ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 56 April 2026

 

Self-Esteem Anak: Antara Pujian, Dukungan, dan Batasan

Oleh:

Krishervina Rani Lidiawati

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Fear of Missing Out atau FOMO, pernahkah anda mendengarnya? Kondisi ini terjadi ketika seseorang merasa cemas atau khawatir melewatkan pengalaman, acara, atau aktivitas yang sedang terjadi di sekitarnya. Mengapa saat ini anak-anak, remaja bahkan orang dewasa memiliki ketakutan ini? Apakah hanya dikarenakan sosial media dan kemajuan teknologi? Saat ini juga banyak anak cenderung memiliki self-esteem yang rendah dan erat kaitannya dengan penggunaan media sosial yang berlebihan. Mereka mudah membandingkan diri sehingga cenderung memengaruhi evaluasi diri yang dapat membentuk self-esteem. Adapun self-esteem dipahami sebagai evaluasi keseluruhan individu terhadap nilai dirinya sendiri, yang mencakup dimensi afektif dan kognitif

 

Pada anak usia 6–12 tahun, harga diri mulai terbentuk melalui pengalaman sosial berulang, hal ini dibentuk melalui interaksi dan relasi dengan lingkungan terdekat seperti orang tua dan lingkungan di sekolah. Krauss et al. (2020) melalui studi longitudinal empat gelombang pada 674 keluarga menemukan bahwa kehangatan orang tua, keterlibatan dalam pendidikan, dan kondisi ekonomi keluarga merupakan prediktor signifikan perkembangan self-esteem anak. Temuan ini menegaskan bahwa self-esteem bukan sekadar sifat bawaan, melainkan konstruk yang dapat ditumbuh kembangkan dimulai dari keluarga.

Dari perspektif Self-Determination Theory (SDT), self-esteem yang sehat berkembang ketika tiga kebutuhan psikologis dasar anak terpenuhi: otonomi, kompetensi, dan keterkaitan relasional. Ketiga kebutuhan ini dipengaruhi langsung oleh cara orang tua dan pendidik memberikan umpan balik, dukungan, serta batas-batas perilaku yang jelas (Gao et al., 2022).

Pujian sederhana berdampak pada self-esteem anak

Penelitian Brummelman et al. (2022) menggunakan eksperimen realitas virtual pada 202 anak usia 8–12 tahun membedakan antara pujian sederhana (modest praise: "Kamu melakukannya dengan baik!") dan pujian berlebihan ("Kamu luar biasa sekali!", ”Wah pintar sekali”). Hasilnya menunjukkan bahwa pujian sederhana mendorong eksplorasi dan pengambilan risiko pada anak dengan self-esteem rendah, sedangkan pujian berlebihan justru menciptakan kecemasan performa karena standar yang tidak realistis. Hal ini juga menunjukkan bahwa kita perlu menghargai usaha dan proses bukan hanya sekedar ”asal” dalam memuji anak.

Robichaud et al. (2022) dalam studi multifase dengan 177 pasangan ibu-anak membedakan pujian deskriptif (misalnya: "Kamu mewarnai setiap bagiannya dengan sangat hati-hati") dari pujian non-spesifik. Temuan mereka menunjukkan bahwa pujian deskriptif secara signifikan memprediksi self-esteem anak, terutama ketika dikombinasikan dengan pujian non-spesifik dalam jumlah sedang. Implikasinya, orang tua perlu memastikan pujian mereka mencerminkan pengamatan nyata atas perilaku atau proses, bukan sekadar evaluasi global atas kemampuan anak. Misalnya, ”wah pintarnya anak ibu”, kata pintar terlalu labeling dan kemampuan global. Bagaimana jika ia dikemudian hari tidak memiliki kemampuan atau pengetahuan itu? Oleh karena itu, kita perlu memuji anak secara spesifik pada tugas yang sedang dilakukan, terutama pada usaha dan proses seperti ”kamu berusaha keras ya untuk mengerjakan tugas ini”. Bahkan jika perlu spesifik dan realistis, misalnya dia mengerjakan proyek dan tidak terlalu bagus maka kita tetap dapat memberikan apresiasi seperti; ” Ibu lihat kamu sabar saat menyelesaikan tugas ini.” Hal ini membantu anak juga memahami bahwa apresiasi tetap dapat diberikan meski hasil belum maksimal atau bahkan gagal sehingga dapat mengembangkan self-esteem yang sehat.

Dukungan Emosional sebagai Fondasi Relasional

Dukungan orang tua yang responsif merupakan variabel paling konsisten dalam prediksi self-esteem anak. Dalam replikasi longitudinal Orth et al. (2024) menggunakan data dari Proyek Iowa Youth and Families dengan 451 keluarga selama empat gelombang, kehangatan orang tua (a terbukti menjadi prediktor signifikan self-esteem anak, bahkan setelah mengontrol variabel lingkungan lain seperti kondisi ekonomi dan kualitas hubungan saudara kandung.

