ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 55 April 2026

 

Orientasi Nilai Akademik dan Ujian Terstandarisasi dalam Kaitannya dengan Stres Akademik pada Siswa SMA

Oleh:

Desak Agung Risma Dharmayanti, Ni Kadek Wulan Cintya Dewi, I Made Rama Candra Ananta 

Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

 

Pada fase transisi dari siswa SMA ke perguruan tinggi merupakan fase yang menantang bagi siswa kelas XII, dimana tuntutan datang dari berbagai arah, baik tuntutan secara akademik, tekanan sosial, dan ketidakpastian dalam masa depan memicu stres. Selain hal tersebut, persaingan yang ketat juga dapat memperburuk kondisi mental siswa (Mujahidin et al., 2025). Dalam sistem pendidikan Indonesia, pencapaian nilai akademik yang tinggi dianggap sebagai indikator utama keberhasilan belajar. Budaya untuk mencapai nilai yang tinggi tersebut diperkuat akan adanya ujian terstandarisasi, seperti ujian akhir sekolah dan ujian dalam seleksi masuk ke perguruan tinggi, dimana hasil dari ujian tersebut dijadikan sebagai tolak ukur kelulusan, prestasi serta masa depan pendidikan siswa. Kondisi tersebut biasanya mendorong siswa untuk menempatkan nilai sebagai prioritas utama, tanpa mengimbangi kesehatan mental serta kesejahteraan psikologis siswa (Bachtiar et al., 2024).

 

Fenomena yang sering dialami oleh siswa adalah tingginya tingkat stres dan tekanan yang sedang dihadapi oleh siswa dalam menghadapi ujian.Dimana, hal tersebut memberikan dampak negatif terhadap motivasi siswa yang akan menghadapi ujian. Stres yang dialami siswa secara berlebih tidak hanya akan berdampak terhadap kesehatan fisik dan juga mental siswa, tetapi juga akan mempengaruhi kehidupan sosial siswa, serta berpengaruh terhadap produktivitas siswa sehari-hari (Bachtiar et al., 2024).

 

Siswa perlu mempersiapkan beberapa hal untuk menghadapi ujian, seperti persiapan intelektual dengan mempelajari kembali materi-materi yang telah dibahas, kemudian mempersiapkan fisik dimana siswa perlu mempersiapkan kesehatan tubuh agar dapat tetap fokus dalam menjawab soal saat ujian dan terakhir mempersiapkan emosional agar tetap stabil dalam menghadapi ujian. Beberapa siswa mengalami kecemasan yang berbeda-beda selama menghadapi ujian, seperti cemas akan nilai yang tidak bagus, tidak akan fokus dalam mengerjakan soal, dan ujian tersebut memiliki makna yang sangat penting bagi siswa (Wisma et al., 2024). Selain stres karena harus bersiap untuk menghadapi ujian, siswa juga mendapat tuntutan dari orang tua berupa harapan tinggi yang tidak realistis. Terkadang orang tua menetapkan batasan nilai yang harus dicapai dan situasi ini dapat menimbulkan stres akademik pada siswa (Yulianti & Yusra, 2024). Sebagai contoh, siswa dituntut untuk mendapatkan skor sempurna di sekolah agar dapat masuk ke sekolah unggulan. Kombinasi antara tuntutan orang tua dan tekanan akademik tersebut dapat menyebabkan munculnya beban ganda yang berpotensi memperparah stres akademik pada siswa (Veronica et al., 2025).

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, nilai akademik masih sering dijadikan tolok ukur keberhasilan. Ujian terstandarisasi dengan risiko tinggi (high-stakes examination) yang digunakan dalam pengambilan keputusan akademik memiliki potensi untuk meningkatkan stres bagi siswa karena adanya tuntutan dari lingkungan. Pemikiran mengenai soal ujian sulit dan ketakutan tidak lulus cenderung dialami siswa menjelang ujian. Tuntutan sekolah dan orang tua, serta harapan siswa sendiri dapat memperbesar tekanan sehingga membuat siswa mengalami kejenuhan dan stres akademik (Fa’izah & Cahyanti, 2021).

Stres akademik dapat berdampak pada kondisi psikologis pada anak seperti sulit untuk mengontrol emosi, sulit berkonsentrasi, jarang bersosialisasi, pola makan tidak teratur, dan cenderung merasa tidak optimis dan rendah diri (Rosanti et al., 2022).  Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan di salah satu sekolah di Jakarta, Indonesia, prevalensi stres dilaporkan berada pada tingkat stres yang relatif tinggi dengan hasil sebanyak 57,1% responden mengalami stres dan sebanyak 42,9% responden tidak mengalami stres (Gusti et al., 2023). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah peserta didik SMA yang menjadi responden di sekolah tersebut mengalami stres. Temuan ini memberikan gambaran terkait kondisi stres akademik yang dialami para peserta didik dalam konteks pendidikan di Indonesia.

