45–57. https://doi.org/10.13140/Rg.2.2.23164.64640
Liu, Z., Xie, Y., Sun, Z., Liu, D., Yin, H., & Shi, L. (2023). Factors associated with academic burnout and its prevalence among university students: A cross-sectional study. BMC Medical Education, 23(1), 317. https://doi.org/10.1186/s12909-023-04316-y
López-Gómez, E., González-Fernández, R., & Khampirat, B. (2025). Psychometric study of the Maslach Burnout Inventory-Student Survey on Thai university students. Scientific Reports, 15(1), 1802. https://doi.org/10.1038/s41598-024-84829-8
Maisyaroh, S., & Kholisna, T. (2024). Pengaruh academic burnout terhadap motivasi belajar. Psikodinamika : Jurnal Literasi Psikologi, 4(1), 1–14. https://doi.org/https://doi.org/10.36636/psikodinamika.v4i1.3936
Maulana, A., & Syakarofath, N. A. (2025). Peran academic burnout terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa Kota Malang. Jurnal Integrasi Riset Psikologi, 3(2), 21–34. https://doi.org/10.26486/intensi.v3i2.4593
Rabuka, M. C., Latuheru, G., & Taihuttu, Y. (2023). Hubungan stres akademik dengan academic burnout pada mahasiswa semester pertama tahun 2022 di Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Ambon. Jurnal Psikologi Tabularasa, 18(2), 150–158. https://doi.org/10.26905/jpt.v18i2.11115
Rosmawati, R., & Merida, S. C. (2025). Academic burnout pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Esa Unggul. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(2), 16927–16933. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/jptam.v9i2.28507
Wardani, F. P., Suroso, & Arifiana, I. Y. (2024). Academic burnout pada mahasiswa yang aktif berorganisasi: Bagaimana peran resiliensi? Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia, 2(4), 110–118. https://doi.org/https://doi.org/10.30996/jiwa.v2i04.12548
Yusriyyah, S., Nugraha, D., & Jundiah, S. (2023). Hubungan stres akademik dengan academic burnout pada mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan Universitas Bhakti Kencana. Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences, 4(1), 25. https://doi.org/https://doi.org/10.37287/ijnhs.v4i1.2141
