ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 52 Februari 2026
Tradisi Angpao sebagai Ikatan Sosial pada Masyarakat Tionghoa
Oleh:
Shelby Liana Cungga, Khairi Azmi, Nur Fitriani Ayu Putri, Anggi Livia Nur Rahman Nasution, Rosialis, Ridhoi Meilona Purba
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Pendahuluan
Setiap budaya memiliki cara unik untuk merayakan kebersamaan. Dalam masyarakat Tionghoa, momen Tahun Baru Imlek selalu identik dengan amplop merah: angpao. Meski sering dipandang sederhana dan sekadar berbagi rezeki, tradisi ini ternyata menyimpan nilai psikologis yang lebih mendalam. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, angpao hadir sebagai pengingat bahwa kebersamaan adalah identitas yang tidak boleh tergerus oleh modernisasi. Artikel ini bertujuan menjelaskan asal usul angpao, perannya dalam menyatukan generasi, nilai sosial budayanya, pergeseran praktiknya di era digital, serta aturan tidak tertulis yang mengatur pemberiannya.
Asal Usul dan Makna Awal Angpao
Angpao merupakan hadiah berbentuk uang yang dibungkus dalam sebuah amplop merah yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya atau orang yang berkunjung kepada keluarga yang merayakan Imlek. Menurut Tazkiyah (2022) ,istilah angpao berasal dari bahasa hokkien yaitu ang yang berarti merah dan pao berarti bungkusan atau amplop. Sementara itu, dalam bahasa mandarin, angpao disebut hongbao.
Tradisi memberikan uang kepada anak-anak selama perayaan menjadi tradisi yang sudah ada sejak Dinasti Song dan Yuan (960–1368). Pada Dinasti Ming dan Qing (1368–1911/12), tradisi ini terus berkembang dengan pemberian uang kepada anak-anak yang diikat dengan benang merah. Konsep angpao modern muncul di Cina pada awal abad ke-20. Para tetua akan memberikan uang yang dibungkus kertas merah kepada anak-anak selama Tahun Baru Imlek sebagai jimat melawan roh jahat, yang dikenal sebagai sui (祟). Di Cina, warna merah menyala melambangkan keberuntungan dan kegembiraan. Angpao diberikan pada berbagai perayaan dan merupakan ciri khas Tahun Baru Imlek.
Tradisi yang Menyatukan Generasi
Bagi masyarakat Tionghoa, angpao bukan sekadar amplop merah berisi uang, tetapi sebuah simbol yang menghubungkan generasi tua dan muda dalam satu ruang kebersamaan. Pada perayaan Imlek, momen pemberian angpao menjadi kesempatan khusus bagi keluarga untuk saling berinteraksi dalam suasana akrab. Generasi tua menunjukkan perhatian dan kasih sayang melalui pemberian angpao, sementara generasi muda membalasnya dengan sikap hormat dan penghargaan. Selain itu, pemberian angpao juga menjadi simbol alih keberuntungan, berkah, dan harapan dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda (Sharenlie et al,2023). Pertukaran simbolis ini menciptakan hubungan timbal balik yang menjaga kehangatan dan kedekatan keluarga. Ritual budaya seperti pemberian angpao berperan penting dalam menjaga kontinuitas budaya, yaitu keberlanjutan nilai dan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Keluarga Tionghoa di Indonesia memaknai angpao sebagai wujud kepedulian dan cara mempertahankan ikatan kekeluargaan, terutama ketika anggota keluarga tinggal terpisah akibat pekerjaan atau pendidikan. Ketika anggota keluarga berkumpul, pemberian angpao sering kali menjadi titik awal percakapan, berbagi cerita, dan memperbarui hubungan yang mungkin renggang karena kesibukan sehari-hari. Dengan demikian, angpao tidak hanya hadir sebagai simbol keberuntungan, tetapi juga sebagai sarana mempertemukan kembali generasi yang berbeda dalam satu momen kebersamaan.
Makna Sosial dan Nilai Budaya di Balik Angpao
Tradisi angpao tidak hanya identik dengan keceriaan dan berbagi rezeki, tetapi juga mengandung nilai etika yang membuatnya semakin bermakna. Pemberian angpao sebaiknya dilakukan dengan tulus, tanpa membandingkan jumlah atau nilai dengan orang lain agar maknanya tetap menjadi ungkapan kasih sayang, bukan ajang pamer. Sebaliknya, penerima pun diharapkan menerimanya dengan sopan dan mengucapkan terima kasih sebagai bentuk penghormatan. Nilai-nilai seperti kerendahan hati, rasa hormat, dan kepekaan sosial inilah yang mencerminkan esensi Lebaran. Lebaran tanpa angpao seakan kehilangan kehangatan yang khas, karena tradisi ini menghadirkan momen kebersamaan di mana keluarga saling berkumpul, berbagi cerita, dan mempererat silaturahmi. Bagi anak-anak, ini menjadi pelajaran berharga tentang kebersamaan dan rasa syukur, sementara bagi orang dewasa, menjadi kesempatan untuk menebarkan kasih sayang kepada generasi muda. Di tengah arus modernisasi, angpao tetap lestari sebagai simbol sederhana yang mengingatkan akan pentingnya menjaga hubungan keluarga dan nilai-nilai kemanusiaan.
