ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 56 April 2026

 

Personality Factor, Kunci Kehidupan Pernikahan Yang Stabil

Oleh:

Kurniawati Dwi Manur

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara, Medan

 

Pernikahan merupakan komitmen dua individu untuk membangun kehidupan bersama dan membentuk keluarga yang saling memberikan dukungan emosional serta sosial. Oleh karena itu, pernikahan tidak hanya dipahami sebagai ikatan formal, tetapi juga sebagai dasar terciptanya hubungan keluarga yang harmonis (Novianti et al., 2025). Pernikahan di Indonesia masih erat kaitannya dengan adat dan budaya.

Pernikahan dalam masyarakat Indonesia bukan sekadar ikatan hukum legal antara dua individu, melainkan sebuah institusi sosial-kurtural yang sarat makna simbolik dan nilai-nilai luhur (Nurlita ’Aina et al., 2025). Meskipun menurut data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan tren pernikahan di Indonesia mengalami penurunan selama satu dekade terakhir (Arieza, 2024), namun pernikahan tetap menjadi hal yang bisa digunakan untuk melestarikan adat dan budaya sebagai bentuk kekhasan Indonesia.

Berdasarkan data global World Population Review menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-8 negara dengan tingkat perceraian terendah di dunia (Dinisari, 2025). Temuan ini mengindikasikan bahwa pernikahan di Indonesia relatif stabil secara demografis, ditandai dengan rendahnya angka pembubaran pernikahan dibandingkan banyak negara lain. Secara struktural, rendahnya tingkat perceraian dapat dipahami sebagai indikator keberlangsungan pernikahan dalam jangka panjang.

Namun, stabilitas demografis tersebut perlu dipahami melalui dimensi psikologis dan relasional yang lebih mendalam. Penelitian yang dilakukan oleh Lestari & Suryanto (2025) menunjukkan bahwa pernikahan dapat bertahan lebih dari 10 tahun ketika pasangan memiliki komunikasi interpersonal yang baik dan efektif. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Izzah (2019) yang menyatakan bahwa komunikasi merupakan aspek paling penting dalam hubungan pernikahan, termasuk kecermatan dalam memilih kata dan cara menyampaikan pesan kepada pasangan. Artinya, kualitas interaksi verbal dan emosional menjadi fondasi dalam menjaga kedekatan serta meminimalkan konflik yang destruktif dalam pernikahan.

Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Suhaimi & Evadianti (2021) menegaskan bahwa komunikasi yang bersifat empatik, terbuka, saling mendukung, dan saling menghargai berkontribusi terhadap terciptanya keharmonisan dalam pernikahan. Pola komunikasi yang demikian tidak hanya memperkuat ikatan emosional, tetapi juga meningkatkan kemampuan pasangan dalam menyelesaikan konflik secara konstruktif.

Dengan demikian, rendahnya tingkat perceraian di Indonesia dapat dipahami bukan hanya sebagai fenomena struktural atau normatif, tetapi juga berpotensi berkaitan dengan kualitas komunikasi dalam relasi suami istri. Data demografis menunjukkan stabilitas secara makro, sementara penelitian psikologis dan komunikasi interpersonal menjelaskan mekanisme mikro yang memungkinkan stabilitas tersebut terjadi. Berdasarkan integrasi data-data tersebut, komunikasi dapat dikategorikan sebagai salah satu alasan utama kestabilan pernikahan, karena melalui komunikasi yang efektif pasangan mampu membangun kelekatan, mengelola konflik, serta mempertahankan komitmen jangka panjang.

Dalam melakukan komunikasi, individu dipengaruhi oleh latar belakang lingkungan dan perasaan. Namun disebutkan dalam penelitian oleh Kinanti & Hendrati (2013), bahwa di dalam setiap individu ada karakteristik yang relatif menetap, bertahan, dan mempengaruhi penyesuaian diri individu terhadap lingkungan kepribadian. Kepribadian individu yang sangat kompleks dapat dirangkum ke dalam Teori Big Five personality yang dipopulerkan oleh Lewis Goldberg pada 1981 ke dalam lima ciri kepribadian yang disingkat OCEAN, yaitu Opennes, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, dan Neuroticism. Aspek komunikasi interpersonal menjadi representasi dari dimensi Extraversion. Individu yang banyak bicara, mudah bergaul, suka keramaian, dan penuh energi kemungkinan besar ada di dimensi Extraversion (Eysenck & Eysenck, n.d.).

