ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 61 Juli 2026
Dari Dosen ke Fakultas: BKD sebagai Peta Kolektif Kepakaran
Oleh:
Christiany Suwartono1 dan Eko A Meinarno2
1Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta;
2Universitas Indonesia, Depok
Pengantar
Setelah selesai pemeriksaan BKD, apa dampaknya? Hal yang jelas adalah honor serdos cair. Secara individual, jelas hal ini menguntungkan, tidak menjadi masalah. Hal yang perlu dikaji, bagaimana dengan data pemeriksaan yang dilakukan oleh asesor? Apakah data itu sekedar pemeriksaan berkas (memenuhi/tidak memenuhi), atau dengan data itu juga fakultas dapat melihat hal yang luas dan mendalam?
Data dan olahan data pemeriksaan asesorlah yang akan kita bincangkan dalam artikel ini. Jika hanya dianggap berkas, maka hanya menjadi gunungan berkas saja (sama dengan masa lalu, bedanya sekarang menjadi tumpukan digital). Atau jika bisakah diupayakan menjadi modal pembangunan fakultas? Dengan demikian bagaimana data BKD dosen dapat digunakan fakultas untuk memetakan kekuatan bidang, riset unggulan, dan kebutuhan pengembangan SDM-nya (Nusantari, 2022).
BKD sebagai Apa?
Laporan Beban Kerja Dosen (BKD) setidaknya dapat kita lihat dalam kategori fungsi bagi diri, dan bagi institusi. Bagi diri, BKD adalah ruang untuk menampilkan kemampuan profesionalnya (Nusantari, 2022; Suwartono & Meinarno, 2025a). Bagi institusi, BKD tidak hanya berfungsi sebagai instrumen administratif, tetapi juga sebagai sumber data strategis dalam tata kelola perguruan tinggi (Suwartono & Meinarno, 2025b). BKD merekam secara sistematis kinerja dosen dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan penunjang yang secara langsung mencerminkan kompetensi dan orientasi keilmuan dosen. Regulasi nasional menegaskan bahwa beban kerja dosen harus dilaksanakan selaras dengan bidang keahlian dan jabatan fungsional, sehingga data BKD memiliki validitas substantif untuk dianalisis lebih lanjut sebagai representasi kepakaran akademik (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi [Ditjen Dikti], 2021; Suwartono & Meinarno, 2025a).
Pengelola Kampus
Dalam perspektif manajemen pendidikan tinggi (fakultas atau universitas) berbasis bukti, data BKD perlu ditransformasikan dari sekadar laporan individual menjadi pengetahuan institusional. Pengolahan BKD sebagai basis pemetaan kepakaran dosen memungkinkan perguruan tinggi memperoleh gambaran objektif mengenai distribusi keahlian akademik untuk mendukung perencanaan strategis. Praktik ini sejalan dengan prinsip governance berbasis data, yang memosisikan analisis beban kerja dosen sebagai modal peningkatan transparansi, keadilan distribusi tugas, serta efektivitas pengambilan keputusan akademik (O’Meara et al., 2022).
Membangun Budaya Kolegialitas
Ingat bahwa asesor dan asesi adalah sesama akademisi, sekaligus aset fakultas. Hubungan ini lebih tepat dipandang sebagai mitra yang saling menopang. Asesi bukan saingan dan bukan bawahan dari asesor. Keberhasilan asesi adalah keberhasilan asesor, sebaliknya kegagalan asesi adalah kegagalan asesor dan pengelola fakultas. Ini yang dapat kita kategoriakan sebagai semangat kolegialitas.
Hubungan yang positif ini memungkinkan dewan (kumpulan) asesor memberi masukan/umpan balik bagi pengelola kampus tentang realita dosen yang ada (Suwartono & Meinarno, 2025b). Masukan nyata inilah menautkan BKD yang awalnya bersifat individual, dengan akreditasi dan capaian strategis universitas, setidaknya fakultas.
Pemetaan Kepakaran
Pemetaan kepakaran dosen yang bersumber dari data BKD berperan penting dalam pengembangan profesional dan karier dosen. Kajian tentang kebijakan Merdeka Belajar–Kampus Merdeka/MBKM (walau sudah tidak berlaku lagi) menunjukkan bahwa pengelolaan beban kerja dosen yang terstruktur dan berbasis data berkontribusi pada penguatan profesionalisme serta relevansi peran dosen dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi; meski dengan catatan, keberhasilannya bergantung pada perbaikan faktor-faktor struktural yang lebih luas, seperti tata kelola sumber daya manusia, pendanaan riset, dan penyederhanaan birokrasi akademik (Al Banna, Rakhmani, & Sukmajati, 2022). Selain itu, studi literatur sistematis mengungkapkan bahwa pemetaan kepakaran dosen merupakan prasyarat penting bagi kebijakan pengembangan sumber daya manusia akademik yang berkelanjutan di perguruan tinggi karena menyediakan dasar berbasis data untuk perencanaan karier, pengembangan kompetensi, dan penyelarasan kebutuhan institusi dengan potensi dosen (Novebri et al., 2025). Sebagai contoh, ketika dewan asesor menemukenali ada dosen-dosen tertentu suka menulis dengan bidang yang sejalan, maka ini menjadi perhatian untuk dijadikan satu grup. Ada pula beberapa dosen yang rajin melakukan pengabdian kepada masyarakat. Jika isu mereka beririsan, maka mereka dapat dijadikan satu golongan bidang pengabdian kepada masyarakat dan mereka dapat menjadi ahli untuk berbagai bidang pelatihan misalnya. Atau ada dua tiga dosen yang meneliti area yang sama, misalnya motivasi, maka mereka dapat menjadi satu kelompok kajian.