Untuk menghindari hal tersebut terdapat beberapa hal yang penting untuk dipahami salah satunya adalah motivasi anak untuk belajar. Motivasi merupakan dorongan yang seseorang miliki untuk melakukan suatu tindakan dimana hal ini dapat berupa kumpulan dari keinginan, harapan, dan tujuan yang orang tersebut miliki (Suryani & Nugroho, 2024). Dalam menjalani pendidikan memiliki motivasi sangatlah penting dikarenakan hal tersebut dapat menjadi dorongan awal pada murid untuk belajar. Meskipun begitu motivasi saja tidak cukup untuk membuat siswa untuk belajar. Dikarenakan hal tersebut juga memerlukan inisiatif sendiri dari anak tersebut (Suryani & Nugroho, 2024).

Dalam rangka menurunkan stress akademik hal tersebut semakin menjadi hal yang penting. Terdapat dua jenis motivasi yaitu intrinsik dan ekstrinsik, contoh dari motivasi intrinsik; ingin mendapatkan ranking satu, atau hanya sekedar ingin memahami topik pembelajaran yang menarik. Contoh motivasi ekstrinsik; dihadiahkan mainan apabila mendapatkan nilai A, atau tuntutan dari orang tua. Hubungan antara stress akademik dengan motivasi: motivasi dinyatakan memiliki hubungan dengan stress akademik. Stress akademik yang tinggi dapat mengurangi motivasi intrinsik yang dimiliki individu terutama yang bersifat kompetitif seperti ingin mendapatkan nilai tinggi atau ingin memenuhi ekspektasi. Tetapi apabila individu memiliki motivasi yang bersifat ingin memenuhi rasa ingin tahu maka kemungkinan ia mengalami stress akademik akan berkurang (Ramdani & Nio,2023).

Jadi hal yang dapat dilakukan adalah dengan menumbuhkan motivasi pada anak mengenai materi materi tertentu dengan begitu mereka dapat memiliki minat terkait pelajaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat pembelajaran lebih berfokus kepada keinginan akan pengetahuan dibandingkan penguasaan semata. Buat presentasi materi yang menarik dan mendorong adanya pertanyaan tentang pembelajaran tersebut. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pembelajaran yang bersifat interaktif. Hal ini bertujuan akan menimbulkan rasa ingin tahu dan motivasi untuk mengetahui pembelajaran tersebut secara lebih lanjut.

 

Referensi:

Bachtiar, N., Andodo, C., & Hasan, M. I. (2024). Manajemen stres pada siswa terhadap peningkatan motivasi dalam menghadapi ujian akhir sekolah dan pra masuk perguruan tinggi. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 8(3), 2851–2862. https://journal.ummat.ac.id/index.php/jmm/article/view/23281?utm

Fa’izah, S., Cahyanti, I. Y., & Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. (2021). Strategi Koping Stres Siswa SMA dalam Menghadapi UTBK 2021. In Buletin Riset Psikologi Dan Kesehatan Mental (Vols. 2–2, pp. 1410–1419) [Journal-article]. http://e-journal.unair.ac.id/index.php/BRPKM

Gusti, R. K., Saputera, M. D., & Chris, A. (2023). GAMBARAN STRES SECARA UMUM PADA SISWA/I SMA DI JAKARTA. Jurnal Muara Medika Dan Psikologi Klinis, 3(1), 22–29. https://doi.org/10.24912/jmmpk.v3i1.24810

Mujahidin, A. B., Putri, Y. S. E., Chandra, Y. A., & Panjaitan, R. U. (2025). Hubungan tingkat stres akademik dengan kualitas tidur siswa kelas XII dalam persiapan ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-Ma’arif Baturaja, 10(4), 356–362.https://lib.ui.ac.id/detail?id=9999920573268&lokasi=lokal

Rosanti, L. W. (2022). STUDI TENTANG STRES AKADEMIK PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII SMP NEGERI 18 PONTIANAK. In Volume 11 Nomor 9 Tahun 2022 (Vol. 11, Issue 9, pp. 1576–1583) [Journal-article]. https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb

Ramadhani, N. N., & Nio, S. R. (2023). Hubungan stres akademik dengan motivasi akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(1), 1234–1243. https://jptam.org/index.php/jptam/article/download/6710/5598/23751

Suryani, L., & Nugroho, A. (2024). Hubungan motivasi ekstrinsik dalam mendorong prestasi belajar peserta didik. Jurnal Socius, 13(1), 88–97. https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/download/426/463

 Veronica, Y. A., Salabillannur, M., Delvira, R. E., & Setyawan, A. (2025). ANALISIS TINGKAT STRES PADA SISWA AKIBAT TEKANAN AKADEMIK DAN ORANG TUA. jurnal.mediaakademik.com. https://doi.org/10.62281/t1jk6367

Wisma, N., Franciska, S., Maiseptian, F., & Dewita, E. (2024). Tingkat Kecemasan pada Siswa SMA Negeri 1 Indralaya Utara dalam Menghadapi Ujian Akhir Sekolah. Jurnal Konseling Komprehensif: Kajian Teori Dan Praktik Bimbingan Dan Konseling, 11(2), 158–166. https://doi.org/10.36706/jkk.v11i2.121

Yulianti, F., & Yusra, Z. (2024). Hubungan Persepsi Terhadap Harapan Orang Tua dengan Stres Akademik pada Siswa Kelas Unggul Tahfidz di MTsN X Bukitinggi. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5(6), 7183–7190. https://doi.org/10.54373/imeij.v5i6.2142