Kinanti & Hendrati (2013) menyebutkan bahwa individu yang memiliki tingkat Extraversion yang tinggi maka akan semakin tinggi juga komunikasi interpersonalnya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hassan et al., (2019), kepribadian memiliki pengaruh signifikan terhadap kompetensi komunikasi individu. Menurut Amiri et al., (2011) kepribadian yang dimiliki individu akan memengaruhi gaya komunikasinya, dan gaya komunikasi itu memengaruhi kualitas hubungan pada pernikahan.

Narasi yang disajikan mengindikasikan secara kuat bahwa pernikahan yang stabil dipengaruhi oleh komunikasi interpersonal yang dilakukan pasangan. Komunikasi interpersonal merupakan salah satu bagian dari personality individu. Maka dapat disimpulkan bahwa personality faktor menjadi alasan terciptanya kehidupan pernikahan yang harmonis. Meski komunikasi tidak bisa menghilangkan konflik dalam kehidupan pernikahan, namun komunikasi dengan gaya yang tepat, intonasi yang sesuai, dan nada yang lembut memainkan peran penting dalam menghadapi tantangan dalam rumah tangga.

Komunikasi yang empatik juga dapat menghadirkan rasa aman bagi pasangan untuk mengungkapkan emosinya, dengan begitu kepercayaan satu sama lain akan terbangun dan menambah keterikatan emosional dalam pernikahan. Ini dapat menciptakan keterbukaan dalam pernikahan. Hal ini penting untuk bertahan dalam komitmen pernikahan.

Referensi:

Amiri, M., Farhoodi, F., Abdolvand, N., & Bidakhavidi, A. R. (2011). A study of the relationship between Big-five personality traits and communication styles with marital satisfaction of married students majoring in public universities of Tehran. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 30, 685–689. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2011.10.132

Arieza, U. (2024). Angka Pernikahan di Indonesia Terus Menurun. Kompas. https://lifestyle.kompas.com/read/2024/03/07/214736720/angka-pernikahan-di-indonesia-terus-menurun

Dinisari, M. C. (2025). Indonesia Masuk 10 Besar Negara Paling Rendah Angka Kasus Perceraian. Bisnis. https://lifestyle.bisnis.com/read/20250506/54/1874828/indonesia-masuk-10-besar-negara-paling-rendah-angka-kasus-perceraian

Eysenck, H. J., & Eysenck, S. B. G. (n.d.). Personality Structure and Measurement (Reprint ed). Routledge (imprint of Taylor & Francis Group).

Hassan, N., Sumardi, N. A., & Aziz, R. A. (2019). The Influence of Personality Traits on Communication Competence. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 9(13), 493–505. https://doi.org/10.6007/ijarbss/v9-i13/6999

Izzah, I. (2019). Kebahagiaan Pada Pasangan Suami Istri Dengan Usia Pernikahan Di Atas 50 Tahun. Jurnal Psikologi Integratif, 7(1), 62–76. https://doi.org/10.14421/jpsi.v7i1.1673

Kinanti, J. A., & Hendrati, F. (2013). Hubungan Tipe Kepribadian Dengan Komunikasi Interpersonal Menantu Perempuan Terhadap Ibu Mertua. Agustus, 8(2), 671–680.

Lestari, E., & Suryanto. (2025). Pola Komunikasi dalam Mempertahankan Keharmonisan Rumah Tangga pada Pasangan Suami Istri Involuntary Childlessness. Cakrawala, 19(1), 115–130. https://doi.org/10.32781/cakrawala.v19i1.757

Novianti, L. E., Purba, F. D., Puspitasari, S. V., Nadirah, A. A., Purba, I. N. B., Karremans, J. C., & Agustiani, H. (2025). The meaning of marriage, the meaning of family, and the function of family for Indonesian married people. BMC Psychology, 13(1). https://doi.org/10.1186/s40359-025-03670-4

Nurlita ’Aina, D., Damayanti, E., & Putra, D. A. A. (2025). Perkawinan dalam Perspektif Hukum Adat Indonesia : Ragam Sistem , Tradisi , dan Tantangan Modern. Tarunalaw: Journal of Law and Syariah, 03(02), 99–116.

Suhaimi, & Evadianti, Y. (2021). Pola Komunikasi Pasangan Menikah Di Usia Dini. Journal Media Public Relations, 1(2), 31–37. https://doi.org/10.37090/jmp.v1i2.525