ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 52 Februari 2026
Ketika Scroll Tak Berujung Memicu Kelelahan Digital di Kalangan Mahasiswa
Oleh:
Amelia Febryanita
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana, Jakarta
Fenomena doomscrolling kini menjadi salah satu kebiasaan yang banyak terjadi di kalangan mahasiswa. Kebiasaan ini sering dilakukan tanpa disadari, terutama pada waktu luang atau menjelang tidur. Mahasiswa yang awalnya hanya ingin melihat kabar terbaru di media sosial justru terjebak dalam arus informasi yang membuat pikiran penuh, cemas, dan sulit beristirahat. Dalam jangka panjang, doomscrolling dapat memicu kelelahan digital (digital fatigue), yaitu kondisi ketika seseorang merasa lelah secara mental maupun fisik akibat terlalu lama berinteraksi dengan perangkat digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga tantangan baru bagi kesejahteraan mental mahasiswa saat ini.
Di era digital saat ini, mahasiswa selalu bergantung pada media sosial. Aktivitas seperti mencari informasi, mengikuti tren, hingga membaca berita dilakukan setiap saat. Namun tanpa disadari, prilaku doomscrolling telah menjadi fenomena umum di kalangan mahasiswa. Bayangkan seorang mahasiswa yang baru pulang kuliah. Ia membuka media sosial hanya untuk sekadar melihat-lihat atau mencari ketenangan. Beberapa menit kemudian berubah menjadi berjam-jam karena terpaku pada berita tentang konflik, bencana, atau komentar negatif dari netizen. Akibatnya, muncul perasaan cemas, jenuh, dan lelah sebelum akhirnya ia menyadari bahwa banyak waktu telah terbuang.
Istilah doomscrolling pertama kali muncul di zaman sekarang untuk menggambarkan kebiasaan seseorang yang terus menggulir layar ponsel guna membaca berita atau informasi negatif tanpa henti. Menurut Dinilhaq dan Ardoni (2025), doomscrolling dapat diartikan sebagai perilaku kompulsif dalam mengonsumsi informasi daring, terutama yang Bernuansa suram sekaligus penuh ketegangan, yang sering kali dilakukan tanpa tujuan. Mahasiswa, sebagai kelompok pengguna media sosial paling aktif, menjadi salah satu yang paling rentan terhadap kebiasaan ini.
Perkembangan teknologi digital dan cara kerja algoritma media sosial membentuk perilaku doomscrolling semakin mudah terjadi. Aplikasi seperti TikTok, X, atau Instagram sengaja menunjukan konten yang terus relevan dan emosional agar pengguna betah berlama-lama. Semakin sering mahasiswa menggulir, semakin banyak konten serupa yang muncul, sehingga mereka yang ingin selalu “update” jadi lebih mudah tergerak membaca berita negatif tanpa henti.
Fenomena ini makin terlihat sejak masa pandemi COVID-19. Satici et al. (2022) menemukan bahwa doomscrolling bertambah besar karena tingginya rasa cemas dan ketidakpastian saat itu. Kebiasaan ini akhirnya terbawa sampai sekarang dan dianggap hal yang biasa oleh mahasiswa. Mayoritas dari mereka tidak hanya mencari informasi, tetapi menjadikannya rutinitas, terutama sebelum tidur atau saat merasa cemas.
Kebiasaan doomscrolling yang dilakukan terus-menerus ternyata berdampak besar terhadap kesehatan mental mahasiswa. Menurut Najwa dan Bilqisa (2025), mahasiswa yang terlalu sering membaca berita negatif di media sosial cenderung mengalami penurunan kesejahteraan psikologis karena otak terus-menerus menerima informasi yang memicu kekhawatiran.
Salah satu dampak paling nyata dari doomscrolling adalah kelelahan digital (digital fatigue). Mahasiswa menjadi sulit fokus, cepat merasa lelah, dan merasakan gangguan tidur karena terlalu lama menatap layar. Dalam jangka panjang, doomscrolling dapat mengganggu keseimbangan hidup mahasiswa. Kelelahan mental dan fisik yang muncul membuat semangat belajar menurun dan hubungan sosial terganggu. Karena itu, penting bagi mahasiswa untuk lebih sadar akan batas penggunaan media sosial agar tidak terjebak dalam siklus lelah digital yang sulit dihentikan.
