ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 55 April 2026

 

Perkenalkan Namaku Brain Rot, Ayahku TikTok, dan Ibuku Instagram Reels

Oleh:

Elon Losman

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

TikTok dan Instagram Reels, merupakan platform yang tergabung dalam sebuah “rumpun” yang sama, yaitu platform yang menyediakan konten singkat berdurasi dibawah 1 menit. Meskipun TikTok sendiri memperbolehkan konten berdurasi maksimal 10 menit, tetapi tetap saja mayoritas konten di TikTok hanya berdurasi 15-30 detik. Menurut laporan MarketingLTB (2025), TikTok menguasai 40% pangsa pasar konten singkat secara global, dimana Instagram Reels mengikuti dengan porsi sebesar 20%.

 

Buffer.com (2025) merilis statistik yang menunjukkan bahwa rata-rata pengguna TikTok di dunia menghabiskan waktu sekitar 1jam 35menit per hari untuk menonton konten singkat di platform tersebut. Sedangkan khusus di Indonesia, KOL.ID (2025) menyebutkan bahwa kita menghabiskan waktu di TikTok, dengan durasi yang relatif lebih sedikit, sekitar 1jam 24menit per hari.

 

Dua statistik di atas sebenarnya merupakan alarm bagi pemerintah, yang sejak tahun 2019 menggembar-gemborkan Visi Indonesia Emas 2045. Bahkan, Presiden Prabowo yang melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dari Presiden Jokowi, meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak 6 Januari 2025, untuk mendukung Visi Indonesia Emas 2045 tersebut. Logikanya sederhana, makanan yang sehat dan bergizi akan meningkatkan pertumbuhan fisik anak-anak Indonesia, termasuk perkembangan otak mereka.

 

Tetapi pemerintah sepertinya lupa bahwa baja sekeras apapun, jika tidak diasah dan ditempah dengan baik, maka baja tersebut tidak akan pernah menjadi pedang yang hebat. Tidak ada bedanya dengan otak anak-anak Indonesia yang sudah diberi asupan makanan bergizi, tetapi tidak pernah diasah dengan kemampuan berpikir yang rumit dan dalam, mereka juga tidak akan menjadi SDM yang hebat.

 

Menurut Nicholas G. Carr (2010) dalam bukunya The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains, dampak konsumsi media sosial khususnya konten singkat mengurangi kemampuan otak untuk mempertahankan fokus jangka panjang. Sebelumnya, manusia dapat lebih fokus untuk berpikir mendalam atau merenung tentang masalah yang kompleks, tetapi kebiasaan mengonsumsi informasi yang ringan dan instan telah mengubah cara otak memproses informasi. Hal ini membuat manusia cenderung memilih solusi yang cepat dan mudah, tanpa memberikan waktu yang cukup untuk pemikiran yang lebih mendalam. Kondisi ini dapat disebut dengan Brain Rot.

 

Pada tahun 2024, Oxford University memilih Brain Rot sebagai Word of the Year 2024 dan mendefinisikannya sebagai kemerosotan yang diduga terjadi pada kondisi mental atau kemampuan intelektual seseorang, khususnya yang diakibatkan oleh konsumsi berlebihan terhadap materi yang dianggap ringan atau tidak menantang (sekarang terutama konten digital). Pemilihan Brain Rot sebagai Oxford Word of the Year 2024 mencerminkan tingginya peningkatan penggunaan frasa tersebut dalam wacana budaya digital, dan kekhawatiran masyarakat akan dampak mengonsumsi konten singkat berkualitas rendah terhadap pikiran manusia.

 

Mekanisme terjadinya Brain Rot dijelaskan oleh The Decision Lab dengan frasa Decision Fatique. Decision fatique didefinisikan oleh mereka sebagai fenomena psikologis dimana kualitas pengambilan keputusan seseorang menurun setelah melakukan banyak keputusan berturut-turut akibat kelelahan kognitif. Penjelasannya, ketika seseorang terlalu sering terpapar informasi digital, khususnya konten yang sangat singkat dan terus-menerus, kapasitas mental mereka untuk memproses informasi secara kritis bisa menjadi berkurang. Teori ini juga sudah dibuktikan pada 2025 oleh Salsabila dengan penelitiannya Infinite Scrolling Short Video dan Brain Rot.

 

Harapan saya, pemerintah Indonesia juga membuat program-program yang bertujuan untuk “mengasah” otak anak-anak Indonesia agar Visi Indonesia Emas 2045 benar-benar dapat terwujud. Saya membayangkan sebuah lelucon mengenai sebuah iklan di marketplace sekitar 10-20 tahun mendatang, seandainya Visi Indonesia Emas tidak berhasil terwujud akibat Brain Rot:

 

DIJUAL SEGERA!!! BU (BUTUH UANG)!!!

Nama Produk: Otak manusia

Bahan: Sel otak berkualitas (selalu menghabiskan MBG dulu ketika sekolah)

Kondisi: Second like new (karena jarang dipakai)

Alasan dijual: Bayar pinjol akibat judol

Harga: Nego sampai jadi

 

Referensi:

buffer.com. (2025, July 30). 31 TikTok statistics to know for 2025. https://buffer.com/resources/tiktok-statistics/

Carr, N. G. (2010). The shallow: What the internet is doing to our brains. W. W. Norton & Company

KOL.ID. (2025, February 8). Data pengguna TikTok, jumlah konten dan durasi nonton. https://kol.id/blog/kol-id-insight-data-pengguna-jumlah-konten-%26-durasi-screentime-rata-rata-pengguna-tiktok

MarketingLTB. (2025, October 17). Short form video statistics 2025: 97+ stats & insights. Marketing LTB. https://marketingltb.com/blog/statistics/short-form-video-statistics/

Oxford University Press. (2024, Desember 2). 'Brain rot' named Oxford Word of the Year 2024. Oxford University Press. https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year-2024/

Program Makan Bergizi Gratis Resmi Dimulai, Tahap Awal – Jangkau 26 Provinsi. (2025, 6 Januari 2025). InfoPublik. https://infopublik.id/kategori/prioritas-nasional/896816/program-makan-bergizi-gratis-resmi-dimulai-tahap-awal-jangkau-26-provinsi

Salsabila, F., & Faturrahman, R. (2025). Infinite scrolling short video dan brain rot: Hidden threats to emerging adulthood. Journal of Advances in Education, 1(2), 76–87. https://doi.org/10.1093/jaed/2025-09

The Decision Lab. (n.d.). Decision fatigue. https://thedecisionlab.com/biases/decision-fatigue