Keterlibatan emosional orang tua tidak sekadar bersifat verbal, tetapi juga mencakup validasi perasaan, kehadiran fisik, dan respons yang konsisten terhadap kebutuhan anak. Anak yang merasa diterima secara penuh oleh orang tua akan cenderung memiliki citra diri positif yang menjadi sistem pertahanan psikologis dalam menghadapi kegagalan.

Batasan

Salah satu temuan paling konsisten dalam psikologi perkembangan adalah bahwa batasan yang jelas dan konsisten justru mendukung, bukan menghambat, perkembangan self-esteem anak. Kılıçkaya et al. (2023) dalam tinjauan literatur sistematis mencatat bahwa pola asuh otoritatif yang menggabungkan responsivitas tinggi dengan ekspektasi yang tegas, secara konsisten menghasilkan anak dengan self-esteem lebih tinggi, kompetensi akademik lebih baik, dan masalah perilaku lebih rendah dibandingkan pola asuh lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa batasan diperlukan agar anak-anak mampu memahami batas perilaku yang berlaku beserta alasan di baliknya. Selain itu, mereka mengembangkan kemampuan mengelola impuls dan menunda kepuasan. Gao et al. (2022) menambahkan bahwa pola asuh otoritatif yang menerapkan disiplin melalui penjelasan rasional sehingga mendorong internalisasi nilai dan peningkatan self-esteem. Sebaliknya, pola asuh permisif tanpa struktur yang jelas cenderung menghasilkan anak yang impulsif dan memiliki self-esteem yang fragil karena tidak terlatih menghadapi hambatan.

Kesimpulan

Bukti empiris terkini secara konsisten menunjukkan bahwa self-esteem anak yang sehat tumbuh dari tiga kondisi yang saling melengkapi: pujian yang spesifik dan berbasis proses, dukungan emosional yang hangat dan responsif, serta batasan yang jelas dan diterapkan dengan penjelasan yang bermakna. Orang tua dan pendidik perlu memahami bahwa ketiga elemen ini bukan pilihan alternatif, melainkan pengasuhan yang bekerja secara sinergis. Pujian yang tepat dapat membangun rasa mampu. Dukungan membantu anak merasa diterima dan Batasan membantu anak memiliki rasa aman serta belajar bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan di lingkungan sosial. Oleh karena itu, maka orang tua dan tenaga pendidik dapat bekerjasama dalam membangun ketahanan mental anak melalui apresiasi yang tepat dan sesuai pada usaha anak.

Tujuan pengasuhan bukan membesarkan anak yang selalu merasa hebat, tetapi anak yang mampu mengenal, menghargai dirinya dan tetap merasa berharga meskipun ia gagal sehingga dapat bertumbuh secara utuh, bermakna, dan sejahtera secara psikologis.

 

Referensi

Brummelman, E., Grapsas, S., & van der Kooij, K. (2022). Parental praise and children's exploration: A virtual reality experiment. Scientific Reports, 12, Article 4967. https://doi.org/10.1038/s41598-022-08226-9

Gao, D., Liu, J., Bullock, A., Li, D., & Chen, X. (2022). Transactional models linking maternal authoritative parenting, child self-esteem, and approach coping strategies. Journal of Applied Developmental Psychology, 81, Article 101428. https://doi.org/10.1016/j.appdev.2022.101428

Kılıçkaya, A., Demir, T., & Uysal, R. (2023). The influence of childhood parenting style on self in the period of youth: Analysis of chain mediation effect. Frontiers in Psychology, 14, Article 1621545. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1621545

Krauss, S., Orth, U., & Robins, R. W. (2020). Family environment and self-esteem development: A longitudinal study from age 10 to 16. Journal of Personality and Social Psychology, 119(2), 457–478. https://doi.org/10.1037/pspp0000263

Orth, U., Meier, L. L., Bühler, J. L., Dapp, L. C., Krauss, S., Messerli, D., & Robins, R. W. (2024). Family environment and self-esteem development in adolescence: A replication and extension. Journal of Research in Personality, 111, Article 104500. https://doi.org/10.1016/j.jrp.2024.104500

Robichaud, J.-M., Grenier, F., Joussemet, M., & Mageau, G. A. (2022). The role of descriptive and non-specific outcome-oriented praise in child self-esteem: A multiphase, multimethod investigation. Journal of Child and Family Studies, 31(9), 2468–2484. https://doi.org/10.1007/s10826-022-02449-0