Variasi Praktik Angpao dalam Konteks Modern
Praktik pemberian angpao saat ini mulai mengalami pergeseran dari tradisi keluarga menuju penggunaan yang lebih luas dan fleksibel seiring berkembangnya teknologi digital. Jika sebelumnya angpao identik dengan ritual tatap muka serta momen-momen tertentu seperti imlek, kini pemberiannya meluas ke berbagai konteks sosial termasuk komunitas daring, lingkungan kerja, bahkan perayaan yang tidak berkaitan langsung dengan budaya Tionghoa. Dalam perkembangannya, angpao digital juga mengalami perubahan pada pola pemberian yaitu frekuensinya meningkat karena pengguna dapat mengirim nominal kecil kapan saja, penerimanya menjadi lebih beragam seperti rekan kerja atau kenalan di grup online.
Aturan Tidak Tertulis dalam Pemberian Angpao
Pemberian angpao memiliki sejumlah aturan tidak tertulis yang sudah lama menjadi bagian dari tradisi, terutama pada masyarakat Tionghoa. Secara umum, angpao diberikan oleh mereka yang sudah menikah atau telah dianggap mapan kepada pihak yang lebih muda atau belum menikah, seperti anak-anak, keponakan, atau saudara yang masih single. Momen pemberian paling umum terjadi saat Tahun Baru Imlek, tetapi juga dapat diberikan dalam acara lain seperti ulang tahun, perayaan kelahiran, rumah baru, hingga sebagai hadiah pada pernikahan atau bonus dari atasan kepada karyawan. Mengenai jumlah, tidak ada ketentuan pasti, namun biasanya disesuaikan dengan kedekatan hubungan: untuk anak tetangga atau kenalan jumlahnya kecil hingga sedang (misalnya puluhan ribu), untuk keluarga dekat bisa mencapai ratusan ribu, sementara pada acara pernikahan nominal yang lebih besar seperti ratusan ribu hingga jutaan dianggap pantas. Selain itu, ada etika yang turut dipatuhi seperti menghindari angka 4 karena dianggap membawa kesialan, sementara angka 8 lebih disukai karena melambangkan keberuntungan. Angpao selalu diberikan dalam amplop merah sebagai simbol keselamatan dan harapan baik, dan penerima dianjurkan tidak membuka amplop tersebut di depan pemberinya sebagai bentuk kesopanan.
Kesimpulan
Tradisi angpao merupakan praktik budaya yang berakar panjang dalam sejarah masyarakat Tionghoa dan terus diwariskan sebagai simbol keberuntungan, kasih sayang, serta ikatan sosial antargenerasi. Pemberian angpao tidak hanya memfasilitasi kedekatan emosional dalam keluarga, tetapi juga menjaga kontinuitas nilai-nilai budaya seperti rasa hormat, kepedulian, dan etika dalam berinteraksi. Di tengah modernisasi, termasuk hadirnya angpao digital yang memperluas konteks pemberian hingga ke lingkungan kerja dan komunitas daring, tradisi ini tetap mempertahankan makna dasarnya sebagai sarana menghubungkan orang-orang dalam momen kebersamaan. Dengan aturan tidak tertulis, simbolisme warna merah, serta fleksibilitas praktik di era digital, angpao menjadi bukti bahwa suatu tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan esensi sosial dan budaya yang diwariskan turun-menurun.
Daftar Pustaka
Louis Augustin-Jean, & Saxena, V. (2024). Digitalising Chinese New Year red packets: Changing practices and meanings. China Perspectives, 136(1–2), 21–29.
Tazkiyah, D. (2022). Adaptasi Tradisi Angpao Saat Hari Raya Lebaran Di Purwokerto: Perspektif Teori Agil Talcott Parsons. Jurnal Cakrawala Mandarin, 6(1), 76-85.
Sharenlie, G., Chang, G. A., Djohan, F. S., Surya, M. I., Maradona, A. K., & Widjaya, Y. C. (2023). Cultural identity in contemporary children’s literature: A Jungian archetypal analysis of A Lucky Chinese New Year. Boanerges: Makarios Education Journal, 2(1), 39–51.