Fenomena doomscrolling tidak muncul begitu saja. Ada beberapa hal yang membuat mahasiswa mudah terjebak dalam kebiasaan ini. Salah satu penyebabnya adalah rasa ingin tahu yang tinggi terhadap informasi atau hal-hal yang sedang viral. Banyak mahasiswa ingin selalu tahu update terbaru, sehingga tanpa sadar terus menggulir layar. Dinilhaq dan Ardoni (2025) menjelaskan bahwa perilaku ini diperkuat oleh dorongan internal untuk selalu update sebagai bentuk keterlibatan sosial di dunia maya.
Faktor psikologis seperti Fear of Missing Out (FOMO) juga punya pengaruh besar. Najwa dan Bilqisa (2025) menemukan bahwa mahasiswa sering selalu membuka media sosial meski sudah capek, karena takut ketinggalan kabar terbaru. FOMO inilah yang membuat mereka terus mencari informasi, walaupun kontennya buat gelisah. Selain dari diri sendiri, faktor luar seperti algoritma media sosial juga berperan. Platform digital sengaja menampilkan konten yang emosional atau menarik supaya pengguna betah berlama-lama. Akibatnya, mahasiswa yang sering mencari topik tertentu akan terus mendapatkan konten serupa, termasuk yang berintonasi negatif.
Langkah awal untuk mengurangi doomscrolling adalah menyadari dampak negatifnya. Mahasiswa perlu paham bagaimana kebiasaan digital mereka bekerja dan mulai membatasi waktu bermedia sosial. Najwa dan Bilqisa (2025) menjelaskan bahwa digital self-awareness penting untuk menjaga kesehatan mental. Cara sederhana yang bisa dilakukan seperti membatasi waktu layar, membuat jadwal istirahat tanpa HP, dan mematikan notifikasi yang tidak penting agar tidak terus tergerak untuk membuka ponsel.
Dinilhaq dan Ardoni (2025) menekankan pentingnya literasi digital, yaitu kemampuan memilih informasi yang benar-benar bermanfaat. Dengan begitu, media sosial bisa dipakai untuk hal positif, bukan malah jadi sumber stres. Upaya lainnya adalah menyeimbangkan kegiatan online dan offline. Melakukan aktivitas seperti olahraga, baca buku. Kalau mahasiswa bisa mengatur kebiasaan digitalnya, doomscrolling tidak akan jadi sumber cemas dan bisa tergantikan dengan aktivitas yang lebih sehat.
Fenomena doomscrolling menunjukkan bahwa teknologi digital tidak hanya memberi kemudahan, tetapi juga bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan mental mahasiswa. Kebiasaan menggulir berita negatif tanpa henti sering dilakukan tanpa sadar dan berdampak pada fokus belajar, kualitas tidur, serta rasa jenuh dan stres. Karena itu, mahasiswa perlu membuat kesadaran digital dengan mengatur waktu layar, lebih selektif memilih informasi, dan menyeimbangkan aktivitas online dan offline. Dengan cara ini, penggunaan media sosial bisa tetap bermanfaat dan tidak berubah menjadi sumber kelelahan serta kecemasan.
DAFTAR PUSTAKA
Dinilhaq, M. I., & Ardoni, A. (2025). Motif Perilaku Doomscrolling di Media Sosial pada Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi Universitas Negeri Padang. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(2). https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/30487
Najwa, M. N., & Bilqisa, S. (2025). Dampak Doomscrolling Terhadap Subjective Wellbeing Mahasiswa Kampus 3 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya, 14(1), 16–23. https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/lorong/article/view/15617/4392
Pandya, J. K., Lutfiana, S. A., Putri, A. S., & Valentiya, C. W. (2024). Studi Kasus Dampak Doomscrolling terhadap Kecemasan Mental Mahasiswa Gen Z di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi. Journal of Family Life Education, 3(2), 73–84. https://jurnalilmiah.org/journal/index.php/jfle
Satici, S. A., Gocet-Tekin, E., Deniz, M. E., & Satici, B. (2022). Doomscrolling Scale: Its Association with Personality Traits, Psychological Distress, Social Media Use, and Well-being. Applied Research in Quality of Life, 18(2), 833–847. https://doi.org/10.1007/s11482-022-10110-7