Terwujudnya peta kepakaran, serta tervisualisasi, dapat membantu fakultas (selanjutnya ke level universitas) untuk mengerahkan daya upayanya secara maksimal. Pengelola dapat memastikan kerja sama antarindividu dosen/peneliti di kampusnya. Mengurangi potensi konflik perbedaan kepentingan, pengelola menjalankan kampus seperti konduktor orkestra, bukan pemadam kebakaran (terlebih saat akreditasi). Bukan tidak mungkin kampus juga perlahan memfasilitasi kebutuhan para dosennya agar kinerjanya semakin meningkat. Hal yang paling optimistis adalah visi kampus terbentuk bukan sekedar visi pimpinan saja, tapi berdasar realita kekuatan yang ada.
Berbagai Metode Pemetaan
Sebagai contoh sederhana, tulisan Meinarno et al. (2017) dengan judul “Kajian Strategis Buletin untuk Pembangunan Kepakaran” mungkin dapat menjadi dasar pikir pengelola kampus untuk membuat pemetaan kepakaran. Dengan kesederhanaan pikir itu, bahkan bisa dilanjutkan dengan langkah internasionalisasi pemikiran, karena data bisa dilihat keselarasan dengan organisasi psikologi internasional.
Melangkah lebih jauh, Firdaus (2020) melakukan pemetaan kepakaran melalui jurnal yangdipublikasi dosen berbasis website. Menggunakan teknologi komputer dan perhitungan tertentu, ia berhasil membuat pemetaan pakar dengan kefektifan mencapai 66,67%. Riset lain tentang penggalian data publikasi yang dijadikan pemetaan pakar dilakukan oleh Ilhamsyah, Subroto, dan Haviana (2023). Dengan menggunakan kata atau frasa kunci terhadap Scopus dan SINTA mereka mendapat kepakaran dosen Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) secara spesifik.
Penutup
Pengolahan laporan BKD menjadi data pemetaan kepakaran dosen merupakan strategi kunci dalam memperkuat sinergi antara akuntabilitas kinerja individu dan perencanaan institusional. Perguruan tinggi dapat memanfaatkan peta kepakaran untuk meningkatkan mutu tridarma, menyusun kebijakan akademik berbasis bukti, serta merespons dinamika keilmuan dan tuntutan eksternal. Pendekatan ini juga selaras dengan praktik internasional yang menempatkan analisis beban kerja dan kompetensi dosen sebagai fondasi peningkatan kualitas dan keberlanjutan pendidikan tinggi (O’Meara et al., 2022; Nusantari, 2022; Rahmatika et al., 2025).
Referensi
Al Banna, S., Rakhmani, I., & Sukmajati, D. C. (2022). Membangun keahlian dengan profesionalisme di kampus merdeka: Kajian mengenai beban kerja dosen di Indonesia (Kilas Kebijakan PSPK). Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan. PSPK | Pusat Studi Pendidikan Dan Kebijakan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (2021). Pedoman operasional beban kerja dosen. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Firdaus, A. F. F. (2020). Pemetaan Kepakaran Melalui Jurnal yang Telah Dipublikasikan Dengan Metode Association Rules Dan Pendekatan Algoritma Brute-Force. JUPITER: Jurnal Penelitian Ilmu dan Teknologi Komputer, 12(2), 47-55.
Ilhamsyah, M. R., Subroto, I. M. I., Haviana, S. F. C. Identifikasi Kepakaran Dosen Berdasarkan Rekam Jejak Publikasi Terindeks Sinta Menggunakan Yet Another Keyword Extractor (YAKE). Jurnal TRANSISTOR Elektro dan Informatika. Vol 5, No 3 (2023). https://jurnal.unissula.ac.id/index.php/EI/article/view/34236/9726. Diakses medio April 2026.
Meinarno, E. A., Pratiwi, I. W., Rachmawati, S. Puspitasari, D. N. (2017). Kajian Strategis Buletin untuk Pembangunan Kepakaran. Buletin KPIN. Vol.3. No.3, Maret 2017. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/160-kajian-strategis-buletin-untuk-pembangunan-kepakaran. Diakses April 2026.
Nusantari, D. O. (2022, August). Sertifikasi Dosen, Sebuah Amanat Untuk Kemajuan Pendidikan Bangsa. In SINASIS (Seminar Nasional Sains) (Vol. 3, No. 1).
Novebri, Komariah, A., Kurniady, D. A., Suryana, A., & Samosir, H. (2025). Visionary leadership for lecturer career development through expertise mapping in higher education: A systematic literature review. In F. Aryani et al. (Eds.), Proceedings of the 1st International Conference on Educational Science and Teacher Education (ICESTE 2025) (Vol. 960, pp. 1084–1105). Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-489-1_87
O’Meara, K., Culpepper, D., Misra, J., & Jaeger, A. (2022). Equity-minded faculty workloads: What we can and should do now. American Council on Education. Equity-Minded-Faculty-Workloads.pdf
Rahmatika, A. F., Indiyati, D., & Alamsyah, A. (2025). Machine learning for faculty competency mapping in higher education. TEM Journal, 14(4), 3728–3736. https://doi.org/10.18421/TEM144-76
Suwartono, C., Meinarno, E. A. (2025a). BKD: Antara Kewajiban dan Makna Akademik. Buletin KPIN. Vol. 11 No. 45 November 2025. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1917-bkd-antara-kewajiban-dan-makna-akademik. Diakses medio April 2026.
Suwartono, C., Meinarno, E. A. (2025b). Di Balik Angka dan Borang: BKD sebagai Bahasa Akademik. Buletin KPIN. Vol. 11 No. 48 Desember 2025. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1946-di-balik-angka-dan-borang-bkd-sebagai-bahasa-akademik. Diakses medio April 2026.
